Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install

40 Puisi Kemerdekaan 17 Agustus yang Menyentuh dan Bermakna

40 Puisi Kemerdekaan 17 Agustus yang Menyentuh dan Bermakna
pexels.com/Teguh Setiawan
  • Artikel menghimpun 40 puisi bertema kemerdekaan untuk menyambut HUT ke-80 Indonesia dan memaknai 17 Agustus melalui karya sastra.
  • Kumpulan puisi menyoroti perjuangan, pengorbanan, gugurnya pahlawan, serta semangat mempertahankan kemerdekaan, dengan karya dari sejumlah penyair Indonesia.
  • Puisi-puisi juga mengangkat cinta tanah air, persatuan, kritik ketidakadilan, peran generasi muda, dan pilihan karya singkat yang dapat digunakan dalam lomba baca puisi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bulan Agustus jadi bulannya Indonesia atau dikenal dengan Agustusan. Tahun 2026 ini, Indonesia akan menyambut kemerdekaannya yang ke-81. Momen itu tentu tak boleh dilewatkan begitu saja. Ada beragam cara yang bisa kamu lakukan untuk memaknai kemerdekaan.

Salah satu cara untuk memaknai kemerdekaan adalah dengan membaca puisi kemerdekaan 17 Agustus. Pasalnya, lewat puisi kita bisa merasakan semangat perjuangan dan pengorbanan para pahlawan Indonesia. 

Puisi juga bisa menjadi bentuk penghormatan kepada mereka yang telah berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, POPBELA telah merangkum 40 puisi kemerdekaan menyentuh hati yang bisa kamu baca dan resapi.

  1. 1. Puisi kemerdekaan Indonesia tentang perjuangan

    Puisi Kemerdekaan 17 Agustus yang Menyentuh dan Bermakna
    freepik.com/master1305

    Puisi kemerdekaan 17 Agustus yang pertama adalah tentang perjuangan. Seperti yang diketahui, para pahlawan tidak mudah dalam berjuang mendapatkan kemerdekaan Indonesia. 

    Sebelum proklamasi dibacakan, para pahlawan berusaha melepaskan diri dari penjajahan yang sudah berpuluh-puluh tahun dialami Indonesia. Mereka juga rela mengorbankan pikiran, waktu, bahkan nyawanya untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. 

    Untuk mengenang perjuangan para pahlawan itu, berikut beberapa puisi yang bertema perjuangan. 

    1. Doa Seorang Serdadu Sebelum Perang
      Karya: W.S. Rendra
      Tuhanku,
      Wajah-Mu membayang di kota terbakar
      Dan firmanMu terguris di atas ribuan
      Kuburan yang dangkalAnak menangis kehilangan bapa
      Tanah sepi kehilangan lelakinya
      Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
      Tapi bangkai dan wajah mati yang sia-siaApabila malam turun nanti
      Sempurnalah sudah warna dosa
      Dan mesiu kembali lagi bicara
      Waktu itu, Tuhanku,
      Perkenankan aku membunuh
      Perkenankan aku menusukkan sangkurkuMalam dan wajahku
      Adalah satu warna
      Dosa dan nafasku
      Adalah satu udara.
      Tak ada lagi pilihan
      Kecuali menyadari
      -biarpun bersama penyesalan-Apa yang bisa diucapkan
      Oleh bibirku yang terjajah ?
      Sementara kulihat kedua lengaMu yang capai
      Mendekap bumi yang mengkhianatiMu
      Tuhanku
      Erat-erat kugenggam senapanku
      Perkenankan aku membunuh
      Perkenankan aku menusukkan sangkurku
    2. Museum Perjuangan
      Karya: Kuntowijoyo
      Susunan batu yang bulat bentuknya
      Berdiri kukuh menjaga senapan tua
      Peluru menggeletak di atas meja
      Menanti putusan pengunjungnya.Aku tahu sudah, di dalamnya
      Tersimpan darah dan air mata kekasih
      Aku tahu sudah, di bawahnya
      Terkubur kenangan dan impian
      Aku tahu sudah, suatu kali
      Ibu-ibu direnggut cintanya
      Dan tak pernah kembaliBukalah tutupnya
      Senapan akan kembali berbunyi
      Meneriakkan semboyan
      Merdeka atau Mati.Ingatlah, sesudah sebuah perang
      Selalu pertempuran yang baru
      Melawan dirimu. 
    3. Gerilya
      Karya: W.S Rendra
      Tubuh biru
      Tatapan mata biru
      Lelaki berguling di jalanAngin tergantung
      Terkecap pahitnya tembakau
      Bendungan keluh dan bencanaTubuh biru
      Tatapan mata biru
      Lelaki berguling dijalanDengan tujuh lubang pelor
      Diketuk gerbang langit
      Dan menyala mentari muda
      Melepas kesumatnyaGadis berjalan di subuh merah
      Dengan sayur-mayur di punggung
      Melihatnya pertamaIa beri jeritan manis
      Dan duka daun wortelTubuh biru
      Tatapan mata biru
      Lelaki berguling dijalanOrang-orang kampung mengenalnya
      Anak janda berambut ombak
      Ditimba air bergantang-gantang
      Disiram atas tubuhnyaTubuh biru
      Tatapan mata biru
      Lelaki berguling dijalanLewat gardu Belanda dengan berani
      Berlindung warna malam
      Sendiri masuk kota
      Ingin ikut ngubur ibunya
    4. Diponegoro 
      Karya: Chairil Anwar
      Di masa pembangunan ini
      Tuan hidup kembali
      Dan bara kagum menjadi api
      Di depan sekali tuan menanti
      Tak genta. Lawan banyaknya seratus kali.
      Pedang di kanan, keris di kiri
      Berselempang semangat yang tak bisa mati.

      Maju
      Ini barisan tak bergenderang-berpalu
      Kepercayaan tanda menyerbu
      Sekali berarti
      Sudah itu mati

      Maju
      Bagimu Negeri
      Menyediakan api
      Punah di atas menghamba
      inasa di atas ditinda
      Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
      Jika hidup harus merasai

      Maju
      Serbu
      Serang
      Terjang
    5. Lagu dari Pasukan Terakhir
      Karya: Asrul Sani
      Pada tapal terakhir sampai ke Jogja
      Bimbang telah datang pada nyala
      Langit telah tergantung suram
      Kata-kata berantukan pada arti sendiri.
      Bimbang telah datang pada nyala
      Dan cinta tanah air akan berupa
      Peluru dalam darah
      Serta nilai yang bertebaran sepanjang masa
      Bertanya akan kesudahan ujian
      Mati atau tiada mati-matinyaO Jenderal, bapa, bapa,
      Tiadakan engkau hendak berkata untuk kesekian kali
      Ataukah suatu kehilangan keyakinan
      Hanya kanan tetap tinggal pada tidak-sempurna
      Dan nanti tulisan yang telah diperbuat sementara
      Akan hilang ditup angin, karena
      Ia berdiam di pasir kering
      O Jenderal, kami yang kini akan mati
      Tiada lagi dapat melihat kelabu
      Laut renangan Indonesia.
      O Jenderal, kami yang kini akan jadi
      Tanah, pasir, batu dan air
      Kami cinta kepada bumi iniAh mengapa pada hari-hari sekarang, matahari
      Sangsi akan rupanya, dan tiada pasti pada cahaya
      Yang akan dikirim ke bumi.Jenderal, mari Jenderal
      Mari jalan di muka
      Mari kita hilangkan sengketa ucapan
      Dan dendam kehendak pada cacat-keyakinan,
      Engkau bersama kami, engkau bersama kami,
      Mari kita tinggalkan ibu kita
      Mari kita biarkan istri dan kekasih mendoa
      Mari jenderal mari
      Sekali in derajat orang pencari dalam bahaya,
      Mari jenderal mari jenderal mari, mari....
    6. Putra-Putra Ibu Pertiwi
      Karya: Mustofa BisriBagai wanita yang tak ber-ka-be saja
      Ibu pertiwi terus melahirkan putra-putranya
      Pahlawan-pahlawan bangsa
      Dan patriot-patriot negara
      (Bunga-bunga
      kalian mengenalnya
      Atau hanya mencium semerbaknya)Ada yang gugur gagah dalam gigih perlawanan
      Merebut dan mempertahankan kemerdekaan
      (Beberapa kuntum
      dipetik bidadari sambil senyum
      Membawanya ke sorga tinggalkan harum)Ada yang mujur menyaksikan hasil perjuangan
      Tapi malang tak tahan godaan jadi bajingan
      (Beberapa kelopak bunga
      di tenung angin kala
      Berubah jadi duri-duri mala)Bagai wanita yang tak ber-ka-be saja
      Ibu pertiwi terus melahirkan putra-putranya
      Pahlawan-pahlawan dan bajingan-bajingan bangsa
      (di Taman Sari
      bunga-bunga dan duri-duri
      Sama-sama diasuh mentari)Anehnya yang mati tak takut mati justru abadi
      Yang hidup senang hidup kehilangan jiwa
      (Mentari tertawa sedih memandang pedih
      Duri-duri yang membuat bunga-bunga tersisih)
  2. 2. Puisi kemerdekaan 17 Agustus dari penyair

    Puisi Kemerdekaan 17 Agustus yang Menyentuh dan Bermakna
    pexels.com/Suzy Hazelwood

    Masa-masa kemerdekaan yang kita ketahui saat ini sebagian besar dari sejarahnya saja. Padahal, para penyair telah menuliskan puisi kemerdekaan 17 Agustus yang bisa kita resapi untuk mengetahui situasi di masa itu. 

    Para penyair mulai dari Moh. Yamin, Taufik Ismail, hingga Widji Tukul menyuarakan pemikirannya tentang kemerdekaan melalui karyanya. Oleh karena itu, penting bagi kita membaca karya-karya mereka agar kemerdekaan Republik Indonesia ini dimaknai secara lebih mendalam.

    Berikut puisi-puisi para penyair tentang kemerdekaan. 

    1. Kita Adalah Pemilik Sah Negeri Ini
      Karya: Taufik Ismail
      Tidak ada pilihan lain
      Kita harus berjalan terus
      Karena berhenti atau mundur
      Berarti hancurApakah akan kita jual keyakinan kita
      Dalam pengabdian tanpa harga
      Akan maukah kita duduk satu meja
      Dengan para pembunuh tahun yang laluDalam setiap kalimat yang berakhiran
      “Duli Tuanku ?”
      Tidak ada lagi pilihan lain
      Kita harus berjalan terus
      Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalanMengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
      Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
      Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
      Dan bertanya-tanya, inikah yang namanya merdeka
    2. Merdeka atau Mati
      Karya: Moh. Yamin

      Darah di tanah tak bertuan menggenang
      Ratusan nyawa melayang
      Bergelimpangan di medan perang
      Mengangkat panji kemenangan
      Seorang pejuang berteriak lantang
      Gagah berani memegang senjata lawan penjajah
      Dua kata menjadi pilihan
      Merdeka atau mati
      Tubuh kekar dihujani peluru
      Penuh lubang di sekujur tubuh
      Darah bercucuran mereka tetap tegak berdiri
      Sekali lagi lantangkan merdeka atau mati

    3. Hari Kemerdekaan
      Karya: Sapardi Djoko Damono
      Akhirnya tak terlawan olehku
      Tumpah di mataku, dimata sahabat-sahabatku
      Ke hati kita semua
      Bendera-bendera dan bendera-bendera
      Bendera kebangsaanku

      Aku menyerah kepada kebanggan lembut
      Tergenggam satu hal dan kukenal
      Tanah dimana ku berpijak berderak
      Awan bertebaran saling memburu
      Angin meniupkan kehangatan bertanah air
      Semat getir yang menikam berkali
      Makin samar

      Mencapai puncak ke pecahnya bunga api
      Pecahnya kehidupan kegirangan
      Menjelang subuh aku sendiri
      Jauh dari tumpahan keriangan di lembah
      Memandangi tepian laut

      Tetapi aku menggenggam yang lebih berharga
      Dalam kelam kulihat wajah kebangsaanku
      Makin bercahaya makin bercahaya
      Dan fajar mulai kemerahan
    4. Karawang-Bekasi
      Karya: Chairil Anwar
      Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
      Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
      Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
      Terbayang kami maju dan mendegap hati?Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
      Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
      Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
      Kenang, kenanglah kami.
      Kami sudah coba apa yang kami bisa
      Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawaKami cuma tulang-tulang berserakan
      Tapi adalah kepunyaanmu
      Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
      Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
      Atau tidak untuk apa-apa,

      Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
      Kaulah sekarang yang berkata
      Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
      Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetakKenang, kenanglah kami
      Teruskan, teruskan jiwa kami
      Menjaga Bung Karno
      Menjaga Bung Hatta
      Menjaga Bung SjahrirKami sekarang mayat
      Berikan kami arti
      Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impianKenang, kenanglah kami
      Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
      Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi
    5. Bunga dan Tembok
      Karya: Widji Thukul
      Seumpama bunga
      Kami adalah bunga yang tak
      Kau hendaki tumbuh
      Engkau lebih suka membangun
      Rumah dan merampas tanah

      Seumpama bunga
      Kami adalah bunga yang tak
      Kau kehendaki adanya
      Engkau lebih suka membangun
      Jalan raya dan pagar besiSeumpama bunga
      Kami adalah bunga yang
      Dirontokkan di bumi kami sendiriJika kami bunga
      Engkau adalah tembok itu
      Tapi di tubuh tembok itu
      Telah kami sebar biji-biji
      Suatu saat kami akan tumbuh bersama
      Dengan keyakinan: engkau harus hancur!

      Dalam keyakinan kami
      Di manapun – tirani harus tumbang!
    6. Prajurit Jaga Malam 
      Karya; Chairil Anwar 

      Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu?
      Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
      bermata tajam
      Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
      kepastian
      ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
      Aku suka pada mereka yang berani hidup
      Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
      Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……
      Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!
  3. 3. Puisi kemerdekaan 17 Agustus yang menyentuh hati

    Puisi Kemerdekaan 17 Agustus yang Menyentuh dan Bermakna
    unsplash.com/Álvaro Serrano

    Puisi merupakan karya sastra yang bisa menyentuh para pembacanya. Namun, membuat puisi yang menyentuh juga tidak mudah. 

    Di momen kemerdekaan ini, puisi kemerdekaan 17 Agustus di bawah ini bisa menjadi inspirasi untuk menulis puisi yang menyentuh. 

    Tema-tema puisi yang menyentuh seputar 17 Agustus bisa bermacam-macam, mulai dari suasana 17 Agustus sampai kritik terhadap hal-hal yang dianggap tidak adil.

    Harapannya, momen kemerdekaan bisa terus dikenang dan diabadikan lewat tulisan. Berikut beberapa puisi menyentuh yang menginspirasi. 

    1. Jakarta 17 Agustus Dini Hari
      Karya: Sitor Situmorang

      Sederhana dan murni
      Impian remaja
      Hikmah kehidupan
      BerNusa
      BerBangsa
      BerBahasa
      Kewajaran napas
      Dan degub jantung
      Keserasian beralam
      Dan bertujuan
      Lama didambakan
      Menjadi kenyataan
      Wajar, bebas
      Seperti embun
      Seperti sinar matahari
      Menerangi bumi
      Di hari pagi
      Kemanusiaan
      Indonesia Merdeka
      17 Agustus 1945

    2. Pahlawan Tak Dikenal
      Karya: Toto Sudarto Bachtiar

      Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
      Tetapi bukan tidur, sayang
      Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
      Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang
      Dia tidak ingat bilamana dia datang
      Kedua lengannya memeluk senapan
      Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
      Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayangWajah sunyi setengah tengadah
      Menangkap sepi padang senja
      Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
      Dia masih sangat mudaHari itu 10 November, hujanpun mulai turun
      Orang-orang ingin kembali memandangnya
      Sambil merangkai karangan bunga
      Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnyaSepuluh tahun yang lalu dia terbaring
      Tetapi bukan tidur, sayang
      Sebuah peluru bundar di dadanya
      Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda.
    3. Atas Kemerdekaan
      Karya: Sapardi Djoko Damono
      Kita berkata: jadilah
      Dan kemerdekaan pun jadilah bagai laut
      Di atasnya: langit dan badai tak henti-henti
      Di tepinya cakrawalaTerjerat juga akhirnya
      Kita, kemudian adalah sibuk
      Mengusut rahasia angka-angka
      Sebelum Hari yang ketujuh tiba

      Sebelum kita ciptakan pula Firdaus
      Dari segenap mimpi kita
      Sementara seekor ular melilit pohon itu:
      Inilah kemerdekaan itu, nikmatkanlah
    4. Merdekalah Bangsaku
      Karya: Moh. Yamin
      Sejarahmu terus terkenang di ingatanku
      Tujuh belas Agustus saksi bisu hari kobebasanku
      Para pahlawan bertaruh keras pertahankan keutuhanmu
      Sebagai kenangan sepanjang hidup
      Indonesia kini merdeka
      Berkibarnya sang merah putih bawa napas lega tanpa nestapa
      Mengenang cerita berderailah air mata
      Kemerdekaan hilangkan jeritan laraIndonesia merdeka...
      Lahirkan pemuda pemudi bangsa
      Terbang ke awan menguak kedamaian
      Menengok ke kanan bawa kebaikan
      Kaki cengkeram erat semboyan kemerdekaan
    5. Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu
      Karya Widji Thukul
      Apa guna punya ilmu
      Kalau hanya untuk mengibuli
      Apa gunanya banyak baca buku
      Kalau mulut kau bungkam melulu
      Di mana-mana moncong senjata
      Berdiri gagah
      Kongkalikong
      Dengan kaum cukong
      Di desa-desa
      Rakyat dipaksa
      Menjual tanah
      Tapi, tapi, tapi, tapi
      Dengan harga murah
      Apa guna banyak baca buku
      Kalau mulut kau bungkam melulu
    6. Gugur
      Karya: WS. Rendra
      Ia merangkak
      di atas bumi yang dicintainya
      Tiada kuasa lagi menegak
      Telah ia lepaskan dengan gemilang
      pelor terakhir dari bedilnyaKe dada musuh yang merebut kotanya
      Ia merangkak
      di atas bumi yang dicintainya
      Ia sudah tua
      luka-luka di badannyaBagai harimau tua
      susah payah maut menjeratnya
      Matanya bagai saga
      menatap musuh pergi dari kotanya
      Sesudah pertempuran yang gemilang itu
      lima pemuda mengangkatnya
      di antaranya anaknyaIa menolak
      dan tetap merangkak
      menuju kota kesayangannya
      Ia merangkak
      di atas bumi yang dicintainyaBelum lagi selusin tindak
      maut pun menghadangnya
      Ketika anaknya memegang tangannya,ia berkata:
      ”Yang berasal dari tanah
      kembali rebah pada tanah.
      Dan aku pun berasal dari tanah
      tanah Ambarawa yang kucinta
      Kita bukanlah anak jadah
      Kerna kita punya bumi kecintaan.
  4. 4. Puisi kemerdekaan 17 Agustus tentang pengorbanan

    Puisi Kemerdekaan 17 Agustus yang Menyentuh dan Bermakna
    pexels.com/Wallace Chuck

    Selain berjuang mendapatkan kemerdekaan Indonesia, para pahlawan juga mengorbankan segala yang dimiliki untuk bangsanya. 

    Mereka rela menghabiskan waktu, tenaga, bahkan mempertaruhkan nyawanya. Berkat pengorbanan itulah kini Indonesia bisa bebas dari bangsa penjajah. 

    Di masa penjajahan, ada banyak pahlawan yang gugur dengan hormat sebagai pejuang. Berikut adalah puisi puisi kemerdekaan 17 Agustus tentang pengorbanan para pahlawan di masa lalu. 

    1. Kulihat Patung Pejuang
      Karya: Ryan RachmanKulihat Patung Pejuang
      Ku lihat patung pejuang
      Berdiri di tepi jalan
      Yang satu terluka
      Yang lain memapahnya Keduanya seolah berkata:"Lihat tetes darah kami nak
      Membasah di haribaan ibu pertiwi
      Tak sempat kami melihat kalian
      Hidup nyaman tanpa ketakutan"Lalu aku tersentak
      Leluhurku gugur berkalang tanah
      Melepas nyawa untuk merdeka
    2. Kami
      Karya: Mansur Samin
      Kami tak sia-sia mempertahankan bumimu ini
      menyerahkan gerak jiwa masak oleh tenaga
      pandanglah jalan suram masa kalut yang dikeluhi
      setiap kata mencari nilai dalam benda
      Kami tak sia-sia mempertahankan keindahanmu ini
      melepaskan ria dunia mencari arti sederhana
      lihatlah kedamaian sejuk larut diremuk hari
      seluruh malam menepis tibanya fajar
      Kami telah bercinta dengan dunia dan air mata
      inilah masa retak menghancurkan bintang sejarah
      kesederhanaan jiwa menggelita sudah
      tinggal kecewa melulu menjenguki hati yang mabuk
      dan dari kerentaan pencapaian bentuk
      pitam berkata: Tuhan sudah tiada di dunia!
      Kami tak sia-sia mempertaruhkan jiwa ini
      merebut derita dunia mendengungkan tangis anak manusia
      bangkitlah penyair, rebut sikap yang masih kita miliki
      seluruh makna kembalikan pada pencapaian sederhana.
    3. Merdeka Sejak Muda
      Karya: Ozy V. Alandika

      Indonesia sudah menua
      Aku masih muda
      Tunas baru bertumbuh
      Membaca teks proklamasiMasih mengeja
      Tapi biarlah
      Kita sudah merdeka sejak muda
      Boleh belajar dan berkarya

      Boleh berpendapat dan berbicara
      Boleh bermimpi dan bercita-cita
      Baik hari ini maupun seterusnya
    4. Terkepung
      Karya: Sulaiman Juned
      Seperti angin lolos dari kepungan

      Keinginan berjuang
      seperti desir angin membelai hati
      sedang aku membutuhkan pejuang yang memiliki
      cinta.Keinginan berjuang
      adalah matahari yang memberi kehidupan
      juga rembulan menuntun pejalan
      di kegelapan. Keinginan berjuang
      penjilat dan pengkhianat bermain-main di sungai cinta
      untuk melemahkan kasih sayang, lalu induk burung
      didapatkan karena anaknya.: Biarlah padi menguning dinikmati para cucu
      Ah!
    5. Sajak Anak-Anak Mati
      Karya: Goenawan Mohamad
      Tiga anak menari
      tentang tiga burung gereja
      Kemudian senyap
      disebabkan senja

      Tiga lilin kuncup
      pada marmer meja
      Tiga tik-tik hujan tertabur
      Seperti tak sengaja

      "Bapak, jangan menangis"
    6. Indonesia Sudah Merdeka
      Karya: Asty Kusumadewi
      Penjajah melawan Indonesia
      Peperangan di belahan penjuru Nusantara
      Bambu runcing senjata utama
      Memperjuangkan Indonesia merdeka
      Konon katanya, sepotong roti lebih berharga
      Soedirman jadi korbannya
      Pengkhianat bangsa tunduk menggadaikan harga dirinya
      Bersyukur, Jenderal dilindungi oleh Yang Maha Esa
      Indonesia sudah merdeka
      Kapten Pattimura dengan pedangnya
      Jenderal Soedirman dengan tandunya
      Pangeran Diponegoro dengan gerilyanya
      Melawan penjajah sebegitu kuatnya
      Ucapkan syukur kepada Tuhan kita
      Dengan segala upaya
      Dengan pertumpahan darahnya
      Indonesia, sudah.. Merdeka!!
  5. 5. Puisi kemerdekaan 17 Agustus singkat

    Puisi Kemerdekaan 17 Agustus yang Menyentuh dan Bermakna
    unsplash.com/Debby Hudson

    Untuk memeriahkan hari kemerdekaan tanggal 17 Agustus, biasanya digelar berbagai perlombaan termasuk baca puisi. 

    Namun, membaca puisi untuk lomba biasanya disediakan waktu yang begitu singkat. Alhasil, kamu harus pintar-pintar memilih puisi yang singkat.

    Berikut puisi kemerdekaan 17 agustus yang singkat dan padat.

    1. Pejuang Kemerdekaan
      Karya: Rahmy Ardhy

      Merah darahmu menggelora
      Semangat juangmu membara
      Tak pernah padam
      Meski harus berkorban nyawa
      Meski harus menderita
      Kau telah memperjuangkan
      Kemerdekaan Indonesia
      Dengan perkasa
      Dengan susah payah
      Tanpa keluh kesah
      Tak akan kami sia-siakan hasil
      Perjuanganmu
      Akan kami isi dengan membangun negeri
      Agar Indonesia semakin mandiri.

    2. Pemuda Pahlawan
      Karya: Riky Fernandes

      Gelagat keharuan tercium bagai bangkai kecoa yang mulai hancur.
      Waktumu tidak banyak di atas fana.
      Rapatkan jari-jemarimu agar sampai menuju menara
      Bulatkan tekadmu untuk melawan arus kebencian setiap manusia-manusia itu.
      Kukuhkan dua kakimu sampai ke kepala.
      Tarik tali pelontar kain merah putihmu.
      Usah kau sujud di atas tanah itu.
      Tancapkan saja tiang semangatmu setinggi mungkin.
      Senyummu kian memanis dengan topi jerami berwarna gelap.
      Dan saat itulah kau akan tahu betapa sulitnya hidup.
      Dengan hias keringat tanpa peduli hari telah mencapai senja.

    3. Pahlawananku
      Karya: Riza Hidayat
      Pahlawanku..
      Bagaimana ku bisa
      Membalas jasa-jasamu
      Yang telah kau berikan untuk bumi pertiwi
      Haruskah aku turun ke medan perang
      Haruskah aku mandi berlumuran darah
      Haruskah aku tertembak peluru penjajah
      Aku tak tahu cara untuk membalas jasamu
      Engkau relakan nyawamu
      Demi suatu kemerdekaan yang mungkin
      Tak bisa kau raih dengan tanganmu sendiri
      Pahlawanku.. engkaulah bunga bangsa
    4. Mengenang
      Karya: Yuliani Megantari
      Muak jadi budak
      Mereka maju dengan penuh yakin
      Menentang benteng besi bersama
      Sembilan obor telah menancap di sudut- sudut bumi
      Bumi yang telah basah
      Ketika mereka bergegas
      Di pintu pagi yang cemas
      Aku hanya dapat menanti kabar dari langit dan bumi
      Dentang jam berbunyi detik demi detik
      Mereka telah pergi
      Kembali pada cahaya, yang menjadi air
      Mengalir pada muara yang tak pernah berbatas
      Kembali pada api, tanah pijakan ibu pertiwi
      Terbang ke atas langit tak berlapis yang menyatu bersama udara
      Merongga dalam kekekalan
      Bumi telah mencatat nama mereka
      Pada sebuah puisi yang kurangkai ini
      Dan terkenang menjadi dongeng anak negeri
    5. Apa Kata Bung Hatta
      Karya: Hati Nurahayu
      Banyak kata untuk negeri
      Terjujur dari jiwa yang murni
      Indonesia ada selalu di hati
      Terucap pesan yang terpatri
      Persatuan satu harus miliki
      Jangan pudar karena dari para pembenci
      Memecah belah negeri
      Karena ingin kita dikuliti
      Jatuh bangunnya negeri
      Ingatlah selalu tertanam di diri
      Bersatu padu selalu ada di jiwa kami
      Penjajah pemecah belah takut kekuatan ini
    6. Hikmah Kemerdekaan
      Karya: YaminTujuh puluh empat tahun silam
      Ku belum dipertemukan
      Raga belum terwujud
      Nyawa belum bersemayam
      Tapi tampak sinyal kehidupan
      Di usiaku yang separuh baya ini
      Aku hanya bisa menikmatimu
      Belum bisa memberi warna
      Teruntuk negeri ini
      Pagi merayap siang
      Tepat pukul sepuluh detik-detikmu diperdengarkan
      Pekik merdeka menggema mengangkasa ke penjuru negeri
      Dengan rasa haru ke sambut pekikmu
  6. 6. Puisi kemerdekaan 17 Agustus karya Najwa Shihab

    Puisi Kemerdekaan 17 Agustus yang Menyentuh dan Bermakna
    pexels.com/Suzy Hazelwood
    1. Puisi Untuk Negeri Karya: Najwa Shihab Indonesia bukanlah ide yang abstrak Indonesia ialah kenyataan yang terelak Tanah air yang kita hidupi sehari-hariBukan hanya garis-garis peta penuh ilusi Melalui segenap panca inderaTiap hari kita meraba Indonesia Indonesia ialah tubuh kita Jika satu terluka, berdarah pada semua Memang tidak ada bangsa yang sempurna Tapi inilah satu-satunya tanah air kitaBergandengan tangan menjaga Indonesia Bersekutu merawat yang bhineka Agar abadi puisi Indah Indonesia Biar menjadi debar sepanjang masa 

    1. Cinta Untuk Negri Karya: Najwa Shihab Tanah air adalah sebuah buku yang terbukaSetiap generasi harus mengisinya dengan karya Yang menjadi pena adalah kebaikan Yang menjadi tinta adalah kemanusiaan Masa depan bangsa menjadi karya bersama Dari rakyat jelata hingga pemimpin singgasana Yang harus dibabat adalah egoisme dan kebencian Yang mesti dirajut ialah solidaritasSebab Indonesia dibangun tokoh-tokoh yang memandang jauh ke depan Bukan hanya sibuk sandang pangan apalagi perhiasanSaatnya yang muda yang berperan Dengan kreativitas yang tak gampang padam Jangna takut dengan kegagalanKerja keras dulu, pencapaian menyusul kemudian Bekerja dan berbuatlah dengan sebait puisi Aku mau berkarya seribu tahun lagi 
    2. Belajar dari Jendral Soedirman Karya: Najwa Shihab Pemimpin seperti Jendral Soedirman Tidak akan pernah meninggalkan barisan Ia bersedia menderita karena Rakyat juga sedang merasakan nestapa Daripada menyerah dan diasingkan Ia memilih gerilya di dusun dan pegunungan Tidur di gubuk yang sama dengan pasukannyaMakan dengan menu serupa dengan rakyatnya Soedirman manunggal dengan rakyat Ia tak berjarak dengan melaratKarena memimpin adalah juga menderita Bukan berarti bermewah-mewah dengan harga Dengan itulah ia memperjuangkan kemerdekaan Dengan mempertaruhkan semua kemungkinan Sebab kemerdekaan yang tak diperjuangkan Tidak akan pernah dimenangkan Generasi berikutnya yang harus melanjutkan Agar pengorbanan generasi soedirman tak disia-siakan Karena kemerdekaan yang gagal diisi Hanya akan menjadi narasi yang penuh basa-basi


  7. 6. Puisi kemerdekaan 17 Agustus cinta Tanah Air

    Puisi Kemerdekaan 17 Agustus yang Menyentuh dan Bermakna
    pexels.com/Polina
    1. Nyanyian Pembebasan Karya: Adhie M Massardi Inilah hari yang akan diperhitungkan bumiKarena anak-anak negeri khatulistiwaSudah bergerak berarak-arakSeperti awan di bawah matahariMereka menuju satu titik yang pastiDalam gumpalan sejarah penuh darahMencair membasahi tanaman petaniLalu menguap jadi embun di dalam rimbunAnak-anak negeri khatulistiwa
      Yang ditempa peristiwa demi peristiwa
      Lahir dari rahim penuh Iuka
      Pada malam bergelimang dustaKini mereka sudah membelah sejarah
      Meninggalkan jejak generasi yang basi
      ltulah generasi yang tak bisa berhenti korupsi
      Menjadikan kebohongan sebagai pedomanMaka pada hari yang akan menghiasi langit
      Anak-anak negeri khatulistiwa
      Meninggalkan abad kemunafikan
      Mengembalikan perubahan kepada zamanDan mereka lalu nyanyi bersama:          “Sudah bebas negeri kita…!”2010
    2. 17 Agustus Karya: A.J. Anwar Orang jahat selalu lebih kuku dalam biat busuknya Tak perlu banyak orang untuk merusak sebuah negara Cukup beberapa koruptor untukMenyikat ludes uang rakyat Beberapa pejabat bebal menggagalkan pembangunan Beberapa politisi memecah belah rakyat Beberapa provokator licik untuk memicu kerusakan Beberapa orang fanatik mementurkan agama Beberapa tangan terselubung merawat prasangka Beberapa preman meresahkan masyarakat Cukup “setitik nila merusak susu sebelanga” Dan bahwa jumlah mereka melimpah, tak pernah cuma seberapa maka negara hanya punya peluang terbuang Dan selamat hari kemerdekaan Saudara sebangsa Selamat Hari Kemerdekaan Mari berbaris membelanya! 
    3. Saya Indonesia Saya, Sudah Pancasila Karya: Asty Kusumadewi Merdeka harga mati!Merdeka harga mati!Merdeka harga mati!Seruan panglima kepada anggotanya Masih ingat bung Tomo dengan semangatnya I Gusti Ngurah Rai dengan Puputan MargaranaPalagan Ambarawa dengan tumpah darahnya Bekerjasama untuk tanah air kita Merdeka dari para penjajah durjana 17 Agustus 1945 Proklamasi dibacakan Riuh tangis haru dikumandangkan Jatuhnya Jepang dan merdekanya Negara Indonesia Rumusan Pancasila tersusun secara nyata Bukti jadi dasar Negara Indonesia Lambang negara Bhineka Tunggal Ika Saya Indonesia, Saya Pancasila. 
    4. Merdeka Kini dan NantiKarya: Ahmad Sumardi Merdeka ini adalah upaya yang tak kenal lelahUsaha yang tak pernah menyerahMerdeka ini adalah cucuran keringat dan darahYang setia mencucur hingga melimpah ruahMerdeka ini adalah lelahLelah yang dirasakan oleh setiap jiwaMerdeka ini tak mudah digapaiKarena berjuta ton darah raib serta tergadaiMerdeka didapat dengan taruhan nyawaDemi merdeka jutaan nyawa dan jiwa melayangDemi merdeka untuk senyum esok yang lebihDemi merdeka untuk senyum bangsa IndonesiaDemi merdeka ibu pertiwi, kini dan nanti.
    5. Indonesia Telah MerdekaKarya: Hernawati Indonesia telah merdekaSudah lama Indonesia merdekaMerdeka dari penjajahan bangsa Eropa dan AsiaMerdeka dari penjajahan Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, dan Nippon pemimpin AsiaSaat ini Indonesia telah merdekaMerdeka dari belenggu penjajahan kolonial yang begitu lamaMerdeka dari belenggu kependudukan militer Jepang hingga muncul romushaIndonesia saat ini telah merdeka, merdeka dari belenggu yang menyiksaWahai Indonesia tercintaBelenggu penjajah begitu lama telah sirnaBiarkan kisah lampau menjadi sejarah bangsaKini dirimu telah merdekaWahai Indonesia tercintaJangan sia-siakan kemerdekana yang telah adaKemerdekaan yang kau dapat dari tumpah darah dan tetesan air mataKemerdekaan yang kau dapat dari perjuangan dan pengorbanan pahlawan yang telah tiadaWahai Indonesia tercintaTanah Airku yang selalu kupujaKini engkau telah merdekaIndonesia telah merdeka
    6. Satu Kata MerdekaKarya: Ikbal Alimuddin Kita semua adalah pejuangPejuang buat diri kita sendiriMemperjuangkan masa depanLayaknya para pahlawan kemerdekaanPerjuangan memang tak semuda membalikkan telapak tanganKarna di balik perjuangan ada kemerdekaan yang menanti untuk diraihInilah yang juga dilakukan oleh para pahlawanMereka memperjuangkan kemerdekaan dengan bercucuran keringatBertumpah darahMengerahkan seluruh jiwa dan raganyaDemi satu kata"Merdeka"Semangat perjuangan para pahlawanJuga tertanam kuat di diri kita semuaDalam meraih impianTidak semuda membalik telapak tanganButuh diterpaSampai titik darah penghabisanButuh berjuangDemi satu kata"Merdeka"


    1. Puisi Kemerdekaan Karya: Tisa Majid 17 kemarinTerasa menggemparkanTerasa menggembirakanAda pekik kemenanganAda pekik kebahagiaanBahagia bisa kembali ke tanah muliaBahagia bisa bersama ibu pertiwiKini 17 Agustus bergema kembaliAda yang bergolak di hatiIngin menangisIngin meratapTapi kepada siapaIbu Pertiwi sedang gundah gulanaIbu Pertiwi sedang kecewaOleh hempasan rasa amarahHempasan rasa serakahHempasan rasa…Kemana sang perkasaKemana sang pejuang pusakaKemana mereka?17 Agustus-kuJangan berlari darikuJangan menghindarikuAku tak sanggup melihat derai air matamuAku takkan bisa melihat muram wajahmuAku…Aku sudah hampir kehilangan Ibu PertiwiJangan pergiTetaplah bersamakuMenapaki langkah yang pernah kita laluiMenuai asa yang pernah kita rasakanMari susul Ibu PertiwiMengamit tangannyaMencuri senyumnnya

    Itulah 40 puisi kemerdekaan menyentuh hati yang bisa kamu baca dan resapi maknanya di momen bersejarah ini. Lewat puisi di atas, semoga kamu bisa meresapi makna kemerdekaan dengan lebih dalam. 

    Menurutmu, mana puisi tentang kemerdekaan yang paling menyentuh? 

Share Article

Related Articles

See More