Ada pameran yang kita datangi untuk dilihat, dan ada pameran yang mengajak kita berhenti sejenak, menarik napas, lalu ikut hanyut. Period Piece—pameran museum perdana di Indonesia dari seniman dan pembuat film asal Indonesia, Riar Rizaldi—jatuh pada kategori kedua. Begitu melangkah masuk, waktu terasa melunak: sejarah, teknologi, dan ingatan kolektif Indonesia berbaur seperti gema di lorong bioskop lama.
Menjeda Waktu, Menyentuh Masa Depan: Berkeliling di 'Period Piece' Karya Riar Rizaldi

- Pameran 'Period Piece' karya Riar Rizaldi di Museum MACAN menghadirkan pengalaman imersif yang memadukan sejarah, teknologi, dan ingatan kolektif Indonesia dalam suasana kontemplatif dan reflektif.
- Tiga karya utama—Bioskop Asymptotic, Fanfictie: Volcanology, dan Tropenkolder—menyoroti hubungan antara kemajuan, kolonialisme, serta perlawanan terhadap percepatan melalui medium sinema dan instalasi ruang.
- Rizaldi mengajak pengunjung merenungkan makna waktu dan kemajuan lewat konsep 'nostalgia masa depan', menekankan pentingnya jeda untuk memahami perjalanan sejarah dan membayangkan arah baru bagi masa depan.
Setelah perjalanan panjang di panggung internasional—dari MoMA hingga Centre Pompidou—Riar Rizaldi pulang dengan cerita yang tak ingin digesa. Ia mengajak kita berkeliling, bukan untuk menemukan jawaban, melainkan merasakan jeda: tentang kemajuan, kerja, dan dunia yang pernah dijanjikan.
'Period Piece', pintu masuk ke dunia yang berlapis

Memasuki Period Piece terasa seperti menyeberangi ambang antara sekarang dan masa lalu yang belum selesai. Ruang-ruang pameran dibangun bukan sebagai etalase, melainkan lanskap yang mengundang tubuh kita ikut berpikir. Cahaya, suara, dan bayangan bergerak pelan yang seolah meminta kita menyesuaikan langkah, mengendurkan ritme harian.
Di sini, Rizaldi bekerja di persimpangan yang akrab namun jarang disandingkan: teknologi, sejarah kolonial, dan industri ekstraktif. Ia menelusuri bagaimana gagasan "kemajuan" di Indonesia sejak awal selalu ditemani sistem kerja kolonial dan eksploitasi sumber daya alam. Bukan sebagai kuliah sejarah, melainkan sebagai pengalaman ruang yang kita rasakan di kulit.
Nuansanya nyeni dan kontemplatif, tapi tetap terasa dekat. Ada sensasi seperti membuka album keluarga yang isinya bukan foto, melainkan mesin, rel, layar, dan suara, yang semuanya menyimpan cerita tentang siapa yang bergerak, siapa yang tertinggal, dan siapa yang bekerja agar roda terus berputar.
Bioskop yang membekukan detik

Jantung pameran ini berdenyut di Bioskop Asymptotic (2026), instalasi baru yang dikerjakan atas komisi Museum MACAN. Bayangannya sederhana namun memikat: lobi bioskop Indonesia era 1990-an, direkonstruksi sebagai ruang spekulatif tempat waktu seolah berhenti.
Lobi itu terasa familier—karpet, poster, dan cahaya yang pernah kita kenal—namun sekaligus asing. Kita berdiri di tengah kenangan kolektif, menyadari betapa bioskop dulu adalah ruang sosial: tempat menunggu, bertemu, dan berbagi rasa. Di sini, menunggu bukan jeda kosong, melainkan pengalaman itu sendiri.
Rizaldi merayakan kelambatan. Ia membiarkan detik-detik menggantung, menolak akselerasi. Seperti pesan halus untuk generasi yang serba cepat: mungkin ada kebijaksanaan dalam menunda, dalam mengizinkan waktu berdiam sebentar.
Gunung, ilmu pengetahuan, dan kosmologi

Di Fanfictie: Volcanology (2025), kita diajak mendaki pertemuan yang tak selalu harmonis: ilmu pengetahuan kolonial Belanda dan kosmologi Jawa. Karya ini tak menunjuk mana yang “benar”, melainkan menyoroti benturan cara memahami alam—sebagai objek penelitian atau sebagai entitas hidup yang diajak berdialog.
Getaran karya ini terasa seperti doa yang tak diucapkan. Gunung berapi hadir bukan hanya sebagai data, tapi sebagai cerita, mitos, dan ketakutan yang diwariskan. Ilmu modern masuk dengan instrumen dan arsip, sementara kosmologi lokal berbisik lewat ingatan dan ritus.
Di titik ini, Period Piece terasa sangat puitik. Rizaldi merajut masa lalu dan masa kini tanpa memaksa rekonsiliasi. Ia membiarkan keduanya berdampingan, seperti dua bahasa yang saling mendengar meski tak selalu sepakat.
Rel, layar, dan perlawanan yang nyaris tak terlihat

Tropenkolder (2026), yang dikerjakan atas komisi Eye Filmmuseum Amsterdam, menengok kembali film-film phantom-ride dan pemogokan buruh kereta api tahun 1923. Rel kereta dan layar film menjadi saksi: tentang gerak, kerja, dan penolakan terhadap percepatan yang dipaksakan.
Di sini, kelambatan muncul sebagai bentuk perlawanan. Kamera yang melaju di atas rel justru mengungkap ketegangan antara kemajuan teknologi dan tubuh-tubuh pekerja yang lelah. Sinema bukan sekadar hiburan, melainkan alat untuk melihat ulang relasi kuasa.
Rizaldi mengajak kita merenung: siapa yang diuntungkan oleh kecepatan? Dan siapa yang harus menanggung bebannya? Pertanyaan-pertanyaan itu tak dijawab, melainkan dibiarkan bergaung, mengikuti langkah kita dari satu ruang ke ruang lain.
Mengenang sejarah di masa lalu sekaligus bernostalgia ke masa depan

Ketiga karya ini—Bioskop Asymptotic, Fanfictie: Volcanology, dan Tropenkolder—bersatu dalam satu perasaan yang oleh Rizaldi disebut "nostalgia masa depan". Kerinduan akan dunia yang pernah menjanjikan kemajuan, pengalaman kolektif, dan kehidupan yang lebih baik.
Nostalgia ini bukan tentang kembali ke masa lalu, melainkan mengingat janji-janji yang belum sepenuhnya terpenuhi. Ia terasa manis sekaligus getir, seperti lagu lama yang kita dengar ulang dengan telinga dewasa.
Saat keluar dari pameran, kita membawa pulang sesuatu yang tak kasatmata: kesadaran bahwa kemajuan bukan garis lurus, dan bahwa jeda, yang tersaji di dalam bioskop, di rel, hingga di lereng gunung, adalah ruang penting untuk membayangkan ulang masa depan. 'Period Piece' tak meminta kita berlari. Ia mengajak kita berjalan, pelan, sambil mendengarkan waktu.
Ingin menikmati pameran seni 'Period Piece' karya Riar Rizaldi ini, Bela? Pameran ini dapat kamu saksikan di Museum MACAN mulai dari tanggal 11 Juni 2026 hingga 4 Oktober 2026.


















