نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيعِ شَهْرٍ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ تَقْلِيدًا لِلْإِمَامِ مَالِكٍ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى
Artinya:
"Aku niat berpuasa di sepanjang bulan Ramadan tahun ini dengan mengikuti Imam Malik, fardu karena Allah Ta'ala."
Niat Puasa 1 Bulan Penuh dan Hukumnya Menurut Para Ulama

Para ulama sepakat niat adalah syarat sah puasa Ramadan, namun berbeda pendapat soal teknisnya.
Pendapat Maliki memandang puasa Ramadan sebagai ibadah berkesinambungan, sehingga satu niat di awal bulan cukup selama tidak terputus oleh hal yang membatalkan puasa.
Mayoritas masyarakat mengikuti mazhab Syafi’i yang menekankan pembacaan niat setiap malam, meski sebagian kiai menganjurkan mengikuti pandangan Imam Malik sebagai bentuk kehati-hatian.
Saat hendak melaksanakan ibadah puasa Ramadan, niat merupakan hal yang tidak boleh dilewatkan. Sebab, niat menjadi syarat sah sekaligus termasuk rukun puasa.
Jika mahzab Syafi'i menganjurkan setiap Muslim untuk membaca niat puasa setiap hari pada malam Ramadan, ternyata mahzab Maliki memperbolehkan niat hanya satu kali di malam pertama Ramadan.
Lantas, seperti apa niat puasa 1 bulan penuh dan bagaimana hukumnya menurut para ulama? Yuk, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.
Table of Content
1. Niat puasa 1 bulan penuh

Para ulama empat mahzab sepakat jika puasa Ramadan wajib dimulai dengan niat. Meski demikian, mereka berbeda pendapat terkait teknis pelaksanaannya. Berikut niat puasa 1 bulan penuh mengikuti mahzab Malikiyah yang perlu kamu ketahui.
2. Bolehkah niat puasa langsung 1 bulan penuh?

Melansir NU Online, tiga mazhab selain Maliki, menjelaskan bahwa niat puasa Ramadan harus diperbarui setiap malam untuk puasa keesokan harinya. Hal ini berbeda dengan mazhab Maliki yang memandang puasa Ramadan sebagai satu rangkaian ibadah yang utuh. Oleh karena itu, niat puasa boleh dilakukan sekaligus pada malam pertama Ramadan untuk satu bulan penuh tanpa perlu diulang setiap hari.
Kebolehan tersebut dimaksudkan sebagai bentuk kemudahan, terutama bagi orang yang khawatir lupa atau mengalami kesulitan untuk berniat setiap malam. Pendapat ini juga juga pernah disinggung oleh Syaikh Imam al-Qulyubi dalam kitab Hasyiyah Al-Qulyubi (jilid 2, halaman 66) sebagai berikut:
وَيُنْدَبُ أَنْ يَنْوِيَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ أَوْ صَوْمَ رَمَضَانَ كُلَّهُ لِيَنْفَعَهُ تَقْلِيدُ الْإِمَامِ مَالِكٍ فِي يَوْمٍ نَسِيَ النِّيَّةَ فِيهِ مَثَلًا لِأَنَّهَا عِنْدَهُ تَكْفِي لِجَمِيعِالشَّهْرِ
Artinya:
"Disunahkan pada malam pertama bulan Ramadan untuk niat berpuasa sebulan penuh untuk mengambil memanfaatkan pendapat Imam Malik pada suatu hari yang lupa untuk berniat di dalamnya. Karena beliau menganggap niat tersebut mencukupi bila lupa niat pada malam-malam berikutnya di semua malam Ramadan."
Pendapat mahzab Malikiyah tersebut cukup lazim dipraktikkan di Indonesia, meskipun mayoritas masyarakat mengikuti mazhab Syafi'i. Di sisi lain, dalam hal niat puasa satu bulan penuh, para kiai dan masyayikh menganjurkan mengikuti pendapat Imam Malik sebagai bentuk kehati-hatian.
3. Bolehkah niat puasa 1 bulan penuh meskipun tidak puasa di hari pertama?

Jika kamu tidak berpuasa di hari pertama Ramadan, apakah tetap boleh membaca niat puasa 1 bulan penuh? Jawabannya tetap boleh. Hal ini didasarkan pada penjelasan Syekh Muhammad bin Yusuf al-Ghurnathi, pakar fikih mazhab Maliki, sebagai berikut:
وكفت نية لما يجب تتابعه اللخمي أما ما تجب متابعته كرمضان وشهري الظهار وقتل النفس ومن نذر شيئا بعينه ومن نذر متابعة ما ليس بعينه فالنية في أوله لجميعه تجزئه
Artinya:
"Dan cukup niat sekali untuk puasa yang wajib dilakukan secara terus-menerus. Imam al-Lakhmi mengatakan, Adapun puasa yang wajib dilakukan terus-menerus seperti Ramadan, dua bulan puasa dhihar, puasa denda pembunuhan, orang yang bernazar puasa pada hari tertentu, orang yang bernazar terus-menerus berpuasa yang tidak ditentukan harinya, maka niat di awal mencukupi untuk keseluruhannya."
Pernyataan tersebut diperkuat dengan pendapat Ibnu Rusydi:
ابن رشد وأما ما كان من الصيام يجوز تفريقه كقضاء رمضان وصيامه في السفر وكفارة اليمين وفدية الأذى فالأظهر من الخلاف إذا نوى متابعة ذلك أن تجزئه نية واحدة يكون حكمها باقيا وإن زال عينها ما لم يقطعها بنية الفطر عامدا ، وأما ما لم ينو متابعته من ذلك فلا خلاف أن عليه تجديد النية لكل يوم
Artinya:
"Ibnu Rusydi berkata, adapun puasa yang boleh dipisah seperti qadha Ramadan, puasa Ramadan saat bepergian, denda sumpah, fidyah al-adza (denda bagi orang ihram yang melanggar keharaman saat ihram), maka pendapat yang jelas dari ikhtilaf ulama bahwa bila ia bermaksud melakukan puasa tersebut secara terus-menerus, maka mencukupi baginya satu niat, hukum satu niat tersebut akan menetap meski hilang sosoknya selama tidak diputus dengan niat berbuka puasa secara sengaja. Adapun orang yang tidak berniat melakukannya secara terus-menerus, maka tidak ada ikhtilaf bahwa ia berkewajiban untuk memperbarui niat di setiap harinya." (Syekh Muhammad bin Yusuf al-Ghurnathi al-Maliki, al-Taj wa al-Iklil, juz. 3, hal. 338).
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa seseorang yang baru mulai berpuasa pada hari kedua atau setelahnya tetap boleh berniat untuk satu bulan penuh. Selama masih dalam bulan Ramadan, puasanya dipandang sebagai satu rangkaian ibadah yang utuh.
Namun, perlu kamu catat, syarat membaca niat puasa Ramadan untuk satu bulan penuh ini tidak boleh terputus selama sebulan dengan batalnya puasa. Jika di tengah jalan puasamu terputus karena haid atau sebab lain yang membatalkan, maka niat untuk sebulan penuh harus diulang kembali.
4. Perbedaan pendapat dengan mahzab Syafi'i

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, pandangan niat berpuasa langsung 1 bulan penuh berbeda dengan mazhab Syafi'i. Pasalnya, mazhab ini menganut kewajiban niat puasa diucapkan setiap malam sebelum menjalankan puasa keesokan harinya.
Dalam kitab Hasyiyah Al-Qulyubi sendiri sudah dijelaskan bahwa niat sebulan penuh mazhab Maliki bersifat antisipasi, yakni untuk berjaga-jaga jika seseorang lupa berniat pada malam harinya. Maka dari itu, tetap mengucapkan niat puasa setiap malam sebagaimana ajaran mazhab Syafi'i dinilai lebih utama dan sesuai dengan anjuran yang umum.
Hal itu sesuai dengan penjelasan Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dalam Hasyiyatul Iqna', juz II sebagai berikut:
ويشترط لفرض الصوم من رمضان أو غيره كقضاء أو نذر التبييت وهو إيقاع النية ليلا لقوله صلى الله عليه وسلم: من لم يبيت النية قبل الفجر فلا صيام له. ولا بد من التبييت لكل يوم لظاهر الخبر
Artinya:
"Disyaratkan memasang niat di malam hari bagi puasa wajib seperti puasa Ramadan, puasa qada, atau puasa nadzar. Syarat ini berdasar pada hadis Rasulullah saw, 'Siapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.' Karenanya, tidak ada jalan lain kecuali berniat puasa setiap hari berdasar pada redaksi zahir hadis."
5. Niat puasa Ramadan setiap hari menurut mahzab Syafi'i

Jika kamu mengikuti mahzab Syafi'i, berikut bacaan niat puasa Ramadan setiap hari yang bisa kamu amalkan pada malam hari hingga sebelum terbit fajar (waktu Subuh).
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Artinya:
"Aku niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta'ala."
Demikian penjelasan terkait niat puasa 1 bulan penuh yang memiliki dua pandangan berbeda menurut mahzab Maliki dan Syafi'i. Semoga informasi di atas bermanfaat, ya!
FAQ seputar niat puasa 1 bulan penuh
| Apakah boleh niat puasa untuk 1 bulan penuh sekaligus? | Boleh menurut mazhab Maliki, niat puasa bisa dilakukan sekali di awal Ramadan untuk satu bulan penuh. |
| Kapan waktu yang tepat untuk niat puasa menurut mahzab Syafi'i? | Niat puasa wajib dilakukan pada malam hari, mulai setelah Maghrib hingga sebelum terbit fajar (Subuh). |
| Apakah niat harus diucapkan dengan lisan? | Tidak harus. Niat yang tidak diucapkan secara lisan, tetapi terbersit dalam hati tetap dianggap sah. |


















