Nggak Perlu Panik, Begini Cara Anak Muda Menata Keuangan di Tengah Ketidakpastian

Generasi muda peduli dengan perencanaan keuangan, namun belum diikuti tindakan nyata.
Krisis ekonomi membuat perencanaan keuangan jangka panjang semakin relevan.
Perencanaan keuangan bisa dimulai dari yang ideal dan disesuaikan dengan kondisi nyata.
"Anak muda zaman sekarang nggak akan bisa beli rumah, soalnya uangnya habis buat beli kopi."
"Bulan ini konser idol A, bulan depan ada festival musik B. Nabung-nabung yuk!"
"Akhir bulan healing sebentar yuk. Anggap saja itu self-reward karena sudah bekerja keras minggu ini."
Hayo, siapa yang sering melontarkan kalimat demikian? Kalimat tersebut sudah familiar di telinga kita. Menikmati kopi favorit, datang ke konser musisi idola, atau sekadar healing di akhir pekan kini sudah menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda.
Di media sosial, hal-hal ini sering tampil sebagai simbol living in the moment atau yang biasa disebut juga dengan menjalani hidup sepenuhnya di hari ini. Namun, di balik itu semua, muncul satu pertanyaan besar: bagaimana caranya tetap menikmati hidup tanpa mengorbankan rasa aman di masa depan?
Membahas tentang fenomena ini, POPBELA berkesempatan mewawancarai secara eksklusif Yudhistira Dharmawata, Chief Health Officer AXA Financial Indonesia. Menurut Yudhistira, menikmati hidup dan merencanakan masa depan seharusnya tidak dilihat sebagai dua hal yang saling bertentangan. Justru, keduanya perlu berjalan beriringan agar hidup terasa lebih seimbang, tenang, dan terarah.
Lalu, bagaimana caranya menyeimbangkan itu semua? Simak hasil wawancaranya di artikel berikut ini.
Living in the Moment Bukan Berarti Mengabaikan Masa Depan

Fenomena generasi muda yang tampak santai soal keuangan bukan berarti mereka tidak peduli dengan masa depan. Banyak dari mereka sebenarnya sudah sadar akan pentingnya perencanaan finansial. Namun, kesadaran itu sering kali belum diikuti dengan tindakan nyata.
"Saya mulai dari beberapa survey yang sudah dilakukan beberapa lembaga tertentu terkait hal ini. Jadi pertama, berdasarkan survey KOMPAS, ada sekitar 90% dari orang itu ternyata belum siap untuk menghadapi masa pensiun. Terus yang kedua, ini mungkin relevan dengan generasi muda, survey dari Populix yang dilakukan pada 2023-2024, berdasarkan survey terhadap seribuan orang, hasilnya 73% mengatakan bahwa asuransi penting. Tapi masalahnya, dari sekitar 30-an persennya jujur bahwa mereka belum punya asuransi. Dari sini kita tahu, mereka sudah aware tapi belum bertindak terkait perencanaan keuangan ini," jelas Yudhistira membuka wawancara hari itu.
Padahal, lanjut Yudhistira lagi, perencanaan keuangan bukan tentang menahan diri sepenuhnya dari kesenangan, melainkan tentang mengatur prioritas dengan lebih sadar. Sehingga saat terjadi risiko di kemudian hari bisa diminimalkan.
"Saya yakin rata-rata kita di usia muda sudah tebangun mindset untuk menabung. Tapi, beberapa tahun terakhir ini sudah mulai juga tren investasi. Investasi itu artinya dari tabungan bukan cuma ditaruh di bank istilahnya. Tapi, ada strategi mengembangkan dana tersebut untuk masa depan sesuai dengan tujuan finansial yang kita inginkan. Level awareness orang akan investasi itu cukup tinggi."
Meski untuk urusan menabung dan investasi cukup tinggi, soal proteksi, anak muda masih belum memahami dan menerapkannya dengan baik. Padahal, dengan adanya proteksi, tabungan dan investasi bisa terjaga dengan baik dan kita bisa mencapai target yang sudah kita impikan sebelumnya.
Pentingnya Mulai Menata Keuangan Karena Ketidakpastian Ekonomi Bukan Lagi Kejadian Langka

Jika dulu krisis ekonomi terasa seperti kejadian sepuluh tahunan, kini situasinya berubah. Dalam satu dekade terakhir, dunia berkali-kali dihadapkan pada krisis. Mulai dari krisis finansial global, pandemi, hingga kondisi ekonomi yang makin menantang.
Situasi ini membuat perencanaan keuangan jangka panjang menjadi semakin relevan. Bukan hanya untuk dana pensiun, tetapi juga untuk dana pendidikan, perlindungan keluarga, hingga warisan di masa depan. Tanpa perencanaan yang matang, risiko tak terduga bisa dengan mudah menggeser tujuan finansial yang sudah disusun.
"Kita harus makin matang lagi planningnya. Dan mempunyai istilahnya buffer untuk berjaga-jaga. Sebagai seseorang yang masih dalam tahap usia produktif, kita harus ada planning untuk the best dan the worst condition yang mungkin saja bisa kita hadapi di masa depan. Dan proteksi inilah yang bisa ‘menyelamatkan’ kita dari the worst condition tadi," jelas Yudhistira.
Menata keuangan bisa dimulai dengan sederhana, ungkap Yudhistira. Misalnya, dengan memiliki asuransi kesehatan. Memiliki asuransi kesehatan adalah langkah awal untuk mulai merapikan kondisi finansial seseorang yang masih sedang dalam usia produktif. Sebab, jika suatu hari jatuh sakit, biaya pengobatan sudah tercover dan tak mengganggu cashflow lain atau tabungan yang sudah kamu kumpulkan tersebut.
"Minimal untuk uang yang perlu kita keluarin ke rumah sakit atau ke dokter ini Kita bisa protect dengan asuransi kesehatan. Makanya itulah pentingnya asuransi di masa seperti ini," kata Yudhistira lagi.
Mulai dari yang Ideal, Jalani dari yang Realistis

Salah satu kesalahan paling umum dalam perencanaan keuangan adalah menunggu kondisi "sempurna" sebelum memulai. Padahal, perencanaan justru sebaiknya dimulai dari gambaran ideal, lalu disesuaikan dengan kondisi nyata.
Perencanaan tidak harus langsung besar dan kompleks. Menentukan persentase menabung dari penghasilan, mulai investasi kecil, atau memilih bentuk proteksi yang paling sesuai dengan kemampuan saat ini sudah merupakan langkah awal yang berarti. Seiring waktu dan peningkatan penghasilan, rencana tersebut bisa terus disesuaikan.
"Jika menunggu keadaan ideal itu malah tidak akan memulai. Nggak perlu takut. Untuk merencakan keuangan menjadi lebih baik, hal yang paling penting adalah kamu harus yakin dulu dan konsisten. Misalnya, bisa dimulai dengan menyisihkan 20% dari gaji untuk ditabung. Uang yang kamu sisihkan ini bisa ditabung biasa atau dibelikan instrumen investasi yang sesuai. Apapun itu, terserah kamu yang penting mulai dulu dan konsisten," kata Yudhistira.
Kemudian, setelah saving terpenuhi, kamu bisa mulai mencari proteksi berupa asuransi yang tepat dan sesuai dengan budget yang kamu punya.
"Saat ini sudah banyak produk asuransi yang terjangkau untuk anak muda. Memang, untuk manfaat yang didapatkan nanti akan disesuaikan dengan budget yang dikeluarkan. Misalnya hanya untuk beberapa rumah sakit dan jumlah yang ditanggungkan tidak terlalu tinggi. Tapi minimal, kita sudah memiliki proteksi. Nanti, jika pemasukan kita bertambah, proteksi juga bisa disesuaikan kembali."
Menunda Kesenangan Bukan Berarti Kehilangan Kebahagiaan

Menikmati hidup tetap penting. Datang ke konser, nongkrong, atau menikmati kopi favorit bukanlah sesuatu yang harus dihilangkan sepenuhnya. Kuncinya ada pada delayed gratification atau menunda kesenangan sesaat demi tujuan yang lebih besar.
"Nggak apa-apa masih nonton konser atau beli kopi. Tapi mungkin untuk saat ini, saat mulai membereskan keuangan, kesenangan itu bisa dikurangi bukan dihilangkan sama sekali. Misalnya, kalau biasanya nonton konser bisa sebulan sekali, bisa diganti jadi enam bulan sekali. Supaya goals yang kita buat tadi bisa segera tercapai," kata Yudhistira.
Kamu bisa mulai budgeting untuk hal-hal yang sifatnya tersier. Bukan hanya jumlahnya yang kamu batasi, tapi juga frekuensinya yang harus jelas.
"We need to have fun. Tapi, kita planning aja. Oke setahun nggak bisa tiap bulan ya karena konser juga kan ada waktunya. Kita mesti disiplin dengan budget yang kita punya dan sudah kita buat. Kalau sampai melebihi kita harus punya mental untuk menunda kesenangan itu."
Dengan perencanaan dan budgeting yang jelas, kesenangan tetap bisa dinikmati tanpa rasa bersalah. Bukan soal melarang diri, tapi soal memilih dengan sadar: mana yang ingin dinikmati sekarang, dan mana yang bisa ditunggu.
Financial Wellness sebagai Gaya Hidup, Bukan Beban

Pada akhirnya, perencanaan keuangan bukan tentang angka semata. Ini tentang rasa aman, ketenangan, dan kualitas hidup. Financial wellness bisa menjadi bagian dari gaya hidup modern, seperti self-care, olahraga, atau menjaga kesehatan mental.
Dari sisi perusahaan asuransi, financial wellness yang bisa diberikan adalah menyediakan produk yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing orang. Saat ini, asuransi kesehatan tengah menjadi primadona karena mulai adanya awarness walau pada praktiknya masih cukup banyak anak muda yang ragu untuk memilih produk asuransi. Padahal jika ditelaah lebih jauh, AXA telah menyediakan produk yang cukup affordable untuk anak muda, lho.
"Pasca pandemi, banyak orang mulai menyadari pentingnya asuransi kesehatan walau mungkin budget yang mereka miliki belum besar. Itu nggak apa-apa. Kami dari AXA menyediakan produk yang termurah di kelasnya. Produk ini kami luncurkan karena memang dari market menginginkan asuransi yang murah. Cuma memang, asuransi dengan budget terbatas akan disesuaikan lagi dengan manfaatnya," jelas Yudhistira.
Menata keuangan sejak dini bukan berarti hidup jadi kaku. Justru sebaliknya, perencanaan yang baik memberi ruang untuk menikmati hidup dengan lebih tenang, karena masa depan sudah dipersiapkan.


















