Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install

Profil Jannik Sinner, Bintang Tenis yang Kian Mengukuhkan Dominasinya

Profil Jannik Sinner, Bintang Tenis yang Kian Mengukuhkan Dominasinya
Jannik Sinner, juara Wimbledon 2026. (instagram.com/janniksin)
  • Jannik Sinner sukses mempertahankan gelar Wimbledon 2026 usai menaklukkan Alexander Zverev, menjadikannya juara dua kali beruntun dan mengukuhkan statusnya sebagai petenis nomor satu dunia.

  • Sinner mencatat musim 2026 penuh rekor dengan lima gelar Masters 1000 beruntun, total 30 trofi ATP tunggal, serta persentase kemenangan mencapai 93,6 persen sepanjang tahun.

  • Dikenal dengan gaya bermain agresif dan konsisten, Sinner juga menjadi simbol kebangkitan tenis Italia melalui fenomena "Sinner Effect" yang meningkatkan popularitas olahraga tersebut di negaranya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jannik Sinner kembali membuktikan bahwa dirinya masih menjadi sosok yang sulit dihentikan di dunia tenis. Petenis asal Italia itu sukses mempertahankan gelar Wimbledon setelah mengalahkan Alexander Zverev di partai final Wimbledon 2026. Kemenangan tersebut menjadi gelar Wimbledon keduanya secara beruntun sekaligus Grand Slam kelima dalam kariernya.

Perjalanan menuju trofi juga penuh cerita. Sinner sempat berada di ambang kekalahan pada babak pertama sebelum bangkit dari ketertinggalan dua set berbanding satu. Setelah itu, ia tampil semakin solid hingga menyingkirkan Novak Djokovic di semifinal, dan akhirnya menaklukkan Zverev dalam final yang berlangsung hampir empat jam.

Kesuksesan di Wimbledon semakin mengukuhkan posisinya sebagai petenis nomor satu dunia. Di usianya yang masih muda, Sinner telah mengoleksi berbagai pencapaian yang membuat namanya masuk dalam jajaran pemain terbaik generasi sekarang.

Lalu, siapa sebenarnya Jannik Sinner? Simak profilnya berikut ini!

  1. Profil singkat Jannik Sinner

    Jannik Sinner lahir pada 16 Agustus 2001 di Innichen atau San Candido, sebuah kota kecil di wilayah Tyrol Selatan, Italia. Ia tumbuh di Sexten, kawasan pegunungan Dolomites yang dikenal sebagai destinasi olahraga musim dingin.

    Wilayah tempatnya dibesarkan memiliki budaya yang unik karena mayoritas penduduknya menggunakan bahasa Jerman sebagai bahasa sehari-hari. Tak heran jika bahasa ibu Sinner adalah bahasa Jerman, meski ia juga fasih berbahasa Italia dan Inggris.

    Di kalangan penggemar tenis, Sinner juga dikenal dengan julukan "The Fox". Julukan tersebut terinspirasi dari karakter rubah yang dianggap mencerminkan kecerdasan, ketenangan, dan instingnya saat bertanding. Simbol rubah bahkan menjadi inspirasi desain logo pribadinya.

  2. Dari atlet ski hingga menjadi bintang tenis dunia

    Jannik Sinner mengenakan pakaian putih mengangkat raketnya sambil tersenyum di lapangan dengan penonton di latar belakang.
    Jannik Sinner. (instagram.com/janniksin)

    Sebelum memegang raket tenis secara serius, olahraga utama Sinner justru bermula dari ski. Sejak kecil, ia dikenal sebagai salah satu atlet ski junior terbaik di Italia dan beberapa kali menjuarai kompetisi nasional, termasuk Giant Slalom saat masih berusia delapan tahun.

    Keputusan terbesar dalam hidupnya datang ketika berusia 13 tahun. Saat banyak atlet seusianya masih mencoba berbagai cabang olahraga, Sinner memilih meninggalkan dunia ski dan pindah ke Bordighera untuk berlatih tenis di Piatti Tennis Center.

    Keputusan tersebut terbukti mengubah arah hidupnya. Dalam waktu relatif singkat, bakatnya berkembang pesat hingga berhasil menembus level profesional dan menjadi salah satu pemain paling dominan di ATP Tour.

  3. Peringkat dunia dan prestasi yang terus bertambah

    Jannik Sinner mengenakan jaket ungu mengangkat trofi besar perak setelah memenangkan turnamen tenis US Open 2024.
    Jannik Sinner saat memenangkan US Open 2024. (instagram.com/janniksin)

    Jannik Sinner menempati peringkat satu dunia ATP. Ia juga menjadi petenis Italia pertama dalam sejarah yang berhasil mencapai posisi tersebut sejak pertama kali naik ke puncak ranking pada Juni 2024.

    Hingga Juli 2026, Sinner telah mengoleksi 30 gelar ATP Tour level tunggal. Koleksinya mencakup lima gelar Grand Slam, sepuluh gelar ATP Masters 1000, serta dua gelar ATP Finals.

    Dominasinya juga tercermin dari berbagai catatan statistik. Salah satunya adalah rating ATP yang berada di angka 13.450, termasuk salah satu yang tertinggi dalam sejarah pencatatan tenis modern.

  4. Musim 2026 yang penuh rekor

    Jannik Sinner mengenakan pakaian putih lengkap dengan jaket dan topi, mengangkat kedua tangan di lapangan Wimbledon di depan penonton.
    Jannik Sinner saat bertanding di Wimbledon 2026. (instagram.com/janniksin)

    Musim 2026 menjadi salah satu periode terbaik sepanjang karier Sinner. Ia berhasil memenangkan lima turnamen Masters 1000 secara beruntun, sebuah rekor baru di ATP Tour. Gelar tersebut diraih di Indian Wells, Miami, Monte Carlo, Madrid, dan Roma.

    Keberhasilan itu sekaligus membuatnya menjadi pemain termuda yang berhasil menyelesaikan Career Golden Masters sejak format Masters 1000 diperkenalkan pada 1990.

    Sinner juga mencatat kemenangan ke-350 sepanjang karier profesionalnya dan menjadi petenis pria kelahiran tahun 2000-an pertama yang mencapai angka tersebut.

    Meski tampil luar biasa sepanjang musim, ia sempat mengalami hasil yang mengejutkan di French Open 2026. Saat berpeluang melengkapi Career Grand Slam, langkahnya justru terhenti pada babak kedua setelah kalah dari Juan Manuel Cerúndolo.

    Namun, kekalahan itu tidak berlangsung lama dalam pikirannya. Sinner segera bangkit di Wimbledon. Setelah melewati laga lima set yang dramatis pada babak pertama melawan Miomir Kecmanović, ia menyapu bersih empat pertandingan berikutnya tanpa kehilangan satu set. Di semifinal, Novak Djokovic dikalahkan dengan skor telak sebelum Sinner memastikan gelar juara usai menundukkan Alexander Zverev di final.

    Hingga selesai Wimbledon 2026, ia mencatat rekor 44 kemenangan dan hanya tiga kekalahan sepanjang musim dengan persentase kemenangan mencapai 93,6 persen.

  5. Gaya bermain yang agresif dan efisien

    Jannik Sinner mengenakan pakaian serba putih sedang beraksi di lapangan rumput Wimbledon dengan posisi rendah mendekati bola.
    Jannik Sinner saat bertanding di Wimbledon 2026. (instagram.com/janniksin)

    Sinner dikenal sebagai pemain baseline dengan pukulan yang sangat bersih dan konsisten. Forehand miliknya mampu menghasilkan kecepatan tinggi, sementara backhand dua tangan menjadi salah satu senjata paling berbahaya di ATP Tour.

    Ia juga piawai mengubah arah bola dalam tempo cepat sehingga lawan sering dipaksa bertahan jauh di belakang garis baseline. Meski identik dengan permainan dari belakang lapangan, Sinner cukup nyaman saat maju ke depan untuk menyelesaikan poin di area net.

    Kemampuan menjaga intensitas permainan sejak awal hingga akhir pertandingan menjadi salah satu alasan mengapa ia begitu sulit dikalahkan.

  6. Rivalitas dengan para petenis terbaik dunia

    Dua petenis saling berpelukan di atas lapangan rumput Wimbledon setelah pertandingan, keduanya mengenakan pakaian putih dan memegang raket.
    Jannik Sinner usai mengalahkan Novak Djokovic di Wimbledon 2026. (instagram.com/janniksin)

    Dalam beberapa tahun terakhir, nama Jannik Sinner hampir selalu dikaitkan dengan Carlos Alcaraz. Keduanya dianggap sebagai wajah baru tenis putra dan diprediksi akan mendominasi era berikutnya.

    Hingga pertengahan 2026, keduanya telah bertemu 17 kali, dengan Alcaraz masih unggul dalam rekor pertemuan.

    Sinner juga memiliki catatan positif saat menghadapi Novak Djokovic maupun Daniil Medvedev. Ia unggul head-to-head atas kedua pemain tersebut dan beberapa kali meraih kemenangan penting di turnamen Grand Slam.

    Sementara melawan Alexander Zverev, kemenangan di final Wimbledon 2026 memperlebar dominasinya. Sinner unggul 10-4 dalam rekor pertemuan dan telah memenangkan sembilan duel terakhir secara beruntun.

  7. Pencapaian lain di luar gelar Grand Slam

    Selain koleksi trofi individu, Sinner juga berperan besar membawa Italia menjuarai Davis Cup pada 2023 dan 2024.

    Namanya juga tercatat sebagai pemain termuda yang berhasil menyelesaikan Career Golden Masters di nomor tunggal putra. Pada 2026, ia dipercaya menjadi duta program relawan Olimpiade Musim Dingin yang digelar di Italia.

    Popularitasnya turut memicu meningkatnya minat masyarakat Italia terhadap olahraga tenis. Fenomena tersebut bahkan dikenal dengan sebutan "Sinner Effect" karena dianggap membawa dampak besar terhadap perkembangan tenis di negaranya.

    Dengan deretan prestasi yang terus bertambah, Jannik Sinner diprediksi masih memiliki peluang besar untuk menorehkan lebih banyak sejarah dalam beberapa musim mendatang.

    Apakah Jannik Sinner jadi salah satu petenis favoritmu?

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More