6 Penyakit Kronis pada Perempuan, dari PMOS hingga Endometriosis

- Endometriosis, PMOS, kanker payudara, dan kanker serviks merupakan kondisi kronis yang dapat memengaruhi menstruasi, kesuburan, kesehatan tubuh, serta aktivitas harian perempuan.
- Lupus, rheumatoid arthritis, dan migrain melibatkan gangguan autoimun atau neurologis; gejalanya dapat berupa nyeri, peradangan, kelelahan, hingga hambatan bekerja dan belajar.
- Putusan MK 2 Maret 2026 menyatakan penyakit kronis dapat ditetapkan sebagai disabilitas melalui asesmen medis, bila terbukti menimbulkan keterbatasan fungsi signifikan dan berkelanjutan.
Penyakit kronis dikenal sebagai penyakit yang berlangsung dalam jangka waktu lama dan sering memerlukan perawatan medis berkelanjutan. Penyakit ini tak hanya menyerang laki-laki, kaum perempuan pun bisa mengalaminya.
Bahkan, pada kondisi yang parah bisa membuat perempuan terbatas aksesnya untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Lantas, apa saja penyakit kronis pada perempuan dan apakah bisa masuk dalam kategori disabilitas? Yuk, simak penjelasannya berikut ini.
Table of Content
1. Endometriosis

pexels.com/cottonbro studio Penyakit kronis pada perempuan yang pertama adalah endometriosis. Endometriosis ditandai dengan jaringan mirip endometrium (biasanya hanya ditemukan di lapisan rahim) yang tumbuh di luar rahim. Jaringan itu menyebabkan peradangan dan pembentukan jaringan parut.
Kondisi endometriosis bisa menyebabkan nyeri haid yang berat, nyeri panggul kronis, kelelahan, gangguan buang air, hingga masalah kesuburan. WHO menyebut sekitar 10% perempuan usia reproduktif di dunia mengalami endometriosis. Pada kondisi yang berat, rasa nyeri dan gejala lain dari endometriosis bisa membuat seseorang kesulitan bekerja, bersekolah, atau melakukan aktivitas lain.
2. PMOS (Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome)
Kalau sebelumnya kamu lebih familiar dengan istilah Polycystic Ovary Syndrome (PCOS), kini kondisi tersebut resmi berganti nama menjadi Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS). PMOS merupakan gangguan hormonal dan metabolik kronis yang bisa memengaruhi siklus menstruasi, kadar hormon androgen, metabolisme, berat badan, kesehatan mental, hingga kesuburan.
Kondisi ini diperkirakan dialami sekitar 1 dari 8 perempuan atau lebih dari 170 juta perempuan usia produktif di seluruh dunia. Gejala PMOS tersebut bisa cukup berat dan berdampak pada aktivitas sehari-hari pada sebagian perempuan. Meski begitu, perempuan yang didiagnosis PMOS tidak otomatis langsung dianggap penyandang disabilitas. Sebab, semua itu bergantung pada gejala dan tingkat keparahan yang dialami.
3. Kanker payudara

pexels.com/Anna Tarazevich Menurut WHO, kanker payudara adalah penyakit di mana sel-sel abnormal di payudara tumbuh di luar kendali dan membentuk tumor. Jika tidak ditangani, tumor ini bisa menyebar ke seluruh tubuh dan berakibat fatal. WHO juga mencatat kanker payudara menjadi kanker yang paling banyak ditemukan pada perempuan di sebagian besar negara.
Adapun gejala kanker payudara tersebut ditandai dengan benjolan pada payudara yang sering kali tanpa rasa sakit, perubahan ukuran atau bentuk payudara, perubahan pada puting atau kulit di areola, hingga cairan abnormal atau berdarah keluar dari puting.
4. Kanker serviks
Kanker serviks merupakan kanker yang berkembang pada leher rahim dan hampir seluruh kasusnya berkaitan dengan infeksi HPV berisiko tinggi. Jika ditemukan lebih awal, kanker serviks termasuk penyakit yang dapat ditangani.
Namun, kasus yang sudah lanjut membutuhkan pengobatan dan perawatan jangka panjang. Kondisi penyakit atau efek pengobatan dari kanker ini bisa menyebabkan keterbatasan fisik dan memengaruhi aktivitas sehari-hari pada sebagian penderitanya.
5. Lupus

pexels.com/Jenna Hamra Menurut Kemenkes, lupus merupakan penyakit peradangan kronis yang dapat menyerang berbagai organ, seperti kulit, sendi, ginjal, jantung, paru-paru, hingga otak. Saat seseorang menderita lupus, sistem kekebalan tubuh tidak dapat membedakan virus, bakteri, dan kuman dari sel serta jaringan yang sehat.
Akibatnya, sistem kekebalan tubuh justru menyerang sel dan jaringan tubuhnya sendiri. Selain faktor genetik dan lingkungan, Kementerian Kesehatan juga menyebut hormonal menjadi salah satu faktor yang bisa menjelaskan mengapa lupus lebih sering dialami perempuan daripada laki-laki.
6. Rheumatoid arthritis
Rheumatoid arthritis (RA) dikenal sebagai peradangan pada sendi yang terjadi akibat gangguan autoimun, di mana sistem imun justru menyerang jaringan tubuh yang sehat. Kondisi ini bisa menyebabkan rasa nyeri hebat, pembengkakan, kekakuan pada persendian, bahkan kelainan bentuk sendi dan erosi tulang.
Rheumatoid arthritis juga bisa memengaruhi organ tubuh lain, seperti mata, kulit, jantung, paru-paru, jaringan saraf, dan pembuluh darah walaupun kondisi ini jarang terjadi. Meskipun penyakit tersebut dapat berkembang pada laki-laki maupun perempuan, perempuan disebut tiga kali lebih mungkin mengalaminya. Selain itu, perempuan cenderung mengidapnya sekitar masa menopause karena fluktuasi hormon.
Apakah penyakit kronis pada perempuan bisa disebut disabilitas?
Pada 2 Maret 2026, Mahkamah Konstitusi melalui Putusan Nomor 130/PUU-XXIII/2025 menyatakan bahwa penderita penyakit kronis bisa ditetapkan sebagai penyandang disabilitas melalui asesmen oleh tenaga medis dan/atau tenaga profesional sesuai kompetensinya.
Meski demikian, tidak semua penyakit kronis otomatis dikategorikan sebagai disabilitas karena penetapannya didasarkan pada ada tidaknya keterbatasan fungsi yang signifikan dan berkelanjutan yang bisa dibuktikan secara medis.
Oleh karena itu, perempuan dengan penyakit kronis seperti endometriosis, PMOS, kanker serviks, lupus, dan sebagainya tidak otomatis dianggap penyandang disabilitas. Namun, jika penyakit itu menyebabkan hambatan fungsi yang memengaruhi aktivitas sehari-hari dan memenuhi hasil asesmen medis, status disabilitas bisa diberikan.
Itu dia beberapa penyakit kronis pada perempuan yang bisa berdampak pada kesehatan dan aktivitas sehari-hari. Semoga informasi di atas bermanfaat, ya!


















