Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
For
You

[EKSKLUSIF] Rasa Aman Finansial dan Perannya dalam Kualitas Hidup Perempuan

Yudhistira Dharmawata Chief Health Officer AXA Financial Indonesia.jpeg
Dok. Istimewa
Intinya sih...
  • Perempuan sering tak sadar rentan dengan kelelahan karena kesibukannya yang luar biasa
  • Risiko kesehatan yang datang tiba-tiba, seperti kanker payudara dan serviks, memiliki tingkat kejadian yang lebih tinggi pada perempuan
  • Rasa aman finansial sebagai bagian dari self-care, memberikan ruang untuk fokus pada pemulihan saat sakit tanpa terbebani ketakutan akan biaya
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Setuju nggak Bela, dengan pernyataan bahwa perempuan terbiasa kuat? Pernyataan ini sejalan dengan kenyataan yang ada bahwa perempuan terbiasa mengurus banyak hal sekaligus. Mulai dari pekerjaan, keluarga, relasi, hingga urusan emosional yang kadang tak terlihat (mungkin sengaja tak ditampakkan). Di tengah ritme hidup yang padat dan serba cepat, perempuan dituntut untuk terus bisa berjalan meski itu artinya sedikit mengabaikan rasa lelah.

Karena hal ini pula, terkadang soal kesehatan seringkali terabaikan. "Masih nggak apa-apa kok", atau "pusing sedikit, istirahat juga sembuh". Padahal jika kita abai dengan 'sinyal' yang diberikan tubuh, bukan tak mungkin hal itu menjadi bom waktu di kemudian hari, bukan?

Menurut Yudhistira Dharmawata, Chief Health Officer AXA Financial Indonesia, perempuan justru berada di posisi yang lebih rentan secara kesehatan. Itu artinya, sebagai perempuan ada baiknya mulai mempersiapkannya dengan baik segalanya sedari awal. Simak, yuk, obrolan eksklusif POPBELA bersama dengan Yudhistira terkait perempuan, perencanaan keuangan dan kesehatan berikut ini.

Perempuan sering tak sadar rentan dengan kelelahan karena kesibukannya yang luar biasa

Perempuan Sibuk Bekerja.jpg
Unsplash.com/Vitaly Gariev

Hari ini, semakin banyak perempuan yang memegang peran penting, baik di ranah profesional maupun domestik. Perempuan bukan hanya pendamping, tetapi juga pengambil keputusan dan pencari nafkah. Namun, peran ganda ini sering membuat perempuan terbiasa menomorduakan diri sendiri. Dampaknya, perempuan sering lupa (bahkan tidak menyadari) jika tubuhnya mulai butuh istirahat. Padahal mengabaikan tanda kecil ini bisa jadi bom waktu di kemudian hari.

"Perempuan itu sering kali menjalani banyak peran dalam satu waktu. Bekerja, mengurus keluarga, dan tetap dituntut untuk kuat secara emosiona. Misalnya, kalau habis bekerja sampai malam biasanya pulang kan masih mengurus anak lagi. Berarti secara fisik perempuan mungkin Lebih terkuras dan lebih capek," ujar Yudhistira. "Tanpa disadari, kondisi ini bisa membuat perempuan lebih rentan terhadap kelelahan fisik dan mental."

"Jika sudah lelah secara mental," lanjut Yudhistira lagi, "ini terkadang bisa merambat kemana-mana. Termasuk salah satunya adalah terkait cancer."

Risiko kesehatan yang datang tiba-tiba

Yudhistira Dharmawata Chief Health Officer AXA Financial Indonesia.jpeg
Dok. Istimewa

Di balik ketangguhan yang telah disebutkan sebelumnya, perempuan menghadapi risiko kesehatan yang tidak bisa dianggap ringan. Bukan ingin menakutkan, namun beberapa penyakit, seperti kanker payudara dan kanker serviks, memiliki tingkat kejadian yang lebih tinggi pada perempuan. Apalagi risiko kesehatan ini muncul karena kesibukan perempuan yang begitu banyak menjalani peran saat ini.

Yudhistira menjelaskan bahwa dalam praktiknya, kanker payudara menjadi salah satu klaim kesehatan yang paling sering ditemui. "Yang sering terjadi, perempuan merasa baik-baik saja karena tidak merasakan gejala apa pun. Padahal, penyakit seperti kanker bisa berkembang tanpa disadari," katanya.

Faktor genetik, usia, hingga tekanan mental berkepanjangan juga turut berperan. Artinya, bahkan perempuan dengan gaya hidup sehat tetap memiliki risiko yang perlu diantisipasi.

Terkadang, ada 'bencana' yang datang di luar rencana

Risiko Keuangan.jpg
Freepik.com

Banyak perempuan merasa sudah melakukan "cukup" untuk kehidupan sehari-hari. Mulai dari hidup relatif seimbang, berusaha makan lebih sehat, sesekali olahraga, bekerja keras membangun karier, dan menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung. Di kepala, semua itu sudah terasa seperti bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri. Selama tubuh masih bisa diajak kompromi dan aktivitas tetap berjalan normal, masa depan seolah bisa dipikirkan nanti atau saat waktunya lebih longgar, saat kondisi terasa lebih stabil.

Namun, kesehatan sering kali tidak menunggu kesiapan. Ia bisa datang tanpa aba-aba, tanpa gejala yang jelas, dan tanpa mempertimbangkan rencana hidup yang sudah disusun rapi. Banyak perempuan baru benar-benar dihadapkan pada kenyataan ketika tubuh mulai memberi sinyal yang tak bisa lagi diabaikan. Di momen itu, kesadaran pun muncul: ternyata selama ini, perhatian terhadap masa depan belum sejauh yang dibayangkan.

"Banyak orang baru memikirkan proteksi saat sudah sakit," ungkap Yudhistira. "Padahal, dampak dari sakit itu bukan hanya ke kondisi fisik, tapi juga ke kondisi finansial dan kualitas hidup secara keseluruhan."

Ketika sakit datang, yang terdampak bukan hanya tubuh, tetapi juga ritme hidup, pekerjaan, penghasilan, bahkan rencana-rencana yang sebelumnya terasa pasti. Biaya pengobatan, waktu pemulihan, dan ketidakpastian sering kali menjadi beban berlapis. Terutama bagi perempuan yang selama ini terbiasa menjadi sandaran, baik secara emosional maupun finansial. Tabungan yang dikumpulkan perlahan bisa terkuras, rencana jangka panjang tertunda, dan fokus hidup bergeser sepenuhnya pada proses bertahan.

Di titik ini, banyak perempuan menyadari bahwa menabung saja tidak selalu cukup untuk menghadapi risiko yang datang tiba-tiba. Butuh proteksi tambahan agar arus keuangan tetap terjaga meski kondisi fisik sedang tidak baik-baik saja. Memiliki asuransi, misalnya, cukup membantu kamu untuk menjaga arus keuangan. Minimal merasa lebih tenang ketika kesehatan tak baik-baik saja karena kamu tahu cash flow masih terjaga dengan baik.

Rasa aman finansial sebagai bagian dari self-care

Yudhistira Dharmawata Chief Health Officer AXA Financial Indonesia.jpeg
Dok. Istimewa

Self-care sering kali dimaknai sebagai hal-hal yang terlihat: waktu istirahat, liburan singkat, atau momen menyenangkan untuk diri sendiri. Semua itu penting. Namun, ada satu bentuk self-care yang jarang dibicarakan, yakni rasa aman finansial. Sebuah kondisi ketika perempuan tidak harus terus-menerus cemas memikirkan apa yang akan terjadi jika sesuatu berjalan di luar rencana.

Ketika perempuan memiliki rasa aman secara finansial, ia punya ruang untuk benar-benar hadir pada dirinya sendiri. Ia bisa fokus pada pemulihan saat sakit tanpa terbebani ketakutan akan biaya, bisa menjaga kesehatan mental tanpa tekanan tambahan, dan bisa mengambil jeda tanpa rasa bersalah. Rasa aman ini bukan semata soal uang, melainkan ketenangan karena tahu dirinya tidak sendirian menghadapi risiko yang mungkin datang.

"Ketika perempuan merasa aman, mereka bisa mengambil keputusan yang lebih baik untuk dirinya sendiri," kata Yudhistira. "Baik itu soal kesehatan, karier, maupun kehidupan keluarga."

Dalam kondisi aman, perempuan tidak dipaksa memilih antara kesehatan dan tanggung jawab lain. Ia punya ruang untuk berpikir jernih dan menentukan langkah yang paling tepat bagi hidupnya.

Di titik inilah rasa aman finansial menjadi bagian penting dari self-care. Bukan sebagai simbol kemapanan, tetapi sebagai fondasi untuk menjalani hidup dengan lebih utuh. Karena ketika perempuan merasa terlindungi, ia bukan hanya bertahan, tapi juga ia punya kesempatan untuk pulih, tumbuh, dan melangkah ke masa depan dengan lebih percaya diri.

Jangan lupa untuk mulai merawat diri

Self Care.jpg
Unsplash.com/Alisa Anton

Di tengah tuntutan untuk selalu kuat, perempuan sering lupa bahwa merawat diri justru membutuhkan keberanian. Keberanian untuk berhenti sejenak, mendengarkan tubuh dan perasaan sendiri, lalu mengakui bahwa tidak semua hal bisa ditangani sendirian. Dalam budaya yang sering mengagungkan ketangguhan, perempuan kerap merasa harus selalu baik-baik saja, padahal merawat diri adalah bentuk kejujuran terhadap kebutuhan diri sendiri.

Memikirkan kesehatan, mempersiapkan proteksi, dan membangun rasa aman finansial sering kali dianggap sebagai hal yang terlalu jauh atau terlalu serius. Namun, justru di situlah letak kepedulian yang sesungguhnya. Perempuan yang memilih untuk bersiap bukan sedang bersikap pesimis, melainkan sedang menghargai hidupnya. Ia memilih untuk tidak menyerahkan masa depannya sepenuhnya pada kemungkinan yang tidak bisa dikendalikan.

Self-care memang tidak selalu hadir dalam bentuk yang terlihat. Ia tidak selalu tentang momen menyenangkan atau hadiah untuk diri sendiri. Kadang, self-care hadir dalam keputusan yang tenang dan dewasa, misalnya keputusan yang diambil saat hidup sedang berjalan normal, sebelum keadaan memaksa perempuan untuk memilih dalam kondisi genting.

Pada akhirnya, merawat diri adalah tentang memberi ruang bagi diri sendiri untuk tetap aman, sehat, dan utuh di setiap fase kehidupan. Karena perempuan yang merasa terlindungi bukan hanya mampu bertahan, tetapi juga punya kebebasan untuk bermimpi, melangkah, dan menjalani hidup dengan lebih percaya diri.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Niken Ari Prayitno
EditorNiken Ari Prayitno
Follow Us

Latest in Career

See More

11 Drama Ikonik James Van Der Beek yang Menandai Perjalanan Kariernya

12 Feb 2026, 13:15 WIBCareer