BRI Jazz Gunung Slamet 2026 sukses digelar pada Sabtu (27/6) di kawasan Wana Wisata Baturraden, Banyumas, Jawa Tengah. Mengusung tema "Jazztination", festival yang memadukan musik jazz dengan pesona destinasi wisata ini menjadi penanda kembalinya BRI Jazz Gunung Slamet setelah terakhir digelar pada 2024, sekaligus membuka rangkaian Jazz Gunung Series yang kini memasuki tahun penyelenggaraan ke-18.
BRI Jazz Gunung Slamet 2026 Kembali Hangatkan Baturraden

- BRI Jazz Gunung Slamet 2026 sukses digelar di Baturraden dengan tema 'Jazztination', menandai kembalinya festival jazz pegunungan yang memadukan musik, alam, dan budaya lokal.
- Lima penampil seperti Amelia Ong, Nonaria, Emptyyy, Kevin Yosua Big 6 feat. Gracy Tamangendar, dan Mocca tampil memukau meski hujan mengguyur, menciptakan suasana hangat penuh kebersamaan.
- Festival ini tak hanya menghadirkan musik tetapi juga menggerakkan pariwisata dan ekonomi lokal lewat partisipasi UMKM serta peningkatan hunian penginapan di kawasan Baturraden.
Meski hujan sempat mengguyur kawasan Baturraden pada awal acara, antusiasme ribuan penonton tidak surut. Para jamaah Al-Jazziyah tetap bertahan menikmati setiap penampilan hingga konser berakhir, menciptakan suasana hangat yang menjadi ciri khas festival jazz pegunungan tersebut.
Lima Penampil, Penuh Kehangatan

Festival dibuka pukul 15.00 WIB oleh Amelia Ong, musisi jazz asal Purwokerto, yang tetap tampil memukau meski hujan mengguyur area pertunjukan. Balutan busana bernuansa merah dengan sentuhan kebaya tradisional membuat penampilan Amelia berpadu harmonis dengan atmosfer alam Baturaden. Salah satu momen yang hadir sore itu adalah ketika Amelia membawakan lagu ciptaannya, "Sudah Bahagia", sebuah karya yang telah ia tulis beberapa waktu lalu dan kembali dipersembahkan di hadapan publik.
Ketika hujan mulai turun, irama musik tidak berhenti. Penampilan tetap berlangsung, sementara sejumlah penonton memilih bertahan menikmati setiap lagu yang dibawakan. Tetes hujan, udara yang semakin dingin, serta kabut yang perlahan turun justru menghadirkan pengalaman yang berbeda. Amelia Ong tidak sekedar menyanyi saja, namun juga menunjukkan bakatnya dalam bermain saxophone.
Energi penonton kemudian meningkat saat Nonaria, duo yang digawangi Nesia Ardi dan Nanin Wardhani, menguasai panggung lewat 12 lagu yang dibawakan penuh teatrikal. Dibuka dengan "Sabda Alam", mengiringi pergantian langit sore menuju malam yang diselimuti udara pegunungan yang dingin. Meski rumput masih basah akibat hujan, antusiasme penonton tidak surut. Tampil kompak dengan busana bernuansa merah, NonaRia membawakan sejumlah lagu yang mengundang interaksi penonton.
Lagu "Jadi Wanita" disambut sorakan meriah, sementara Kuda berhasil mengajak audiens bernyanyi bersama dengan penuh semangat. Di pertengahan penampilan, lagu "Santai Saja" menghadirkan nuansa yang lebih rileks sebelum energi pertunjukan kembali meningkat. Penampilan ditutup dengan lagu "Hari yang Bahagia". Irama enerjik berpadu dengan refrain yang mudah diikuti membuat penonton larut bernyanyi bersama hingga akhir pertunjukan.

Suasana kemudian berubah lebih eksploratif melalui penampilan Emptyyy. Trio progressive jazz-rock tersebut membawakan komposisi orisinal dari album terbaru mereka. Emptyyy berhasil membakar semangat penonton lewat lagu kolaborasi dengan Eka Annash yang sarat akan pesan perlawanan, "Maruk". Melalui komposisi jazz modern yang agresif dan penuh distorsi emosi, "Maruk" dibawakan sebagai bentuk sindiran keras terhadap ketamakan manusia. Aransemen yang berani ini sukses menciptakan atmosfer ketegangan yang megah sekaligus reflektif di atas panggung. Ditutup dengan gemuruh tepuk tangan dari para penonton terpukau. Emptyyy sukses meninggalkan kesan mendalam dan membawa warna baru yang penuh kelantangan di Jazz Gunung Slamet tahun ini.
Semakin malam, Kevin Yosua Big 6 featuring Gracy Tamangendar menghadirkan penampilan yang memadukan jazz tradisional dengan lagu ciptaan Ismail Marzuki dan Iskandar seperti "Sabda Alam", "Halo-halo Bandung", dan lain sebagainya yang memang masuk dalam album pertama mereka. Semakin syahdu karena munculnya aransemen baru lagu daerah Banyumas, "Di Tepinya Sungai Serayu", menjadi salah satu sorotan malam itu. Puncaknya, lagu Sepanjang Jalan Kenangan berhasil membawa penonton bernyanyi bersama diiringi tepuk tangan panjang dari penonton.

Sebagai penampil pamungkas, Mocca membawa suasana menuju puncak kemeriahan. Tiga belas lagu yang dibawakan sepanjang malam mengajak ribuan penonton bernyanyi bersama dalam nuansa nostalgia yang hangat. Penampilan tersebut terasa semakin istimewa ketika seluruh penonton ikut merayakan ulang tahun bassist Mocca, Toma Pratama, tepat di atas panggung.
Momen itu sekaligus menjadi bagian dari perayaan perjalanan 27 tahun Mocca berkarya di industri musik Indonesia. Dan BRI Jazz Gunung Slamet 2026 ditutup dengan lagu "Swing it, Bob!" bersamaan dengan MOCCA mengajak beberapa penonton naik ke atas panggung yang menjadikan panggung BRI Jazz Gunung Slamet semakin hangat dan meriah.
Bukan Sekadar Konser: Menggerakkan Pariwisata dan Ekonomi Lokal

Tidak hanya menghadirkan pertunjukan musik, BRI Jazz Gunung Slamet 2026 juga menjadi ruang pertemuan antara seni, pariwisata, dan ekonomi kreatif. Lebih dari 15 UMKM lokal turut meramaikan area festival melalui beragam produk kuliner, kriya, merchandise, hingga karya kreatif khas Banyumas.
Salah satu daya tarik tahun ini adalah kehadiran area Kampung Durian, yang memperkenalkan beragam varietas durian unggulan Banyumas kepada para pengunjung. Kehadiran kawasan tematik tersebut semakin memperkuat pengalaman menikmati festival sebagai bagian dari eksplorasi destinasi wisata Baturraden.
Tingginya antusiasme pengunjung turut memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata daerah. Sejumlah penginapan di kawasan Baturraden dilaporkan telah mencapai tingkat hunian tinggi bahkan sejak sehari sebelum festival berlangsung, menunjukkan bahwa Jazz Gunung tidak hanya menjadi agenda musik tahunan, tetapi juga turut menggerakkan roda ekonomi masyarakat setempat.
Menutup gelaran di Baturraden, penyelenggara mengajak seluruh Jamaah Al-Jazziyah untuk kembali bertemu dalam perayaan musik berikutnya. Semangat kebersamaan yang tetap terjaga meski hujan mengguyur sejak awal acara menjadi bukti bahwa Jazz Gunung bukan sekadar pertunjukan musik, melainkan ruang bagi para penikmat musik, alam, dan budaya untuk kembali pulang setiap tahunnya.
Perjalanan Berlanjut ke Bromo
Usai sukses digelar di lereng Gunung Slamet, perjalanan BRI Jazz Gunung Series 2026 akan berlanjut ke Jawa Timur melalui BRI Jazz Gunung Bromo yang akan berlangsung pada 18-25 Juli 2026 di Amfiteater Jiwa Jawa Resort Bromo, dengan puncak konser utama pada tanggal 24-25 Juli ini. Tiket bisa dibeli di seketiket.com dan aplikasi BRImo.
Sudah amankan tiketmu, Bela?





















