Popbela's Playlist: Guilt, Grief, Healing

"I Don't Believe in Karma" - jaye jaye merilis lagu introspektif yang mempertanyakan konsep karma dan menonjolkan pendekatan visioner dalam seni.
"Not Linear" - Subsonic Eye ft. Bedchamber merilis lagu anthem yang mencerminkan lika-liku kehidupan dengan video musik yang menggambarkan kehidupan modern yang menyesakkan.
"Insomnia" - TEMPRA merilis lagu eksplosif yang menggambarkan frustasi, kegelisahan, dan kebingungan seseorang yang selalu terjebak dalam malam-malam tanpa akhir.
Setiap manusia pasti pernah merasa kecewa. Entah itu kecewa dengan seseorang, dengan diri sendiri, bahkan kecewa terhadap keadaan yang sudah jelas tak bisa kita ubah jika semuanya sudah terjadi. Tapi, apapun alasan kecewa kamu, itu semuanya valid. Kamu boleh merasa kecewa, kamu berhak merasa kecewa. Tak perlu dipendam karena mungkin saja akan meledak di kemudian hari.
Menemani kamu memproses rasa kecewa itu, POPBELA memiliki beberapa pilihan lagu yang bisa kamu dengarkan. Mulai dari kecewa dengan seseorang, kecewa dengan hal yang tak berjalan sesuai harapan, sampai proses berdamai dengan kecewa itu sendiri. Bebas kamu pilih sesuai dengan keadaan dan mood kamu saat ini.
Apa saja pilihan lagu-lagunya di dalam playlist kali ini? Simak selengkapnya berikut ini.
"I Don't Believe in Karma" - jaye

jaye, seorang musisi yang telah dinominasikan dan memenangkan berbagai penghargaan, kembali merilis single barunya yang sangat dinantikan, "I Don't Believe in Karma". Lagu yang penuh kekuatan nan introspektif ini diharapkan dapat menyentuh hati para pendengarnya, menawarkan eksplorasi mendalam tentang kekecewaan dan pencarian validasi.
Mendorong batasan ekspresi artistiknya, "I Don't Believe in Karma" menonjolkan pendekatan jaye yang visioner dalam seni, memadukan lirik yang tajam dengan melodi yang menghantui untuk menciptakan lagu yang sarat emosi dan memukau secara musikal.
Sosok tokoh utama, yang dulunya baik hati dan rela berkorban, kini mempertanyakan konsep karma setelah sepuluh tahun melalui doa yang tak terjawab dan keheningan yang ilahi. Di dunia yang penuh dengan tragedi, mereka bersembunyi di balik keceriaan yang tak mengenal kesedihan, sambil bergulat dengan rasa takut akan penolakan dan hasrat untuk mendapatkan cinta serta perhatian universal.
Lagu ini mengungkapkan harapan agar generasi mendatang dapat belajar dari kesalahan masa lalu dan meraih kesuksesan, mencerminkan kerinduan untuk hidup melalui pencapaian mereka. Di tengah kesunyian sofa yang kosong dan segelas wiski, sang tokoh utama menghadapi kerentanannya sekaligus kebutuhan untuk menampilkan kekuatan meskipun terdapat gejolak batin.
Menangkap esensi pencarian koneksi dan pemahaman di dunia yang tampak acuh tak acuh, lagu yang penuh emosi ini beresonansi dengan siapa saja yang pernah menghadapi keheningan doa yang tak terjawab dan keinginan untuk benar-benar terlihat dan dicintai. "I Don't Believe in Karma", single terbaru dari jaye, adalah lagu yang wajib didengar bagi semua penggemar indie di seluruh dunia dan kini lagunya telah tersedia di seluruh digital streaming platform.
"Not Linear" - Subsonic Eye ft. Bedchamber
Subsonic Eye, band indie rock asal Singapura, dan Bedchamber, unit indie rock dari Jakarta, bekerjasama dalam sebuah mini album split berjudul Balancing Act rilis tanggal 28 Oktober melalui Kolibri Rekords, dengan rilisan vinyl 7-inci terbatas melalui Big Romantic Records.
Pada 27 Agustus 2024, Subsonic Eye memperkenalkan single pertama mereka, "Not Linear". Sebuah lagu anthem yang menyampaikan tentang lika-liku kehidupan, lagu ini menangkap rasa frustasi saat merasa terjebak dalam siklus progres dan kemunduran.
Video musik lagu ini disutradarai oleh basis Sam Venditti, mencerminkan tema lagu melalui sudut pandang sebuah mobil remote control yang menjelajahi lanskap kota. Sam menjelaskan, "Mencerminkan kehidupan modern kita yang menyesakkan, mobil kecil ini memperkuat perasaan kecil yang kita alami. Kami sengaja hanya menggunakan sudut pandang POV. Ini terutama untuk membuat video terasa lebih personal dan DIY."
Balancing Act adalah bukti energi bersama dan kekaguman antara kedua band. Bedchamber, yang terinspirasi oleh evolusi konstan Subsonic Eye, melihat EP ini sebagai perpanjangan alami dari persahabatan dan hubungan kreatif mereka. Subsonic Eye, pada gilirannya, menyebut pendekatan Bedchamber yang "keren dan penuh gaya musikal" sebagai pelengkap sempurna untuk musik mereka sendiri.
"Insomnia" - TEMPRA
Band rock alternatif TEMPRA hadir dengan single perdana bertajuk "Insomnia", sebuah lagu eksplosif yang menggambarkan frustasi, kegelisahan, dan kebingungan seseorang yang selalu terjebak dalam malam-malam tanpa akhir. TEMPRA digawangi oleh Asyefi (vokal/gitar), Ichiro (gitar), Angga (bass), dan Buggy (drum). Dalam "Insomnia", mereka menyatukan elemen rock keras, blues, dan sentuhan eksperimental dalam satu perjalanan musikal yang emosional dan kompleks.
Lagu ini terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama dibuka dengan aransemen keras yang penuh letupan representasi kekesalan dan kemarahan karena bisikan isi kepala yang terlalu kompleks untuk diajak terlelap. Bagian tengah melandai dalam nuansa slow blues dengan suara suara teriakan entah dari mana awalnya, menggambarkan reaksi psikologis perjalanan imaji yang rumit dan gelisah yang entah kapan akan berakhir.
Bagian ketiga membawa pendengar ke suasana koor yang menenangkan sebuah bisikan kolektif yang perlahan merasuk melalui dinding dinding pikiran, memberikan sugesti untuk melepaskan, mengikhlaskan, dan merelakan kegelisahan yang selama ini membelenggu pikiran. Lagu ini kemudian ditutup dengan aransemen kompleks dan padat, simbol dari kelelahan batin akibat insomnia yang terus memburu.
"Lagu 'Insomnia' adalah ungkapan dan perjalanan nyata dari kegelisahan yang pernah atau mungkin selalu kita alami. Lagu ini lahir dari malam-malam yang panjang tak berujung, dan pikiran yang terlalu riuh untuk diam," ujar Asyefi, vokalis dan pencipta lagu "Insomnia".
TEMPRA melalui "Insomnia" mengajak pendengarnya untuk tidak hanya mendengar, tapi juga merasakan. Ini bukan sekadar lagu, tapi sebuah perjalanan dan pengalaman emosional yang intens tentang perjuangan melawan diri sendiri, dan pelajaran untuk melepaskan.
'Terbentur, Terbentur, Terbentur' - Febinda Tito

Penyanyi dan penulis lagu Febinda Tito resmi merilis album terbarunya bertajuk Terbentur, Terbentur, Terbentur, sebuah karya yang lahir dari proses panjang menghadapi kegagalan, kelelahan emosional, dan upaya bertahan di tengah ekspektasi hidup maupun cinta yang terus menerus menekan.
Album ini lahir dari proses yang dipenuhi oleh banyak ketidaktahuan dan keterbatasan. Dalam produksi yang dijalani secara lebih mandiri, Febinda Tito kembali bekerja bersama Wildan Ruruh dan Windu Airlangga—produser yang telah menemaninya sejak album pertama, ketika proses bermusik masih dijalani dengan sangat amatir. Bersama, mereka menghadapi keterbatasan, keraguan, dan tekanan di setiap tahap, sebuah pengalaman yang berat namun membentuk cara baru dalam memahami musik dan dirinya sendiri.
Judul Terbentur, Terbentur, Terbentur tidak dimaksudkan sebagai keluhan, melainkan pengakuan: bahwa jatuh bisa terjadi berkali-kali, dan bertahan tidak selalu berarti bangkit dengan gegap gempita. Dalam album ini, Febinda Tito merangkai cerita tentang perasaan yang sulit untuk selesai, perasaan menjadi pilihan kedua, harapan yang tertunda, serta proses berdamai dengan diri sendiri.
Di antara lapisan emosi tersebut, "Damai Sentosa" hadir sebagai focus track—sebuah lagu bernuansa upbeat yang menawarkan ruang bernapas, menghadirkan optimisme di tengah perjalanan yang penuh benturan. Secara musikal, album ini dibangun dengan dinamika yang kuat, memadukan nuansa musik band khas era 2000-an dengan sentuhan pop modern, sehingga setiap lagu memiliki ruang emosional dan energi yang berbeda
Dari semua lagu di atas, mana yang cocok dengan keadaan kamu saat ini, Bela?

















