Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install
For
You

Prambanan Jazz Festival 2026 Day 1: Lebih dari Sekadar Jazz

Prambanan Jazz Festival 2026 Day 1: Lebih dari Sekadar Jazz
Dok. Prambanan Jazz Festival
Intinya Sih
  • PJF 2026 di Candi Prambanan hadir lebih megah dan inklusif, menampilkan musisi lintas genre serta berbagai aktivitas yang merangkul keberagaman pengunjung.
  • Festival ini dihiasi instalasi seni karya Eko Nugroho dan area Pasa Raya bertema piknik yang memadukan kuliner, musik, serta pengalaman visual menarik.
  • PJF 2026 menerapkan program sustainability dengan memilah sampah dan menggunakan bahan bakar hasil olahan plastik, sekaligus menghadirkan penampilan musisi dari jazz hingga K-pop.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Selamat datang di Prambanan Jazz Festival 2026. Perayaan musik yang khusus digelar di pelataran Candi Prambanan, Yogyakarta ini menjadi gelaran ke-12 tahun di tahun 2026. Digelar lebih megah, lebih inklusif dan lebih banyak aktivitas yang dihadirkan, Prambanan Jazz Festival 2026 (PJF 2026) mendatangkan musisi lintas genre yang lebih diversity dengan penggemar yang tak kalah solid. Satu hal yang membuat POPBELA gagal fokus adalah di PJF 2026 bukan hanya tentang musik, tapi merangkul keberagaman dengan lebih banyak aktivitas yang bisa kamu lakukan selama tiga hari pagelaran berlangsung.

Disambut instalasi seni yang memanjakan mata

DAY1_PJF2026_TALESOCIETY-0091.jpg
Dok. Prambanan Jazz Festival

Menggandeng seniman asal Yogyakarta, Eko Nugroho, PJF 2026 dihiasi dengan berbagai instalasi seni yang unik dan memanjakan mata. Setiap sudut venue PJF 2026 seolah menjadi kanvas raksasa bagi Eko Nugroho. Bagaimana tidak, jika kamu berjalan sedikit saja ke berbagai penjuru venue, kamu akan menemukan berbagai bentuk instalasi seni yang sayang jika tak kamu abadikan menggunakan kamera. Bahkan, tak sedikit pula yang memanfaatkan instalasi tersebut untuk berfoto atau membuat konten untuk media sosial mereka. Bahkan, sejak pertama kamu menginjakkan kaki ke gate utama saja, kamu sudah disambut dengan karya seni monokrom Eko Nugroho yang ingin kamu pandangi terus.

Pasa Raya yang unik, memanjakan perut sambil menikmati karya seni

DAY1_PJF2026_TALESOCIETY-0117.jpg
Dok. Prambanan Jazz Festival

Sebelum kita masuk ke pembahasan tentang pertunjukan lebih jauh, POPBELA ingin membahas tentang Pasa Raya. Jangan berpikir ini adalah nama tempat seperti pasar yang menjual berbagai jenis barang, ya, Bela. Pasa Raya di sini adalah pujasera dengan konsep yang cukup unik. Yakni, satu area khusus untuk menjual makanan dan minuman yang dihiasi dengan janur serta konsep tempat duduknya seperti sedang piknik di taman.

Tak berhenti sampai di situ, ada DJ/musisi yang siap menghibur pengunjung dengan iringan musik yang nyaman untuk menemani bersantap memanjakan lidah. Kamu yang tadinya hanya ingin beli minum, POPBELA jamin, akan langsung melipir membeli makanan atau sekadar camilan untuk menikmati waktu lebih lama di Pasa Raya.

Terapkan sustainability dengan memilah sampah

Nggak cuma diajak bersenang-senang dengan menikmati musisi favorit, PJF 2026 juga mengajak para pengunjung bertanggung jawab terhadap sampah mereka dengan menerapkan program sustainability yang bekerja sama dengan Lokalogi dan Get Plastic. Sampah yang kamu buang harus dipilah sendiri. Ada 5 tong sampah untuk masing-masing jenis sampah yang dihasilkan. Mulai dari sisa makanan, air, plastik, botol/gelas plastik, dan kertas.

Melalui kolaborasi dengan Get Plastic, kita dapat menyaksikan secara langsung bagaimana Panggung Langgam dioperasikan oleh bahan bakar setara solar hasil pengolahan sampah plastik. Sementara itu, Lokalogi memastikan pengelolaan sampah mulai dari edukasi, pemilahan, penimbangan, hingga pendataan sampah selama festival berlangsung. Ini merupakan bentuk kepedulian PJF 2026 terhadap lingkungan sekitar.

Magisnya Candi Prambanan berbalut musik yang memanjakan telinga

DAY1_PJF2026_TALESOCIETY (L) Show Malam-6297.jpg
Dok. Prambanan Jazz Festival

Sejujurnya, ini adalah kali pertama POPBELA menonton PJF. POPBELA tak pernah mengira bahwa magisnya Candi Prambanan mampu menyulap penampilan para musisi menjadi lebih atraktif dan membius. Dari deretan musisi yang tampil, POPBELA berhasil mengabadikan Sal Priadi, Michael Learns to Rock, dan Xdinary Heroes.

Meski agak sedikit kecewa karena Sal Priadi tak membawakan "Gala Bunga Matahari" (yang menurut POPBELA rasa patah hatinya akan makin terasa jika dibawakan di hadapan Candi Prambanan), POPBELA tetap happy dan terbius penampilan Sal saat membawakan "Ada Titik-Titik di Ujung Doa". Sama-sama membuat hati robek tapi dengan alasan masalah yang berbeda.

Inklusif dengan musisi dari beragam genre

PJF ingin memperkenalkan musik jazz ke lebih banyak lagi kalangan. Salah satu cara yang mereka lakukan adalah dengan menggandeng musisi dari genre di luar jazz untuk tampil serta di pagelaran tersebut. Penampilan Xdinary Heroes-lah yang menjadi pamungkasnya malam itu. POPBELA bisa mengatakan bahwa ini adalah strategi yang cukup sukses bagi PJF 2026 karena berhasil mendatangnya ribuan K-Popers malam itu. Secara tidak langsung, sebelum Xdinary Heroes tampil, mereka disuguhkan dengan musisi jazz dan ini adalah cara memperkenalkan yang unik tanpa terkesan memaksa.

Di sesi penampilan Xdinary Heroes, POPBELA menangkap momen langka. Yakni, Dee Lestari terlihat begitu menikmati dan bersemangat menyaksikan Xdinary Heroes sambil terkadang sedikit bergoyang mengikuti hentakan musik rock yang mereka bawakan. Siapa sangka, Dee Lestari adalah seorang Villain (panggilan untuk para penggemar Xdinary Heroes), bukan?

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Niken Ari Prayitno
EditorNiken Ari Prayitno

Related Articles

See More