Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
For
You

Apa Itu Hubungan Transaksional dalam Percintaan? Ini Penjelasannya!

11447653.jpg
refinery29.com
Intinya sih...
  • Hubungan transaksional adalah hubungan yang didasari oleh prinsip saling membalas, dipengaruhi oleh Social Exchange Theory.
  • Penyebab terjebak dalam hubungan transaksional antara lain adalah social exchange theory, masalah attachment, pola cinta bersyarat sejak kecil, dan pengaruh budaya dan lingkungan.
  • Tanda-tanda berada dalam hubungan transaksional antara lain adanya saling tukar jasa, sering menghitung dan mengungkit pengorbanan, kasih sayang dengan syarat, kurangnya kedekatan emosional, dan muncul perasaan terus berutang.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernahkah kamu merasa hubungan yang kamu jalani seolah penuh perhitungan? Perhatian diberikan bukan sepenuhnya karena rasa sayang, tapi karena ada harapan akan balasan tertentu.

Tanpa disadari, pola seperti ini cukup sering terjadi dalam hubungan modern. Cinta perlahan berubah jadi soal memberi dan menerima, bukan lagi tentang rasa aman dan kedekatan emosional.

Kalau hubunganmu mulai terasa seperti itu, bisa jadi kamu sedang berada dalam hubungan transaksional. Apa sebenarnya hubungan transaksional, tanda, dan kenapa banyak orang terjebak di dalamnya? Yuk, lanjut baca untuk memahami lebih jauh.

Apa itu hubungan transaksional?

ilustrasi pasangan (freepik.com/prostooleh)
ilustrasi pasangan (freepik.com/prostooleh)

Hubungan transaksional adalah ketika hubungan yang dijalani memiliki prinsip saling membalas. Kalau satu pihak sudah melakukan sesuatu, maka pihak lain dianggap wajib membalasnya.

Melansir dari laman Love Panky, ada sebuah konsep psikologi bernama Social Exchange Theory yang menjelaskan bahwa interaksi manusia, terutama dalam hubungan, sering kali dipengaruhi oleh perhitungan antara manfaat yang didapat dan biaya yang dikeluarkan.

Contohnya, saat kamu membelikan pasangan makanan favoritnya setelah dia membantumu. Bentuknya tidak selalu soal uang atau barang, tetapi juga bisa berupa perhatian, waktu, atau dukungan emosional. Pada akhirnya, hubungan terasa seperti catatan yang terus berjalan, di mana cinta dan tindakan sering kali datang dengan syarat tertentu.

Kenapa bisa terjebak dalam hubungan transaksional?

Ilustrasi pasangan (Pexels.com/RDNE Stock project)
Ilustrasi pasangan (Pexels.com/RDNE Stock project)

Hubungan transaksional terasa seperti saling menghitung jasa, bukan murni soal perasaan. Hal ini sering terjadi tanpa disadari dan bukan berarti kamu pasangan yang buruk. Secara psikologis, ada beberapa penyebabnya sebagai berikut:

  1. Social exchange theory
    Hubungan dinilai seperti hitung-hitungan untung dan rugi, membandingkan apa yang diberikan dan apa yang didapat, seperti perhatian, waktu, atau pengorbanan.

  2. Masalah attachment
    Orang dengan attachment cemas atau menghindar cenderung bersikap transaksional karena takut kehilangan atau terlalu menjaga jarak dalam hubungan.

  3. Pola cinta bersyarat sejak kecil
    Jika sejak kecil cinta harus “dibuktikan”, misalnya lewat prestasi atau perilaku tertentu, pola ini bisa terbawa ke hubungan dewasa.

  4. Pengaruh budaya dan lingkungan
    Budaya serba produktif dan pola pikir saling tukar membuat hubungan ikut dipandang dari sisi nilai dan keuntungan.

Hubungan transaksional bukan hanya soal dua orang, tapi juga dipengaruhi pola psikologis dan sosial. Semakin kita paham asalnya, semakin mudah keluar dari pola ini.

Karakteristik dari hubungan transaksional

Lalu, bagaimana cara mengetahui apakah kamu sedang berada dalam hubungan transaksional? Hubungan ini biasanya terasa penuh hitung-hitungan dan tidak lagi mengalir dengan tulus. Kamu mungkin mulai sadar ketika setiap perhatian atau pengorbanan seolah selalu diikuti harapan balasan. Berikut beberapa tanda hubungan transaksional yang sering muncul:

1. Saling tukar jasa dalam hubungan

ilustrasi pasangan (pexels.com/Edmond Dantès)
ilustrasi pasangan (pexels.com/Edmond Dantès)

Dalam hubungan transaksional, setiap kebaikan jarang terasa benar-benar tulus. Saat satu pihak melakukan sesuatu, seperti mentraktir makan, membantu, atau memberi perhatian, sering kali muncul harapan bahwa hal itu harus dibalas. Akhirnya, kamu bisa merasa tidak nyaman karena kebaikan berubah menjadi kewajiban, bukan lagi bentuk cinta.

2. Sering menghitung dan mengungkit pengorbanan

Ilustrasi wanita memandang pasangan (freepik.com/cookie_studio)
Ilustrasi wanita memandang pasangan (freepik.com/cookie_studio)

Hubungan terasa seperti ada catatan tak terlihat yang terus berjalan. Pasangan atau bahkan kamu sendiri sering mengingat apa saja yang sudah dilakukan, lalu menggunakannya sebagai alasan untuk menuntut balasan. Kalimat bernada mengungkit membuat hubungan terasa melelahkan, karena cinta seolah dinilai dari siapa yang memberi lebih banyak.

3. Kasih sayang dengan syarat

Ilustrasi berseteru dengan pasangan (freepik.com/freepik)
Ilustrasi berseteru dengan pasangan (freepik.com/freepik)

Perhatian, sikap manis, dan kehangatan hanya muncul jika kamu memenuhi ekspektasi tertentu. Saat kamu tidak bisa membalas sesuai harapan, pasangan bisa berubah dingin, menjauh, atau menarik diri. Dalam kondisi ini, cinta tidak lagi terasa aman karena selalu bergantung pada syarat.

4. Tidak ada kedekatan emosional

Ilustrasi pasangan (Pexels.com/Ivan Samkov)
Ilustrasi pasangan (Pexels.com/Ivan Samkov)

Meski terlihat harmonis dari luar, hubungan ini sering kekurangan obrolan mendalam dan koneksi emosional. Fokusnya lebih ke tindakan atau pemberian, bukan pada perasaan dan pengalaman bersama. Akibatnya, hubungan bisa terasa kosong meski secara materi atau aktivitas terlihat baik-baik saja.

5. Muncul perasaan terus berutang

ilustrasi pasangan (pexels.com/Alena Darmel)
ilustrasi pasangan (pexels.com/Alena Darmel)

Salah satu tanda paling melelahkan adalah perasaan selalu berutang secara emosional. Kamu merasa harus terus membalas, menuruti, atau mengalah karena pasangan sudah melakukan banyak hal. Lama-kelamaan, hubungan tidak lagi memberi rasa nyaman, melainkan tekanan dan rasa bersalah.

Cara mengubah hubungan transaksional menjadi tulus

ilustrasi mencium tangan pasangan (freepik.com/jcomp)
ilustrasi mencium tangan pasangan (freepik.com/jcomp)

Hubungan transaksional memanglah bukan sesuatu yang baik. Meski begitu, kondisi ini masih bisa diperbaiki jika kedua pihak mau berusaha dan saling memahami. Berikut beberapa cara yang bisa diterapkan:

  1. Komunikasi Terbuka
    Bicarakan perasaan secara jujur tanpa saling menyalahkan. Fokus pada saling memahami, bukan mencari siapa yang salah.

  2. Cek keseimbangan emosional
    Apakah kalian sama-sama merasa dihargai dan diperhatikan? Jika salah satu merasa lebih banyak memberi, penting untuk membahas penyebabnya.

  3. Bangun Kedekatan yang lebih dalam
    Jangan hanya mengandalkan kencan atau rutinitas. Luangkan waktu untuk ngobrol dari hati ke hati, berbagi mimpi, ketakutan, dan harapan.

  4. Latih cinta tanpa syarat
    Coba ubah pola pikir dari memberi agar dibalas, menjadi memberi karena peduli. Tidak mudah di awal, tapi sikap ini bisa perlahan mengubah dinamika hubungan menjadi lebih sehat.

  5. Utamakan emosi, bukan materi
    Hadiah memang menyenangkan, tapi cinta tidak seharusnya diukur dari itu. Perhatian, waktu, dan kesediaan mendengarkan sering kali jauh lebih berarti.

  6. Biasakan mengapresiasi
    Ungkapkan terima kasih atas hal-hal kecil maupun besar tanpa mengungkit balasan. Apresiasi yang tulus bisa mengurangi rasa saling menuntut dalam hubungan.

Itulah pembahasan tentang hubungan transaksional. Fenomena ini terbilang red flag dalam hubungan, namun sebenarnya masih bisa diperbaiki jika keduanya saling berkerja sama untuk membangun hubungan yang lebih tulus

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Windari Subangkit
EditorWindari Subangkit
Follow Us

Latest in Relationship

See More

Apa Itu Hubungan Transaksional dalam Percintaan? Ini Penjelasannya!

12 Jan 2026, 20:00 WIBRelationship