Dokumentasikan ancaman: pertama kamu mesti menyimpan atau mendokumentasikan setiap ancaman yang kamu dapatkan dari pelaku digital abuse. Baik itu berupa tangkapan layar dari percakapan di aplikasi pesan singkat, termasuk tanggal terjadinya situasi tersebut. Bukan hanya bisa dijadikan bukti, melainkan juga membantumu untuk memahami polanya.
Bicarakan hal ini dengan orang terdekat yang kamu percaya: nyatanya, kekerasan hanya akan semakin berkembang dan berbahaya di dalam keheningan dan isolasi. Sehingga, kamu bisa bicarakan situasimu saat ini kepada keluarga, maupun sahabat terdekat. Ingatlah bahwa kamu nggak mesti menghadapi situasi ini seorang diri.
Hubungi layanan darurat atau pendamping korban kekerasan: para pendamping profesional tentu paham bagaimana cara terbaik untuk mengatasi digital abuse. Mereka juga bisa memberikan bantuan keamanan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisimu. Untuk nomor telepon layanan darurat di Indonesia sendiri ialah 112.
Pertimbangkan untuk melapor kepada penegak hukum: kekerasan digital bisa termasuk ke dalam ranah tindak pengancaman, maupun penguntitan yang mempunyai konsekuensi hukum. Itu sebabnya, kamu bisa mempertimbangkan untuk melaporkan tindakan tersebut, jika dirasa sudah serius dan berbahaya kepada penegak hukum.
6 Tanda Digital Abuse dalam Hubungan, Kekerasan yang Patut Diwaspadai

- Digital abuse adalah bentuk kekerasan yang memakai teknologi untuk mengontrol, memantau, atau mengancam pasangan melalui ponsel, media sosial, dan alat komunikasi digital lainnya.
- Tanda-tandanya meliputi pemaksaan akses akun pribadi, berbagi lokasi terus-menerus, pemantauan online berlebihan, tuntutan balas pesan cepat, hingga ancaman penyebaran data pribadi.
- Korban disarankan mendokumentasikan ancaman, berbicara dengan orang tepercaya, menghubungi layanan darurat 112, serta mempertimbangkan pelaporan ke penegak hukum bila situasi membahayakan.
Digital abuse atau kekerasan digital merupakan salah satu bentuk kekerasan di mana pelakunya menggunakan teknologi untuk memantau, hingga mengancam korban dengan tujuan pelecehan dan kontrol. Tindakan satu ini bisa melibatkan telepon, aplikasi sosial media, ataupun alat komunikasi digital lainnya.
Sering kali, kekerasan digital sulit untuk dikenali pada awalnya. Terlebih dalam hubungan romantis, digital abuse umum dilakukan dengan alasan untuk selalu terhubung, maupun membina rasa percaya. Namun apabila dibiarkan, lama-kelamaan pola ini bisa menjadi sangat berbahaya.
Agar kamu bisa mengetahui cirinya, berikut Popbela bagikan 6 tanda digital abuse dalam hubungan yang patut diwaspadai, melansir laman Gabby Petito Foundation.
1. Kamu dipaksa untuk memberikan akses ponsel dan akun pribadi

Setiap orang mempunyai hak penuh untuk melindungi akses telepon genggam, termasuk akun yang dimilikinya. Namun, jika pasangan memaksamu untuk memberinya akses ponsel dan seluruh akunmu, ini pertanda jelas bahwa ia tengah melakukan kekerasan digital padamu. Dia juga mungkin menekanmu untuk memberinya akses dengan dalih “kepercayaan” dalam hubungan.
2. Kamu dipaksa untuk selalu berbagi lokasi terkini

Di satu sisi, berbagi lokasi kepada orang terdekat bisa sangat bermanfaat guna menjaga keamanan diri. Tapi, kalau kamu dipaksa untuk terus membagikan lokasi terkini, bahkan sampai diancam jika kamu tidak menurut, jelas bahwa ini merupakan tindakan digital abuse. Ingatlah bahwa tidak ada satu pun orang yang berhak menuntutmu membagikan lokasi terkini setiap saat.
3. Kamu terus-menerus dipantau secara online

Hubungan yang sehat memiliki ciri di mana tiap pasangan menghargai batasan satu sama lain, termasuk batasan digital. Artinya, pasangan tidak memantaumu secara daring dengan alasan “sekadar ingin tahu”. Kalau dia berusaha untuk meminta klarifikasi dari aktivitas online-mu, termasuk setiap 'like' yang kamu beri di unggahan seseorang, maka kamu patut bersikap waspada.
4. Kamu dituntut untuk membalas pesan dengan cepat

Nyatanya, kekerasan digital juga bisa terlihat ketika kamu dituntut untuk membalas chat pasangan dengan sangat cepat, Bela. Jika dianggap ‘lambat’, kamu mungkin mendapatkan pesan spam darinya dan membuatmu merasa terganggu. Tapi, kamu mesti menyadari bahwa adanya teknologi berbagi pesan singkat nggak mengartikan bahwa kamu harus selalu responsif dan tersedia 24/7, termasuk kepada pasanganmu sendiri.
5. Adanya pengancaman penyebaran identitas pribadi

Mendapatkan ancaman penyebaran identitas pribadi, ataupun foto dan video dengan unsur seksual secara online saat kamu nggak menuruti perintah pasangan juga menjadi pertanda lainnya. Pelaku biasanya melakukan hal ini untuk mendapatkan kendali atas orang lain, juga dengan tujuan pemerasan.
6. Adanya ancaman melukai diri sendiri

Ketika pasangan mengancam untuk melukai diri sendiri karena nggak diberikan akses penuh terhadap akun, maupun telepon genggammu, sangat jelas bahwa dia tengah melakukan manipulasi yang berbahaya. Kendati demikian, penting untuk tetap bersikap tenang dan menjaga batasan sehat. Dalam situasi ini, kamu dapat meminta bantuan dari orang terdekat, ataupun lembaga perlindungan dari tindak kekerasan.
Apa yang bisa dilakukan saat seseorang melakukan digital abuse?

Kalau kamu mengalami kekerasan berbasis digital, maka ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan untuk melindungi dirimu sendiri, di antaranya:
Dengan memahami tanda digital abuse dalam hubungan, semoga kamu dapat mengenali polanya sedari awal, maupun mampu mengatasinya secara aman dan bijak.


















