6 Tips Mindful Living dengan Mindful Spending dari Kino Indonesia

- Kino Indonesia bersama pakar keuangan membagikan enam langkah mindful spending agar masyarakat lebih sadar dalam mengatur pengeluaran pasca Ramadan dan Idulfitri.
- Mindful spending menekankan pentingnya membeli barang sesuai kebutuhan, mengendalikan pengeluaran kecil, serta melakukan refleksi dan audit keuangan untuk memperbaiki kebiasaan finansial.
- Peserta diajak mengenali perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, memanfaatkan produk bernilai guna, serta membuat strategi prioritas agar konsumsi tetap terarah dan tidak boros.
Pasca Ramadan dan Idulfitri yang mungkin menghabiskan banyak pengeluaran, ini saatnya untuk refleksi dan kembali menata pengeluaran. Agar mencapai meaningful dan mindful living, harus didasari salah satunya dengan mindful spending. Ini merupakan pola konsumsi dan pengelolaan prioritas harus ditetapkan agar kantong nggak makin kering.
Membeli barang atau jasa bukan hanya karena ingin, tapi memang butuh dan punya nilai lebih bagi kehidupan. Mindful spending sendiri adalah bagaimana seseorang memiliki suatu kondisi, situasi keuangan yang terencana, terkendali, terarah.
Dalam acara Media Gathering Halal Bihalal bertema Building Meaning in Every Family Choice yang digelar Kino Indonesia pada Rabu (29-4-2026) kemarin, Arviane D.B., Head of PR Kino Indonesia dan Mike Rini CFP, Financial Planner dari Mitra Rencana Edukasi memberikan tips untuk tetap bisa mindful spending di tengah kondisi yang tak menentu ini sekaligus menghadapi kemudahan bertransaksi. Simak tipsnya berikut ini, ya!
Table of Content
1. Tetapkan tujuanmu sebelum membeli sesuatu

Menurut Mike Rini, salah satu makna mindful spending adalah tahu apa tujuanmu membeli barang. Jangan karena FOMO, takut ketinggalan diskon, atau karena mengejar validasi orang, akhirnya kamu mengeluarkan uang yang seharusnya bisa dipergunakan untuk tujuan yang lebih bermanfaat.
“Kita perlu menerapkan kebiasaan-kebiasaan baik mengelola keuangan supaya hidup kita itu mindful. Supaya hidup kita mindful salah satu caranya adalah dengan mindful spending. Mindful spending itu berarti kalau kita beli pasti intentional, pasti ada tujuannya.
Untuk sampai pada bahwa itu ada tujuannya kan berarti ada proses memutuskan. Jadi, nggak sembarangan. Nggak sembarangan karena fomo, nggak sembarangan karena teman-teman juga sudah beli, nggak sembarangan juga karena ‘aduh yang penting validasi nih’.
Bukan berarti kita tidak belanjakan sama sekali. Mindful spending itu lebih ke arah bahwa kita sadar, kita mengkonsumsi barang dan jasa supaya hidup kita terarah, terencana, dan terkendali. Jadi memilih produk barang dan jasanya juga selektif,” jelas Mike Rini.
2. Jangan remehkan pengeluaran kecil

Mike juga mengingatkan bahwa setiap keputusan keuangan baik itu dianggap kecil atau besar, memiliki dampak yang besar. Mulai dari pengeluaran kecil yang mungkin hanya Rp5 ribu sampai Rp10 ribu pun harus dikendalikan dengan baik. Nggak hanya secara materi, ini juga bisa memengaruhi psikologis seseorang.
“Setiap keputusan kecil itu sebenarnya mengarah kepada dampak yang lebih besar. Jadi, kalau yang kecil-kecil ini tidak terkendali, maka dia bisa snowballing. Bukan hanya dalam jumlahnya, tetapi dampaknya secara psikologis ke kita.
Kita terbiasa meremehkan yang kecil-kecil, maka kita tidak akan siap menghadapi yang besar-besar. Kalau setiap kali keputusan keuangan kita mindful, kita yakini bahwa memang kita begitu, sesuai dengan kemampuan kita. Maka biasanya itu akan nanti berdampak pada kesiapan kita dalam memutuskan, menyeleksi, menganalisa permasalahan-permasalahan yang lebih besar,” ujarnya lagi.
3. Ambil momen refleksi audit keuangan

Pasca hari raya merupakan waktu yang tepat untuk refleksi dan mengaudit keuanganmu. Rincikan pengeluaran, pendapatan, apa yang harus dilakukan. Dari situ kamu jadi tahu di mana kesalahanmu dalam membuat keputusan pengeluaran, lalu menavigasi apa yang harus dilakukan jika ada kekurangan, dan merancangkan keuangan untuk ke depannya. Momen ini membuat kamu bisa memperbaiki diri sehingga tahun depan tak akan ada kesalahan lagi.
“Momen seperti ini, ketika habis Lebaran itu sebenarnya dapat dimanfaatkan menjadi momentum untuk refleksi diri. Refleksi diri kita, kemudian juga kita mungkin bisa melakukan audit uang kecil-kecil lagi. Kita tracking, kita punya spending berapa aja, saldo tabungan kita berapa, apa yang perlu kita lakukan.
Kalau kurang atau kalau ada kelebihan, apa yang harus kita lakukan. Nah, disitu nanti kita bisa lihat, yang kita lakukan, yang harusnya kita lakukan, tapi kita tidak lakukan itu apa sih. Momentum dari refleksi inilah yang kemudian kita ambil untuk melakukan perbaikan, sehingga di tahun depan bisa lebih baik kondisinya,” saran Mike.
4. Manfaatkan produk yang memberi nilai lebih dan sesuai kebutuhan

Arviane D.B sendiri memberikan tips untuk mengenali barang atau jasa apa yang dibutuhkan, seberapa banyak dibutuhkan, dan untuk tujuan apa itu akan dipergunakan sebelum melakukan transaksi. Ini tak hanya menghemat waktu dan tenaga, tapi juga biaya. Misalnya, kalau kamu ingin memberikan hampers untuk keluarga, kamu bisa memanfaatkan produk-produk terbaru atau kemasan festive yang ditawarkan oleh para brand. Ini bisa menghemat kamu dari pengeluaran untuk mendesain kemasannya lagi.
Hal ini pula yang dilakukan oleh Kino Indonesia dalam berbagai produknya. Misalnya, ada sunscreen dari Eskulin yang nggak hanya cocok untuk anak-anak tapi juga bisa digunakan untuk orang dewasa. PIA 100 dengan berbagai kemasan yang cocok untuk cemilan sendiri atau sedang berkumpul bersama teman, ada pula Cap Panda Cincau Hijau yang punya kemasan menarik dan cocok untuk hampers hari raya, sampai varian baru Ellips hair mist yang bisa digunakan baik oleh laki-laki maupun perempuan dengan kemasan yang praktis.
5. Bedakan butuh dan ingin

Tip selanjutnya agar kamu bisa mindful spending adalah dengan membedakan kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan adalah sesuatu yang harus dimiliki karena itu penting untuk bisa melakukan kegiatan yang fundamental. Tapi, kebutuhan itu bisa jadi keinginan apabila muncul faktor-faktor lain dan rasa kurang cukup, padahal punya fungsi yang sama.
Kebutuhan dan keinginan itu bukan soal barangnya, tapi soal keputusanmu. Contohnya kamu butuh baju. Tapi, kamu sudah punya baju yang cukup dan masih layak pakai. Lalu kamu beli baju baru yang lebih mahal atau branded karena ikut tren atau ingin diakui. Baju tersebut bukan jadi kebutuhan lagi, tapi sebuah keinginan.
Kebutuhan itu apa yang memang kamu perlukan dan sesuai kemampuan atau budget kamu. Keinginan adalah sesuatu yang sebenarnya tidak kamu perlukan banget, atau di luar budget, tapi tetap dibeli karena kamu ingin, misalnya gengsi, ikut tren, atau cari validasi.
Pentingnya bisa memilah mana keinginan dan kebutuhan, supaya kamu jadi lebih bijak untuk menentukan bukan hanya apa yang dibutuhkan atau diinginkan, tapi juga apakah kamu mampu atau nggak sesuai kondisi finansial.
6. Buat strategi dan tentukan prioritas

Mindful spending bukan berarti nggak belanja sama sekali atau pelit yang menyiksa diri. Pelit sendiri adalah hal yang harusnya dilakukan, malah tidak dilakukan. Ganti pelit dengan teknik smart spending. Ini berarti melakukan sebuah strategi untuk mengalokasikan uang atau gaji kepada kebutuhan secara pas, tidak berlebihan.
Selain budget, kamu juga harus perhatikan bagaimana kamu mengonsumsi barang tersebut. Apakah itu perlu dalam jumlah atau ukuran besar, atau yang kecil saja sudah cukup. Strategi selanjutnya adalah dengan mencatat semua pengeluaran mulai dari yang paling dasar. Dari sini kamu jadi tahu uang kamu sebenarnya larinya ke mana saja.
Lalu, evaluasi mana pengeluaran yang paling besar? ada yang terlalu boros nggak? Atau justru ada yang terlalu kecil tapi penting, seperti tabungan? Setelahnya, kamu bisa mengelompokkan pengeluaran tersebut. Misalnya, untuk makan, transport, hiburan, dan tabungan. Cek apakah pengeluaran kamu lebih besar dari pemasukan? Kalau iya, berarti ada yang harus diperbaiki.
Dari situ baru ambil tindakan untuk mengurangi pengeluaran yang nggak terlalu penting, stop kebiasaan yang bikin boros, prioritaskan yang lebih penting, dan mulai mengontrol pikiran dan emosi kamu terhadap suatu hal. Hati-hati juga dengan metode pembayaran yang makin mudah hari-hari ini, seperti adanya paylater. Teknologi seperti paylater memang memudahkan, tapi juga bisa bikin kebablasan kalau nggak sadar.
Jadi, jangan sampai nggak mindful lagi, ya, Bela!


















