Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
For
You

Prilly Latuconsina & Omara Esteghlal: Merawat Cinta, Bertumbuh Bersama

LOOK-1.jpg
Popbela.com/Andre Wiredja
Intinya sih...
  • Prilly Latuconsina dan Omara Esteghlal merawat cinta dengan bertumbuh bersama
  • Hubungan mereka didasari oleh kenyamanan, kebebasan untuk menjadi diri sendiri, dan perhatian pada detail kecil
  • Mereka menemukan kedewasaan dalam hubungan dengan tidak berkompetisi, menerima perubahan, dan menjaga privasi tanpa rahasia
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Siang itu, studio POPBELA terasa hangat, bahkan sebelum lampu pemotretan dinyalakan. Prilly Latuconsina dan Omara Esteghlal baru saja kembali dari Jepang, menutup liburan pergantian tahun mereka, namun tak ada sisa lelah yang tertinggal di wajah keduanya. Yang hadir justru tawa, energi yang ringan, dan kedekatan yang terasa natural. Tema Couple Core untuk POPCreator edisi Februari seolah menemukan momentumnya. Bukan sebagai konsep visual semata, tetapi sebagai gambaran relasi yang hidup dan berkarakter.

Di sela-sela pemotretan, dinamika di antara mereka terlihat begitu jujur. Omara dengan “jokes bapak-bapaknya” selalu berhasil memancing tawa Prilly, bahkan satu studio ikut larut dalam suasana. Prilly pun membalas dengan caranya sendiri, mendengarkan penuh, menatap langsung saat kekasihnya itu bercerita, seolah memberi ruang aman bagi setiap kata yang keluar. Di antara take dan retake, cinta mereka hadir dalam bentuk yang paling sederhana namun nyata.

Namun di balik tawa dan kedekatan itu, Prilly dan Omara menunjukkan bahwa hubungan mereka berdiri di atas fondasi yang lebih dalam. Mereka bukan sekadar pasangan romantis, melainkan dua individu yang sadar akan arah hidupnya masing-masing dan memilih untuk bertumbuh bersama, tanpa saling mengecilkan.

Usai sesi pemotretan, POPBELA akhirnya berkesempatan berbincang lebih dekat dengan Prilly Latuconsina dan Omara Esteghlal. Di tengah suasana studio yang mulai tenang, keduanya berbagi cerita tentang dinamika hubungan, proses bertumbuh sebagai individu di dalam sebuah komitmen, hingga bagaimana mereka menjaga cinta tetap relevan di tengah perubahan fase hidup dan karier. Percakapan mengalir tanpa naskah, jujur, dan penuh refleksi, seperti hubungan yang mereka jalani hari ini.

Hubungan yang Hidup, Bukan Stagnan

LOOK-1-B LOGO.png
Popbela.com/Andre Wiredja

dress, kemeja, jaket & celana BURBERRY

Ketika Prilly Latuconsina dan Omara Esteghlal diminta merangkum hubungan mereka dalam satu kata, jawabannya datang nyaris bersamaan, seolah saling melengkapi sejak awal. Prilly memilih kata seru, sementara Omara menyebut comfortable. Dua kata yang terdengar sederhana, namun menyimpan makna yang jauh lebih dalam ketika keduanya mulai menjelaskan.

Bagi Prilly, kenyamanan bukanlah fase diam yang membuat hubungan berjalan di tempat. Ia justru berbicara tentang rasa aman yang tetap memberi ruang untuk bergerak, tertawa, dan menemukan hal baru setiap hari. 

“Nyaman, tapi bukan nyaman yang bosan. Tiap hari selalu ada keseruan yang beda-beda,” ujarnya. 

Omara menimpali dengan sudut pandang yang selaras, kenyamanan yang tetap dibalut rasa excitement. Sebuah perasaan tenang yang tidak mematikan rasa ingin tahu satu sama lain.

Dari cara mereka saling menanggapi, terlihat jelas bahwa relasi ini tidak dibangun untuk sekadar bertahan. Seru dan nyaman hadir berdampingan, menciptakan dinamika yang hidup. Sebuah hubungan yang tidak hanya terasa aman, tapi juga terus bergerak, bertumbuh, dan relevan di fase hidup yang mereka jalani hari ini.

Ruang Aman untuk Menjadi Diri Sendiri

LOOK-2-LOGO.png
Popbela.com/Andre Wiredja

dress, kemeja, jaket & celana BURBERRY

Di tengah ritme hidup yang padat dan sorotan yang nyaris tak pernah padam, Prilly dan Omara justru menemukan rasa aman itu dalam hal yang paling sederhana, yakni kebersamaan. 

“Setiap kita ketemu. Selagi kita sama-sama, kita bisa jadi diri kita sendiri,” ujar Prilly  yang langsung diamini oleh Omara tanpa ragu.

Menariknya, kenyamanan tersebut tidak selalu bergantung pada situasi yang sunyi atau privat. Bahkan di ruang yang ramai sekalipun, selama mereka bersama, ada kebebasan untuk hadir apa adanya. Prilly mengakui bahwa ada sisi-sisi dirinya yang hanya bisa ia tunjukkan pada Omara, tanpa filter, tanpa tuntutan peran. 

“At least, kita bisa stay true to each other,” katanya pelan.

Bagi Omara, konsep alone time dalam hubungan mereka bukan sekadar soal berdua tanpa kehadiran orang lain. Lebih dari itu, ia melihatnya sebagai ruang emosional yang hanya bisa dipahami oleh mereka berdua. 

“Ada pengalaman-pengalaman yang cuma kita berdua yang bisa ngerasain,” ujar aktor film Tinggal Meninggal tersebut. Sebuah ruang aman tempat mereka tidak perlu tampil sempurna, cukup jujur dan saling menerima.

Di sanalah relasi mereka menemukan kedewasaannya. Cinta tidak lagi soal bagaimana terlihat di mata dunia, melainkan tentang keberanian membuka diri sepenuhnya dan tahu bahwa ada seseorang yang tetap tinggal, tanpa menghakimi.

Detail Kecil, Perhatian Besar

LOOK-3-LOGO.png
Popbela.com/Andre Wiredja

Prilly: blazer WILSEN WILLIM, aksesori ISSHU Omara: blazer JAN SOBER, aksesori Gelap Ruang Jiwa

Jika harus menyebut satu hal yang paling ia hargai dari Omara sebagai pasangan, Prilly tak ragu menjawab: perhatian pada detail. Bukan gestur besar atau kata-kata manis semata, melainkan hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian, namun justru menjadi fondasi hubungan jangka panjang.

Aktris film Patah Hati yang Kupilih ini percaya bahwa cinta tidak hanya diukur dari seberapa sering seseorang mengatakan cinta, tetapi dari seberapa sungguh-sungguh ia mengingat.

“Sometimes I remember you itu lebih penting dari I love you,” ujar Prilly, mengutip sebuah pemikiran yang sangat ia yakini. 

Dan menurutnya, Omara melakukan keduanya. Mengucapkan cinta, sekaligus mengingat detail-detail kecil tentang dirinya, tentang hal yang ia sukai, tidak ia sukai, hingga kebiasaan sehari-hari yang mungkin terlihat sepele.

Bagi Omara, nilai yang ia lihat dari Prilly pun tak kalah dalam. Ia melihat Prilly sebagai sosok yang sangat peduli, bukan hanya pada pasangannya, tapi juga pada pertumbuhan dirinya sendiri. Prilly tidak menempatkan ego di depan, melainkan berusaha memahami, bahkan ketika pasangannya sedang merasa tidak aman. 

“Kalau aku lagi insecure, dia juga menaruh dirinya di sepatu aku kira-kira seperti apa. Jadi tidak mengedepankan ego sama sekali,” ujar Omara. Sebuah empati yang membuat hubungan ini terasa setara. Bukan karena sama, melainkan karena saling memahami.

Bertumbuh Tanpa Berkompetisi

LOOK-4-LOGO.png
Popbela.com/Andre Wiredja

korset, blazer WILSEN WILLIM, aksesori ISSHU

Di dalam hubungan mereka, ambisi tidak pernah berubah menjadi arena pembuktian. Prilly dan Omara melihat pencapaian bukan sebagai sesuatu yang harus dibandingkan, melainkan dirayakan, siapa pun yang sedang melangkah lebih dulu.

Bagi Prilly, gagasan berkompetisi dengan pasangan justru terasa asing sejak awal. Meski sama-sama berada di industri film, ia menyadari bahwa jalur yang mereka tempuh tidak pernah benar-benar sama.

“Aku punya jalan karierku sendiri, Omara punya jalan kariernya sendiri. Jadi kita nggak pernah menganggap kita itu saingan,” tukasnya.

Perbedaan tersebut justru membuat pertumbuhan terasa lebih sehat. Alih-alih merasa terancam, kesuksesan pasangan menjadi sesuatu yang dirayakan. Prilly pun mengaku tak pernah merasakan ketakutan dari Omara saat dirinya bersinar. Sebaliknya, perempuan kelahiran 15 Oktober 1996 ini merasa didukung sepenuhnya untuk terus berkembang.

“Malah dia akan membantu aku untuk lebih bersinar,” katanya.

Bagi Omara, mencintai seseorang bukan soal ego atau siapa yang terlihat lebih unggul. “Kita seharusnya mencintai orang bukan benefit-nya ke kita,” ujarnya. Dukungan, menurutnya, hadir lewat kepercayaan dan keberanian untuk berdiri di belakang keputusan pasangan, apa pun risikonya.

Di titik inilah hubungan mereka menemukan kekuatannya. Bertumbuh bukan tentang siapa yang lebih dulu sampai, melainkan tentang kemampuan untuk ikut bahagia melihat orang yang dicintai melangkah lebih jauh.

Perubahan yang Membuat Lebih Jujur

LOOK-5-LOGO.png
Popbela.com/Andre Wiredja

korset, blazer WILSEN WILLIM, aksesori ISSHU 

Selama lebih dari setahun menjalani hubungan, Prilly Latuconsina dan Omara Esteghlal menyadari bahwa cinta tidak hanya menghadirkan rasa nyaman, tetapi juga perubahan yang perlahan membuka sisi diri yang sebelumnya tersembunyi. Bersama, mereka menemukan versi diri yang terasa lebih jujur, tanpa harus berpura-pura menjadi siapa pun.

Bagi Omara, hubungan ini menjadi pengalaman pertama di mana ia bisa mengekspresikan afeksi tanpa ragu. “Dalam hidup, aku baru pertama kali bisa nyaman menunjukkan afeksi, bisa nyaman menunjukkan bahwa aku punya pasangan,” katanya. 

Aktor film Pengepungan di Bukit Duri ini mengakui bahwa perubahan itu datang bukan karena ia memaksakan diri untuk berubah, melainkan karena dinamika dengan pasangan yang tepat. “Kadang bukan soal personality kita seperti apa, tapi pasangannya siapa. Dan perubahan yang itu aku sangat sukai.”

Prilly pun merasakan hal serupa, namun dari sisi yang berbeda. Di balik citra ceria yang sering terlihat di hadapan publik, penulis buku Retak, Luruh, Kembali Utuh ini menyimpan banyak hal yang tak selalu bisa ia ungkapkan. Bersama Omara, semua lapisan itu perlahan luruh.

“Sama Omara tuh aku benar-benar bisa keluarin semuanya. Keinginan aku, mimpi aku, bahkan keburukan-keburukan aku,” ujarnya. Tanpa rasa takut akan dihakimi atau ditinggalkan.

Rasa aman itulah yang membuat Prilly berani menjadi lebih terbuka, bahkan dalam hal-hal kecil yang dulu tak pernah ia lakukan. “Aku bisa sangat nyaman dan tahu bahwa Omara akan selalu merangkul dan menerima aku apa adanya,” katanya. Di titik ini, perubahan bukan lagi tentang menjadi orang lain, melainkan tentang keberanian untuk akhirnya menjadi diri sendiri sepenuhnya.

Berbeda Pendapat Tanpa Harus Menang

Untuk AngShen 🤵🏻‍♂️👰🏻‍♀️Menyaksikan kisah mereka dari awal pdkt. Waktu itu aku tau mereka de.jpg
Instagram.com/prillylatuconsina96

Bagi Prilly, perbedaan bukan sesuatu yang perlu diredam, apalagi dihindari. Justru di sanalah hubungan diuji kedewasaannya. Ia percaya bahwa dua orang yang selalu sepakat dalam segala hal akan terdengar lebih janggal daripada pasangan yang berani berbeda pandangan. “Perbedaan itu nggak apa-apa sama sekali,” katanya. Yang terpenting bukan menyamakan sudut pandang, melainkan menghargainya.

Ketika pendapat tak bertemu di tengah, Prilly memilih untuk tidak memaksakan kesepakatan. Adakalanya satu hal tetap menjadi versi A bagi Omara dan versi B baginya, dan itu sah. 

“Bukan cari gimana caranya harus sama, tapi gimana kalau beda, kita tetap bisa hidup berdampingan,” katanya. Sebuah prinsip yang membuat hubungan mereka berjalan tanpa rasa ingin menang sendiri.

Omara memandang perbedaan dengan pendekatan yang lebih terstruktur. Ia menyebutnya sebagai pembagian tiga pilar: apa yang baik untuk dirinya, apa yang baik untuk Prilly, dan apa yang baik untuk mereka sebagai pasangan. 

“Di akhir, yang penting itu tiga komponen itu,” ujarnya. Bahkan ketika perdebatan memanas, arah diskusi selalu kembali pada keseimbangan tersebut.

Dengan cara itu, konflik tidak lagi menjadi ajang pembuktian ego, melainkan proses mencari keputusan yang paling sehat. Tidak selalu mudah, tidak selalu cepat, tapi selalu dengan kesadaran bahwa kebahagiaan individual dan kebahagiaan bersama harus berjalan beriringan.

Relationship Goals yang Realistis

Watching you shine is my favorite view ❤️Pengepungan di Bukit Duri adalah salah satu karya sinem.jpg
instagram.com/prillylatuconsina96

Bagi Omara, hubungan yang ideal tidak perlu dibungkus konsep rumit. Baginya, fondasi paling penting tapi justru sering terlupakan dalam hubungan adalah saling mendukung. “Relationship goals yang penting itu support,” ujarnya lugas. 

Aktor kelahiran 10 Agustus 1999 ini percaya bahwa relasi seharusnya membuat masing-masing individu tumbuh lebih bahagia dan lebih baik, bukan justru mengekang atau memuaskan ego salah satu pihak. Entah itu playful atau romantis, bentuknya bisa berbeda-beda. Yang terpenting, keduanya saling menyokong.

Pandangan tersebut terasa sejalan dengan cara Prilly memaknai cinta. Ia melihat dukungan sebagai hal yang paling realistis sekaligus paling kuat dalam sebuah hubungan. 

“Kalau kita sayang sama orangnya, kita pasti happy sama pencapaiannya,” kata aktris film Danur tersebut. Baginya, kebahagiaan pasangan bukan ancaman, melainkan sumber kebahagiaan lain yang layak dirayakan bersama.

Menariknya, nilai-nilai ini tidak lahir begitu saja. Prilly mengaku banyak belajar dari proses refleksi terhadap dirinya sendiri, terutama dari kesalahannya di masa lalu. Ia menyadari bagaimana relasinya saat ini membentuk dirinya menjadi versi yang lebih dewasa dan penuh kesadaran. “Hal-hal kecil ternyata bisa mengubah aku,” ujarnya. Dari sana, ia tahu apa yang ingin dijaga dan apa yang tak ingin diulang lagi.

Sementara Omara tumbuh dengan contoh nyata di rumah. Ia melihat bagaimana ayahnya selalu mendukung ibunya, tanpa rasa bersaing atau merasa terancam. Dukungan itu, baginya, adalah bentuk kesetaraan yang paling nyata. 

“Kesetaraan itu terjadi ketika ada keinginan untuk bertumbuh bareng,” katanya. Bukan soal menyamai pencapaian satu sama lain, melainkan memahami porsi masing-masing dan tetap berdiri di sisi pasangan, apa pun fasenya.

Traveling, Ego, dan Versi Paling Santai

tempImageoADoRi.png
Instagram.com/prillylatuconsina96

Liburan bersama sering kali menjadi "cermin" yang jujur. Dan bagi Prilly Latuconsina serta Omara Esteghlal, traveling justru membuka sisi-sisi yang tak selalu terlihat dalam keseharian. Sudah lebih dari tujuh negara mereka jelajahi bersama, dan setiap perjalanan menghadirkan dinamika baru. Kadang mengejutkan, tapi sering kali menggemaskan.

Omara, misalnya, baru menyadari satu hal tentang dirinya sendiri. “Kalau travelling, aku bisa sangat clingy,” katanya, disambut tawa Prilly.

Di perjalanan, Omara kerap menanyakan hal yang sama setiap hari: apakah Prilly benar-benar bahagia traveling bersamanya. Bukan karena ragu, melainkan karena baginya, kebahagiaan Prilly menjadi prioritas utama. Ia rela mengalah soal tujuan, rute, atau agenda tanpa ego untuk selalu menang.

Di sisi lain, Omara justru menemukan sisi Prilly yang bertolak belakang dengan citra publiknya. Di media sosial, Prilly dikenal sebagai sosok perempuan mandiri, terstruktur, dan ambisius. Namun saat traveling, ia justru sangat laid back. Kesiangan, rencana berubah, atau restoran penuh bukanlah masalah besar. “Yaudah, kita cari yang lain aja,” begitu sikapnya. 

“Prilly itu hebat banget karena dia bisa menjadi orang yang sangat terstruktur, time oriented, plan oriented, ambition driven. Karena itu kebutuhan profesional. Tapi sifatnya aslinya, dia justru orang yang ingin santai, lay down, tidur-tiduran. Dia juga orangnya sangat needy, sangat manja,” jelas Omara. Baginya, itulah sisi Prilly yang paling autentik. Tenang, santai, dan jauh dari tuntutan perfeksionisme.

Prilly pun mengakui bahwa kebebasan ini adalah sesuatu yang baru ia rasakan. Selama ini, ia terbiasa menjadi pemimpin dalam setiap perjalanan dengan mengatur itinerary, hotel, hingga urusan makan. Bukan karena ingin, melainkan karena keadaan. 

Bersama Omara, peran itu perlahan bergeser. Tanpa diminta, Omara mengambil alih hal-hal kecil, seperti mencuci piring, membuang sampah, hingga membereskan apartemen tempat mereka menginap saat liburan. Sampai di satu titik, Prilly justru merasa bersalah karena terlalu nyaman dan sangat diratukan.

“Ketika aku traveling sama Omara, aku bisa menjadi diri aku yang paling malas sedunia,” katanya sambil tertawa. Sebuah kemewahan yang sebelumnya tak pernah ia miliki.

Namun tentu saja, setiap perjalanan tidak selalu mulus. Tantangan terbesar mereka justru sesederhana rasa lapar. Omara mengaku mudah cranky saat belum makan, sementara Prilly adalah tipe yang jarang merasa lapar. Perbedaan ritme ini sempat menimbulkan salah paham hingga akhirnya mereka menemukan solusi paling praktis, yaitu selalu sedia makanan di tas. Tak jarang, mereka juga mampir ke supermarket atau vending machine untuk membeli camilan. Yang penting, Omara tidak kelaparan.

Di balik cerita-cerita kecil ini, traveling menjadi ruang di mana ego perlahan luruh. Prilly bisa beristirahat dari peran sebagai “yang harus bisa segalanya”, sementara Omara menemukan makna baru dari "merasa dibutuhkan". Dalam perjalanan jauh, mereka tidak hanya berpindah tempat, tapi juga saling mengenal lebih dalam, lebih jujur, dan apa adanya.

Menjaga yang Tetap Milik Berdua

Kemarin nyusulin @omara.esteghlal ke special screening Tinggal Meninggal, aku sempet ngintip ke.jpg
Instagram.com/prillylatuconsina96

Di tengah sorotan publik yang selalu menyertai mereka, Prilly Latuconsina dan Omara Esteghlal sepakat bahwa tidak semua hal tentang hubungan mereka harus dibagikan. Ada ruang yang sengaja mereka jaga tetap tertutup. Bukan karena ingin menyembunyikan, melainkan karena ingin melindungi. 

“Kita sepakat punya beberapa hal yang khusus kita dan nggak boleh orang tahu,” ujar Omara. Baginya, tanpa batasan itu, hubungan perlahan kehilangan maknanya sebagai milik berdua.

Apa yang terlihat di depan publik, mereka sadari, hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan cerita. Romantis, tawa, bahkan perbedaan pendapat yang sesekali diperlihatkan, semuanya nyata, namun tidak utuh. 

“Yang terjadi di publik itu sebenarnya nggak 100%,” kata Prilly. Selalu ada lapisan lain yang hanya mereka berdua pahami. Ruang privat tempat kejujuran dijaga tanpa perlu penonton.

Menariknya, batasan tersebut tidak berarti ada rahasia di antara mereka. Justru sebaliknya. Dalam hal-hal fundamental, termasuk yang kerap dianggap sensitif, mereka memilih untuk terbuka sepenuhnya. Keuangan, rencana hidup, hingga definisi rasa aman dibicarakan sejak awal. 

“Hal yang private menurut orang, justru jangan jadi private menurut kita,” ujar Prilly. Keterbukaan itu membuat banyak hal terasa lebih sederhana, mulai dari memilih gaya hidup, merencanakan perjalanan, hingga menyusun mimpi bersama.

Bagi Omara, batasan yang mereka jaga bukan soal menutup diri, melainkan soal kejujuran tanpa gimmick. Tidak ada peran yang dimainkan demi citra, tidak ada cerita yang dibagi ke luar sebelum dibicarakan di dalam. 

“Aku jamin nggak mungkin teman aku lebih tahu aku daripada Prilly,” katanya tegas. Lelah, marah, atau kecewa, semuanya disampaikan langsung, tanpa perantara.

Di atas fondasi itulah mimpi-mimpi ke depan diletakkan. Mimpi personal dan mimpi bersama, berjalan beriringan. Prilly berharap langkah-langkah yang mereka ambil ke depan justru membuat hubungan semakin kuat. 

“Aku nggak pernah mau sukses sendiri. Kalau aku sukses, aku mau pasangan aku juga sukses,” katanya. Omara pun sejalan. Baginya, bertumbuh bersama, apa pun bentuknya, adalah tujuan yang kini terasa paling berarti.

Dan mungkin, di sanalah esensi Couple Core yang mereka jalani. Bukan tentang seberapa sering cinta diperlihatkan, melainkan tentang bagaimana dua orang memilih untuk saling menjaga, saling mendukung, dan saling tumbuh dengan cara yang paling jujur, paling manusiawi, dan sepenuhnya milik mereka berdua.

Credit:

Photographer: Andre Wiredja

Fashion Editor: Michael Richards

Stylist: Hafidhza Putri Andiza

Beauty Asst.: Shavira Annisa

Makeup Artist: Vani Sagita, Salsabila Putri Aulia. S

Hair Stylist: Charles Sebastian, Salsabila Putri Aulia. S

Interview by: Windari Subangkit

POPBELA.com crew: Nadhira Annisa

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Windari Subangkit
EditorWindari Subangkit
Follow Us

Latest in Relationship

See More

Prilly Latuconsina & Omara Esteghlal: Merawat Cinta, Bertumbuh Bersama

02 Feb 2026, 12:00 WIBRelationship