Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
For
You

Blooming Era: Saat Adzana Ashel Belajar Menggugurkan untuk Tumbuh

Blooming Era: Saat Adzana Ashel Belajar Menggugurkan untuk Tumbuh
Popbela.com/Winston Gomez
Intinya Sih
  • Ashel menggambarkan fase hidupnya sebagai musim gugur, masa di mana ia belajar melepaskan hal-hal lama untuk memberi ruang bagi pertumbuhan dan kebahagiaan yang lebih jujur.
  • Ia menemukan kekuatan melalui self-love, belajar berterima kasih pada diri sendiri, serta menyadari bahwa kebahagiaan sejati datang dari penerimaan dan keberanian untuk tetap berjalan apa adanya.
  • Melalui simbol bunga dandelion dan lili, Ashel memaknai ‘blooming’ sebagai proses ikhlas melepaskan, merawat diri dengan tenang, dan tumbuh indah tanpa perlu validasi dari siapa pun.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

The blooming season is coming! Syuting POPCreator kali ini cukup berbeda dan sedikit menantang di tengah cerahnya sinar matahari PIK sekaligus momen puasa. Namun, hal tersebut tak menghalangi semua kru untuk kerja maksimal. Termasuk Ashel, the rising star untuk POPcreator edisi April 2026, yang datang penuh percaya diri sambil menebarkan senyum ramah dan keceriaannya. 

Puasa tak mengurangi energi dara berusia 21 tahun itu untuk menari-menari kecil mengikuti alunan lagu yang bergema mengiringi sesi photoshoot. Ia bahkan meminta waktu sebentar untuk boost semangat dengan bermain bersama seekor anabul peliharaan sang fotografer. Meski dari luar ia tampak seperti berada di ‘musim semi’, ternyata Ashel mengaku justru dirinya sedang berada di musim gugur. 

Di sela-sela syuting, sambil duduk santai di sofa, bintang bernama asli Adzana Ashel tersebut bercerita kepada POPBELA proses hidupnya, bagaimana ia bertumbuh, sampai makna ‘bloom era’. Bak bunga lili dan bunga dandelion, Ashel mengibaratkan proses bertumbuhnya dan menjadi tetap indah meski sedang terpuruk sekalipun. Musim ini membuat dirinya ‘menggugurkan’ banyak hal, sebelum akhirnya berbunga dengan indah. 

Yuk, simak lebih lengkapnya di bawah ini!

Table of Content

Ritual kecil yang menjaga Ashel tetap “hidup”

Ritual kecil yang menjaga Ashel tetap “hidup”

POPCreator Adzana Ashel
Popbela.com/Winston Gomez

Atasan pink bunga Suedeson, aksesori Stuudio Particular available at LUMINE JAKARTA

Di balik sorot kamera dan jadwal yang padat, Ashel punya cara sederhana untuk tetap “hidup”, yakni dengan mendengar suara orang-orang yang ia sayang. Telepon singkat, obrolan receh, bahkan sekedar bertanya “lagi di mana?” jadi sumber energinya. Buat seorang extrovert seperti Ashel, interaksi adalah napas yang membuat hari-harinya kembali terasa penuh.

“Aku suka banget teleponan orangnya, even cuma nanya, ‘eh di mana?’ Kayak live update aja gitu. Tapi denger suara orang, interaksi sama orang itu tuh nge-charge energi aku. Dan tadi aku telponan sama mamaku, kaya ‘mami besok masak ini dong’ atau yang ‘mom ini nanti gini-gini’ yang penting dengar suara orang yang kita sayang aja itu tuh bikin hari menjadi semangat,” ujarnya dengan penuh senyum.

Bahkan menyetir sendiri di tengah macetnya Jakarta, ditemani musik yang mengalun pelan, tak terasa melelahkan. Bagi Ashel, itu adalah ruang untuk bernapas dan bersenang-senang. Momen di mana dia bisa jadi dirinya sendiri dan “vibing” tanpa tuntutan apa pun. Bahkan di momen pribadi inilah dia mengaku merasa bersinar. Dari sini, ada pengingat sederhana bahwa ternyata bersinar itu nggak harus saat kamu mendapat sorot lampu di panggung, tapi ketika bisa bersantai dengan diri sendiri yang apa adanya.

Fase layu saat tidak bisa mengekspresikan diri

POPCreator Adzana Ashel
Popbela.com/Winston Gomez

Blazer biru Onycha, aksesori Stuudio Particular available at LUMINE JAKARTA

Perjalanan kehidupan setiap orang termasuk menuju “blooming era” tidak selalu dipenuhi cahaya. Ibarat bunga, kadang kelopak-kelopaknya mulai menutup satu per satu. Itulah yang dialami Ashel, fase layu, yang ia alami di tahun 2024. Ini menjadi salah satu periode paling menantang untuknya. Perubahan besar, perpisahan, dan adaptasi datang hampir bersamaan. Pikirannya terlalu penuh, hingga kata-kata pun tak lagi bisa keluar. Ia pernah berada di titik di mana bahkan menulis perasaan terasa mustahil, seolah emosinya tak lagi punya bahasa.

“Ada hari di mana aku nggak cerita apa-apa ke orang. Aku ada di fase nggak bisa nulis apa yang aku rasain saking stresnya,” kenangnya. 

Di waktu ini, ia berhenti sejenak untuk memberi ruang pada dirinya. Sampai akhirnya, pelan-pelan mampu untuk berbicara entah kepada orang lain maupun kepada dirinya sendiri. Auranya berubah menjadi lebih ringan, lebih jujur, lebih hidup, saat akhirnya ia tak lagi memendam.

“Menurut aku satu hal yang penting itu adalah ceritain apa yang kita pikirin, entah itu dari tulisan atau ngomong langsung ke orang,” kata artis kelahiran Jakarta ini.

Mengekspresikan diri adalah sebuah proses dari mekar itu sendiri. Dunia dan segala isinya mungkin membuat kita ‘layu’ karena overthinking dan stres. Tapi berbagi, baik dengan orang lain atau dengan buku journaling, melalui setiap kata yang keluar, setiap emosi yang diakui, bisa membuat diri sendiri merasa utuh kembali.

Musim gugur, fase transisi yang tidak terlihat indah, tapi penting

POPCreator Adzana Ashel
Popbela.com/Winston Gomez

Blazer biru Onycha, aksesori Stuudio Particular available at LUMINE JAKARTA

Setelah layu, mungkin ada juga fase dalam hidup ketika daun-daun atau kelopak-kelopak itu mulai berjatuhan. Bukan karena pohonnya mati, tapi justru karena sedang bersiap untuk hidup kembali. Awal tahun 2026 lagi-lagi membawa Ashel pada begitu banyak perubahan. Hal-hal yang dulu terasa familier, perlahan berubah. Rutinitas yang biasa, kini menuntut adaptasi. Realita yang nggak selalu sesuai rencana, harus dihadapi. Dan kini, ia mengaku sedang berada di musim gugur itu.

“Kayaknya aku lagi di musim gugur,” katanya jujur menggambarkan hidupnya saat ini. 

Musim gugur sering disalahpahami sebagai akhir, padahal justru menjadi awal dari sesuatu yang baru. Musim gugur bukan tentang kehilangan, tapi tentang keberanian untuk melepaskan setiap ‘daun-daun lama’. Karena tidak ada ruang untuk tumbuh, jika masih dipenuhi dengan yang lalu. 

“Ya nggak apa-apa, kita habisin aja semua dulu. Kita gugurin dulu,” ujarnya dengan keyakinan.

Ia tahu bahwa fase itu nggak akan nyaman, tapi ia juga percaya bahwa di balik setiap yang gugur, ada tunas-tunas kecil yang sedang tumbuh. Sesuatu yang perlahan hidup, lebih segar, lebih kuat, dan lebih utuh. Karena kadang, sebelum benar-benar blooming, kita memang harus berani melewati musim gugur dulu.

“Di saat gugur itu, nanti akan tumbuh sama hal yang baru lagi,” tutur Ashel membagikan keyakinannya.

Titik balik belajar mengikhlaskan untuk bertumbuh

POPCreator Adzana Ashel
Popbela.com/Winston Gomez

Mini dress pleats Mason Studio, aksesori Stuudio Particular available at LUMINE JAKARTA

Hidup punya caranya sendiri untuk bercerita, untuk membuat seseorang bertumbuh. Saat berani menggugurkan, ini juga berarti berani mengikhlaskan sesuatu yang seolah itu satu-satunya hal yang dapat membuat semuanya terasa “lengkap”. Nggak semua yang diinginkan akan stay. Nggak semua yang direncanakan akan work out. Seperti itulah yang dialami mantan member JKT48 ini.

Bintang film Tunggu Aku Sukses Nanti itu berbagi tentang turning point di mana dirinya bertumbuh. Satu kata tapi kadang tak mudah untuk dilakukan, yaitu mengikhlaskan. Membiarkan apa yang harus jatuh, pelan-pelan tanpa dipaksa. Merelakan hal-hal yang memang sudah bukan bagiannya, gugur dengan sendirinya. Bukan karena menyerah, tapi karena tahu nggak semua hal harus dipertahankan.

“Di saat aku bisa mengikhlaskan sesuatu yang aku mau banget… di situ aku merasa berkembang,” ungkapnya.

Ashel menyadari ini bukan proses yang instan. Dulu, mungkin ia akan memilih untuk tetap tinggal, stuck di fase yang sama. Tapi sekarang, ada sesuatu yang berubah, bahwa kadang melepaskan justru adalah bentuk paling tulus dari mencintai diri sendiri, dan juga menerima bahwa ada hal-hal yang memang bukan untuk kita. Karena ternyata, pertumbuhan itu nggak selalu datang dari apa yang kita dapatkan, justru dari apa yang akhirnya kita relakan.

Self-Love yang jadi penyelamat

POPCreator Adzana Ashel
Popbela.com/Winston Gomez

Mini dress pleats Mason Studio, aksesori Stuudio Particular available at LUMINE JAKARTA

Perjalanan yang penuh lika-liku ini tidak Ashel lalui sendirian. Ada anugerah dari Tuhan, suara-suara hangat dari orang tua, dukungan dari teman-teman, yang terus mendorongnya untuk bergerak maju. Semua itu ikut merangkai versi dirinya hari ini. Tapi, satu sosok yang kadang suka dilupakan, yaitu diri sendiri. 

Memulai tahun 2026 yang baru berjalan tiga bulan, Ashel menyadari bahwa setiap pertumbuhan yang terjadi dalam hidupnya, tak akan pernah berjalan tanpa kemauan dirinya sendiri. Karena pada akhirnya, yang menggerakkan langkah itu tetap dirinya. Yang memilih untuk bangkit, yang memilih untuk bertahan, yang memilih untuk tetap berjalan adalah Ashel sendiri. Untuk pertama kalinya, ia mencoba melakukan hal yang selama ini ia lewatkan dan sesalkan; berterima kasih pada dirinya sendiri.

“Orang-orang terdekat membantu banget dalam pengembangan diri aku, tapi aku berterima kasih banget sama diri aku, karena sebelumnya aku nggak pernah. Kadang aku nyesel,” jelasnya.

Dalam ceritanya, Ashel mengakui kalau ia terlalu keras pada dirinya. Sering bertanya “kenapa aku kayak gini?”, terlalu sibuk meragukan nilai dirinya, sampai lupa bagaimana caranya menghargai diri sendiri. Self-love terasa asing. Sampai akhirnya, sesuatu berubah pelan-pelan tapi pasti. 

Di tahun yang penuh dinamika ini, ia mulai belajar untuk berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, tapi untuk melihat ke dalam. Dari self-doubt berubah menjadi lebih banyak self-appreciation. Sesederhana,

“makasih ya sudah bertahan,”

“makasih ya sudah tetap jalan,”

 “makasih ya sudah selalu bersyukur,” 

“terima kasih sudah selalu baik,”

atau bahkan,

“maafin ya kalau aku ada salah.”

Kalimat-kalimat kecil itu, tanpa disadari, menjadi awal dari hubungan baru. Hubungan yang lebih lembut dengan dirinya sendiri. Walaupun mungkin terdengar sepele, tapi setiap kata yang disampaikan dengan penuh ketulusan, perlahan menyembuhkan. Dan dari sana, cinta pada diri sendiri mulai tumbuh.

“Mulai sekarang aku berterima kasih sama diri aku, itu yang bikin aku jadi sayang sama diri aku,” katanya dengan senyuman manis di wajah.

Ia perlahan bisa menerima dirinya, menerima semua hal yang harus direlakan tanpa menyalahkan siapa-siapa. Ia menyadari bahwa tidak semua hal harus dipaksakan. Dan bahwa di balik semua itu, ia tetap bisa memilih untuk bersyukur. Menjadi diri yang sekarang bukan hanya tentang siapa yang membantu bertumbuh, tapi juga tentang bagaimana belajar untuk tidak lagi meninggalkan diri sendiri.

Makna “Blooming” versi Ashel

Adzana Ashel
instagram.com/asheladz

Kepercayaan diri dan cinta pada diri sendiri itulah yang membuat Ashel punya makna sendiri tentang blooming era. Blooming bukan soal validasi orang, bukan tentang memenuhi ekspektasi siapa pun. Standar kebahagiaannya bukan dari perkataan orang lain, tapi diri sendiri. Nggak semua yang terlihat “blooming” dari luar, benar-benar terasa mekar di dalam.

“Mungkin banyak fase hidup aku yang menurut orang itu blooming, tapi bagi aku itu nggak,” ujarnya dengan jujur.

Kalimat itu menjelaskan bahwa definisi bertumbuh ternyata tidak selalu sama. Apa yang orang lain anggap sebagai puncak, belum tentu terasa sebagai kebahagiaan. Dan sebaliknya, hal-hal kecil yang mungkin terlihat biasa saja, justru bisa menjadi momen paling berarti bagi seseorang.

Blooming adalah momen ketika ia tahu batas dirinya. Saat ia mengerti kapan harus berhenti, kapan harus lanjut, dan kapan harus memilih dirinya sendiri. Dengan begitu, ia tidak lagi sibuk membandingkan. Nggak harus pura-pura baik-baik saja, padahal lagi nggak.

“Aku nggak butuh validasi siapa-siapa buat melihat aku. Karena kalau standarnya di standar mereka, ya sudah itu mereka dengan pikiran mereka,” katanya sederhana, tapi kuat.

“Kalau aku ngerasa aku blooming, berarti itu standar aku. Yang penting diri aku bahagia,” tambahnya.

Kebahagiaannya nggak dibuat-buat atau dipaksakan, tapi terasa jujur meski nggak terlalu terlihat. Blooming mungkin bukan saat semua orang bilang kamu bersinar, tapi saat kamu akhirnya merasa cukup jadi diri kamu sendiri.

Tetap grounded di tengah spotlight

Adzana Ashel
instagram.com/asheladz

Saat spotlight tertuju, nama mulai dikenal. perhatian datang dari berbagai arah, baik yang hangat maupun yang terasa tajam, tetap merendah kadang menjadi tak mudah. Tapi, Ashel punya caranya sendiri untuk tetap grounded, yakni tetap sadar bahwa ia hanyalah manusia yang sedang menjalani jalannya.

“Kita tuh dilahirin sama-sama sebagai manusia, tapi kita tumbuh jadi apa, itu rezeki yang di kasih sama Tuhan bagi aku,” tuturnya.

Sebuah pengingat yang sederhana, tapi sering terlupa bahwa tidak ada yang benar-benar lebih tinggi atau lebih rendah. Apa yang ia jalani hari ini, yang ia capai, yang ia miliki, bukan semata-mata karena dirinya hebat, tapi juga karena ada rezeki yang Tuhan titipkan. Ia tidak lagi melihat orang lain sebagai perbandingan, maupun sebagai ancaman. Semua orang, baginya, hanya sedang berjalan di jalurnya masing-masing dengan cerita, waktu, dan porsinya sendiri. 

Di balik semua sorotan, ia tahu bahwa kebahagiaan yang ia rasakan hari ini juga datang dari orang-orang di sekitarnya. Mereka yang mendukung, yang hadir, yang memilih untuk percaya, tak terkecuali yang mengkritik sekalipun. Bagi Ashel, semua itu tetap punya peran, yang baik menguatkan, yang buruk mengajarkan. 

Ia belajar untuk tidak mengambil semuanya secara personal. Ashel justru membiarkan orang menjadi diri mereka, sementara ia tetap fokus menjadi dirinya sendiri tanpa harus membuktikan apa-apa atau menjadi siapa-siapa. 

Dandelion yang indah di setiap fase

Adzana Ashel
instagram.com/asheladz

Ketika ditanya bagaimana kalau hidupnya diibaratkan sebagai sebuah bunga, bukan mawar yang dijuluki The Queen of Flowers yang ia sebut. Justru Ashel memilih dandelion, bunga kecil yang sering dianggap biasa, bahkan disangka rumput liar dan nyaris terlupakan. Bagi sebagian orang, dandelion mungkin bunga biasa saja, tapi Ashel melihatnya berbeda. 

“Kalo misalnya diibaratkan sama bunga mungkin aku bakal pilih dandelion,” ucapnya.

Dandelion punya dua fase yang kontras, tapi sama-sama indah. Saat masih kuning, ia terlihat cerah, hidup, hangat, seperti matahari kecil yang tumbuh di tanah. Lalu perlahan, ia berubah. Kelopaknya menghilang, berganti menjadi bulatan putih yang ringan, siap terbang kapan saja tertiup angin.

Dandelion juga memiliki makna keikhlasan. Bunga tersebut melepaskan bagian dari dirinya (benihnya) agar bisa melanjutkan keberlangsungan hidup, meski ia harus terlihat "habis" atau layu setelahnya. Ini seperti kisah Ashel yang akhirnya berani melepaskan yang sudah tidak bisa digenggam. Di samping itu, dandelion juga bermakna resilience, bisa tumbuh di mana saja, bahkan di tempat yang keras sekali pun.

Dalam obrolan santai yang juga semakin dalam ini, Ashel menceritakan kekagumannya pada dandelion. Meski berada di fase yang terlihat buruk, di saat siap terlepas, di saat terlihat rapuh, bentuknya tetap utuh. Bunga ini tetap cantik dengan caranya sendiri, tidak kehilangan maknanya atau pesona. Seperti hidup yang tidak selalu berada di puncak, tapi tetap punya keindahan di setiap titik terendahnya sekali pun.

“Walaupun lagi di fase paling tinggi, atau justru paling terpuruk… tetap indah,” kira-kira begitu cara Ashel melihatnya.

Ashel juga bercerita kalau Dandelion itu bersimbol make a wish. Saat kamu meniup benih dandelion dianggap menyampaikan doa atau harapan ke alam semesta. Sebuah simbol bahwa harapan itu tidak pernah benar-benar hilang, meski bentuknya berubah.

Dandelion membuatnya merefleksi diri bahwa ada masa di mana ia bersinar terang, penuh energi, penuh harapan. Tapi, ada juga fase ketika ia harus berubah, beradaptasi, bahkan melepaskan banyak hal yang tampaknya amat berharga. Fase yang mungkin terlihat “layu” dari luar, tapi sebenarnya sedang mempersiapkan sesuatu yang baru. Ia belajar untuk tetap indah di setiap versi dirinya.

Cara merawat diri belajar dari bunga lili

Adzana Ashel
instagram.com/asheladz

Masih berbicara tentang bunga, Ashel juga menyukai bunga lili. Jika memiliki sebuah parfum musim semi, Ashel akan memilih aroma lili yang semerbak karena jadi salah satu wangi favoritnya dan keluarganya. Nggak sampai di situ, ia juga mengambil pelajaran dari bunga tersebut untuk merawat diri dan ‘menyiram’ rasa percaya dirinya. 

Baginya, self-care itu bukan tentang menambahkan lebih banyak hal dalam hidup. Bukan tentang terus mengisi, terus mengejar, atau terus memaksakan agar semuanya tetap utuh. Justru sebaliknya, tentang berani mengurangi. Seperti bunga lili yang terlihat tenang, sederhana, bahkan seolah tidak membutuhkan banyak usaha untuk tetap indah. 

Tapi di balik itu, ada satu proses penting yang sering tidak terlihat, ia harus dipotong. Bagian-bagian yang sudah tidak diperlukan, harus dilepas. Seperti itulah Ashel dalam membuat dirinya tetap mekar dengan indah. Setiap hal yang membuat dirinya tidak berkembang, ia lepaskan.

“Cara aku menyiramnya aku akan berkembang dalam diriku sendiri dan hal yang sudah nggak aku butuhin aku cut off aja, aku ikhlasin,” ungkapnya..

Seperti bunga lili yang hanya diam di dalam vas, tidak terlihat disiram setiap hari, tidak terlihat berjuang keras, tapi tetap hidup an indah. Karena ternyata, tidak semua proses harus terlihat oleh orang dan tidak semua pertumbuhan harus diceritakan.

Kadang, yang paling penting justru terjadi di dalam di ruang yang hanya kamu dan dirimu sendiri yang tahu. Di sana, Ashel belajar menyiram kepercayaan dirinya. Bukan dari validasi luar, tapi dari keputusan-keputusan kecil yang ia ambil untuk dirinya sendiri. Bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang tahu apa yang harus dilepas agar bisa tetap tumbuh dengan utuh.

Itulah bloom era Ashel, bukan saat dapat pengakuan dari orang lain, bukan saat semua sorotan ada padanya, bukan juga saat mengisi atau mengejar banyak hal agar terlihat utuh, tapi saat mau melepaskan dan mengikhlaskan hal yang membuatnya tidak berkembang.

Credit:

Photographer: Winston Gomez

Fashion Editor: Michael Richards

Stylist: Hafidhza Putri Andiza

Beauty Asst.: Shavira Annisa

Makeup Artist: Vani Sagita

Hair Stylist: Mitsalina Hasyyati

Interview by: Natasha Cecilia Anandita

POPBELA.com crew: Nadhira Annisa

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Windari Subangkit
EditorWindari Subangkit
Follow Us

Latest in Relationship

See More