Jenis-Jenis Disabilitas yang Wajib Dipahami, Fisik hingga Psikososial

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 mengelompokkan disabilitas menjadi fisik, sensorik, intelektual, dan psikososial. Kondisi ini tidak selalu terlihat secara kasatmata.
Disabilitas fisik berkaitan dengan gangguan fungsi gerak, sedangkan sensorik memengaruhi indra dan dapat membutuhkan alat bantu untuk berkomunikasi, berinteraksi, serta menjalani aktivitas.
Disabilitas intelektual memengaruhi fungsi intelektual dan perilaku adaptif, sementara psikososial berdampak pada emosi, pikiran, perilaku, aktivitas harian, serta hubungan sosial.
Istilah disabilitas didefinisikan sebagai keterbatasan pada tubuh maupun pikiran yang bisa membuat seseorang mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas. Namun, tahukah kamu bahwa disabilitas punya beragam jenis dan tidak semuanya bisa terlihat secara kasatmata?
Jadi, jangan buru-buru menganggap seseorang tidak punya disabilitas hanya karena ia terlihat baik-baik saja, ya. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016, berikut jenis-jenis disabilitas yang perlu kamu ketahui.
Table of Content
1. Disabilitas fisik

pexels.com/Marcus Aurelius Jenis disabilitas yang pertama yakni disabilitas fisik. Menurut Jurnal Pekerjaan Sosial Universitas Padjadjaran, penyandang disabilitas fisik merupakan seseorang yang memiliki keterbatasan fisik dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Disabilitas fisik dapat disebabkan oleh faktor bawaan maupun kecelakaan yang terjadi sejak dalam kandungan, saat lahir, atau setelah kelahiran. Umumnya, disabilitas ini ditandai dengan terganggunya fungsi gerak, seperti kelumpuhan, cerebral palsy, cedera sumsum tulang belakang, tubuh yang kerdil, hingga kehilangan anggota tubuh akibat amputasi.
2. Disabilitas sensorik
Disabilitas sensorik adalah kondisi yang memengaruhi fungsi satu atau lebih indra, seperti penglihatan, pendengaran, sentuhan, rasa, maupun penciuman. Kondisi tersebut bisa terjadi sejak lahir atau muncul akibat penyakit maupun cedera. Contohnya bisa berupa kebutaan, gangguan penglihatan, tuli, atau gangguan pendengaran.
Disabilitas sensorik umumnya bisa memengaruhi kemampuan seseorang dalam berkomunikasi, berinteraksi, dan memahami lingkungan. Maka dari itu untuk menjalani aktivitas sehari-hari, penyandang disabilitas ini perlu membutuhkan alat bantu, seperti tongkat, huruf Braille, alat bantu dengar, dan sebagainya.
3. Disabilitas intelektual

pexels.com/Nicola Barts Berdasarkan Tunas Medika Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, disabilitas intelektual atau sebelumnya disebut dengan retardasi mental merupakan suatu gangguan perkembangan yang ditandai dengan kekurangan maupun keterbatasan fungsi intelektual dan perilaku adaptif dengan skor IQ (Intelligence Quotient) di bawah 70.
The Australian National University menambahkan penyandang disabilitas intelektual biasanya akan merasa kesulitan dalam melakukan komunikasi, interaksi, keterampilan, dan perawatan diri. Disabilitas ini terbagi menjadi tiga jenis, yakni down syndrome, Autism Spectrum Disorder (ASD), dan Fragile X Syndrome.
4. Disabilitas psikososial
Terakhir, ada disabilitas psikososial atau mental. Disabilitas psikososial adalah kondisi yang bisa memengaruhi suasana hati, emosi, pikiran, dan perilaku seseorang. Gangguan tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti lingkungan, pengalaman traumatis, genetik, hingga gangguan pada otak.
Selain itu, disabilitas ini juga dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, dan kemampuan seseorang dalam menjalani kehidupan. Contohnya meliputi depresi, gangguan bipolar, skizofrenia, ADHD, hingga gangguan kecemasan.
Dukungan dari lingkungan, terapi, dan pengobatan yang tepat perlu dilakukan untuk membantu seseorang yang menderita disabilitas psikososial agar bisa menjalani kehidupan lebih baik.
Itu dia jenis-jenis disabilitas, mulai dari fisik hingga psikososial. Dari penjelasan di atas, perlu kamu pahami bahwa disabilitas itu ternyata tidak selalu tampak secara fisik, lho.
Jadi, kamu tidak bisa menilai kondisi seseorang hanya dari penampilannya saja. Mulai sekarang, yuk lebih peka dan hindari memberikan asumsi atau komentar tentang kondisi orang lain sebelum benar-benar memahaminya!



















