Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
For
You

Conscious Unbossing: Arti, Tren Gen Z, dan Dampaknya untuk Karier

Conscious Unbossing: Arti, Tren Gen Z, dan Dampaknya untuk Karier
pexels.com/August de Richelieu
Intinya Sih
  • Fenomena conscious unbossing menggambarkan tren Gen Z yang secara sadar menolak promosi jabatan manajerial demi menjaga keseimbangan hidup, kesehatan mental, dan fokus pada pengembangan diri.

  • Tren ini muncul karena perubahan makna sukses di kalangan muda, di mana stabilitas, waktu pribadi, dan kesejahteraan emosional dianggap lebih penting daripada status atau tanggung jawab besar.

  • Meskipun bisa menimbulkan kesan kurang ambisius, conscious unbossing tetap memberi peluang bagi individu untuk membangun keahlian dan reputasi profesional tanpa harus memegang posisi atasan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Belakangan, istilah conscious unbossing ramai diperbincangkan di berbagai platform sosial media, salah satunya TikTok. Conscious unbossing adalah sebuah fenomena yang menunjukkan bahwa karyawan Gen Z saat ini enggan naik jabatan dan lebih memilih posisi stabil demi menjaga kewarasan.

Bagi mereka, work-life balance, kesehatan mental, dan waktu luang jauh lebih berharga daripada titel manajer dengan segudang beban kerja. Biar kamu lebih paham tentang conscious unbossing, berikut Popbela akan membahas arti, alasan tren ini muncul, dan dampaknya bagi karier. Simak, ya!

Table of Content

1. Apa itu conscious unbossing?

1. Apa itu conscious unbossing?

conscious unbossing adalah
pexels.com/Kampus Production

Istilah conscious unbossing sebenarnya merujuk pada pergeseran dinamika di tempat kerja. Secara sederhana, conscious unbossing adalah fenomena di mana para pekerja muda, khususnya Gen Z, secara sadar menolak promosi ke posisi manajerial.

Kata conscious menegaskan bahwa keputusan tersebut dibuat dengan pertimbangan matang, bukan karena malas atau tidak kompeten. Mereka menolak definisi tradisional tentang pemimpin yang identik dengan jabatan struktural.

Alih-alih mengejar jabatan, Gen Z lebih memilih mengembangkan karier melalui peningkatkan keterampilan pribadi. Mereka percaya bahwa pengaruh kepemimpinan berasal dari keahlian dan kontribusi nyata, bukan dari posisi. Kalangan Gen Z juga sadar bahwa berada di jabatan atas bukan satu-satunya cara yang bisa memberikan dampak atau mencapai kepuasan kerja.

2. Kenapa conscious unbossing jadi tren?

conscious unbossing adalah
pexels.com/August de Richelieu

Ada beberapa faktor yang mendorong munculnya fenomena conscious unbossing, di antaranya:

  • Prioritas work-life balance dan kesehatan mental
    Gen Z tumbuh dengan kesadaran soal kesehatan mental dan kualitas hidup. Bagi mereka, menjadi atasan bukan hanya soal mencapai target pribadi, tetapi juga memikul tanggung jawab besar atas tim. Mereka menyaksikan langsung senior yang burnout, pulang malam, dan selalu terikat dengan notifikasi kerja. Padahal, kalangan anak muda sekarang lebih memilih menghargai waktu pribadi. Bisa pulang tepat waktu, menikmati hobi, dan menghabiskan waktu bersama orang terdekat terasa lebih bermakna. Hidup bukan hanya tentang pekerjaan saja. Oleh karena itu, work-life balance dan kesehatan mental harus tetap jadi prioritas utama.
  • Tekanan dan risiko burnout di posisi manajerial
    Sebagai seorang atasan tentu kamu tidak hanya bertanggung jawab atas tim saja, tetapi juga harus menyelesaikan konflik dan menghadapi tekanan dari manajemen. Sayangnya, banyak Gen Z yang memandang kondisi tersebut sebagai sumber stres yang akan berlangsung terus-menerus. Belum lagi, jika mereka melihat atasannya mengalami burnout hingga stres berkepanjangan. Dari situlah, mereka belajar bahwa memiliki jabatan tinggi juga berarti harus menghadapi risiko yang jauh lebih besar.
  • Perubahan makna sukses
    Fenomena conscious unbossing juga dipengaruhi oleh perubahan makna sukses di hidup Gen Z. Bagi mereka, keberhasilan tidak selalu identik dengan memimpin banyak orang. Bisa hidup seimbang, stabil secara finansial, dan tetap punya ruang untuk diri sendiri sudah menjadi sebuah pencapaian. Jabatan hanyalah opsi, bukan tujuan utama sehingga banyak dari mereka memilih berkembang secara horizontal selama kebutuhan hidupnya tercukupi.

3. Perbedaan conscious unbossing dan quiet quitting

conscious unbossing adalah
pexels.com/Mikhail Nilov

Setelah mengetahui apa itu conscious unbossing, kamu mungkin juga pernah mendengar istilah quiet quitting. Meskipun sama-sama tertuju pada work-life balance dan kesehatan mental, keduanya berbeda, Bela. Conscious unbossing lebih berkaitan dengan masalah jenjang karier. Istilah ini digunakan untuk menyebut fenomena di mana ada sebagian orang yang memutuskan tidak mengambil jabatan sebagai atasan atau bos.

Sementara itu, istilah quiet quitting merujuk pada kebiasaan seseorang yang bekerja sesuai dengan porsinya. Dengan kata lain, mereka tidak segan menolak pekerjaan di luar jobdesk dan tidak ingin bekerja di luar jam kerja. Conscious unbossing bisa dilakukan oleh karyawan yang berprestasi tinggi dan berdedikasi penuh pada pekerjaannya.

Mereka biasanya tetap memberikan kontribusi maksimal, hanya saja memang tidak ingin memegang tanggung jawab manajerial. Sebaliknya, orang-orang yang menerapkan quiet quitting terkadang enggan bekerja dengan performa maksimal.

Bahkan, mereka juga tidak ada keinginan untuk mengejar karier. Hal ini bisa dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari beban kerja dirasa berlebihan, jam kerja yang buruk, minimnya apresiasi, hingga kompensasi yang tidak sesuai.

4. Apakah conscious unbossing bisa merugikan karier?

conscious unbossing adalah
pexels.com/Pavel Danilyuk

Perlu kamu catat, conscious unbossing sebenarnya tidak selalu berdampak negatif bagi karier. Justru, keputusan ini bisa memberi ruang bagi seseorang untuk lebih fokus mengembangkan skill atau keahliannya. Harapannya, dengan fokus pada skill individu, maka ia bisa membangun reputasi sebagai ahli di bidangnya.

Selain itu, pilihan conscious unbossing juga membantu menjaga keseimbangan hidup. Pasalnya, mereka jadi bisa mengelola energi, kesehatan mental, dan kehidupan pribadinya dengan baik. Kondisi yang stabil tersebut dianggap lebih bagus untuk jangka panjang.

Meski demikian, sisi negatif dari conscious unbossing tetap bisa menimbulkan persepsi kurang ambis di mata perusahaan. Jika tidak diiringi strategi pengembangan diri yang jelas, keputusan tadi berpotensi membuat karier terasa stagnan.

Oleh karena itu, komunikasi profesional perlu dilakukan. Jika kamu memilih menolak promosi jabatan, sebaiknya jelaskan alasannya secara terbuka pada atasanmu, ya. Misalnya, ingin lebih fokus pada pengembangan karier tertentu atau masih ingin memberikan kontribusi maksimal di peran saat ini. Tak hanya itu, hal tadi juga harus kamu barengi dengan komitmen, performa, dan keinginan terus berkembang meskipun bukan lewat jalur manajerial.

Conscious unbossing adalah pilihan yang sadar dan valid. Tren ini lahir seiring munculnya pergeseran cara pandang generasi muda terhadap dunia kerja yang kini lebih mengutamakan keseimbangan hidup dan kesehatan mental. Sukses tidak selalu harus punya jabatan tinggi karena setiap orang berhak menentukan jalur kariernya sendiri.

FAQ seputar conscious unbossing

Bagaimana cara menolak promosi jabatan dengan elegan?

Ucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan, jelaskan fokus atau prioritas saat ini, dan pastikan tetap berkontribusi maksimal.

Apakah conscious unbossing memengaruhi kenaikan gaji?

Tergantung kebijakan perusahaan. Saat ini, banyak perusahaan punya jalur karier non manajerial dengan kenaikan gaji tetap.

Apakah tren ini hanya terjadi di kalangan Gen Z?

Tidak, bisa terjadi pada semua generasi. Namun, Gen Z lebih vokal soal work-life balance.

Apakah conscious unbossing bisa berubah jika prioritas hidup berubah?

Bisa, karena ini adalah keputusan fleksibel sesuai perubahan hidup dan karier.

Bagaimana menjelaskan pilihan ini saat interview kerja?

Fokus pada keahlian dan kontribusi, tunjukkan alasan strategis, bukan takut tanggung jawab.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nafi Khoiriyah
EditorNafi Khoiriyah
Follow Us

Latest in Career

See More