Ada getar ganjil yang pelan-pelan menyusup ketika melangkahkan kaki ke Jogja National Museum musim ini. Di tengah riuh perayaan ARTJOG 2026 yang mengusung tema besar ARS LONGA: GENERATIO, seniman pop surealis asal Yogyakarta, Roby Dwi Antono, hadir membawa sebuah monolog visual yang begitu personal. Kali ini, ia tak hanya menyapa kita lewat lukisan kanvas dengan figur anak-anak berkepala kelinci yang polos namun muram. Roby melangkah lebih jauh, merajut lanskap imersif berskala besar yang mengajak kita bertualang ke lorong ingatan, trauma, serta siklus kelahiran kembali yang tak pernah usai.
Menelusuri Rahim Waktu dan Luka Antargenerasi bersama Roby Dwi Antono di ARTJOG 2026

- Roby Dwi Antono menghadirkan instalasi imersif GENERATIO: CYCLUS VITAE di ARTJOG 2026, mengolah pengalaman menjadi ayah untuk menelusuri warisan kasih, pengetahuan, trauma, dan siklus antargenerasi.
- Vulnera memvisualkan luka turun-temurun lewat terakota menyerupai perut ibu, sementara ruang Rahim Kolektif memakai detak jantung dan figur “alien” sebagai cermin ketakutan serta bias internal.
- Instalasi Generatio Continua memaknai kematian sebagai katalis kelahiran kembali; ARTJOG 2026 berlangsung 19 Juni–30 Agustus di Jogja National Museum, menampilkan 44 seniman dewasa dan 52 karya anak-anak.
Menjadi seorang ayah rupanya mengubah cara pandang Roby terhadap pusaran waktu. Ia tak lagi sekadar melukis fantasi, melainkan mulai mempertanyakan warisan apa yang sebenarnya sedang kita titipkan pada masa depan. Melalui karya komisi bertajuk GENERATIO: CYCLUS VITAE, Roby membedah bahwa 'generasi' bukanlah potongan waktu yang kaku dan terpisah. Ia adalah aliran darah, pengetahuan, kasih sayang, hingga luka-luka lama yang belum sempat sembuh namun terlanjur diturunkan. Pengalaman ini bukan sekadar pameran seni, melainkan sebuah ziarah rasa yang membawa kita menyelami ruang paling sunyi dalam diri.
Menatap Vulnera: Ketika Bekas Luka Ditatah di Atas Perut Terakota
Dok. ARTJOG Langkah pertama menyambut perjumpaan ini dimulai dari fasad utama ARTJOG. Di sana, berdiri kokoh karya bertajuk Vulnera: Bekas Luka Antargenerasi. Roby menyusun kepingan-kepingan lempengan terakota dengan teknik penataan bersusun yang mengambil inspirasi dari megahnya konstruksi candi-candi purba. Permukaannya melengkung cembung dengan anggun, menghadirkan siluet menyerupai perut seorang ibu yang tengah mengandung kehidupan baru.
Namun, keindahan terakota itu sengaja diusik oleh torehan bekas luka yang menganga tepat di bagian tengahnya. Luka itu menjadi simbol dari trauma kolektif, beban emosional, serta konflik masa lalu yang gagal diselesaikan oleh orang-orang sebelum kita, namun harus ditanggung oleh mereka yang lahir kemudian. Menatap Vulnera serasa dipaksa berhadapan dengan kenyataan bahwa tubuh dan jiwa kita hari ini adalah muara dari sejarah yang panjang, sebuah monumen bernyawa dari luka dan harapan yang diwariskan.
Berkelana dalam Rahim Kolektif dan Ketakutan akan Sosok "Alien"

Dok. ARTJOG Melangkahi fasad terakota, atmosfer seketika berubah saat kita memasuki ruang temaram bertajuk Rahim Kolektif dan Generasi Alien. Udara terasa dingin dan intim. Telinga kita disambut oleh simfoni audio yang tak biasa: ketukan detak jantung yang ritmis berkelindan lembut dengan suara desis instrumen ultrasonografi (USG). Lanskap suara ini seolah membawa kita kembali menembus waktu, berenang di dalam ketuban sebuah rahim simbolis tempat biologis dan kebudayaan bertaut.
Di dalam kegelapan yang hangat itu, hadir figur-figur bertubuh asing yang Roby sebut sebagai "alien". Karakter ini pertama kali menampakkan diri pada pameran tunggalnya di Paris tahun 2023. Namun, alih-alih menampilkan monster ekstraterestrial yang menakutkan, sosok asing ini adalah cermin dari ketakutan internal kita sendiri. Roby menyentil kesadaran kita: bahwa di tengah perubahan zaman yang bergulir begitu cepat, hal-hal asing di luar sana sebenarnya adalah proyeksi dari bias dan rasa takut kita, hingga tanpa sadar, kita telah menjadi sosok asing bagi diri kita sendiri.
Menari bersama Kematian di Sisi Mata Air Tuk

Dok. ARTJOG Perjalanan spiritual ini mencapai puncaknya di ruang berikutnya lewat instalasi Generatio Continua: Kematian sebagai Katalis Kelahiran Kembali Sebuah Generasi. Di titik pusat ruangan, berdiri sebuah patung berkepala tiga dengan paras yang saling bertumpuk melambangkan fase anak-anak, dewasa, hingga usia lanjut. Menyerap pandangan hidup dan filsafat Aztec, Roby menyuarakan bahwa kematian bukanlah titik henti yang kelam, melainkan gerak awal yang membukakan jalan bagi siklus kehidupan baru untuk bersemi.
Patung penanda waktu ini berdiri anggun di atas kolam dangkal yang jernih. Terinspirasi dari seri karya Tuk (bahasa Jawa untuk 'mata air'), air di sini mewakili penyulingan ingatan dan pengalaman hidup yang diproses kembali menjadi pemurnian jiwa. Dari salah satu kelopak mata pada patung tersebut, setetes air mata jatuh secara konstan menetes ke permukaan kolam, menimbulkan riak yang tak pernah putus. Tetesan itu adalah kiasan puitis tentang bagaimana rasa sakit, ingatan, harapan, dan pembaruan akan terus mengalir melintasi batas-batas generasi.
Reorientasi Hubungan Kita dengan Masa Lalu dan Masa Depan

Dok. ARTJOG Pengalaman menyusuri instalasi imersif GENERATIO: CYCLUS VITAE pada akhirnya menyisakan ruang gema yang cukup panjang di dalam kepala. Roby Dwi Antono tidak sedang menyuapi kita dengan jawaban tunggal. Sebaliknya, ia membiarkan setiap pengunjung yang melintas membawa pulang seikat perasaan yang campur aduk. Entah itu rasa asing, bingung, ganjil, sunyi, atau justru sebuah kehangatan yang sangat akrab.
Karya ini menjadi pengingat pelan namun menusuk bahwa tak ada jejak yang benar-benar hilang. Pilihan, tindakan, serta keputusan yang kita buat hari ini akan mengkristal menjadi warisan yang membentuk garis hidup generasi yang akan datang. Ia mengajak kita berhenti sejenak untuk menengok ke belakang menghormati mereka yang telah melangkah lebih dulu, merangkul diri di masa kini, dan menyapa mereka yang kelak akan mewarisi bumi.
Panggilan untuk Merayakan Seni di Jogja National Museum
Dok. ARTJOG Jika kamu merindukan ruang untuk bersunyi sekaligus merayakan seni secara emosional, ARTJOG 2026 adalah destinasi yang tak boleh terlewatkan. Berlangsung dari 19 Juni hingga 30 Agustus 2026 di Jogja National Museum, perhelatan seni ini menyajikan narasi visual dari 44 seniman dewasa serta 52 karya anak-anak dalam ARTJOG Kids.
Selain menikmati ruang imersif Roby Dwi Antono, kamu juga bisa terlibat dalam berbagai aktivitas seru seperti Exhibition Tour, dialog interaktif di Meet the Artist, seni pertunjukan, hingga berburu merchandise eksklusif. Pameran ini terbuka untuk umum setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 22.00 WIB. Luangkan waktumu, ajak orang-orang tersayang, dan biarkan dirimu larut dalam siklus kehidupan yang disajikan dengan begitu indah di Jogja.





















