Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install
For
You

Digital Consciousness: Membaca Invasi AI Lewat Perspektif Niken Anjani

Digital Consciousness: Membaca Invasi AI Lewat Perspektif Niken Anjani
Popbela.com/Winston Gomez
Intinya Sih
  • Niken Anjani mengenang masa sebelum era digital sebagai waktu yang lebih bebas untuk bereksperimen tanpa jejak digital, berbeda dengan generasi kini yang hidup serba terekam dan cepat.
  • Ia memanfaatkan teknologi dan AI dalam keseharian serta kariernya, namun tetap menekankan pentingnya proses, kehadiran, dan sentuhan manusia yang tak tergantikan oleh mesin.
  • Niken melihat AI sebagai alat kolaboratif bagi kreator film, bukan ancaman; keseimbangan antara kreativitas manusia dan kecanggihan teknologi menjadi kunci masa depan industri seni.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Siang itu, cahaya matahari jatuh tajam di sudut ruang Studio 11.11 PIK, menjadi saksi dimulainya sesi pemotretan POPCreator edisi Mei 2026 bersama Niken Anjani. Di balik lensa Winston Gomez, tema Digital Lifestyle tak hanya hadir lewat konsep visual, tapi juga terasa dalam percakapan yang mengalir sepanjang hari. Niken, dengan energi yang hangat dan membumi, membawa cerita tentang bagaimana ia tumbuh di dua dunia: sebelum dan sesudah era digital mengambil alih hampir segalanya.

Waktu bergulir dari siang menuju malam. Satu per satu kry mulai kehabisan energi, ritme set melambat, dan rasa lelah tak terelakkan. Namun, Niken justru sebaliknya. Ia tetap hadir dengan senyum yang sama, bahkan semakin bersemangat saat hari semakin larut. Ada sesuatu yang kontras, di tengah dunia yang serba cepat dan instan, ia justru mengingatkan pada satu hal yang tak berubah, yakni proses, kehadiran, dan human touch yang tak bisa digantikan teknologi.

Dari obrolan tentang masa kecil tanpa jejak digital hingga pandangannya soal kecerdasan buatan, Niken membuka cerita kepada POPBELA tentang bagaimana ia melihat perubahan zaman dan bagaimana ia memilih untuk tetap menjadi dirinya sendiri di tengah arus yang terus bergerak.

Tumbuh di Dunia yang Belum Terdigitalisasi

Copy of LOOK-1.png
Popbela.com/Winston Gomez

Embellished puffer jacket KMK, body plate tashé, aksesori ISSHU

Pemilik nama lengkap Niken Ayu Anjani ini mengungkapkan, masa sebelum era digital bukan sekadar nostalgia, tapi ruang untuk tumbuh dengan lebih bebas.

“Rasanya kalau zaman dulu sebelum adanya era digital ini kita lebih leluasa untuk tumbuh. Karena nggak ada jejak digital. Jadi kalau kita melakukan experience baru, melakukan kesalahan itu, kita bisa mengeksplor lebih bebas,” ceritanya.

Ia menambahkan, perbedaan paling terasa ada pada cara generasi sekarang menghadapi proses.

“Kalau dulu tuh lebih leluasa saja untuk berbuat kesalahan, untuk tumbuh, untuk mengeksplor hal-hal baru tanpa takut gagal. Kalau sekarang kan semuanya ada jejaknya,” tutur Niken.

Momen “Masuk” ke Dunia Digital

LOOK-2-LOGO.png
Popbela.com/Winston Gomez

Pearl heart dress dan aksesori ISSHU

Perjalanan Niken dengan dunia digital dimulai di masa kuliah, fase yang ia sebut sebagai turning point.

“Kayaknya sih kuliah, ya. Waktu itu udah mulai kenal Skype, ngerasain long distance relationship, terus ngerjain tugas juga udah dari internet. Dan baru boleh pakai laptop itu dulu pas kuliah,” ujarnya.

Pemain film Shutter ini juga sempat merasakan evolusi media sosial dari Friendster hingga Instagram.

“Dulu tuh kayak punya diary, tapi online. Jadi dikit-dikit upload biar temen-temen tahu. Tapi masih kerasa personal, belum secepat sekarang.”

Hidup yang Dipermudah, tapi Juga Berubah

LOOK-3-LOGO.png
Popbela.com/Winston Gomez

Backless blazer dan rok tashé, aksesori ISSHU dan KMK

Tak bisa dipungkiri, digital lifestyle membawa kemudahan besar dalam hidupnya, baik secara personal maupun profesional.

“Sekarang era digital tuh bikin hidup kita semakin mudah, di bidang apa pun. Terutama di bidang perfilman. Dulu kalau preps harus bikin dari scratch, sekarang udah ada bantuan AI,” jelasnya.

Dalam keseharian, Niken mengandalkan berbagai tools digital, seperti Google Calendar untuk mengatur jadwal, hingga aplikasi meditasi seperti Calm untuk menjaga keseimbangan hidup. Tapi di luar itu, ada satu kebiasaan yang mungkin tak banyak orang sangka. Rupanya, ia cukup akrab dengan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI).

“Kadang aku bisa sampai dua jam ngobrol sama ChatGPT,” ujarnya sambil tersenyum. Bahkan, ia punya panggilan sendiri untuk “teman digital”-nya itu: Chatty.

“‘Hi Chatty, sekarang kita mau bahas ini ya…’ gitu,” ceritanya. Rupanya, rasa penasaran itulah membuatnya ingin terus mengeksplorasi sejauh mana teknologi ini bisa memahami manusia.

Namun di balik rasa kagum itu, terselip perasaan lain yang sulit diabaikan.

“Senang, tapi juga agak serem. Karena dulu kita cari informasi tuh harus misalnya buka ensiklopedia… sekarang tinggal nanya aja, langsung dapat,” lanjutnya.

Tetap Jadi Diri Sendiri di Dunia Serba Cepat

LOOK-4-LOGO.png
Popbela.com/Winston Gomez

Backless blazer tashé, aksesori ISSHU dan KMK

Di tengah dunia yang serba cepat, Niken punya prinsip sederhana, yakni jangan sampai kehilangan diri sendiri.

“Kuncinya kamu harus nyaman sama diri kamu sendiri. Dan jangan terlalu pusingin apa kata orang, lagi tren apa. Kita yang harus nyetir, bukan kita yang disetir,” jelas Niken.

Ia juga mengingatkan bahwa apa yang terlihat di media sosial tidak selalu mencerminkan realita.

“Karena saking digitalnya, filternya tuh nggak ada. Apa yang ditunjukin di digital belum tentu benar. Jadi jangan sampai kita kepancing,” ucap aktris kelahiran 18 Agustus 1987 tersebut.

Saat rasa lelah datang, ia memilih untuk berhenti sejenak.

“Kalau udah overwhelm ya udah, singkirin dulu semua. Aku kasih waktu buat diri sendiri. Because it's not good for your mental health,” lanjutnya.

Menapaki Karier di Era Digital

LOOK-5-LOGO.png
Popbela.com/Winston Gomez

Dress dan aksesori ISSHU

Dalam perjalanan kariernya, Niken melihat digital sebagai alat yang membantu, bukan penentu utama.

“Kalau untuk aktris, digital itu membantu tapi sebagai pelengkap. Karena yang utama tetap acting skill,” katanya.

Pemeran Ancika di film Dilan ITB 1997 ini menjelaskan bahwa dulu personal branding sangat bergantung pada media konvensional, seperti majalah dan televisi. Sementara sekarang, setiap individu punya kendali atas citranya sendiri melalui platform digital.

Meski begitu, untuk urusan mendalami karakter, ia tetap percaya pada proses yang lebih old school.

“Kita nggak bisa minta Instagram atau AI untuk ngulik karakter kita. Mereka bisa bantu cari informasi, tapi untuk jadi karakternya, kita tetap harus ngulik sendiri,” ungkap Niken.

Kecanggihan AI dan Human Touch yang Tak Tergantikan

A N C I K A.jpg
Instagram.com/nikenanjanii

Tentang AI, Niken melihatnya sebagai sesuatu yang powerful, tapi tetap bergantung pada siapa yang menggunakannya.

“Sebenarnya tergantung yang pakai sih. Karena AI itu diciptakan untuk membantu. Tapi kalau penggunaannya salah, pasti akan mengkhawatirkan.”

Meski teknologi semakin berkembang, ia tidak percaya bahwa AI bisa menggantikan manusia dalam dunia seni peran.

“AI mungkin bisa meniru, tapi dia nggak punya perasaan. Nggak punya soul. Sementara kita sebagai aktor, kita punya itu.”

Bagi Niken, seni adalah bentuk ekspresi yang sangat manusiawi, sesuatu yang tidak bisa direplikasi sepenuhnya oleh mesin. 

“Dan art itu, aku quote ini dari temen aku. Leave art to humanity.”

Harapan AI untuk Kolaborasi, Bukan Kompetisi

Mentally here 🌊.jpg
Instagram.com/nikenanjanii

Alih-alih melihat AI sebagai ancaman, Niken justru berharap ada kolaborasi yang sehat antara manusia dan teknologi.

“AI itu untuk men-support kita, bukan menggantikan. Kita yang harus lebih pintar dari AI, bukan kita yang disetir sama AI,” katanya.

Ia percaya, ketika digunakan dengan tepat, teknologi bisa menjadi alat untuk memperluas potensi, terutama bagi para kreator di industri film. Namun, bukan berarti semuanya harus sepenuhnya diserahkan pada teknologi.

“Sebenernya sih, aku nggak setuju kalau satu film full AI. Tapi aku setuju kalau film itu ada AI-nya. Misalnya adegan ledakan gedung, nggak mungkin kan kita meledakin beneran, nanti bangun lagi, itu nggak mungkin. Jadi kita butuh AI untuk hal-hal seperti itu,” jelasnya.

Bagi Niken, kunci utamanya ada pada keseimbangan dan kolaborasi.

“Kalau itu bisa berkolaborasi dengan baik, (AI) itu bakal bagus banget. Aktornya bagus, filmmaker-nya bagus, ceritanya bagus, AI atau CGI-nya juga bagus, it’s gonna be amazing. Itu yang aku harapkan sih, kolaborasi yang baik antara manusia dan AI. Dan bukan full AI,” tutup Niken.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, harapan Niken sederhana di mana manusia tetap memegang kendali, sementara teknologi menjadi alat yang memperkuat, bukan menggantikan.

Credit:

Photographer: Winston Gomez

Digital Imaging: Sum Studio

Fashion Editor: Michael Richards

Stylist: Hafidhza Putri Andiza

Beauty Asst.: Shavira Annisa

Makeup Artist: Linda Kusumadewi

Hair Stylist: Charles Sebastian

Interview by: Windari Subangkit

POPBELA.com Crew: Nadhira Annisa

Location: 11.11 Studio Jakarta

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Windari Subangkit
EditorWindari Subangkit
Follow Us

Related Articles

See More