Denial/penolakan: Orang yang suka blame-shifting sering kali mencoba menyangkal bahwa tindakan menyakitkan itu pernah terjadi. Mereka bisa berpura-pura lupa, menganggap kejadian itu tidak nyata, atau menyebutnya sebagai kesalahpahaman. Kalau berhasil, mereka bisa terus mengabaikannya dan mengulanginya lagi.
Meminimalisir dampak: Jika tidak bisa lagi menyangkal, mereka mungkin mengakui perbuatannya, tapi akan menyepelekan dampaknya. Tujuannya agar orang lain merasa reaksinya berlebihan dan akhirnya meragukan perasaannya sendiri.
Menghindari atau melempar kesalahan: Ketika sudah jelas bahwa kesalahan memang terjadi, hal terakhir yang lakukan adalah menyalahkan orang lain. Mereka bisa mengatakan bahwa tindakan itu terjadi karena dipicu oleh korban, atau bahwa sebenarnya mereka tidak punya pilihan lain. Dengan begitu, tanggung jawab sepenuhnya dialihkan ke pihak lain.
Apa Itu Blame-Shifting? Kenali Contoh Perilaku dan Penyebabnya

- Blame-shifting adalah perilaku mengalihkan kesalahan kepada orang lain untuk menghindari tanggung jawab, sering dilakukan oleh individu manipulatif atau narsistik dalam hubungan tidak sehat.
- Pola blame-shifting muncul melalui penolakan, meminimalkan dampak, hingga menyalahkan pihak lain agar pelaku terhindar dari konsekuensi dan tetap mempertahankan citra diri.
- Perilaku ini terjadi karena ketidaknyamanan menghadapi kritik atau rasa bersalah, serta dipengaruhi faktor lingkungan dan budaya yang membuat seseorang merasa wajar menghindari tanggung jawab.
Dalam setiap hubungan, konflik adalah hal yang tidak bisa dihindari. Entah itu dengan pasangan, sahabat, rekan kerja, atau anggota keluarga, perbedaan pendapat pasti akan muncul. Idealnya, konflik bisa menjadi ruang untuk saling memahami dan memperbaiki diri. Namun, tidak semua orang siap menghadapi kesalahan atau menerima kritik dengan dewasa. Di sinilah pola komunikasi yang tidak sehat mulai terlihat.
Salah satu pola yang cukup sering terjadi, tapi tidak selalu disadari, adalah blame-shifting. Sekilas, perilaku ini mungkin terdengar seperti pembelaan diri biasa. Bahkan kadang dikemas dengan nada bercanda, alasan logis, atau cerita yang menyentuh.
Namun, jika diperhatikan lebih dalam, sikap ini sama saja seperti lari dari tanggung jawab. Untuk lebih jelasnya, yuk simak pembahasan tentang apa itu blame-shifting sebagai berikut.
Apa itu blame-shifting?

Blame-shifting adalah perilaku ketika seseorang menghindari tanggung jawab atas tindakannya sendiri. Lebih jelasnya, orang tersebut melemparkan kesalahan kepada orang lain agar dirinya terhindar dari konsekuensi. Sebenarnya, hampir semua orang pernah mencoba mengalihkan kesalahan untuk menghindari rasa malu. Namun, pelaku kekerasan atau manipulatif biasanya melakukannya secara terus-menerus sebagai cara untuk mengontrol orang lain.
Dalam hubungan yang tidak sehat, pelaku sering menyalahkan korban atas perilaku buruk yang mereka lakukan sendiri demi mempertahankan posisi mereka. Hal yang sama juga sering dilakukan oleh orang dengan sifat narsistik, yang berusaha menghindari kesalahan demi menjaga citra dan status dirinya.
Tahapan blame shifting

Perilaku blame-shifting biasanya tidak muncul begitu saja dalam satu bentuk. Ada beberapa pola yang sering digunakan oleh pelaku untuk menghindari tanggung jawab, berikut penjelasannya:
Contoh blame-shifting

Perilaku blame-shifting tidak selalu muncul dalam bentuk yang terang-terangan. Sering kali, pola ini dibungkus dengan alasan yang terdengar masuk akal, menyentuh emosi, atau bahkan terlihat seperti bentuk kepedulian. Padahal, inti dari semua alasan tersebut tetap sama, yaitu menghindari tanggung jawab atas perilaku yang salah. Berikut beberapa contohnya:
1. Menyalahkan orang lain atas perilaku buruknya

Pada pola ini, seseorang selalu merasa tindakannya adalah reaksi atas perilaku orang lain. Mereka seolah-olah tidak punya pilihan selain marah, membentak, atau berkata kasar. Dengan cara ini, mereka ingin terlihat sebagai korban situasi, bukan pelaku. Padahal, setiap orang tetap bertanggung jawab atas bagaimana mereka merespons sesuatu.
2. Mengungkit luka di masa lalu

Ada juga yang mengaitkan perilakunya dengan pengalaman buruk di masa lalu. Trauma memang nyata dan bisa memengaruhi seseorang, tapi bukan berarti itu menjadi pembenaran untuk terus melukai orang lain. Dalam pola ini, pelaku berharap kamu merasa iba, sehingga rasa kesalmu berkurang dan tanggung jawabnya terlupakan.
3. Mengganggap ucapan kasar sebagai candaan

Komentar yang merendahkan, rasis, atau seksis sering kali dibungkus sebagai humor. Saat ditegur, mereka akan mengatakan bahwa kamu terlalu serius atau tidak mengerti candaan. Padahal, candaan tidak seharusnya menyakiti. Pola ini membuat pelaku bisa mengatakan hal yang tidak pantas tanpa harus bertanggung jawab atas dampaknya.
4. Menyebut kamu terlalu sensitif

Dalam pola ini, perhatian dialihkan dari perilaku mereka ke reaksi kamu. Jadi, kamu disebut berlebihan, lemah, atau tidak tahan kritik. Akibatnya, kamu mulai mempertanyakan perasaan sendiri dan merasa bersalah karena bereaksi tersebut. Ini membuat fokus bergeser dari tindakan yang menyakitkan, menjadi pada cara kamu merespons.
5. Mengatasnamakan cinta dan kepedulian

Dalam beberapa kasus, mereka mengatakan bahwa semua tindakannya dilakukan demi kebaikan kamu. Mereka mungkin mengatakan sedang melindungi, mendidik, atau memastikan kamu tidak salah langkah. Namun, kontrol berlebihan dan sikap merendahkan bukanlah bentuk cinta yang sehat. Alasan ini sering membuat korban ragu karena dibungkus dengan kata “sayang”.
Kenapa blame-shifting bisa terjadi?

Perilaku blame-shifting biasanya muncul karena seseorang tidak nyaman saat dikritik atau disalahkan. Mereka kesulitan menghadapi rasa bersalah, malu, atau merasa tidak enak dengan diri sendiri. Daripada mengakui kesalahan dan belajar dari situasi, mereka memilih mengalihkan kesalahannya agar tidak perlu merasakan ketidaknyamanan itu. Intinya, lebih mudah menyalahkan orang lain daripada bercermin dan mengakui kekurangan diri.
Selain itu, faktor lingkungan dan budaya juga bisa ikut berpengaruh. Dalam beberapa hubungan, peran atau tuntutan sosial tertentu membuat salah satu pihak merasa wajar untuk menghindari tanggung jawab. Ketika merasa “berhak” untuk tidak disalahkan, seseorang jadi lebih mudah melakukan blame-shifting dan menempatkan orang lain sebagai pihak yang dianggap bersalah.
Itulah pembahasan tentang apa itu blame-shifting. Dengan mengenali contoh dan penyebabnya kamu bisa antisipasi jika bertemu dengan orang tersebut. Hal ini juga menjadi pelajaran, bahwa dalam hubungan yang sehat, setiap orang harus berani mengakui kesalahan dan belajar memperbaiki diri.


















