Tak ada yang bisa menyangka dan meramalkan perubahan yang terjadi dalam hidup seseorang maupun diri sendiri. Seperti Angkie Yudistia, pebisnis yang dilahirkan dengan kesehatan fisik normal ini harus merasakan pahitnya perjalanan hidup yang seketika berubah saat ia berusia 10 tahun! Di usia tersebut, Angkie kehilangan kemampuannya untuk mendengar. Meski tak mudah untuk mencari jati dirinya, justru kegetiran hidupnya jadi sumber kekuatannya, kini Angkie sangat bangga menjadi perempuan disabilitas! 

Memiliki asa membantu kaum disabilitas agar tak lagi dipandang sebelah mata mendorongnya untuk membangun bisnis sosial Thisable Enterprise. "Kami percaya sama kamu, tapi kamu kenapa tidak percaya dengan diri sendiri?". Begitulah ucapan juri ketika Angkie Yudistia merasa tak pantas dinobatkan sebagai salah satu pemenang "Social Entrepreneur Of the Year" kategori pemberdayaan masyarakat di tahun 2014. Yap, perkataan juri itulah yang kini membuat Angkie terus optimis untuk meningkatkan bisnis sosialnya demi membuka lapangan kerja bagi kaum disabilitas.

Bela, kamu akan terus mengagumi Angkie ketika tahu bagaimana optimis dirinya. Begitu juga dengan jawabannya yang menyadarkan kita bahwa keterbatasan fisik tak akan akan menghambatmu melakukan sesuatu yang kamu inginkan!

Angkie Yudistia: Jadi Perempuan Disabilitas Bukan Akhir Segalanya #BanggaJadiPerempuan
 
Seperti roda berputar, dari bawah naik terus lalu turun lagi. Saat bisnis sosial-ku sedang turun, aku sempat mau give up aja. Tapi aku beruntung dikelilingi orang-orang hebat, jadi aku belajar lagi. Pas aku menang jadi Social Entrepreneur Of the Year, aku bilang ke jurinya, im not worth it to be a winner. Kata juri mereka percaya denganku, mereka heran kenapa aku malah nggak percaya sama diri sendiri. Inilah yang jadi pegangan aku, setiap bisnis itu pasti ada turunnya, malu dong aku yang bisnisnya belum 10 tahun langsung nyerah, aku dapat percikan semangat. Setiap aku kesulitan, aku bertanya, mereka (red-mentor) ilmu pengetahuan aku. Pada akhirnya lama-lama bisa naik, sampai menemukan titik bagaimana cara kita stabil lagi. 
 
Angkie Yudistia: Jadi Perempuan Disabilitas Bukan Akhir Segalanya #BanggaJadiPerempuan
 
Menerima diri kita sendiri. Sukses itu ketika kita bisa memaknai hidup, bisa dari hobi dan pekerjaan apapun yang terjadi kita bisa tetap berdiri dengan tegap.
 
Angkie Yudistia: Jadi Perempuan Disabilitas Bukan Akhir Segalanya #BanggaJadiPerempuan
 
Hidup hanya sekali, make it worth. Kita hidup di sini ngapain sih? Saat mencari jati diri itu susah banget, ketika aku berhasil menciptakan karakterku sendiri, aku lebih memaknai apa yang terjadi. Ternyata hidup ini tidak hanya untuk sendiri, tapi bagaimana kita bisa memberikan hal positif untuk lingkungan sekitar. Aku dilahirkan tidak disabilitas, 10 tahun aku baru sakit. Mau mencari jati diri aku butuh waktu 10 tahun. Mencari karakter pun butuh waktu 5 tahun, prosesnya lama. Tapi pada akhirnya setelah aku mencapai proses itu, intinya hidupku ini adalah bagaimana bisa berempati, aku pernah umum dan jadi disabilitas, udah waktunya aku mendukung teman disabilitas untuk lebih mandiri.
 
Angkie Yudistia: Jadi Perempuan Disabilitas Bukan Akhir Segalanya #BanggaJadiPerempuan

Sering marah sama mamaku, aku bandingkan keluargaku dengan keluarga lain. Didikan mama bikin aku sebel, kerjanya berantem. Mamaku disiplin banget, bangun harus pagi, harus sopan, harus bisa ke sekolah sendiri naik angkutan umum, sedih lihat teman dianterin orangtua mereka. Saat menikah, aku nangis, aku berterimakasih sama mama, ternyata didikan mama nggak kelihatan setahun dua tahun, tapi setelah aku keluar dari rumah itu berasa banget. Aku bilang ke mama, kalau aku juga terapkan cara mendidik anakku seperti mama, anakku nggak boleh manja.

Angkie Yudistia: Jadi Perempuan Disabilitas Bukan Akhir Segalanya #BanggaJadiPerempuan
 
Bagaimana mengubah persepsi orang terhadap disabilitas. Orang mikir disabilitas cacat walaupun terminologi sudah diubah, aku mengubah perspektif melalui dengan kemampuan kita sendiri, itulah mengapa aku punya buku "Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas." Buku inilah suaraku. Jadi perempuan disabilitas bukan akhir dari segalanya. Hidupku berubah setelah aku punya buku itu, perubahan itu dimulai dari diri sendiri.
 
Angkie Yudistia: Jadi Perempuan Disabilitas Bukan Akhir Segalanya #BanggaJadiPerempuan
Bangga jadi women with disablity, aku diajarkan banyak hal yang nggak akan aku dapatkan kalau aku terlahir normal. Akhirnya ketika aku berhasil dengan menerima diriku, empatiku lebih mengerti, ada kalanya kita susah dan bahagia, aku nggak mau mempunyai standar ego yang sangat tinggi karena sewaktu-waktu hidup kita akan berubah. Yang penting kita bisa memaknai hidup. 
 
Angkie Yudistia: Jadi Perempuan Disabilitas Bukan Akhir Segalanya #BanggaJadiPerempuan
 
Mandiri untuk tidak bergantung kepada orang lain. Terkadang perempuan suka membandingkan dirinya dengan orang lain, tanpa sadar mereka itu kurang menghargai diri sendiri. Lalu sebagai perempuan kita harus ingat kodrat kalau sampai rumah, jangan terlalu dominan dengan suami, karena pengalamanku terbiasa ngurusin kerjaan di kantor, ingat pas pulang standar ego harus diturunkan.
 
Angkie Yudistia: Jadi Perempuan Disabilitas Bukan Akhir Segalanya #BanggaJadiPerempuan

Mengantar anak sekolah. Belajar dari mama dan papa, pendidikan penting. 

Angkie Yudistia: Jadi Perempuan Disabilitas Bukan Akhir Segalanya #BanggaJadiPerempuan
 
Passionate, tough, risk taker. 
 

BACA JUGA: Indira B. Widjonarko: “Perempuan Harus Sadar Akan Haknya” #BanggaJadiPerempuan