Mengenal Dewi Sri: Inspirasi Agnes Rahajeng di Miss Supranational

- Agnes Rahajeng tampil di Preliminary Competition Miss Supranational 2026 dengan busana bertema Dewi Sri, mengangkat simbol perempuan dan budaya lokal Indonesia.
- Dewi Sri dikenal sebagai dewi padi, kesuburan, kemakmuran, dan pelindung petani; pemujaannya diyakini telah ada sejak prasejarah Nusantara, dengan penggambaran khas memegang padi.
- Melalui konsep Dewi Sri, busana Agnes menampilkan diplomasi budaya serta nilai perempuan sebagai pemberi kehidupan, tangguh dalam kelembutan, dan penjaga harmoni dengan alam.
Berlenggang di panggung Miss Supranational 2026, Agnes Rahajeng memukau publik dengan penampilannya di panggung Preliminary Competition. Mengenakan busana bertema The Enchanted Harvest of Dewi Sri: Gemah Ripah Loh Jinawi, model berusia 26 tahun ini berubah menjadi Dewi Sri yang dikenal sebagai simbol perempuan dan budaya lokal.
Sosok Dewi Sri pun ikut menarik perhatian yang membuat orang-orang jadi penasaran. Dalam budaya dan mitologi Nusantara sendiri, Dewi Sri adalah dewi padi yang menjadi simbol kesuburan dan kemakmuran.
Yuk, kenalan lebih dalam tentang cerita Dewi Sri dan bagaimana sosoknya bisa relevan dengan perempuan masa kini.
Table of Content
Dewi mitologi Nusantara

Dewi Sri merupakan tokoh legenda di Indonesia. Ia dikenal sebagai dewi padi yang melambangkan kesuburan, kemakmuran, dan pelindung kehidupan petani di Jawa, Sunda, dan Bali, bahkan hingga ke Lombok dan Sulawesi. Sosoknya sering disamakan dengan Dewi Laksmi dari tradisi Hindu.
Mitologi Dewi Sri di Nusantara diperkirakan sudah ada sejak awal abad pertama. Nama "Sri" berasal dari bahasa Sanskerta (श्री) yang artinya kemakmuran, kekayaan, kesehatan, kecantikan, keberuntungan, serta nama lain dari Dewi Hindu Laksmi.
Denys Lombard dalam bukunya Le Carrefour Javanais. Essai d'Histoire Globale berpendapat bahwa sosok mitologis Dewi Sri berasal dari India. Hal ini memunculkan pendapat bahwa pemujaan Dewi Padi di Nusantara dipengaruhi oleh kebudayaan India. Namun, pada kenyataannya, kepercayaan tersebut menyebar luas, termasuk di daerah yang tidak dipengaruhi oleh kebudayaan India.
Hal ini diperkuat oleh penuturan Titi Surti Nastiti, peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, yang berpendapat bahwa pemujaan Dewi Padi memiliki asal-usul yang lebih tua. Dewi Padi sudah dipuja sejak zaman prasejarah sebelum datangnya pengaruh Hindu-Buddha dari India ke Nusantara. Beberapa arca yang terbuat dari batu dan perunggu yang disebut sebagai "Dewi Sri" ditemukan di Indonesia, tepatnya berasal dari zaman Jawa kuno. Dengan mempelajari mudra (sikap tangan) dan laksana (atribut dan ciri-ciri) pada arca, ikonografi Dewi Sri Indonesia berbeda dari murti Dewi Sri Laksmi yang ditemukan di India. Di India, Laksmi sering ditampilkan dengan memegang bunga padma (teratai merah) di tangannya. Sementara di Indonesia penggambaran Dewi Sri selalu terkait dengan padi. Praktik pemujaan terhadap Dewi padi sebagai dewi kesuburan telah ada sejak zaman prasejarah sebelum kedatangan pengaruh Hindu-Buddha di Nusantara.
Padi di tangan kiri jadi ciri khasnya

Penggambaran wujud Dewi Sri tidak dapat dipisahkan dari konsep dewi padi. Oleh karenanya, setiap wujudnya baik dalam arca atau pun karya lainnya menampilkan Dewi Sri menggenggam setangkai padi di tangan kirinya.
Dewi Sri juga selalu digambarkan sebagai gadis muda yang cantik, ramping tetapi bertubuh sintal dan berisi, dengan wajah khas kecantikan alami gadis asli Nusantara. Mewujudkan perempuan di usia puncak kecantikan, feminitas, dan kesuburannya.
Setiap daerah punya kisah tentang Dewi Sri

Meski punya banyak versi sesuai dengan asal daerah masing-masing, kebanyakan kisah mengenai Dewi Sri terkait dengan mitos asal mula terciptanya tanaman padi, bahan pangan utama di Indonesia.
Dalam lakon mitologi, seperti dalam Tantu Pagelaran atau Hikayat Hang Tuah (Cerita Rakyat Sunda), Dewi Sri mengorbankan dirinya demi kelangsungan hidup manusia. Dari jasadnya yang dimakamkan, tumbuhlah berbagai tanaman pangan, matanya menjadi padi, dadanya menjadi kelapa, dan bagian tubuh lainnya menjadi tanaman berharga.
Oleh karena itu, sosoknya sangat diagungkan oleh masyarakat yang masih memegang teguh kepercayaan roh. Ini juga membawa pesan moral, bahwa makhluk hidup tidak bisa bertahan tanpa adanya pengorbanan alam dan ibu bumi. Dewi Sri melambangkan siklus kehidupan, yakni mati untuk menghidupi.
Pelindung kehidupan dan kemakmuran

Pada masyarakat Indonesia, pemujaan dewi padi sangat erat terkait dengan pemujaan kesuburan dan peran pentingnya dalam dunia pertanian. Karena ia merupakan simbol bagi padi, Dewi Sri juga dipandang sebagai ibu kehidupan.
Ia dipercaya sebagai dewi yang menguasai ranah dunia bawah tanah juga bulan. Perannya mencakup segala aspek Dewi Ibu, yakni sebagai pelindung kelahiran dan kehidupan, mengatur kehidupan, kekayaan, dan kemakmuran.
Dewi Sri menjadi simbol kesuburan dan kelimpahan, dari tanah yang subur, panen melimpah, dan ketahanan pangan. Sebagai perlindungan dan kelembutan, Dewi Sri menggambarkan sosok ibu yang mengayomi, memberi nutrisi, dan menjaga kesejahteraan komunitasnya. Ia juga mengajarkan pentingnya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Pencipta (konsep Tri Hita Karana di Bali).
Ikon feminine energy di era modern

Saat Agnes Rahajeng mengangkat konsep Dewi Sri ke ajang Miss Supranational, ini bukan sekadar pilihan estetika visual yang cantik, tapi juga diplomasi budaya. Elemen warna emas yang melambangkan keberhasilan dan kejayaan, serta nuansa hijau yang berarti kehidupan dan keberlanjutan menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia punya akar budaya yang sangat menghormati alam dan menempatkan sosok perempuan sebagai pilar utama kehidupan. Saat perempuan dihormati, di situ ada kemakmuran.
Dewi Sri bukan hanya mitologi dewi padi kuno yang ketinggalan zaman. Karakter satu ini bisa disebut sebagai cetak biru (blueprint) dari feminine energy yang tangguh. Beberapa karakternya yang menginspirasi, antara lain:
1. Pemberi kehidupan dan "menutrisi" lingkungan
Dewi Sri tidak hanya melahirkan kehidupan, tapi juga menutrisinya. Di era modern, perempuan tidak hanya berperan dalam ranah domestik. Kamu bisa menjadi penggerak ekonomi, pemimpin di tempat kerja, kreator, dan pembuat perubahan di lingkungan sosial. Seperti Dewi Sri, apa pun yang kamu sentuh dan kerjakan, entah itu karier, bisnis, atau karya, punya dampak yang "menutrisi" orang-orang di sekitarmu.
2. Tangguh di balik kelembutan
Dewi Sri identik dengan kelembutan, tetapi di balik itu ada kekuatan besar untuk bertahan dan memberi dampak. Perempuan masa kini sering dituntut untuk multitalenta dan menghadapi berbagai tantangan karier maupun kehidupan pribadi. Kelembutan bukan lagi tanda kelemahan, melainkan wujud empati dan ketangguhan untuk terus bangkit.
3. Simbol kebijaksaan dan sustainability
Di tengah krisis iklim dan dunia yang bergerak serba cepat, filosofi Dewi Sri mengingatkan akan pentingnya keseimbangan dan keberlanjutan. Ini menjadi pengingat juga buat para perempuan modern untuk semakin sadar akan gaya hidup ramah lingkungan, mindful living, dan pentingnya menjaga harmoni, baik dengan diri sendiri, sesama, maupun alam.
Melalui karya Agnes Rahajeng di Miss Supranational, kita diingatkan kembali bahwa tradisi bukan cuma sesuatu yang ada di buku sejarah. Sosok Dewi Sri menunjukkan bahwa menjadi perempuan anggun, penuh empati, dan memberi manfaat bagi banyak orang adalah kekuatan terbesar yang bisa kamu miliki.
Jadi, saat kamu menghadapi hari-hari yang berat, ingatlah bahwa ada semangat ketangguhan dan kelimpahan a la "Dewi Sri" di dalam dirimu, ya!






















