Sudah saatnya untuk kembali. Itulah perasaan yang sama-sama disepakati dan dirasakan oleh kakak-beradik TheOvertunes: Mikha Angelo, Reuben Nathaniel, dan Mada Emmanuelle. Selang tiga tahun sejak merilis album mini Endlessly, kini band trio ini kembali bersatu untuk menuliskan karya-karya baru menuju album ketiga mereka. Dikepalai dengan single "Sampai Kapan?" TheOvertunes memulai perjalanannya di era baru ini dengan sebuah pertanyaan dan teguran yang tegas untuk diri mereka sendiri.
TheOvertunes Memulai Kembali Lewat Single "Sampai Kapan?"

- TheOvertunes kembali setelah tiga tahun lewat single 'Sampai Kapan?' sebagai pembuka menuju album ketiga, menandai era baru perjalanan musik mereka.
- Lagu ini lahir dari proses introspeksi dan menggambarkan perjuangan melawan rasa mati segan hidup tak mau, dibalut dengan nuansa hangat dan pesan cinta yang tegas.
- Dalam era baru ini, TheOvertunes menghadirkan elemen segar melalui kolaborasi penulisan lagu dan aransemen vokal ramai tanpa meninggalkan ciri khas akustik mereka.
Rasa lega setelah "Sampai Kapan?" akhirnya rilis

Setelah mengambil beberapa waktu untuk berintrospeksi, lirik "Sampai Kapan?" hadir dengan alami.
"Pas kita lagi sesi menulis, rasanya ‘plong’," ungkap Reuben, menjelaskan kelegaan seolah akhirnya berhasil mengungkapkan perasaan yang lama dipendam.
Perasaan sadar bahwa, "hidup yang kita inginkan memang harus kita perjuangkan," kata Mikha.
"Ada masa di mana kita mungkin masing-masingnya pernah merasakan itu," sebut Mada.
Ia mengacu pada lirik yang banyak menceritakan tentang mati rasa dan hilangnya rasa ingin menjalani hari dengan sepenuhnya. Seolah, mati segan hidup tak mau.
"Sampai Kapan?" diracik seperti tamparan yang dingin, namun dibalut dengan pelukan hangat di dalamnya

Lagu yang dimulai dari chorus yang ramai ini diracik seperti tamparan yang dingin, namun dibalut dengan pelukan hangat di dalamnya.
"Ini lagu yang menyenangkan untuk orang malas," sebut Mada. Progresi chord yang dominan minor bergandengan erat dengan cerita berada di ambang putus asa dalam lirik, "Sampai kapan bersuka tersenyum pura-pura? Terlalu lama diam, tunggu kematian".
Namun, alih-alih penuh dengan amarah, lirik itu dinyanyikan dengan melodi yang riang secara beramai-ramai, seperti memberikan dorongan untuk bersemangat.
"Posisinya itu kayak kakak yang memberi tahu ke adiknya, cinta yang tegas (tough love)," sebut Mikha, menjelaskan sudut pandang penulisan lagu ini.
Lagu "Sampai Kapan?" adalah bentuk dari cinta yang bukan sekadar menerima hingga pasrah pada keadaan, sebaliknya menggambarkan cinta yang mau mengulurkan tangan untuk mengajak bangkit kembali.
"Ada orang-orang yang marah karena mereka sayang sebenarnya. Secara permukaannya kayak kabar buruk, tapi sebenarnya baik," tambah Reuben.
Hadirkan elemen baru yang membuat musik TheOvertune terdengar lebih fresh
Memasuki era baru ini, TheOvertunes juga secara intensional memberikan elemen-elemen yang baru pula. Dimulai dari sesi menulis yang dilakukan secara kolektif dengan musisi-musisi lain, sampai rekaman vokal dengan tambahan vokal latar yang ramai. Akhirnya, terciptalah suasana perayaan yang dibalut kehangatan tanpa meninggalkan kekhasan TheOvertunes yang identik dengan gitar akustik serta lirik yang berakar pada kata hati penulis.
TheOvertunes juga akan segera melanjutkan perjalanan era barunya dengan rilisan-rilisan lainnya di tahun ini. Antisipasikan lagu-lagu lain yang juga penuh introspeksi, merayakan hidup, dan menjalani setiap detik dalam hidup dengan sepenuh-penuhnya



















