7 Fakta Film 'Nobody Loves Kay', Kisah Nyata Kairi ONIC di Balik Dunia E-Sport

Film Nobody Loves Kay terinspirasi dari kisah nyata Kairi ONIC, menyoroti perjuangan dan tekanan di balik kesuksesan seorang pro-player e-sport.
Karya debut sutradara Bernardus Raka ini menghadirkan biopik e-sport yang personal, menggali sisi emosional, persahabatan, dan perjalanan mental pemain muda.
Dibintangi aktor muda berbakat seperti Bima Azriel dan Rey Bong, film ini tayang 4 Juni 2026 dengan pesan universal tentang mimpi dan keberanian menghadapi kegagalan.
Setelah sukses mencuri perhatian lewat perilisan teaser trailer dan poster yang viral di media sosial, film Nobody Loves Kay kembali jadi sorotan usai menggelar media gathering eksklusif pada 5 Mei 2026 di ONIC STF (Super Training Facility). Film hasil kolaborasi ONIC, Migunani Cinema Cult, Folago Pictures, Qun Films, dan Visinema Pictures ini terinspirasi dari perjalanan hidup pro-player ONIC Kairi dan siap tayang di bioskop mulai 4 Juni 2026.
Tak sekadar menghadirkan aksi di dunia e-sport, film ini juga menawarkan kisah yang dekat dengan realita—tentang mimpi, tekanan, dan pembuktian diri. Lantas, apa saja fakta menarik di balik film ini? Berikut tujuh hal yang perlu kamu tahu, Bela!
1. Terinspirasi dari kisah nyata Kairi ONIC

Nobody Loves Kay mengambil inspirasi dari perjalanan hidup Kairi Rayosdelsol, pro-player asal Filipina yang dikenal sebagai salah satu bintang besar di skena Mobile Legends: Bang Bang. Sejak bergabung dengan ONIC Indonesia pada 2022, Kairi sukses meraih berbagai prestasi, mulai dari MPL Indonesia hingga turnamen internasional seperti MSC. Namun, film ini tidak hanya menyoroti pencapaiannya, melainkan juga perjalanan panjang sebelum ia dikenal publik.
“Yang banyak orang lihat di turnamen-turnamen itu hasil akhirnya, film ini menceritakan perjuangan di baliknya. Bukan hanya untuk para fans MLBB, ini adalah film untuk mereka di luar sana yang berani bermimpi,” ungkap Kairi dalam Media Gathering film Nobody Loves Kay di ONIC STF (Super Training Facility), pada Selasa (5/05/2026).
2. Debut film panjang Bernardus Raka, angkat biopik e-sport yang lebih personal

Film ini digadang sebagai salah satu biopik e-sport pertama di Indonesia yang mengangkat kisah pemain profesional secara lebih mendalam. Alih-alih sekadar menampilkan dunia kompetitif, Nobody Loves Kay memilih pendekatan yang lebih personal—menyentuh sisi kehidupan, tekanan, dan pilihan hidup seorang pemain muda.
Menariknya, film ini juga menjadi debut film panjang bagi sutradara Bernardus Raka, yang menjadikan proyek ini sebagai ruang eksplorasi cerita yang jujur dan dekat dengan pengalaman.
“Film ini adalah debut yang jujur buat saya. Lewat Nobody Loves Kay, saya ingin tunjukkan kalau e-sport itu lebih dari sekadar main game. Ini tentang mental yang ditempa, jatuh bangun psikologis, dan gimana rasanya jadi anak ‘nekat’ yang tetap mengejar mimpi meski dianggap nggak mungkin.”
Pendekatan ini membuat film terasa lebih intim dan relevan, tidak hanya bagi penggemar e-sport, tetapi juga bagi penonton umum.
3. Fokus pada perjalanan Kay, dari diremehkan hingga kehilangan arah

Cerita berpusat pada Kay, seorang remaja yang mimpinya menjadi pro-player dianggap angan-angan kosong. Di tengah tekanan lingkungan, ia tetap memilih jalannya sendiri—hingga akhirnya harus menghadapi kenyataan pahit saat didepak dari tim, kehilangan arah, dan dianggap gagal. Fase keterpurukan ini menjadi inti perjalanan karakter, menunjukkan bahwa proses menuju mimpi tidak selalu berjalan mulus.
4. Konflik persahabatan yang jadi emosi utama

Selain perjalanan individu, film ini juga menyoroti hubungan Kay dengan dua sahabatnya, Ido dan Aurelio. Mereka pernah berjanji untuk meraih mimpi bersama, namun ambisi dan tekanan justru merusak hubungan tersebut. Konflik persahabatan ini menjadi lapisan emosional yang kuat, karena menggambarkan bagaimana mimpi yang sama bisa berubah menjadi sumber perpecahan.
5. Dirancang relate untuk gamer dan non-gamer

Salah satu kekuatan utama Nobody Loves Kay adalah pendekatannya yang universal. Film ini tidak hanya ditujukan bagi gamer, tetapi juga penonton umum dari berbagai latar belakang.
“Gamer dan non-gamer jadi diskusi untuk aku dan produser. Tapi pada akhirnya sama-sama manusia. Ceritanya sama, tentang mimpi dan perjuangan,” ujar Bernardus Raka.
Produser Giovanni Rahmadeva menambahkan, “Kita memastikan ada banyak sudut pandang, jadi bukan cuma Gen Z, tapi Gen X, Milenial, bahkan Boomer.”
Pendekatan ini membuat film terasa lebih inklusif dan mudah dipahami oleh berbagai generasi.
6. Cerita autentik yang berangkat dari pengalaman nyata

Kedekatan cerita dengan realita menjadi kekuatan lain film ini. Bernardus Raka mengungkap bahwa kisah Kairi memiliki kemiripan dengan perjalanan hidupnya sendiri.
“Saat aku mendengar cerita Kairi itu relate dengan ceritaku. Dulu aku tidak punya laptop, tidak punya kamera, kuliah juga bukan di jurusan film. Kairi pun sama, ia jauh dari hingar bingar e-sport di desanya,” ungkapnya.
Kesamaan ini membuat cerita terasa lebih jujur, membumi, dan emosional.
7. Dibintangi aktor muda berbakat, siap tayang 4 Juni 2026

Film ini dibintangi Bima Azriel sebagai Kay, bersama Rey Bong (Ido), Joshia Frederico (Aurelio), dan Aurora Ribero (Amanda). Deretan aktor senior seperti Ario Wahab, Mian Tiara, hingga Melati Sesilia turut memperkuat dinamika keluarga dan konflik dalam cerita.
Setelah melalui proses produksi yang panjang, Nobody Loves Kay dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 4 Juni 2026, membawa pesan kuat tentang keberanian untuk tetap percaya pada mimpi bahkan saat dunia meragukannya.
Dengan pendekatan yang lebih dalam dan emosional, Nobody Loves Kay berpotensi menjadi salah satu film e-sport paling berkesan di Indonesia. Bukan sekadar tentang kemenangan, tetapi tentang bagaimana seseorang bertahan di titik terendah—dan memilih untuk bangkit kembali.


















