Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install

Mengenal Crush Recession, Saat Gen Z Mulai Kehilangan Minat Jatuh Cinta

Mengenal Crush Recession, Saat Gen Z Mulai Kehilangan Minat Jatuh Cinta
Pexels.com/Picas Joe
Intinya Sih
  • Crush recession, istilah viral sejak 2025, menggambarkan menurunnya antusiasme Gen Z memiliki gebetan atau mengejar romansa, meski mereka tetap mendambakan kedekatan emosional.
  • Media sosial membuat ketertarikan terasa lebih terbuka dan berisiko dipermalukan, sementara dating burnout serta banyaknya pilihan di aplikasi kencan mendorong sebagian orang mengambil jeda.
  • Tekanan biaya hidup, utang pendidikan, ketidakpastian ekonomi, dan dampak pandemi turut memengaruhi; Gen Z dinilai bukan menolak cinta, melainkan lebih selektif mencari hubungan sehat dan bermakna.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Dulu, punya crush rasanya seperti bagian dari masa muda. Deg-degan saat menunggu balasan chat, senyum-senyum sendiri karena bertemu di kampus atau kantor, hingga diam-diam mencari tahu semua hal tentang orang yang disukai menjadi pengalaman yang hampir pernah dirasakan semua orang.

Namun belakangan, muncul istilah baru yang ramai dibicarakan di media sosial, yaitu crush recession. Fenomena ini menggambarkan semakin banyak anak muda, khususnya Gen Z, yang merasa tidak lagi antusias memiliki gebetan atau mengejar hubungan romantis seperti generasi sebelumnya.

Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan crush recession? Benarkah Gen Z sudah kehilangan minat untuk jatuh cinta? Berikut penjelasannya.

1. Apa itu crush recession?

Apa itu crush recession?
Pexels.com/Kyle Miller

Crush recession adalah istilah yang mulai viral di media sosial sejak 2025 untuk menggambarkan menurunnya antusiasme seseorang dalam memiliki crush atau mengejar hubungan romantis. Meski belum termasuk istilah ilmiah, fenomena ini mulai banyak dibahas oleh psikolog, dating coach, hingga media internasional karena dianggap mencerminkan perubahan cara Gen Z memandang hubungan.

Melansir dari Real Simple, menurut Julie Nguyen, certified dating coach di Hily, Gen Z sebenarnya masih mendambakan kedekatan emosional. Hanya saja, mereka merasa proses berkencan saat ini jauh lebih melelahkan secara mental dibanding menyenangkan. Akibatnya, banyak yang memilih untuk tidak terlalu berharap atau bahkan menghindari perasaan suka sejak awal.

2. Media sosial membuat jatuh cinta terasa lebih berisiko

Media sosial membuat jatuh cinta terasa lebih berisiko
Pexels.com/Charlotte May

Salah satu alasan yang paling sering disebut adalah pengaruh media sosial. Jika dulu seseorang bisa diam-diam menyukai orang lain tanpa diketahui siapa pun, sekarang hampir semua interaksi berpotensi menjadi konsumsi publik.

Mulai dari screenshot chat, cerita di grup pertemanan, hingga unggahan di TikTok bisa membuat pengalaman jatuh hati terasa lebih terbuka. Hal inilah yang membuat sebagian Gen Z khawatir akan rasa malu, penolakan, atau komentar dari orang lain jika hubungan tersebut tidak berjalan sesuai harapan.

Menurut Nguyen, ketertarikan yang dulunya terasa personal kini sering berubah menjadi sesuatu yang dipertontonkan, sehingga banyak orang merasa lebih aman jika tidak terlalu larut dalam perasaan.

3. Dating burnout bikin banyak orang memilih istirahat

Dating burnout bikin banyak orang memilih istirahat
Pexels.com/Mert Coşkun

Selain media sosial, muncul pula fenomena dating burnout, yaitu kondisi ketika seseorang merasa lelah secara emosional karena terlalu sering menjalani proses pencarian pasangan.

Melansir Psychology Today, survei Singles in America 2025 yang dilakukan oleh Kinsey Institute bersama Match menemukan bahwa lebih dari separuh responden mengaku mengalami kelelahan dalam berkencan. Banyak pula yang memilih rehat dari dating app untuk memulihkan kondisi emosinya.

Tak hanya itu, penggunaan aplikasi kencan yang menawarkan ribuan pilihan pasangan juga dinilai membuat seseorang sulit fokus pada satu orang. Ketika selalu ada profil baru yang bisa dilihat, rasa penasaran terhadap satu gebetan menjadi lebih cepat memudar.

4. Tekanan ekonomi dan pandemi ikut memengaruhi

Tekanan ekonomi dan pandemi ikut memengaruhi
Pexels.com/Gera Cejas

Fenomena crush recession juga tak lepas dari kondisi sosial yang dihadapi Gen Z. Menurut psikolog Brittany Woolford, banyak anak muda saat ini harus menghadapi tekanan biaya hidup, utang pendidikan, hingga ketidakpastian ekonomi.

Dalam situasi seperti itu, hubungan romantis justru dianggap sebagai tanggung jawab emosional tambahan yang membutuhkan waktu, tenaga, dan komitmen.

Di sisi lain, Danna Bodenheimer, terapis dan pendiri Walnut Psychotherapy Center, menilai pandemi COVID-19 juga memberikan dampak besar. Masa pandemi terjadi ketika banyak Gen Z sedang belajar membangun hubungan sosial secara langsung. Akibatnya, sebagian dari mereka terbiasa merasa lebih aman dengan menjaga jarak daripada membuka diri terhadap hubungan baru.

5. Bukan tidak ingin jatuh cinta, tetapi lebih selektif

Bukan tidak ingin jatuh cinta, tetapi lebih selektif
Pexels.com/ROMAN ODINTSOV

Meski terdengar seperti Gen Z kehilangan minat pada cinta, para ahli justru melihat situasinya berbeda. Mereka percaya generasi ini tidak menolak hubungan romantis, melainkan lebih berhati-hati dalam memilih pasangan.

Gen Z cenderung ingin memastikan hubungan yang dijalani terasa sehat, autentik, dan memiliki tujuan yang jelas. Mereka juga lebih sadar akan pentingnya kesehatan mental serta enggan mempertahankan hubungan yang hanya menimbulkan tekanan emosional.

Dengan kata lain, crush recession bukan berarti cinta sudah kehilangan tempat di hati Gen Z. Fenomena ini lebih menunjukkan bahwa cara mereka mendekati hubungan sedang berubah. Alih-alih terburu-buru mengejar romansa, banyak yang memilih membangun koneksi yang benar-benar bermakna dan sejalan dengan nilai yang mereka yakini.

Bagaimana menurutmu, Bela?

FAQ seputar crush recession

Apa yang dimaksud dengan crush recession?

Crush recession adalah istilah yang menggambarkan menurunnya antusiasme, semangat, atau optimisme seseorang untuk memiliki gebetan maupun menjalin hubungan romantis.

Kenapa Gen Z disebut mengalami crush recession?

Karena banyak Gen Z merasa lelah dengan budaya dating saat ini, tekanan media sosial, penggunaan dating app, kondisi ekonomi, hingga dampak pandemi yang memengaruhi cara mereka membangun hubungan.

Apakah crush recession berarti Gen Z tidak mau pacaran?

Tidak. Para ahli menilai Gen Z tetap menginginkan hubungan yang dekat dan bermakna, tetapi mereka cenderung lebih selektif dan berhati-hati sebelum membuka hati.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More