Festival dibuka pukul 15.00 WIB oleh Amelia Ong, musisi jazz asal Purwokerto, yang tetap tampil memukau meski hujan mengguyur area pertunjukan. Balutan busana bernuansa merah dengan sentuhan kebaya tradisional membuat penampilan Amelia berpadu harmonis dengan atmosfer alam Baturaden. Salah satu momen yang hadir sore itu adalah ketika Amelia membawakan lagu ciptaannya, "Sudah Bahagia", sebuah karya yang telah ia tulis beberapa waktu lalu dan kembali dipersembahkan di hadapan publik.
Ketika hujan mulai turun, irama musik tidak berhenti. Penampilan tetap berlangsung, sementara sejumlah penonton memilih bertahan menikmati setiap lagu yang dibawakan. Tetes hujan, udara yang semakin dingin, serta kabut yang perlahan turun justru menghadirkan pengalaman yang berbeda. Amelia Ong tidak sekedar menyanyi saja, namun juga menunjukkan bakatnya dalam bermain saxophone.
Energi penonton kemudian meningkat saat Nonaria, duo yang digawangi Nesia Ardi dan Nanin Wardhani, menguasai panggung lewat 12 lagu yang dibawakan penuh teatrikal. Dibuka dengan "Sabda Alam", mengiringi pergantian langit sore menuju malam yang diselimuti udara pegunungan yang dingin. Meski rumput masih basah akibat hujan, antusiasme penonton tidak surut. Tampil kompak dengan busana bernuansa merah, NonaRia membawakan sejumlah lagu yang mengundang interaksi penonton.
Lagu "Jadi Wanita" disambut sorakan meriah, sementara Kuda berhasil mengajak audiens bernyanyi bersama dengan penuh semangat. Di pertengahan penampilan, lagu "Santai Saja" menghadirkan nuansa yang lebih rileks sebelum energi pertunjukan kembali meningkat. Penampilan ditutup dengan lagu "Hari yang Bahagia". Irama enerjik berpadu dengan refrain yang mudah diikuti membuat penonton larut bernyanyi bersama hingga akhir pertunjukan.
Suasana kemudian berubah lebih eksploratif melalui penampilan Emptyyy. Trio progressive jazz-rock tersebut membawakan komposisi orisinal dari album terbaru mereka. Emptyyy berhasil membakar semangat penonton lewat lagu kolaborasi dengan Eka Annash yang sarat akan pesan perlawanan, "Maruk". Melalui komposisi jazz modern yang agresif dan penuh distorsi emosi, "Maruk" dibawakan sebagai bentuk sindiran keras terhadap ketamakan manusia. Aransemen yang berani ini sukses menciptakan atmosfer ketegangan yang megah sekaligus reflektif di atas panggung. Ditutup dengan gemuruh tepuk tangan dari para penonton terpukau. Emptyyy sukses meninggalkan kesan mendalam dan membawa warna baru yang penuh kelantangan di Jazz Gunung Slamet tahun ini.
Semakin malam, Kevin Yosua Big 6 featuring Gracy Tamangendar menghadirkan penampilan yang memadukan jazz tradisional dengan lagu ciptaan Ismail Marzuki dan Iskandar seperti "Sabda Alam", "Halo-halo Bandung", dan lain sebagainya yang memang masuk dalam album pertama mereka. Semakin syahdu karena munculnya aransemen baru lagu daerah Banyumas, "Di Tepinya Sungai Serayu", menjadi salah satu sorotan malam itu. Puncaknya, lagu Sepanjang Jalan Kenangan berhasil membawa penonton bernyanyi bersama diiringi tepuk tangan panjang dari penonton.
Sebagai penampil pamungkas, Mocca membawa suasana menuju puncak kemeriahan. Tiga belas lagu yang dibawakan sepanjang malam mengajak ribuan penonton bernyanyi bersama dalam nuansa nostalgia yang hangat. Penampilan tersebut terasa semakin istimewa ketika seluruh penonton ikut merayakan ulang tahun bassist Mocca, Toma Pratama, tepat di atas panggung.
Momen itu sekaligus menjadi bagian dari perayaan perjalanan 27 tahun Mocca berkarya di industri musik Indonesia. Dan BRI Jazz Gunung Slamet 2026 ditutup dengan lagu "Swing it, Bob!" bersamaan dengan MOCCA mengajak beberapa penonton naik ke atas panggung yang menjadikan panggung BRI Jazz Gunung Slamet semakin hangat dan meriah.