UNIQLO Bahas Kepemimpinan Inklusif di International Women’s Day 2026!
UNIQLO dan IBCWE menggelar diskusi bertema interseksionalitas untuk memperingati International Women’s Day, membahas bagaimana latar belakang beragam memengaruhi pengalaman profesional di dunia kerja modern.
Para pembicara menekankan pentingnya kepemimpinan inklusif yang tidak hanya meningkatkan representasi, tetapi juga mendorong inovasi serta kinerja bisnis melalui keberagaman perspektif dalam tim.
Konsep organizational allyship disorot sebagai langkah nyata menciptakan lingkungan kerja aman dan setara, di mana setiap individu merasa dihargai serta bebas mengekspresikan potensi terbaiknya.
Perayaan International Women’s Day kerap menjadi momen untuk kembali membicarakan isu kesetaraan dan peran perempuan di dunia kerja. Di tengah dinamika profesional yang semakin kompleks, percakapan tentang kepemimpinan inklusif juga ikut berkembang, terutama tentang bagaimana latar belakang seseorang bisa memengaruhi perjalanan kariernya.
Hal inilah yang menjadi fokus diskusi yang digelar oleh UNIQLO bersama Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE). Mengusung tema “Interseksionalitas: Menavigasi Berbagai Lapisan Hambatan dalam Kehidupan Profesional”, diskusi pada Rabu (4-6-2026) kemarin mengajak publik untuk melihat keberagaman di tempat kerja dari sudut pandang yang lebih luas.
Acara ini menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai latar belakang, di antaranya Irma Yunita selaku Director Corporate Affairs UNIQLO Indonesia, Fetty Kwartati selaku Director PT Tara Naya Karsa, Rhaka Ghanisatria sebagai Co-Founder Menjadi Manusia, serta Wita Krisanti selaku Executive Director IBCWE.
Berikut beberapa poin penting yang menjadi sorotan dalam diskusi tersebut. Yuk, simak!
1. Interseksionalitas membantu memahami pengalaman kerja yang berbeda

Dalam dunia kerja, seseorang tidak hanya hadir dengan satu identitas saja. Ada banyak peran yang melekat dalam diri setiap individu. Misalnya, seorang perempuan bisa menjadi pemimpin tim di kantor sekaligus pengasuh di rumah. Di sisi lain, karyawan muda juga mungkin datang dari latar belakang sosial atau pendidikan yang berbeda dengan rekan kerjanya.
Persilangan berbagai identitas ini dikenal sebagai interseksionalitas. Konsep ini melihat bahwa pengalaman seseorang di tempat kerja sering kali dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari gender, usia, latar belakang pendidikan, hingga kondisi sosial ekonomi. Oleh karena itu, tantangan yang dihadapi setiap individu juga bisa berbeda.
Lewat pendekatan ini, perusahaan diajak untuk melihat keberagaman secara lebih mendalam. Bukan hanya sekadar memastikan adanya representasi, tetapi juga memahami bagaimana berbagai latar belakang tersebut membentuk pengalaman profesional seseorang.
2. Kepemimpinan inklusif juga berpengaruh pada kinerja bisnis
Percakapan tentang keberagaman dan inklusi sering dianggap sebagai isu sosial semata. Padahal, berbagai studi global menunjukkan bahwa perusahaan dengan kepemimpinan yang lebih beragam justru memiliki tingkat inovasi yang lebih tinggi.
Keberagaman perspektif membuat sebuah tim lebih kaya ide dan sudut pandang. Hal ini tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi perusahaan yang harus terus beradaptasi dengan perubahan pasar dan kebutuhan konsumen. Menurut Irma Yunita, menjaga keseimbangan antara performa bisnis dan kepemimpinan yang inklusif memang tidak selalu mudah, terutama di industri ritel yang bergerak cepat.
“Keberagaman bukan hanya soal representasi. Ini tentang apakah setiap orang benar-benar memiliki ruang untuk berkembang dan berkontribusi secara autentik. Dalam industri ritel yang bergerak cepat, menjaga keseimbangan antara performa dan kepemimpinan inklusif memang menantang. Namun justru di situlah kualitas kepemimpinan diuji,” ujarnya.
3. Pentingnya peran “sekutu” dalam lingkungan kerja
Diskusi ini juga menyoroti konsep organizational allyship, yaitu peran aktif individu, terutama para pemimpin untuk menjadi sekutu bagi rekan kerja yang memiliki latar belakang berbeda.
Menjadi sekutu bukan berarti selalu memiliki jawaban atas setiap persoalan. Lebih dari itu, sikap ini berkaitan dengan kesediaan untuk mendengar, memahami perspektif orang lain, serta terus belajar. Dalam praktiknya, hal ini bisa terlihat dari langkah-langkah sederhana. Misalnya dengan memberikan kesempatan berbicara yang seimbang dalam rapat, mempertimbangkan fleksibilitas kerja, hingga berani mengoreksi bias yang mungkin muncul tanpa disadari.
Lingkungan kerja yang saling menghargai seperti ini tidak hanya berdampak pada kenyamanan karyawan, tetapi juga pada keberlanjutan bisnis. Ketika anggota tim merasa aman dan dihargai, mereka cenderung lebih percaya diri untuk menyampaikan ide maupun perspektif baru.
Melalui momentum International Women’s Day, UNIQLO Indonesia berharap percakapan tentang kepemimpinan inklusif tidak berhenti sebagai agenda tahunan saja. Sebaliknya, hal ini dapat menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk membangun lingkungan kerja yang lebih terbuka dan adil.
Pada akhirnya, ketika seseorang tidak perlu menyembunyikan bagian dari dirinya agar bisa diterima di tempat kerja, di situlah potensi terbaik bisa tumbuh, baik untuk individu, tim, maupun perusahaan.
FAQ seputar acara UNIQLO di International Women’s Day 2026
| Apa yang dimaksud dengan interseksionalitas di dunia kerja? | Interseksionalitas adalah cara pandang yang melihat bahwa seseorang memiliki berbagai identitas yang saling beririsan, seperti gender, usia, latar belakang pendidikan, atau kondisi sosial ekonomi. |
| Apa itu organizational allyship? | Organizational allyship adalah sikap aktif untuk menjadi sekutu bagi rekan kerja yang memiliki latar belakang berbeda. Bentuknya bisa berupa mendengarkan perspektif orang lain, memberikan kesempatan yang adil, hingga berani mengoreksi bias yang mungkin muncul di tempat kerja. |
| Siapa saja pembicara dalam diskusi ini? | Diskusi menghadirkan beberapa pembicara, di antaranya Irma Yunita dari UNIQLO Indonesia, Fetty Kwartati dari PT Tara Naya Karsa, Rhaka Ghanisatria sebagai Co-Founder Menjadi Manusia, serta Wita Krisanti dari IBCWE. |


















