Apa Itu Financial Abuse dalam Rumah Tangga? Ini 6 Tandanya

- Financial abuse adalah kontrol keuangan dalam hubungan, bisa berupa pembatasan akses uang atau eksploitasi identitas pasangan.
- Terjadi ketika pelaku ingin menunjukkan kekuasaan dalam hubungan dengan mengendalikan sepenuhnya keuangan pasangan.
- Dampaknya dapat dirasakan secara emosional, fisik, mental, dan dalam hubungan, seringkali sulit disadari oleh korban.
Financial abuse dalam pernikahan adalah kondisi ketika salah satu pasangan mengendalikan keuangan pasangannya. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari membuat pasangan bergantung secara finansial dengan membatasi kesempatan bekerja atau akses ke uang, sampai tindakan eksploitasi seperti mencuri kartu kredit atau menggunakan identitas pasangan untuk berbelanja atau mengajukan pinjaman.
Hal ini termasuk salah satu bentuk kekerasan dalam rumah tangga dan dapat menimbulkan dampak buruk yang serius serta berlangsung dalam jangka panjang. Oleh karena itu, ketahui beberapa tanda financial abuse dalam rumah tangga sebagai berikut.
Apa yang membuat financial abuse terjadi?

Financial abuse terjadi ketika pelaku mengambil alih sepenuhnya kendali keuangan pasangan untuk mencegah pasangan tersebut pergi atau untuk menunjukkan kekuasaan dalam hubungan. Hal ini bisa dilakukan dengan menguasai semua dana, menahan akses ke uang, atau menyembunyikan informasi keuangan dari pasangan.
Biasanya, financial abuse tidak langsung muncul di awal hubungan. Perilaku ini sering dimulai ketika pasangan mulai berbagi kehidupan finansial, misalnya saat tinggal bersama atau menikah. Seperti bentuk kekerasan lainnya, financial abuse berkembang secara perlahan dan terselubung, sehingga sulit disadari sejak awal.
Financial abuse tidak hanya terjadi dalam pernikahan. Hal ini juga bisa dialami oleh pasangan yang belum menikah, mantan pasangan, atau muncul saat proses perceraian, misalnya ketika salah satu pihak menolak membayar nafkah atau tunjangan anak.
Tanda Financial Abuse dalam Pernikahan

Dampak financial abuse dapat dirasakan secara emosional, fisik, mental, hingga dalam hubungan. Banyak korban tidak langsung menyadari bahwa dirinya mengalami financial abuse. Hal ini karena pelaku sering kali pandai memanipulasi dan melakukan gaslighting, sehingga korban merasa dirinya yang bermasalah. Berikut beberapa tandanya sebagai berikut:
1. Dilarang mengakses uang

Financial abuse bisa terlihat ketika pasangan dengan sengaja membatasi atau menutup akses terhadap uang dan sumber daya keuangan. Korban tidak diberi akses ke rekening bank, kartu kredit, atau informasi keuangan penting. Dalam beberapa kasus, pasangan juga membatasi akses terhadap transportasi, layanan kesehatan, bahkan kebutuhan dasar seperti makanan. Cara ini membuat korban bergantung secara finansial dan sulit mengambil keputusan sendiri.
2. Pengawasan pengeluaran yang berlebihan

Pasangan terus memantau setiap pengeluaran secara detail, mulai dari memeriksa mutasi rekening, struk belanja, hingga transaksi online. Semua pengeluaran dipertanyakan dengan nada menghakimi, seolah-olah korban selalu melakukan kesalahan. Pengawasan berlebihan ini dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, kehilangan privasi, serta membuat korban merasa harus selalu membela dan menjelaskan setiap keputusan keuangannya.
3. Diberi “uang jajan”

Dalam pernikahan, memberi uang jajan bisa menjadi tanda financial abuse ketika dilakukan untuk mengontrol pasangan. Biasanya satu pihak memegang kendali penuh atas keuangan dan hanya memberikan sejumlah uang terbatas kepada pasangannya. Ironisnya, pelaku sering kali bebas menggunakan uang untuk kebutuhan pribadi, sementara pasangan dibatasi, sehingga menjadi ketimpangan dan rasa tidak adil dalam hubungan.
4. Kebohongan dan kerahasiaan keuangan

Kurangnya keterbukaan dalam urusan keuangan dapat merusak kepercayaan dalam pernikahan. Financial abuse bisa terjadi ketika pasangan menyembunyikan uang, tidak jujur soal utang, atau tiba-tiba mengganti kata sandi akun keuangan bersama. Sikap tertutup ini membuat pasangan lain merasa dibohongi dan tidak dilibatkan dalam keputusan penting yang seharusnya diambil bersama.
5. Menahan kasih sayang secara emosional

Sebagai bentuk kontrol, pelaku bisa menahan kasih sayang dan perhatian emosional. Mereka mungkin menolak pelukan, cium, atau hubungan intim ketika pasangan tidak menuruti keinginan finansialnya. Cara ini membuat korban merasa bersalah dan tertekan, seolah-olah harus mengorbankan kebutuhan emosional demi kestabilan keuangan rumah tangga.
6. Financial infidelity

Financial infidelity terjadi saat kebohongan keuangan sudah masuk ke tahap pengkhianatan. Contohnya adalah memiliki utang besar, aset tersembunyi, atau rekening rahasia tanpa sepengetahuan pasangan. Dalam kasus yang lebih serius, ada pasangan yang diam-diam membiayai kehidupan lain. Perilaku ini tidak hanya merugikan secara finansial, tetapi juga melukai kepercayaan dalam hubungan.
Financial abuse membuat seseorang terjebak dalam hubungan yang tidak sehat karena merasa tidak mampu mandiri secara finansial. Dengan mengenali tanda-tandanya, kamu bisa mulai keluar dari situasi tersebut. Jangan ragu mencari bantuan profesional karena kamu tidak sendirian, dukungan akan selalu ada.


















