Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install
For
You

Sitha Marino: Dari Sorak World Cup ke Ritme Hidup yang Lebih Tenang

Sitha Marino: Dari Sorak World Cup ke Ritme Hidup yang Lebih Tenang
POPBELA.com/Zaky Akbar
Intinya Sih
  • Sitha Marino mengenang euforia Piala Dunia 2006 di Italia sebagai momen masa kecil yang membentuk pandangannya tentang kebahagiaan dan arti kebersamaan keluarga.
  • Di tengah kesibukan karier akting, Sitha menjaga keseimbangan hidup lewat olahraga, waktu menyendiri, dan refleksi diri agar tetap terhubung dengan energi positifnya.
  • Tahun ini, Sitha menantang diri dengan peran antagonis pertamanya di film baru, menandai perkembangan emosional dan kenyamanan barunya dalam dunia akting.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

POPBELA percaya setiap kenangan yang terbentuk dan terjadi di hidup kita tak akan pernah pergi. Kenangan itu tersimpan rapi, hanya menunggu untuk dipanggil kembali dengan berbagai cara. Misalnya lewat sorak sorai pertandingan, lagu lama yang tak sengaja terputar kembali, hingga momen musim panas yang tak terulang lagi. Bagi Sitha Marino, ingatan itu berakar sejak kecil: Piala Dunia, Italia yang berpesta, dan keluarga yang tertawa di tengah kota asing. Potongan hidup sederhana yang diam-diam membentuk caranya memahami kebahagiaan hari ini.

Kini, Sitha berada di fase hidup yang berbeda. Jadwal syuting padat, tubuh dituntut selalu siap, dan peran yang ia mainkan kian beragam. Namun satu hal tetap ia jaga, yakni kebahagiaan yang tidak dikejar, melainkan dirawat. Lewat olahraga, waktu menyendiri dengan musik, hingga keberanian menerima tantangan baru, ia terus berusaha tetap terhubung dengan dirinya sendiri.

Lewat obrolan bersama POPBELA, Sitha berbagi cerita tentang karier, kesibukan, bahkan memori yang selalu membuatnya semangat. Bagaimana kisahnya? Simak selengkapnya berikut ini.

Piala Dunia dan Memori Masa Kecil yang Tak Pernah Pergi

LOOK-2-LOGO.jpg
POPBELA.com/Zaky Akbar

Atasan putih Drunk Dad, kerah Tanah le Saé, aksesori Stuudio Particular available at LUMINE JAKARTA

Bagi Sitha Marino, Piala Dunia bukan sekadar ajang olahraga empat tahunan. Ia adalah pintu rahasia menuju masa kecil yang tak akan dilupakannya sampai kapanpun. 

Italia tahun 2006, negara yang dihiasi cukup banyak bangunan kuno bersejarah tersebut berhasil meraih World Cup 2026 setelah membuat Prancis bertekuk lutut dalam babak final lewat pinalti dengan skor 5-3. Kemenangan itu dirayakan bukan hanya oleh satu negara, tapi oleh satu keluarga kecil yang sedang berkumpul di negeri orang.

Dalam cerita Sitha, suasana kala itu begitu meriah. Ada suara klakson yang saling bersahutan, kembang api yang memantul di langit malam, dan tawa yang tak perlu diterjemahkan. Usianya memang baru tujuh tahun, tapi ingatan itu menetap dengan kejernihan yang mengejutkan, seolah bahagia memang selalu tahu ke mana harus pulang.

"Aku ingat saat itu sekeluarga tuh lagi di Italia. Dan kita semua tuh nonton final Italia, dan di saat Italia menang, papaku mengajak kita semua naik mobil bareng-bareng keliling. Dan di situ Italia lagi rame banget, ada kembang api juga. Kita pada teriak-teriak, so much memories. Jadi kangen," kenang Sitha.

Cara Sitha Menikmati Piala Dunia

LOOK-3-LOGO.jpg
POPBELA.com/Zaky Akbar

Celana pendek Rama Dauhan Design Studio, Atasan putih Drunk Dad, kerah Tanah le Saé, aksesori Stuudio Particular available at LUMINE JAKARTA, sepatu Christin Wu

Menonton sepak bola tak pernah berhenti pada skor akhir. Ada dua lapis pengalaman yang berjalan bersamaan bagi Sitha saat menonton pertandingan tersebut, yakni apa yang terjadi di lapangan dan memori yang terbentuk ketika menyaksikannya bersama dengan orang tersayang.

"Jujur, aku nonton Piala Dunia tuh yang aku support-support aja negaranya. Nggak semuanya aku tonton. Tapi, dari situlah aku merasa enjoy nontonnya," jelas Sitha.

Piala Dunia pun menempati ruang yang berbeda bagi Sitha. Ajang ini melampaui olahraga dan menjelma menjadi perayaan kolektif, ketika emosi bergerak serempak tanpa perlu aba-aba. Dari anak-anak hingga orang dewasa, dari rumah ke rumah, semua larut dalam suasana yang sama. Bukan skalanya yang membuat Piala Dunia terasa istimewa, melainkan jejak emosional yang terus hidup, membawa ingatan sejak masa kecil hingga hari ini.

"Tapi memang kalau buat euforia, Piala Dunia belum ada yang ngalahin sampai sekarang. Itu ajang terbesar menurut aku kayak, there's so much memories dari aku kecil sampe sekarang tuh ada terus," kata Sitha lagi.

Menikmati Summer sebagai Ruang untuk Kembali Bernapas

LOOK-4-LOGO.jpg
POPBELA.com/Zaky Akbar

Dress Rama Dauhan Design Studio, jaket Hunting Fields, aksesori Stuudio Particular available at LUMINE JAKARTA

Euforia yang dirayakan bersama itu, bagi Sitha, tak berhenti di tribun atau layar kaca. Perasaan hangat yang lahir dari kebersamaan justru mengajarkannya satu hal penting: energi perlu dijaga agar tak habis di satu momen saja. Dari sana, ia belajar bahwa kebahagiaan bukan hanya soal merayakan, tetapi juga merawat sekaligus memberi ruang bagi tubuh dan diri untuk bernapas, terutama di tengah ritme hidup yang terus bergerak. 

Perawatan diri bagi Sitha hadir dalam bentuk yang nyata. Di tengah jadwal yang padat, ia memilih olahraga sebagai cara menjaga stamina dan bentuk tubuhnya, mulai dari weightlifting yang memberinya rasa kuat, cardio untuk menjaga ritme, hingga reformer pilates yang baru ia kenal sebagai ruang eksplorasi tubuh.

"Ada banyak jenis olahraga yang lagi aku cobain sekarang. Ada weightlifting, reformer pilates, dan sekarang lagi nyobain reformer, ternyata oke juga, seru juga sih. Goals aku melakukan itu semua karena pengen punya badan yang lebih oke," jelas Sitha.

Di luar aktivitas fisik, olahraga juga membuka jalan menuju kesehatan mental. Ada momen-momen sunyi yang ia jaga sebagai bagian dari me time: mendengarkan musik, menikmati kopi, atau sekadar berhenti sejenak tanpa tuntutan untuk selalu produktif. Summer, bagi Sitha, bukan soal bergerak lebih cepat atau tampil lebih ekspresif, melainkan tentang bernapas, yakni waktu untuk mengisi ulang diri dan kembali pada lingkaran kecil bernama keluarga dan sahabat.

Ketika Energi Menemukan Tantangan Baru

LOOK-5-LOGO.jpg
POPBELA.com/Zaky Akbar

Dress Rama Dauhan Design Studio, jaket Hunting Fields, aksesori Stuudio Particular available at LUMINE JAKARTA

Saat energi telah terisi kembali, maka yang kita dapat adalah semangat baru untuk melakukan segala kegiatan dengan lebih antusias. Setelah memberi ruang bagi diri sendiri, Sitha justru menemukan keberanian untuk melangkah ke wilayah yang lebih menantang. Tahun ini, ia hadir lewat dua film yang jarak rilisnya nyaris berdekatan, masing-masing membawa bobot emosional yang berbeda. Yakni Kamu Harus Mati dan Keluarga Suami adalah Hama. Salah satunya bahkan menjadi penanda awal perjalanannya di dunia film, diambil enam tahun lalu sebagai pekerjaan layar lebar pertamanya.

Namun proyek terbarunya membawa sesuatu yang benar-benar baru. Untuk pertama kalinya, Sitha menerima peran antagonis, peran yang berbeda dari karakter-karakter lembut dan tertindas yang selama ini lekat dengannya. Sebuah keputusan yang lahir dari rasa ingin mencoba, dari energi yang cukup untuk mengambil risiko. Ia menyadari tantangan itu sebagai ruang belajar, sekaligus cara mengenal dirinya lebih jauh sebagai aktris.

Salah satu adegan yang paling membekas terjadi di meja makan. Dalam salah satu adegan dari film Keluarga Suami adalah Hama, Sitha merasa adegan tersebut begitu intens sehingga membekas di benaknya hingga saat ini.

"Di scene yang di meja makan, di mana aku lempar-lemparan udang sama adek aku, dan Mbak Intan (Raihaanun) ngeliat. Itu menurut aku yang paling gong banget buat scene aku. Kenapa berbekas? Karena mungkin intense banget kali ya. Kayak dari pemainnya, ada Tante Mer (Meriam Bellina) juga yang aku fans banget, bisa bermain sama Tante Mer. Apalagi di situ aku juga kayak ceritanya ngadu ke Tante Mer, kalau si ipar aku nih nyebelin gitu. Jadi kayak, it's very memorable," curhat Sitha.

Tentu hal ini menjadi pencapaian tersendiri bagi Sitha. Sebab, ini adalah perubahan yang menurutnya paling terasa di sepanjang karier aktingnya.

"Pencapaian dan perbedaan yang aku rasakan adalah kenyamanan saat aku berakting. Kalau yang pas awal-awal kan aku bener-bener nggak tau apapun tentang dunia akting, dunia entertainment. Jadi emang aku harus masih meraba-raba. Dan aku masih malu-malu untuk berakting. Terus lama-lama aku kayak, oh aku lebih mengerti lebih nyaman buat akting di depan orang-orang," kata Sitha lagi.

Menemukan Summer Vibe dalam Kenangan dan Perjalanan Diri

COVER-LOOK 1.jpg
POPBELA.com/Zaky Akbar

Ketika diminta merangkum World Cup, summer vibe, dan perjalanan kariernya di 2026 dalam satu kalimat, Sitha tak langsung bicara soal pencapaian. Ia memilih sesuatu yang lebih personal. 

"Mungkin garis besarnya adalah kebahagiaan," katanya. Bukan kebahagiaan yang dikejar dengan ambisi, melainkan yang ia rawat dan pertahankan. "Kebahagiaan yang bukan aku cari, tapi aku maintain."

Memori-memori lama, mulai dari euforia World Cup hingga kenangan hangat bersama almarhum papanya, masih hidup dan beresonansi sampai sekarang. 

"Mendengar kata World Cup sekarang aja, langsung keinget masa-masa lalu aku yang sangat-sangat happy," ujarnya. Perasaan itu tak ingin ia lepaskan, justru dijaga agar tetap hadir di setiap fase hidup yang ia jalani.

Di titik ini, Sitha memilih untuk terus "merasakan vibe" dengan cara menikmati musim panas, perjalanan karier, dan hidup itu sendiri tanpa terburu-buru. Kebahagiaan, baginya, bukan tujuan akhir, melainkan sesuatu yang layak dirawat setiap hari. Dan mungkin, di sanalah 2026 menemukan maknanya.

Photo Credit:

Photographer: Zaky Akbar
Fashion Editor: Michael Richards
Fashion Stylist: Hafidhza Putri Andiza

Beauty Asst.: Shavira Annisa
Makeup Artist: Vani Sagita
Hair Stylist: Mitsalina Hasyyati

Interview by: Niken Ari Prayitno
POPBELA.com crew: Nadhira Annisa

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Niken Ari Prayitno
EditorNiken Ari Prayitno

Related Articles

See More