Penyebab Iran dan AS-Israel Perang, Dipicu Konflik Lama?

- Ketegangan Iran dengan AS-Israel memuncak setelah serangan udara besar ke Teheran pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, memperburuk konflik lama antarnegara tersebut.
- Akar perang berawal dari perubahan hubungan pasca-Revolusi Iran 1979, ditambah isu program nuklir yang dianggap mengancam keamanan global oleh AS dan Israel.
- Iran menolak tuntutan luas AS terkait pembongkaran fasilitas nuklir dan penghentian dukungan terhadap kelompok proksi, sehingga memicu eskalasi militer di kawasan Timur Tengah.
Konflik antara Iran dengan AS-Israel belakangan ini makin memanas. Apalagi ditambah dengan serangan udara besar-besaran yang dilakukan AS-Israel ke Kota Teheran pada 28 Februari 2026 lalu. Ketegangan makin meningkat usai pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan meninggal pasca serangan militer tersebut.
Di sisi lain, baik AS maupun Israel, menegaskan serangan bisa terus berjalan selama diperlukan. Lantas, seperti apa kronologi penyebab Iran dan AS-Israel perang saat ini? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Table of Content
1. Konflik Iran dan AS-Israel sudah cukup lama

Jika ditarik jauh ke masa lalu, penyebab Iran dan AS-Israel perang sebenarnya berasal dari konflik lama. Sebelum Revolusi Iran 1979, hubungan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel sebenarnya tidak selalu bermusuhan.
Pada masa pemerintahan Mohammad Reza Pahlavi, Iran menjadi salah satu sekutu strategis AS di Timur Tengah. Program nuklir Iran bahkan bermula dari kerja sama dengan AS melalui inisiatif Atoms for Peace. Situasi berubah drastis setelah revolusi yang dipimpin oleh Ruhollah Khomeini berhasil menggulingkan pemerintahan Shah.
Iran kemudian mendirikan republik Islam yang menentang pengaruh Barat dan menyebut Israel sebagai musuh. Sejak saat itu, hubungan ketiga negara tersebut dipenuhi ketegangan, terutama berkaitan dengan program nuklir dan pengaruh regional Iran.
2. Masalah senjata nuklir
Penyebab Iran dan AS-Israel perang selanjutnya tentu tidak lepas dari masalah nuklir. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran bertujuan mencegah negara tersebut memperoleh senjata nuklir. Dalam sebuah cuplikan video di Truth Social, ia menegaskan bahwa AS akan menghancurkan sistem rudal Iran dan melumpuhkan industri rudalnya sehingga tidak dapat digunakan lagi.
Serangan tersebut dilakukan setelah negosiasi terkait program nuklir Iran dinilai tidak menunjukkan kemajuan. Pemerintah AS menilai jalur diplomasi telah mengalami kebuntuan sehingga opsi militer dianggap sebagai langkah yang perlu diambil.
Trump juga menilai kepemilikan senjata nuklir oleh Iran dapat mengancam keamanan global, terutama bagi Israel dan sekutu-sekutu Amerika di kawasan Timur Tengah. Di sisi lain, Iran membantah sedang mengembangkan senjata nuklir.
Mereka menegaskan program nuklirnya hanya untuk kepentingan damai dan kebutuhan sipil sesuai dengan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir. Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mendukung operasi militer tersebut karena dianggap sebagai upaya menghilangkan ancaman besar terhadap keamanan negaranya.
3. Iran menolak tuntutan luas yang diajukan AS

Masih berkaitan dengan poin sebelumnya, beberapa hari sebelum serangan, mediator internasional menilai masih ada peluang kompromi. Hal ini termasuk usulan pengurangan cadangan uranium Iran sebagai langkah meredakan ketegangan.
Namun, pemerintahan Donald Trump mengajukan tuntutan yang lebih luas, seperti pembongkaran permanen fasilitas nuklir Fordow dan Natanz, penghentian program rudal balistik, dan pemutusan dukungan terhadap kelompok proksi seperti Hezbollah serta Hamas.
Iran menolak tuntutan tersebut karena dianggap melanggar kedaulatan negara. Namun, AS dan Israel menganggap penolakan itu sebagai taktik mengulur waktu untuk memperkuat militer Iran.
4. Situasi dalam negeri Iran makin memperkeruh keadaan
Sejak akhir 2025, Iran dilanda gelombang demonstrasi di berbagai kota akibat krisis ekonomi dan melemahnya nilai tukar rial. Di sisi lain, penanganan keras aparat keamanan terhadap para demonstran memicu kritik dari berbagai pihak internasional.
Pada Januari 2026, Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan dukungan pada para pengunjuk rasa. Sikap itu tentunya makin memperburuk hubungan diplomatik dan meningkatkan ketegangan politik antara Iran dan Amerika Serikat.
5. Perang makin panas sejak "Perang 12 Hari"

Ketegangan antara Iran dan Israel sebenarnya sudah meningkat sejak terjadinya Perang 12 Hari Iran-Israel pada Juni 2025. Pada Februari 2026, Amerika Serikat memberikan sinyal tekanan militer dengan mengirim dua kapal induk, yakni USS Abraham Lincoln (CVN-72) dan USS Gerald R. Ford (CVN-78) ke Teluk Persia.
Lalu pada 28 Februari 2026, Israel dan AS melancarkan serangan besar-besaran ke Teheran. Iran kemudian merespon semua itu dengan menembakkan rudal ke wilayah utara Israel. Bahkan, Iran menargetkan beberapa pangkalan militer AS di sejumlah kawasan, seperti Al Udeid Air Base di Qatar, Al-Salem Air Base di Kuwait, Al Dhafra Air Base di Uni Emirat Arab, dan markas United States Fifth Fleet di Bahrain. Serangan ini tentunya membawa risiko meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Demikian penjelasan terkait penyebab Iran dan AS-Israel perang saat ini. Dampak perang tiga negara tersebut diprediksi akan mengguncang stabilitas di Timur Tengah.
FAQ seputar penyebab Iran dan AS-Israel perang
| Kenapa Iran bermusuhan dengan Israel? | Karena konflik ideologi dan politik sejak Revolusi Iran 1979. Iran menganggap Israel sebagai musuh dan pendukung utama Amerika di Timur Tengah, sementara Israel melihat Iran sebagai ancaman besar bagi keamanannya. |
| Kenapa Amerika Serikat ikut terlibat? | AS adalah sekutu utama Israel yang memiliki konflik panjang dengan Iran sejak Revolusi Iran 1979 dan berbagai isu terkait program nuklir serta pengaruhnya di Timur Tengah. |
| Mengapa konflik ini bisa berubah menjadi perang besar? | Ada serangan militer langsung, balasan rudal, dan keterlibatan negara besar seperti AS yang bisa memperluas konflik di seluruh Timur Tengah. |

















