3 Pesan Inspiratif dari Pembicara di Hari Kedua BFA Jakarta 2026

- Para pembicara di BeautyFest Asia Jakarta 2026 menekankan pentingnya memahami kapan tubuh butuh perlindungan ekstra agar tetap siap beraktivitas sosial dengan kulit yang bersih dan sehat.
- dr. Danar Wicaksono menjelaskan bahwa definisi bersih kini lebih luas, karena paparan kuman modern menuntut perhatian ekstra terhadap kebersihan kulit di luar sekadar mandi.
- Dinda Puspitasari menyoroti pentingnya kesadaran diri terhadap kondisi kulit sebagai bentuk self-care, terutama bagi mereka dengan rutinitas padat dan aktivitas tinggi setiap harinya.
Tak hanya menghadirkan berbagai promo dan aktivitas seru, BeautyFest Asia (BFA) Jakarta 2026 juga diramaikan dengan sederet talk show inspiratif. Salah satunya adalah sesi "Clean, Reset, Repeat: The New Way to Be Social-Ready" bersama Betadine Skin Cleanser.
Dalam sesi tersebut, Michica Wijaya, dr. Danar Wicaksono, MSc., SpDVE, dan Dinda Puspitasari berbagi pandangan tentang tentang bagaimana gaya hidup modern yang semakin aktif ternyata ikut memengaruhi kesehatan kulit serta pentingnya memahami kebutuhan tubuh di tengah kesibukan.
Dari diskusi tersebut, ada sejumlah pesan inspiratif yang bisa menjadi pengingat untuk lebih peduli terhadap kesehatan kulit. Simak selengkapnya berikut ini!
Table of Content
1. Social-ready berarti memahami kapan tubuh membutuhkan perlindungan

Michica Wijaya menjelaskan bahwa konsep social-ready tidak hanya berkaitan dengan penampilan, tetapi juga kesadaran untuk memahami kapan tubuh membutuhkan kebersihan dan perlindungan ekstra setelah menjalani berbagai aktivitas sepanjang hari.
"Social-ready itu bukan sekadar tampil percaya diri. Kita juga perlu tahu kapan tubuh membutuhkan kebersihan lebih dan kapan perlu memberikan perlindungan ekstra setelah beraktivitas," ujar Michica.
Menurutnya, masyarakat modern perlu lebih peka terhadap aktivitas yang berpotensi membuat kulit terpapar lebih banyak kuman. Dengan begitu, setiap orang dapat mengambil langkah yang tepat untuk menjaga kebersihan sekaligus kenyamanan tubuh agar tetap siap menjalani aktivitas sosial sehari-hari.
2. Definisi bersih sudah berubah, bukan sekadar selesai mandi

Banyak orang masih menganggap tubuh bersih ketika sudah mandi dan terbebas dari bau badan. Namun menurut dr. Danar Wicaksono, definisi tersebut sudah tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan gaya hidup modern saat ini.
"Dulu bersih itu ya sudah mandi, nggak bau, selesai. Sekarang kuman dan bakteri sudah berevolusi. Definisi bersih juga berubah karena kita harus menghadapi banyak paparan yang nggak kelihatan," jelas dr. Danar.
Ia menjelaskan bahwa aktivitas sehari-hari membuat kulit terus bersentuhan dengan berbagai permukaan yang menjadi tempat berkumpulnya bakteri. Bahkan, kondisi kulit yang lembap akibat keringat juga dapat menjadi lingkungan yang mendukung perkembangan bakteri lebih cepat.
3. Menjadi mindful terhadap kondisi kulit adalah bentuk self-care

Sebagai seseorang yang memiliki jadwal padat, Dinda Puspitasari mengaku bahwa menjaga kesehatan kulit menjadi bagian penting dari rutinitasnya. Mulai dari menghadiri pertemuan, bekerja, hingga berolahraga dalam satu hari membuatnya harus lebih sadar terhadap kebutuhan tubuhnya sendiri.
"Kegiatannya banyak banget dalam satu hari, mulai dari meeting, kerja, sampai olahraga. Jadi memang harus banyak riset soal kesehatan kulit karena mandi saja belum tentu cukup," ungkap Dinda.
Menurut Dinda, menjadi mindful terhadap kondisi kulit bisa dimulai dari hal sederhana, seperti mengenali kapan tubuh mulai terasa lengket, tidak nyaman, atau membutuhkan perawatan lebih setelah beraktivitas seharian.

Melalui talk show Clean, Reset, Repeat: The New Way to Be Social-Ready, para narasumber sepakat bahwa kesehatan kulit tidak bisa dipisahkan dari gaya hidup sehari-hari. Di tengah aktivitas yang semakin padat, penting untuk memahami bahwa kulit juga membutuhkan perhatian agar tetap sehat, nyaman, dan terlindungi.


















