Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
For
You

Reza Rahadian Ungkap Sisi Lain Film ‘Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa’, Angkat Isu Sosial

Reza Rahadian Ungkap Sisi Lain Film ‘Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa’, Angkat Isu Sosial
POPBELA.com/Mila Fitri Chairunisa
Intinya Sih
5W1H

  • Reza Rahadian membagikan pandangannya tentang film “Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa” yang tidak hanya menonjolkan horor, tapi juga mengangkat isu sosial seperti kekuasaan dan ketidakadilan.
  • Ia berperan sebagai Pramuja, karakter tenang yang menjadi simbol suara masyarakat tertindas, dengan perjalanan moral di tengah konflik antara kuasa dan keadilan.
  • Film berlatar era 80–90an ini memadukan efek praktikal dan CGI modern, menghadirkan nuansa segar serta pesan kemanusiaan yang relevan bagi penonton masa kini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kalau mendengar nama Suzzanna, mungkin yang terbayang langsung sosok hantu legendaris yang ikonik dengan aura mistisnya. Namun di film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa, semesta itu hadir dengan pendekatan yang berbeda. Bukan sekadar horor, film ini menawarkan lapisan cerita yang lebih dalam—tentang kekuasaan, ketidakadilan, dan relasi antar manusia.

Dalam perbincangan bersama tim Popbela, aktor berzodiak Pisces tersebut membagikan pandangannya tentang makna “dosa di atas dosa”, karakter yang ia perankan, hingga pengalaman dan proses syuting. Langsung saja, simak pembahasan lengkapnya di bawah ini yuk, Bela!

Table of Content

Makna “Dosa di Atas Dosa” yang Lebih dari Sekadar Judul

Makna “Dosa di Atas Dosa” yang Lebih dari Sekadar Judul

POPBELA.com/Mila Fitri Chairunisa
POPBELA.com/Mila Fitri Chairunisa

Menurut Reza, frasa “dosa di atas dosa” bukan sekadar pilihan kata dramatis. Ada makna yang lebih filosofis di baliknya.

‘Dosa di Atas Dosa’ ini adalah sebuah personifikasi dari bagaimana manusia yang melakukan kita semua punya dosa kita masing-masing ya in general. Tapi, ada saat kenapa disebut dosa di atas dosa karena ada sesuatu yang lebih extravagant dibanding yang lain-lain di dalam cerita,” ungkap Reza.

Dalam konteks film, istilah tersebut menjadi personifikasi perjalanan karakter Suzzanna. Bagaimana seseorang bisa sampai pada titik menghalalkan cara-cara ekstrem untuk melawan ketidakadilan? Bagaimana proses itu terjadi? Inilah yang ingin di-highlight melalui judulnya.

Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa menyoroti transformasi Suzzanna hingga menjadi sosok dukun yang memilih jalan santet sebagai bentuk perlawanan terhadap lawan-lawannya. Sebuah keputusan yang lahir bukan dari ruang kosong, melainkan dari konflik dan tekanan yang kompleks.

Berperan sebagai Pramuja, Sosok yang Tenang dengan Jiwa Keadilan

Reza Rahadian.jpg
youtube.com/ Soraya Intercine Films

Dalam film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa, Reza Rahadian berperan sebagai Pramuja—keponakan seorang mantri atau dukun di sebuah wilayah. Karakter ini memiliki relasi penting dengan Suzzanna. Pertemuan mereka diawali ketika Pramuja menemukan Suzzanna di sebuah sungai dan menolongnya.

Mulai dari sinilah hubungan keduanya terjalin. Namun, relasi tersebut bukan semata-mata kisah cinta. Ada dinamika yang lebih dalam yang dibangun sepanjang cerita.

Pramuja digambarkan sebagai sosok yang tenang, tidak gegabah, dan cenderung menguasai ruang. Ia bukan tipe yang konfrontatif secara keras. Namun, ada titik di mana ia harus mengambil sikap.

Pramuja pembawaannya tenang. Dia orang yang tidak gegabah gitu, ya. Dia orangnya cenderung sangat menguasai ruang, tidak konfrontatif yang keras, sampai kemudian dia berada di titik dimana dia harus melakukan sesuatu,” jelas Reza.

Dengan karakter tersebut, Pramuja menjadi representasi suara masyarakat yang selama ini tidak berani bersuara. Ia berdiri di antara kekuasaan dan ketidakadilan, mencoba memperjuangkan apa yang menurutnya benar.

Ketika ditanya apakah karakter ini relevan dengan kondisi sosial saat ini, Reza memilih menyerahkannya pada penonton. “Apakah itu relevan atau tidak, itu kembali kepada yang menonton,” ujarnya.

Jadi Film Horor yang Mengangkat Isu Sosial

Reza Rahadian.jpg
youtube.com/ Soraya Intercine Films

Salah satu hal yang membuat Reza tertarik pada proyek ini adalah kekuatan isu sosial dalam naskahnya. Film ini memang berada dalam semesta Suzzanna yang identik dengan horor. Namun, ceritanya tidak hanya berhenti pada kematian dan teror semata. Ada pembahasan tentang relasi kuasa—siapa yang berkuasa dan siapa yang ditekan.

Cerita ini sebuah cerita yang tidak hanya berbicara mengenai horor. Tapi juga berbicara mengenai hubungan antar manusia, hubungan tentang kelas sosial tertentu, hubungan tentang kekuasaan, siapa yang berkuasa, siapa yang memiliki kekuasaan yang tadi saya bilang gitu ini adalah relasi antar kuasa ada orang yang berkuasa menekan mereka yang tidak berkuasa berbuat sewenang-wenang dan seenaknya  ,” kata Reza.

Pendekatan ini menjadi langkah berani, mengingat IP Suzzanna selama ini sangat identik dengan sosok hantu. Menggeser fokus cerita ke konflik sosial tentu memiliki risiko tersendiri. Namun justru disitulah letak daya tariknya.

Reza menilai film ini menawarkan konsep yang berbeda dari pendahulunya. Ada keberanian untuk mengeksplorasi semesta yang sudah besar dengan sudut pandang baru.

Proses Kreatif dan Diskusi Intens dengan Sutradara

POPBELA.com/Mila Fitri Chairunisa
POPBELA.com/Mila Fitri Chairunisa

Untuk membangun karakter Pramuja, Reza mengaku tidak melakukan riset khusus yang mendalam seperti proyek-proyek tertentu sebelumnya. Semua sudah tertuang cukup jelas dalam skenario. Proses yang paling dominan justru diskusi intens dengan sutradara, Azhar Kinoi Lubis.

Dengan karakter Pramuja semuanya sudah tertuang cukup jelas di skenario. Sehingga, proses yang paling banyak terjadi itu adalah pembicaraan antara Kinoi dengan saya, Kinoi sebagai sutradara, saya sebagai pemain, kami bertukar pikiran mengenai bagaimana Pramuja ini akan dihidupkan seperti itu,” ujarnya.

Dalam proses syuting, Reza tidak melakukan perubahan besar pada naskah. Jika ada improvisasi, itu dilakukan dalam batas pendekatan adegan dan tetap atas persetujuan sutradara. Struktur cerita tetap dipertahankan sesuai visi awal.

Sentuhan Modern di Era 80–90an

POPBELA.com/Mila Fitri Chairunisa
POPBELA.com/Mila Fitri Chairunisa

Meski berlatar era 80–90an, Reza merasakan ada modernitas yang kuat dalam pendekatan film ini. Sejak membaca skrip, ia sudah merasakan bahwa ada sesuatu yang berbeda. Ketika melihat hasil akhirnya, ia bahkan mengaku terkejut dengan kualitasnya.

Sebagian besar efek yang digunakan terasa nyata dan meyakinkan. Kombinasi practical effects dan CGI menghadirkan pengalaman sinematik yang gripping. Ada pula nuansa action yang membuat film ini terasa segar.

Format penceritaan yang baru terhadap karakter Suzzanna menjadi nilai plus tersendiri. Bukan sekadar mengulang formula lama, film ini menawarkan napas modern yang bisa jadi sangat appealing bagi penonton masa kini, khususnya saat tayang pada tanggal 18 Maret 2026 mendatang.

Pada akhirnya, film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa bukan hanya tentang kemunculan sosok mistis. Film ini berbicara tentang manusia—tentang dosa, kuasa, ketidakadilan, dan pilihan ekstrem yang diambil dalam situasi terdesak.

Jangan lupa catat tanggal rilisnya dan saksikan film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa di bioskop kesayangan kamu ya, Bela!

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ayu Utami
EditorAyu Utami
Follow Us

Latest in Career

See More