Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
For
You

Review 'Mercy': Film Segar Pembuka Awal Tahun 2026

Screenshot 2026-01-23 at 20.09.24.png
Dok. Sony Pictures
Intinya sih...
  • Film Mercy membuka tahun 2026 dengan cerita yang mengusik dan familiar, menantang penonton untuk memilih antara data dan teknologi, atau perasaan manusia.

  • Synopsis film ini berkisah tentang sistem peradilan AI yang menguji kebenaran kasus pembunuhan melalui bukti digital, memunculkan ketegangan tanpa adegan kejar-kejaran.

  • Teknik bercerita film ini membuat penonton merasakan ikut serta dalam investigasi, sambil menyampaikan kritik sosial terkait kepercayaan pada teknologi dibandingkan dengan perasaan manusia.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Puas dan bahagia rasanya selepas menyaksikan film yang bagus. Seolah ada perspektif baru yang terbuka dan pengalaman lain yang saya jalani walau hanya menatap dari layar lebar. Mercy membuka tahun 2026 dengan sangat baik. Memang, ini bukanlah film pertama yang rilis di tahun ini. Tapi Mercy, adalah film yang cukup baik dan membuat saya optimis bahwa tahun ini akan penuh dengan film-film berkualitas lainnya.

Ada sensasi yang langsung terasa sejak menit awal Mercy, yakni rasa familiar tapi sekaligus mengusik. Film ini seperti mengajak saya kembali ke pengalaman menonton Searching dan Missing, dua film yang sukses membuat layar komputer dan ponsel terasa jauh lebih menegangkan daripada kejar-kejaran secara fisik. Mercy bermain di ranah yang sama, tapi dengan isu yang terasa lebih dekat dengan kehidupan kita hari ini: tentang AI.

Bukan sekadar soal misteri dan siapa pelakunya, Mercy perlahan menempatkan penonton di posisi yang memaksa kita memilih antara data, logika, dan teknologi, atau perasaan dan intuisi manusia yang selama ini kita anggap tak bisa digantikan.

Synopsis 'Mercy' (2026)

Film ini berkisah tentang sebuah sistem peradilan yang kini dikendalikan oleh artificial intelligence (AI). Sistem ini dibuat karena manusia sudah tak sanggup lagi menangani kasus-kasus hukum yang kian hari jumlahnya semakin banyak dan tak terhitung.

Mercy adalah sistem peradilan dengan Hakim Maddox (Rebecca Ferguson), sebuah entitas kecerdasan buatan yang berperan sebagai hakim absolut. Dalam kisah ini, kita diajak untuk melihat proses sidang Chris Raven (Chris Pratt) yang diduga membunuh istrinya sendiri. Dalam waktu 90 menit, Chris harus membuktikan bahwa ia tak bersalah dengan bantuan berbagai arsip digital yang bisa ia telusuri secara bebas.

Kasus yang dihadapi Chris perlahan berkembang menjadi teka-teki yang kompleks dan mengarah pada terbukanya kasus lain yang bahkan tak pernah Chris duga sebelumnya. Setiap bukti digital—rekaman CCTV, data ponsel, lalu lintas digital, hingga aktivitas personal—dibedah satu per satu demi membuktikan bahwa Chris memang tidak membunuh istrinya.

Penonton diajak menyusuri lapisan informasi yang tampak objektif, namun justru semakin menimbulkan pertanyaan. Di tengah aliran data yang terlihat tak terbantahkan, muncul celah-celah kecil yang mengusik: potongan informasi yang terasa janggal, keputusan yang terlalu rapi, dan kesimpulan yang mungkin benar secara logika, tapi terasa kosong secara manusiawi. Di sinilah ketegangan Mercy bekerja. Bukan lewat kejar-kejaran, melainkan lewat rasa tidak nyaman saat kebenaran terasa terlalu dingin.

Jadi, bagaimana selanjutnya? Apakah benar Chris membunuh sang istri? Atau ada fakta lain yang baru terkuak selama ini?

Mercy
2026
4/5
Directed by Timur Bekmambetov
Producer

Timur Bekmambetov, Charles Roven, Majd Nassif, Robert Amidon

Writer

Marco van Belle

Age Rating

13+

Genre

Cerita Fiksi, Aksi, Cerita Seru

Duration

100 Minutes

Release Date

19-01-2026

Theme

Race against time, artificial intelligence (a.i.), los angeles, california, false accusations, innocent suspect, criminal justice system, near future, screenlife, crime.

Production House

Atlas Entertainment, Amazon MGM Studios, Bazelevs

Where to Watch

XXI Cinema, CGV Cinema

Cast

Chris Pratt, Rebecca Ferguson, Kali Reis, Annabelle Wallis, Chris Sullivan

Trailer 'Mercy' (2026)

'Mercy' Still Images

Teknik bercerita yang membuat layar jadi ruang investigasi

Screenshot 2026-01-24 at 08.20.51.png
Dok. Sony Pictures

Salah satu kekuatan utama Mercy terletak pada cara bertuturnya. Film ini sepenuhnya memanfaatkan berbagai sudut pandang kamera. Kamu akan melihat bagaimana kualitas gambarnya mulai dari hasil tangkapan gambar kamera profesional, CCTV, kamera ponsel, hingga kamera lalu lintas. Semua ini digabungkan untuk merangkai cerita. Alih-alih terasa gimmick, pendekatan ini justru terasa organik dan fungsional.

Sebagai penonton, saya tidak hanya "menyaksikan" cerita, tapi seperti ikut membongkar kasusnya. Kita diajak membuka file, mengulik data, memeriksa rekaman, dan mengintip kehidupan personal karakter lewat layar-layar kecil yang semuanya dilakukan untuk satu visi yang sama: membuka kebenaran yang selama ini tertutupi. Rasanya seperti ikut duduk di kursi investigator, bukan sekadar penonton pasif.

Menariknya, teknik ini juga membuat tempo film terasa hidup. Ketika satu petunjuk muncul, kita otomatis ikut menyusun kemungkinan: siapa yang berbohong, siapa yang punya alibi kuat, dan siapa yang terlihat terlalu bersih untuk dicurigai.

Tak ada ledakan dan tembakan, tapi film ini bikin tegang

Screenshot 2026-01-24 at 08.21.01.png
Dok. Sony Pictures

Mercy tidak mengandalkan adegan kejar-kejaran atau kejutan berisik untuk membangun sensasi rasa tegang. Ketegangannya datang perlahan, lewat potongan informasi kecil yang terus bertambah. Semakin banyak data yang terbuka, semakin besar pula kebingungan yang dirasakan. Rasa pertanyaan pun juga makin bermunculan, misalnya satu pertanyaan yang berkali-kali terlontar di benak saya saat satu data terbuka adalah "sebenarnya dia bersalah nggak sih?".

Ada momen-momen ketika saya yakin sudah menemukan jawabannya, lalu beberapa menit kemudian keyakinan itu runtuh karena data lain membuktikan bahwa fakta itu kurang valid dan terbantahkan dengan sendirinya oleh alibi kuat dari sang tokoh yang bersangkutan. Film ini pintar memainkan persepsi, membuat kita bolak-balik percaya dan ragu pada karakter yang sama.

Menurut saya, justru di situlah letak kekuatannya. Mercy membuat proses berpikir penonton menjadi bagian dari pengalaman menonton, bukan hanya menunggu di hasil akhirnya saja.

Pujian untuk Rebecca Ferguson yang mampu memvisualisasikan AI dengan begitu nyata

Screenshot 2026-01-23 at 20.09.24.png
Dok. Sony Pictures

Dari seluruh jajaran pemain, Rebecca Ferguson jelas mencuri perhatian. Perannya sebagai hakim berbasis AI terasa dingin, presisi, dan nyaris tanpa celah emosi. Tidak ada ekspresi berlebihan, tidak ada ledakan perasaan, seperti kaget, curiga, atau bingung. Yang ada hanya fakta, data, dan kesimpulan. Karena hanya itulah yang bisa ia percayai dan lakukan.

Menariknya, justru ketidakmanusiawian itu yang membuat karakternya terasa menyeramkan. Rebecca berhasil menjaga performanya tetap konsisten, ekspresinya yang datar, tenang, dan absolut. Ini membuat penonton merasa kesal sekaligus paham, bahwa apa yang diciptakan melalui mesin pasti tak akan memiliki belas kasih bahkan perasaan barang sedikit pun. Maddox tidak menghakimi dengan empati, tapi hanya dengan logika.

Dan mungkin itu yang paling mengganggu, karena di dunia nyata, kita mulai terbiasa menyerahkan keputusan penting pada sistem yang bekerja dengan cara serupa. Padahal seharusnya, sebagai manusia yang tercipta dengan perasaan dan intuisi, sentuhan emosional terkadang dibutuhkan. Sebab, di dunia ini semuanya tak melulu soal logika. Ada perasaan yang bermain di situ yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.

Kritik sosial ketika manusia lebih memercayai teknologi dibandingkan dengan perasaannya sendiri

Screenshot 2026-01-24 at 08.19.50.png
Dok. Sony Pictures

Di balik misterinya, Mercy menyimpan kritik sosial yang cukup tajam. Film ini mempertanyakan satu hal sederhana tapi relevan: mengapa kita semakin mudah mempercayai AI, data, dan algoritma, dibandingkan perasaan dan intuisi kita sendiri?

Padahal, kepekaan emosional adalah sesuatu yang membuat manusia berbeda. Firasat, empati, dan rasa curiga yang lahir dari pengalaman hidup sering kali tidak bisa diterjemahkan ke dalam angka atau log data. Perasaan manusia adalah sesuatu yang spesial yang diciptakan semesta agar kehidupan ini bisa berjalan dengan damai.

Mercy tidak memberi jawaban hitam-putih. Ia hanya mengajak kita berpikir ulang tentang di dunia yang semakin canggih, apakah kita masih berani mempercayai rasa atau justru mulai menyerahkannya sepenuhnya pada mesin? Hanya kamu yang bisa menjawabnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Niken Ari Prayitno
EditorNiken Ari Prayitno
Follow Us

Latest in Career

See More

Imlek 2026 Tanggal Berapa? Ini Waktu Perayaan dan Tradisinya

26 Jan 2026, 12:35 WIBCareer