Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
For
You

Naya Anindita Visualisasikan Dinamika Keluarga Indonesia Lewat 'Tunggu Aku Sukses Nanti'

Naya Anindita Visualisasikan Dinamika Keluarga Indonesia Lewat 'Tunggu Aku Sukses Nanti'
POPBELA.com/Niken Ari
Intinya Sih
  • Naya Anindita mengangkat realita sosial keluarga Indonesia lewat film 'Tunggu Aku Sukses Nanti', menyoroti aturan tak tertulis dan ketimpangan peran ekonomi dalam keluarga besar.

  • Ardit Erwandha dipilih sebagai pemeran utama karena mampu memadukan sisi komedi dan emosi, menciptakan keseimbangan antara tawa dan rasa perih yang dekat dengan kehidupan nyata.

  • Film ini menampilkan kolaborasi musik dari berbagai musisi serta mengajak penonton mendefinisikan ulang makna sukses, bukan sekadar materi tapi juga kedamaian diri dan hubungan keluarga.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pernah nggak sih, Bela, merasa ada aturan nggak tertulis di keluarga besar yang bikin gerah? Mulai dari pertanyaan "kapan nikah" sampai dibanding-bandingkan soal materi. Fenomena inilah yang ditangkap dengan apik oleh sutradara Naya Anindita dalam film terbarunya, Tunggu Aku Sukses Nanti.

Lewat kacamata seorang Arga, Naya nggak cuma menyuguhkan drama keluarga biasa, tapi juga sebuah potret realita sosial yang sangat dekat dengan keseharian kita. Terlebih di momen Lebaran seperti saat ini. Hal-hal yang terjadi di sekitar kita menjadi benang merah dalam film yang dibintangi oleh Ardit Erwandha tersebut. Yuk, simak obrolan mendalam POPBELA bersama Naya soal behind the scene dan misi emosional di balik film ini!

Memotret "peraturan tak tertulis" keluarga Indonesia

Naya Anindita 2.jpg
Instagram.com/nayaanindita

Naya Anindita tergerak untuk menyutradarai film ini karena ingin mengangkat realita sosial yang sering terjadi di Indonesia, namun jarang dibahas secara mendalam. Ia merasa film ini bisa menjadi jauh lebih deep karena membahas dinamika dan struktur keluarga yang sangat spesifik. Naya ingin menunjukkan bahwa ada peran-peran tertentu yang seolah sudah dipetakan sejak awal dalam sebuah keluarga besar.

Dalam pandangannya, di Indonesia terdapat semacam peraturan tidak tertulis yang sudah dipahami oleh setiap anggota keluarga. Naya mencontohkan sebuah pola yang sangat umum: "Contohnya kayak yang kaya nyumbang uang, yang miskin nyumbang tenaga. Itu sebenernya kayak hal yang terjadi di semua keluarga di Indonesia."

Baginya, tanpa perlu diucapkan, dinamika ini terjadi secara otomatis dan menjadi tradisi yang terus berulang.

Eksplorasi Naya berfokus pada titik kesadaran baru seorang anak yang melihat orang tuanya selalu berada di posisi "bawah" hanya karena keterbatasan ekonomi. Ia ingin memperlihatkan momen ketika sang karakter utama, Arga, mulai merasa ada yang salah dengan sistem tersebut. "Kayaknya nggak seharusnya orang tua gue terus-terusan ada di situ hanya karena mereka yang paling nggak punya apa-apa gitu," ungkap Naya mengenai kegelisahan karakternya.

Alasan Naya memilih Ardit Erwandha sebagai sosok Arga yang sempurna

Tunggu Aku Sukses Nanti.jpg
Dok. RAPI Film

Memilih Ardit Erwandha sebagai pemeran utama bukanlah sebuah ketidaksengajaan bagi Naya. Sejak awal pengembangan skenario, Naya sudah membayangkan Ardit sebagai sosok yang paling tepat untuk menghidupkan karakter Arga. Meskipun awalnya sempat ada proses pencarian, insting Naya sebagai sutradara terus kembali pada nama Ardit.

Naya merasa bahwa seorang sutradara harus memiliki feeling yang kuat dalam memilih pemain. Saat Ardit datang ke sesi casting, Naya langsung merasa yakin bahwa ia telah menemukan sosok Arga yang ia cari selama ini. "Pas dateng-dateng casting ini Arga. Fix satu juta persen," kenang Naya mengenai keyakinannya saat melihat Ardit muncul dengan penampilan yang sangat meyakinkan.

Baginya, Ardit memiliki kemampuan unik untuk membawakan karakter yang terlihat biasa namun memiliki kedalaman emosi. Naya bahkan mengaku sempat harus meyakinkan produser agar tetap memilih Ardit untuk peran drama ini.

"Aku udah nggak tau siapa lagi kalau bukan Ardit sebenernya," tambahnya, menegaskan bahwa Ardit adalah kepingan puzzle terakhir yang melengkapi film ini.

Porsi yang pas antara komedi dan rasa perih yang banyak dialami "Arga" di luar sana

Tunggu Aku Sukses Nanti.jpg
Dok. RAPI Film

Salah satu tantangan terbesar Naya dalam menggarap film ini adalah menjaga keseimbangan antara unsur komedi dan pesan emosional yang menyayat hati. Ia menyadari bahwa isu keluarga yang ia angkat sangat berat, namun ia tidak ingin penonton pulang dengan perasaan yang sepenuhnya kelam. Oleh karena itu, kehadiran unsur komedi menjadi penyeimbang yang krusial.

Naya sengaja memilih Ardit karena ia ingin penonton bisa merasakan empati sekaligus tetap terhibur. "Karena aku pengen kita bisa menertawakan dan juga berempati terhadap karakternya gitu. Menertawakan hidup, menertawakan nasib," jelas Naya mengenai pendekatan kreatifnya. Ia ingin film ini menjadi cerminan bagi para pejuang rupiah di luar sana yang tetap berusaha tersenyum di tengah kesulitan.

Pendekatan ini membuat pesan tentang ketidakadilan dalam keluarga tersampaikan dengan cara yang lebih manusiawi. Naya ingin menunjukkan bahwa hidup memang penuh dengan "rasa perih", namun bukan berarti kita kehilangan kemampuan untuk tertawa. Strategi ini terbukti efektif dalam menjaga alur cerita tetap engaging dari awal hingga akhir film.

Soundtrack yang menjadi nyawa film

Musik memegang peranan penting dalam proses kreatif Naya Anindita, bahkan sejak proses syuting berlangsung. Ia lebih suka menentukan jenis musik yang cocok di beberapa scene tertentu agar suasana yang diinginkan bisa langsung tertangkap. Baginya, musik bukan sekadar latar, melainkan elemen yang memperkuat narasi.

Naya menceritakan bagaimana lagu-lagu dari band Perunggu hingga RAN akhirnya dipilih menjadi bagian dari film ini. Salah satu momen berkesan adalah saat ia menemukan lagu "Lemah" yang dirasa sangat pas dengan perjalanan Arga. "Disitu aku ngerasa ini adalah lagunya Arga. Ini adalah tema filmnya. Akhirnya masukin ke filmnya juga," ungkap Naya dengan antusias.

Selain itu, lagu dari Petra Sihombing dan Perunggu juga dipilih karena liriknya yang bicara soal ambisi dan perjuangan. Naya merasa beruntung karena para musisi tersebut memberikan izin setelah melihat potongan adegan yang dikirimkannya. Kolaborasi musik ini membuat emosi dalam film Tunggu Aku Sukses Nanti terasa semakin hidup dan relatable di telinga penonton.

Definisi sukses yang berbeda bagi setiap orang

Naya Anindita 3.jpg
Instagram.com/nayaanindita

Lewat judul film ini, Naya ingin mengajak penonton untuk mendefinisikan kembali apa itu kesuksesan yang sebenarnya. Ia menyadari bahwa di mata masyarakat, sukses sering kali hanya diukur dari pencapaian materi atau jabatan. Namun, melalui berbagai karakter di filmnya, Naya menawarkan perspektif yang lebih luas.

Naya menunjukkan bahwa setiap orang punya definisi suksesnya sendiri, mulai dari kuliah S2 di luar negeri hingga sekadar melihat anak tumbuh menjadi orang baik. Baginya, film ini adalah tentang perjalanan Arga dalam menghadapi kondisi yang juga dirasakan banyak orang. "Kita ngeliat definisi sukses masing-masing karakter. Jadi itulah kenapa menurut aku di film ini karakternya cukup banyak," tuturnya.

Pada akhirnya, Naya berharap film ini bisa memberikan ketenangan batin bagi mereka yang sedang merasa tertinggal. Sukses bukan hanya soal menjadi CEO, tapi juga soal bagaimana kita berdamai dengan diri sendiri dan keluarga. Pesan hangat penutup darinya adalah sebuah pengingat penting: "Jalan terus. Jangan lupa bahagiain diri sendiri."

Jadi, siap menyaksikan Tunggu Aku Sukses Nanti saat Lebaran bersama keluarga, Bela?

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ayu Utami
Niken Ari Prayitno
Ayu Utami
EditorAyu Utami
Follow Us

Latest in Career

See More