Dress Nagita Slavina
Mengintip Creative Playground Maisha Kanna Lewat Jurnal dan Musik

- Maisha Kanna menjadikan musik, tulisan, dan journaling sebagai ruang kreatif pribadi untuk mengekspresikan diri secara jujur serta mengenal dirinya lebih dalam tanpa tekanan publik.
- Ia mengatasi creative block dengan mundur sejenak, menjalani hidup apa adanya, dan berkolaborasi dengan kreator lain agar ide tetap segar dan tidak terjebak di satu pola pikir.
- Berpegang pada mantra 'start before you’re ready', Maisha mendorong generasi muda untuk berani memulai karya tanpa takut dinilai, karena seni sejati lahir dari kejujuran dan keberanian berbagi.
Di tengah panas teriknya Jakarta, POPBELA kembali ke studio untuk sesi pemotretan POPCreator edisi Juli 2026 bersama Maisha Kanna. Dengan riasan penuh warna dan rambut bergelombang yang berekspresi bebas, dara satu ini berdiri di depan kamera. Dia bahkan menjadi DJ of the day yang mengiringi sesi foto dengan lagu-lagu dari playlist-nya.
Bukan lagi Sherina kecil yang berlari di pantai, Maisha kini merayakan usia 19 tahun sebagai remaja yang suka bereksplorasi dan mengembangkan kreativitas. Di balik lensa, bintang kelahiran Jakarta ini mendefinisikan creative playground-nya lewat musik, tulisan, dan keberanian menjadi jujur.
Taman bermainnya bukan sesuatu yang meriah atau berisik, melainkan sebuah ruang sunyi yang hanya ada dirinya bersama note di smartphone atau buku journaling. Dari situ, Maisha mulai mengenal diri sendiri dan menulis setiap emosi yang dirasakan, hingga lahirlah karya-karya yang terasa autentik.
Dalam obrolan bersama POPBELA, Maisha Kanna berbagi bagaimana ia bermain di creative playground-nya, mengalami masa-masa creative block, sampai rencana masa depan yang siap untuk dibagikan kepada teman-teman generasinya.
Table of Content
Creative playground sebagai tempat untuk bertumbuh

Setiap orang punya sisi kreatifnya masing-masing yang dipengaruhi oleh minat, cara mereka memandang dunia, hingga hal-hal yang tumbuh bersamanya. Saat ditanya tentang makna creative playground untuknya, pelantun "Warna Pelangiku" ini menyebut kalau creative playground adalah ruang untuk mengekspresikan diri sendiri. Sebuah ruang di mana ia bisa bebas mengeluarkan perasaan dan ekspresi diri. Untuk Maisha, taman bermainnya adalah seni, entah itu musik, akting, hingga tulisan.
“Creative playground adalah ruang untuk kita bebas mengeluarkan perasaan dan ekspresikan diri sendiri,” katanya dengan senyuman.
Tumbuh bersama seni

Dress Nagita Slavina
Berbicara tentang seni, pelantun “Jungkir Balik” ini mengaku kalau ia sebenarnya nggak mewarisi darah seni dari orang tuanya. Baik ibu atau ayahnya bukan seniman, tapi art lovers. Sejak kecil, Maisha tumbuh besar dikelilingi oleh kurasi seni dari kedua orang tuanya.
“Ibuku adalah tipe orang yang selalu menemukan keindahan dalam banyak hal artsy; mulai dari fashion, lukisan, tulisan, hingga musik. Sementara ayahku adalah pencinta musik,” ungkap Maisha hangat.
Selera musik Maisha hari ini diakuinya sebagai warisan dari sang ayah. Rumah masa kecilnya bak ruang karaoke, tempat musik diputar di mana pun dan kapan pun. Tak heran kalau di usia yang baru menginjak 1,5 tahun, tubuh kecil Maisha sudah otomatis merespons ketukan nada lewat jogetan dan celotehan riang.
Dari stimulasi di rumah itulah, ambisinya untuk tampil di panggung pelan-pelan terkumpul. Menariknya, role model sekaligus celebrity crush pertamanya adalah sang Raja Pop, Michael Jackson. Berawal dari hobi ayahnya yang gemar memutar video konser legendaris Michael Jackson, Maisha kecil langsung jatuh hati.
“Dulu aku naksir banget sama dia, dan langsung mikir: aku pengen juga deh perform kayak gitu di panggung,” ujarnya sambil mengenang masa kecilnya.
Seiring berjalannya waktu dan dirinya mulai dewasa, kiblat musikalitas Maisha ikut berubah. Sejak tahun 2023, ia lebih menyukai keintiman musik Olivia Dean dan menjadikannya idola nomor satu. Bukan hanya karena gaya atau suaranya yang soulful, Maisha merasa takjub pada cara Olivia memandang kehidupan yang penuh dengan cinta.
Kutipan favorit dari Olivia Dean, “Love is never wasted when it’s shared,” kini menjadi mantra baru bagi Maisha dalam melihat dinamika hidup. Lewat Olivia, Maisha belajar sebuah filosofi penting tentang penerimaan, bahwa segala sesuatu terjadi karena alasan, baik hal yang hilang di hidupmu atau sesuatu yang kamu dapatkan.
Hidup di sorotan publik, kehadiran ruang sunyi, hingga tetap autentik

Atasan denim Kylau&co available at LUMINE JAKARTA
Berkarier sejak kecil, menjadi sorotan publik sudah jadi bagian dalam hidupnya. Sebagian besar masyarakat Indonesia, mungkin terkunci pada citra ikoniknya, anak perempuan menggemaskan yang berlari di tepi pantai dalam adaptasi musikal Sherina. Hingga hari ini pun, media sosialnya masih dipenuhi oleh komentar-komentar netizen yang terkejut melihat transisinya.
Namun, hidup di bawah lensa ekspektasi publik bukanlah perkara mudah bagi seorang remaja yang sedang mencari jati diri. Maisha tidak menampik bahwa ada kalanya ia harus bertarung dengan rasa cemas. Pertanyaan-pertanyaan seperti ‘Karya ini aneh nggak, ya? Berlebihan nggak, ya?’ suka muncul di kepalanya.
Menyiasati hal tersebut, Maisha menekankan pentingnya memiliki sebuah ruang bermain atau creative playground yang privat. Sebuah tempat di mana dia bisa berbuat salah tanpa dihakimi.
“Sangat penting bagi kita untuk bisa mengeksplorasi kreativitas tanpa ketakutan akan salah, terutama saat kita sedang sendiri, sebelum karya itu diperlihatkan ke orang lain,” jelasnya.
Di ruang itu lah, Maisha mengizinkan dirinya untuk berpikir out of the box, bahkan menjadi sedikit 'gila' untuk mengenali batas kemampuannya. Baginya, kreativitas paling lancar hadir justru saat ia sedang sendiri. Ada kebebasan yang datang dari kesunyian, ketika semua yang ia pikirkan, rasakan, dan tuliskan tak perlu melewati penilaian siapa pun.
Dalam ruang personal itu, semuanya terasa lebih jujur dan mengalir. Entah lewat lagu yang ia tulis tengah malam di kamar, catatan singkat di Notes app, atau halaman-halaman jurnal yang setia menampung isi kepalanya. Maisha menemukan bahwa terkadang proses kreatif terbaik memang lahir dari percakapan paling sunyi antara ia dengan dirinya sendiri.
“Dari situ kita jadi kenal sama diri kita sendiri; sejauh apa kita bisa berpikir dan berkreasi. Jadi, lakukan saja dulu sendirian, pelan-pelan semuanya akan menjadi lebih baik,” katanya dengan penuh semangat.
“Saat sendiri, semua hal yang kamu tulis, yang kamu tumpahkan, yang kamu rasakan, nggak ada orang yang bisa mengomentarinya, apa itu salah atau benar. Tak ada yang benar atau salah tentang dirimu,” lanjutnya lagi.
Artis yang kini berusia 19 tahun itu juga memilih untuk merangkul proses kreatifnya di versi yang lebih dewasa secara apa adanya. Kuncinya sederhana namun mutlak, yakni kejujuran.
“Dalam berkarya, aku hanya mencoba menjadi diriku sendiri. Aku tahu bahwa sebagai manusia aku masih bertumbuh, masih belajar banyak hal, dan masih mencari tahu tentang dunia ini,” ungkapnya.
Menurutnya, seni bukanlah tentang memamerkan kesempurnaan, melainkan sebuah jurnal hidup yang merepresentasikan proses belajarnya sehari-hari, termasuk saat ia merasakan emosi-emosi baru yang belum pernah ditemui sebelumnya.
“Seni itu harus jujur. Aku tidak akan bisa melahirkan karya yang bukan mencerminkan diriku sendiri. Aku tidak bisa memaksakan diri memenuhi ekspektasi orang lain, karena jika dipaksa, aku tidak akan menikmati apa yang aku lakukan,” ujarnya.
Setiap karyanya terasa alami, hangat serta dekat karena lahir dari pengalaman kehidupannya sendiri. Seniman berzodiak Gemini ini memandang dunia dengan lensa artistik personal, di mana setiap interaksi dan orang baru yang ia temui adalah sumber inspirasi.
“Inspirasiku justru datang dari caraku menjalani hidup sehari-hari,” tuturnya.
“Di usiaku yang ke-19 ini, aku sedang mengalami banyak hal baru. Ketika berinteraksi dengan orang lain atau melewati sebuah pengalaman, aku sering tertegun dan mulai mempertanyakan banyak hal: Kenapa ya bisa kayak gitu?” tutupnya dengan excited berbicara tentang inspirasi karya-karyanya.
Rasa penasarannya pun ia olah menjadi sebuah untaian nada dan kata, karya seni yang jujur dan siap menyentuh hati para pendengarnya.
Journaling jadi creative playground Maisha Kanna

Atasan backless garis-garis Nagita Slavina, Celana jeans Suedeson available at LUMINE JAKARTA, kacamata RAITO available at LUMINE JAKARTA
Di balik penampilannya yang tenang dan terarah di depan kamera, Maisha Kanna mengakui bahwa isi kepalanya sering kali sibuk dan penuh. Sebagai seorang kreator, ada banyak ide-ide bermunculan secara cepat, sering kali datang bersamaan dan berebutan untuk mendapatkan perhatian. Di situlah ia mulai journaling.
“Aku suka journaling karena aku merasa termasuk orang yang pikirannya lumayan di mana-mana. Aku bisa banget lagi mengerjakan satu hal, tapi sudah memikirkan hal yang lain lagi sambil berjalan. Makanya, isi otak aku itu rasanya so scattered, banyak banget yang dipikirkan,” aku Maisha jujur.
Bukan sekedar hobi, journaling justru jadi penyelamat bagi ide-ide kreatifnya yang rentan menguap begitu saja. Jika tidak segera ditulis, gagasan-gagasan segar itu bisa langsung hilang tertutupi oleh ide baru. Lewat tulisan pribadinya, Maisha nggak hanya mengamankan materi untuk karya musiknya di masa depan, tapi juga refleksi diri.
Menariknya, creative playground ini dibangun sangat personal. Maisha punya beberapa buku jurnal yang berbeda, di mana setiap buku mewakili sisi kehidupan, fungsi, dan emosi yang berbeda pula. Tidak ketinggalan, aplikasi notes di smartphone-nya pun kerap disulap menjadi kanvas digital portabel saat tiba-tiba terinspirasi karena suatu hal yang baru saja ia lihat atau rasakan.
Menulis jurnal bak punya kekuatan super. Ia bisa melintasi waktu dan melihat kembali proses pendewasaan dirinya sendiri. Setiap lembarnya bisa terasa menggelikan, sekaligus mengharukan.
“Kadang kalau melihat jurnal aku dari satu atau dua tahun yang lalu, rasanya aneh banget. Sempat mikir, ‘Ngapain sih dulu ngerasa kayak gitu? Nggak jelas banget,’” ujarnya sembari tertawa.
Namun di balik rasa geli itu, ada kehangatan yang ia rasakan saat menyadari seberapa jauh ia telah melangkah. Jurnal-jurnal ini jadi bukti otentik bahwa Maisha berhasil melalui setiap fase, bahkan yang berat sekalipun dengan baik.
“Rasanya indah banget bisa lihat semua fase yang telah dilalui dalam hidupku. Ternyata kita pernah mengalami hal ini, dan dulu rasanya susah banget, tapi ternyata kita bisa melewati,” tutupnya reflektif.
Mundur sebentar dan kolaborasi untuk atasi creative block

Atasan backless garis-garis Nagita Slavina, celana jeans Suedeson available at LUMINE JAKARTA
Bagi seorang kreator, momen kering bernama creative block adalah musuh yang tak bisa dihindari. Belum lagi kalau situasi under pressure dan deadline datang yang menurut Maisha justru sering menjadi pembunuh insting seni. Apa yang tercipta dari sesuatu yang dipaksakan, tak akan menyentuh indra atau terasa alami.
“Itu sering banget terjadi. Apalagi ketika kita sudah 'quote-on-quote' memaksakan harus menulis atau membuat sesuatu. Itu paling tidak bisa. Kalau aku sudah merasa mentok, I’m not in the right state, in the right emotion, itu sudah impossible. Dan kalaupun dipaksa, pasti hasilnya juga tidak maksimal,” ungkap Maisha.
Ketika dikejar tuntutan penyelesaian lirik atau melodi dalam waktu singkat sementara kepalanya buntu, Maisha memilih untuk tidak bertarung melawan rasa frustrasinya. Ia lebih memilih untuk mengambil satu langkah mundur, untuk me-refresh kembali pikirannya.
Langkah tersebut dilakukan dengan keluar ke dunia nyata untuk menjalani hidup secara normal, menemui orang-orang, mengumpulkan pengalaman baru, dan membiarkan hari-harinya mengalir apa adanya.
“Karena menurut aku sendiri, dengan aku mengalami banyak hal dan go through my days, itu adalah cara aku mendapatkan kreativitas itu. Jadi begitu balik lagi, pikiran sudah fresh,” jelasnya.
Selain melangkah mundur untuk mengisi kembali 'tangki' inspirasinya, senjata andalan Maisha lainnya adalah dengan membuka diri terhadap kolaborasi. Memikul beban kreativitas seorang diri di dalam kamar sering kali membuat pikiran berputar-putar di tempat yang sama. Stuck di jalan buntu. Tapi, dengan bekerja bersama para kreator lain akan mengurangi tekanan tersebut. Baginya, seni itu bukan perjalanan egois yang soliter, tapi sebuah kerja kolektif yang indah.
“Setiap kali kamu bekerja dengan orang lain yang memiliki perspektif kreatif yang bagus, itu sangat membantu. Dia punya ide ini, kamu punya ide itu, jadi saling mengisi. Creative block itu akan jauh lebih berkurang dibanding kalau kamu sendirian,” tutur Maisha.
“Menurut aku art itu adalah collaborative work yang sangat kuat. Banyak tipe seni yang memang membutuhkan sebuah tim yang solid untuk mewujudkannya, baik itu film, maupun musik,” pungkasnya.
“Start before you’re ready” jadi mantranya

Dalam bincang-bincang hampir setengah jam ini, Maisha Kanna juga membagikan sebuah pelajaran besar yang ia dapat selama hampir satu dekade berkecimpung di industri kreatif. Ia belajar tentang keberanian untuk memulai, bahkan sebelum merasa siap. Keberanian itu menjadi fondasi dari kariernya saat ini.
Ketika masih duduk di bangku kelas 4 SD, tanpa pengalaman akting atau panggung profesional yang mumpuni, ia nekat mengikuti audisi besar untuk drama musikal Petualangan Sherina. Maisha hanya memiliki modal pengalaman dari lomba menyanyi di mal. Hasilnya mengejutkan publik, ia terpilih menjadi sang pemeran utama, yang kemudian membukakan pintu kolaborasi epik bersama sineas papan atas seperti Mira Lesmana dan Riri Riza.
“Sampai sekarang pun aku masih merasa begitu: ya sudah, kita mulai saja. Just start before you’re ready,” tegas Maisha.
“Meskipun takut, meskipun banyak pikiran, setidaknya dengan memulai, I’m going somewhere. Aku mengalami sesuatu tanpa memedulikan apa outcome-nya nanti. Baik atau buruk, aku belajar sesuatu. Daripada karena takut lalu aku diam, aku tidak akan belajar apa-apa dan tidak akan ke mana-mana,” jelasnya.
Di dalam creative playground, seni jadi ruang tanpa penghakiman. Itulah yang ia yakini.
“Dalam seni, tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. It’s just your art.”
Generasi muda seumurannya mungkin kerap terjebak dalam kecemasan sebelum melahirkan karya. Hambatan terbesar untuk membangun ruang bermain kreatif sering kali datang dari ketakutan tentang ekspektasi dari dunia luar. Maisha mengingatkan untuk memulai saja, karena orang lain pun juga sibuk sama dirinya sendiri.
“Don’t be afraid to start. Itu adalah hal yang paling susah. Kita terlalu banyak memikirkan orang lain, khawatir tentang apa yang akan mereka pikirkan soal gaya kita. Tapi jujur, guys, mereka bahkan tidak sedang memikirkanmu. Mereka juga sama sibuknya memikirkan diri mereka sendiri,” ujarnya lugas.
Maisha menyarankan untuk memulai segalanya dari lingkaran terkecil, yaitu dirimu sendiri. Mulailah memetakan apa yang kamu suka dan tidak suka secara perlahan, lalu asah hal tersebut menjadi sesuatu yang nyata. Seiring berjalannya waktu, rasa percaya diri akan ikut bertumbuh. Namun, proses itu tidak boleh berhenti di dalam kamarmu saja.
Sebagai penutup obrolan, musisi berusia 19 tahun ini menitipkan sebuah pesan kepada semua orang untuk membagikan karyanya ke dunia. Autentisitas dan keindahan sebuah karya justru diuji ketika sang seniman berani membiarkan karyanya dilihat oleh mata luar.
“Please show your art to the world. Menurutku, sebuah karya tidak bisa sepenuhnya disebut kreatif jika kamu tidak membiarkan orang lain melihatnya. Seni itu harus jujur. Semua karya seni yang aku sukai lahir dari orang-orang yang berani jujur, berani menjadi diri mereka sendiri, dan menunjukkannya,” pesannya.
Dengan melangkah keluar dan terhubung dengan dunia luar, maka akan banyak inspirasi bermunculan, sudut pandang yang baru didapatkan. Dengan melihat orang lain, berinteraksi, dan membuka diri terhadap perspektif baru, seseorang justru akan semakin mengenali warna aslinya sendiri.
“Biarkan dirimu dinilai (let yourself be perceived) dan terekspos ke orang lain. Karena aku yakin, orang-orang dengan jiwa kreatif yang sesungguhnya di industri ini pasti akan mengapresiasi semua karya dalam bentuk apa pun. Just go do it,” tutupnya.
Photographer: Winston Gomez
Fashion Editor: Michael Richards
Fashion Stylist: Hafidhza Putri Andiza
Beauty Asst.: Shavira Annisa
Makeup Artist: Yantica Ngan
Hair Stylist: Frans Power
Interview by: Natasha Cecilia
POPBELA.com crew: Nadhira Annisa





















