Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install
For
You

'Menelan Cakrawala', Kala Lanskap Tak Hanya Lagi Sekadar Pemandangan

'Menelan Cakrawala', Kala Lanskap Tak Hanya Lagi Sekadar Pemandangan
Dok. Museum MACAN
Intinya Sih
  • Pameran 'Menelan Cakrawala' di Museum MACAN menantang pandangan tradisional tentang lanskap, menyoroti bahwa cakrawala bukan sekadar pemandangan alami, melainkan konstruksi sosial dan politik yang sarat makna.
  • Melalui karya lintas generasi dari Raden Saleh hingga S. Sudjojono, pameran ini membongkar sejarah visual seperti Mooi Indië yang menutupi realitas kolonial dan ketimpangan sosial di balik keindahan alam.
  • Tersusun dalam empat bagian tematik, pameran ini menunjukkan bagaimana lanskap menjadi arena kekuasaan, teknologi, dan resistensi ekologis, mengajak pengunjung melihat ulang hubungan manusia dengan alam secara kritis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Ada sesuatu yang terasa lebih tenang namun menggugah sejak langkah pertama memasuki ruang pamer 'Menelan Cakrawala'. Seolah-olah kita tidak sedang berdiri di hadapan lukisan dan instalasi, melainkan di ambang sebuah pertanyaan besar: benarkah cakrawala itu netral? Pameran grup ini membuka perjalanan dengan sebuah provokasi halus yang membuka fakta bahwa garis tempat langit dan bumi bertemu bukan sekadar batas visual, melainkan ruang tempat pengetahuan dibentuk, imajinasi diciptakan, dan kekuasaan dijalankan.

Lewat karya-karya modern dan kontemporer dari lintas zaman dan budaya, pameran ini mengajak kita berkeliling museum sambil membongkar ulang cara kita memandang lanskap. Di sini, keindahan tidak selalu berarti ketenangan. Ia bisa menjadi selubung, bisa pula menjadi alat. Dan ketika kita menyusuri ruang demi ruang, cakrawala terasa seperti sesuatu yang perlahan ditelan oleh sejarah, oleh politik, oleh cara pandang manusia itu sendiri.

Cakrawala sebagai medan yang dikonstruksi

6. Installation view of Menelan Cakrawala exhibition at Museum MACAN, Jakarta, 2026. Photo_ Liandro Siringoringo.jpg
Dok. Museum MACAN

Pada pandangan pertama, lanskap sering hadir sebagai citra yang tenang, bahkan menenangkan. Namun 'Menelan Cakrawala' segera meruntuhkan kenyamanan itu. Pameran ini menegaskan bahwa cakrawala bukanlah sesuatu yang alamiah sepenuhnya, melainkan hasil konstruksi yang bisa saja dibentuk oleh siapa yang melihat, untuk siapa ia dilihat, dan dalam konteks kuasa apa ia diciptakan.

Melalui berbagai medium, kita diajak menyadari bahwa lanskap selalu sarat kepentingan. Ia bukan hanya representasi alam, tetapi juga narasi tentang kepemilikan, penaklukan, dan pengendalian. Apa yang tampak indah di permukaan kerap menyembunyikan cerita yang jauh lebih kompleks di baliknya.

Di titik ini, berjalan di dalam ruang pamer terasa seperti membaca ulang sejarah visual. Setiap karya menjadi semacam jendela yang terbuka. Maksudnya, bukan untuk menikmati pemandangan, melainkan untuk mengintip bagaimana pemandangan itu dibentuk dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Mooi Indië dan keindahan yang menutupi realitas

3. Installation view of works of Franz Wilhelm Junghuhn (l. Jerman, 1809-1864) in Menelan Cakrawala exhibition at Musedi Museum MACAN, Jakarta, 2026. Photo_ Liandro Siringoringo.jpg
Dok. Museum MACAN

Salah satu poros historis pameran ini bertumpu pada idiom "Mooi Indië", yang berkembang di akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Lukisan-lukisan dengan lanskap tropis yang serasi dan damai pernah menjadi wajah resmi kepulauan Indonesia di mata kolonial, sebuah surga visual yang memesona.

Namun di balik langit cerah dan sawah yang hijau itu, realitas sosial dan ekologis justru disamarkan. Sistem perkebunan, kerja paksa, dan eksploitasi alam tidak pernah masuk ke dalam bingkai. Keindahan berfungsi sebagai tirai, menutupi ketimpangan yang berlangsung di dunia nyata.

Dengan menghadirkan kembali konteks ini, 'Menelan Cakrawala' mengajak kita menatap ulang karya-karya lanskap bukan sebagai gambar yang "indah semata", tetapi sebagai produk dari sebuah rezim penglihatan. Di sini, kita belajar bahwa apa yang tidak ditampilkan sering kali sama pentingnya dengan apa yang terlihat.

Dari kanvas ke kuasa: lanskap dalam rezim penglihatan

8. Installation view of Menelan Cakrawala exhibition at Museum MACAN, Jakarta, 2026. Photo_ Liandro Siringoringo.jpg
Dok. Museum MACAN

Pameran ini tersusun dalam empat bagian besar, yakni Exploration and Disguise, The Sky as Infrastructure, Unruly Landscapes, dan Contested Landscapes. Susunan ini terasa seperti perjalanan waktu, bergerak dari praktik kolonial hingga persoalan kontemporer yang kita hadapi hari ini.

Di setiap bagian, lanskap hadir dalam wujud yang terus berubah. Ia tidak lagi hanya hadir di kanvas, tetapi juga dalam arsip, foto, hingga pendekatan konseptual yang lebih eksperimental. Cakrawala menjadi infrastruktur, ruang tempat teknologi, pengawasan, dan kepentingan ekonomi saling bertaut.

Berjalan dari satu bagian ke bagian lain, kita seakan diajak menyadari bahwa cara kita melihat dunia hari ini masih dibayangi oleh cara pandang masa lalu. Lanskap yang tampak "alami" ternyata terus diproduksi ulang oleh sistem yang lebih besar dan sering kali tak kasatmata.

Lanskap yang tak patuh dan wilayah yang diperebutkan

5. Eddy Susanto (b. Indonesia, 1975) Sea of Spice (emas abad 16) (2013). Installation view of Menelan Cakrawala at Museum MACAN, Jakarta, 2026 Photo_ Liandro Siringoringo.jpg
Dok. Museum MACAN

Tidak semua lanskap bisa atau mau ditundukkan. Di bagian Unruly dan Contested Landscapes, pameran ini menghadirkan karya-karya yang menunjukkan alam sebagai sesuatu yang liar, resisten, dan penuh konflik. Di sini, lanskap tidak lagi diam, tapi ia berbicara, melawan, bahkan menggugat.

Karya-karya ini memperlihatkan bagaimana tanah, langit, dan ruang hidup menjadi arena tarik-menarik antara kepentingan manusia, krisis ekologis, dan sistem ekstraksi yang terus berlangsung. Keindahan masih ada, tetapi ia hadir dengan ketegangan yang nyata.

Sebagai penonton, kita tidak lagi berada di posisi aman. Kita diajak untuk merasa tidak nyaman, untuk mempertanyakan ulang hubungan kita dengan alam, dan menyadari bahwa setiap pemandangan selalu memiliki harga yang dibayar oleh seseorang atau sesuatu.

Mengakui lapisan kekuasaan

4. Installation view of works of Akiq AW (b. Indonesia, 1976) in Menelan Cakrawala exhibition at Museum MACAN, Jakarta, 2026. Photo_ Liandro Siringoringo.jpg
Dok. Museum MACAN

Pada akhirnya, 'Menelan Cakrawala' bukan sekadar pameran tentang lanskap, melainkan tentang keberanian untuk mengakui lapisan-lapisan di baliknya. Representasi, materialitas, dan kekuasaan hadir saling terkait, tak pernah berdiri sendiri. Apa yang kita lihat selalu membawa jejak dari apa yang ingin disembunyikan.

Dengan menghadirkan karya dari berbagai seniman, mulai dari Raden Saleh hingga S. Sudjojono dan nama-nama lintas generasi lainnya, pameran ini seperti merajut dialog panjang tentang bagaimana dunia dibayangkan, digambar, dan diperebutkan.

Keluar dari ruang pamer, cakrawala terasa berbeda. Ia tak lagi sekadar garis jauh yang menenangkan mata, melainkan pengingat bahwa setiap keindahan selalu punya cerita. Dan mungkin, dengan "menelannya", kita belajar untuk melihat dunia dengan kesadaran yang lebih jujur dan lebih kritis.

Pameran 'Menelan Cakrawala' bisa kamu nikmati di Museum MACAN mulai dari tanggal 11 Juni 2026 hingga 5 September 2026 mendatang.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Niken Ari Prayitno
EditorNiken Ari Prayitno

Related Articles

See More