- Glaukoma primer sudut terbuka
Ini merupakan jenis glaukoma yang paling umum. Penyakit berkembang secara perlahan tanpa gejala yang jelas. Penglihatan biasanya mulai menyempit dari sisi samping sehingga sering tidak disadari hingga tahap lanjut. - Glaukoma sudut tertutup
Jenis ini dapat terjadi secara mendadak dan menimbulkan gejala seperti nyeri mata hebat, mata merah, sakit kepala, mual, serta penglihatan kabur. Kondisi ini termasuk kegawatdaruratan medis yang membutuhkan penanganan segera. - Glaukoma kongenital
Terjadi pada bayi atau anak-anak akibat kelainan bawaan pada sistem aliran cairan mata. - Glaukoma sekunder
Jenis ini terjadi akibat kondisi lain seperti cedera mata, penggunaan steroid jangka panjang, atau penyakit tertentu seperti diabetes.
Waspadai Glaukoma, Penyebab Kebutaan yang Sering Tanpa Gejala

- JEC Group memperingati World Glaucoma Week 2026 dengan kampanye kesadaran pentingnya deteksi dini glaukoma untuk mencegah kebutaan permanen.
- Glaukoma adalah penyakit saraf mata progresif yang sering tanpa gejala awal, disebabkan peningkatan tekanan bola mata dan menjadi penyebab kebutaan kedua tertinggi setelah katarak.
- JEC menggelar edukasi, seminar, dan pemeriksaan mata gratis di berbagai kota guna meningkatkan pemahaman masyarakat serta tenaga kesehatan tentang pencegahan dan penanganan glaukoma.
Dalam rangka memperingati Pekan Glaukoma Sedunia atau World Glaucoma Week 2026 yang berlangsung pada 8–14 Maret, JEC Group mengajak kamu semua untuk lebih waspada terhadap penyakit glaukoma. Peringatan global yang diinisiasi oleh World Glaucoma Association ini mengusung tema “Uniting for a Glaucoma-Free World”, dengan tujuan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya deteksi dini guna mencegah kebutaan akibat glaukoma.
Mengenal glaukoma, penyakit mata yang diam-diam merusak penglihatan

Glaukoma merupakan penyakit saraf mata progresif yang dapat merusak saraf optik secara perlahan. Salah satu penyebab utamanya adalah peningkatan tekanan di dalam bola mata. Dalam kondisi normal, tekanan bola mata berkisar antara 10–21 mmHg, namun ketika tekanan meningkat atau saraf optik menjadi lebih rentan, kerusakan dapat terjadi secara bertahap.
Jika tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini, kondisi ini dapat menyebabkan penyempitan lapang pandang hingga akhirnya berujung pada kebutaan permanen. Glaukoma dapat terjadi pada siapa saja, tetapi lebih sering dialami oleh individu berusia di atas 40 tahun dan menjadi penyebab kebutaan tertinggi kedua setelah katarak.
Masalahnya, glaukoma sering berkembang tanpa gejala pada tahap awal. Banyak pasien baru menyadari kondisinya ketika gangguan penglihatan sudah cukup berat. Berbeda dengan katarak yang masih bisa dipulihkan melalui operasi, kerusakan akibat glaukoma tidak dapat diperbaiki.
Secara global, jumlah penderita glaukoma diperkirakan mencapai sekitar 76 juta orang pada tahun 2020 dan diproyeksikan meningkat menjadi 111,8 juta orang pada tahun 2040, seiring bertambahnya usia populasi dunia. Sementara di Indonesia, prevalensi glaukoma diperkirakan mencapai sekitar 0,46% atau 4–5 orang per 1.000 penduduk.
Gejala dan faktor risiko glaukoma

Menurut Prof. DR. Dr. Widya Artini Wiyogo, SpM(K), Ketua Glaukoma Service di JEC Group, sebagian besar kasus glaukoma tidak menunjukkan gejala yang jelas. Karena itu, banyak pasien baru terdiagnosis saat melakukan pemeriksaan kesehatan mata. Namun pada beberapa kondisi tertentu, glaukoma dapat menimbulkan gejala seperti sakit kepala hebat, penglihatan mendadak kabur, nyeri pada mata, mata merah, sampai mual dan muntah. Jika mengalami gejala tersebut, kamu disarankan segera melakukan pemeriksaan mata.
Selain itu, beberapa faktor juga dapat meningkatkan risiko glaukoma, antara lain riwayat keluarga dengan glaukoma, diabetes melitus, pengunaan obat steroid jangka panjang, kelainan refraksi tinggi seperti miopia atau hipermetropia, sampai katarak. Glaukoma juga tidak hanya menyerang orang dewasa. Pada bayi, kondisi ini dapat muncul sebagai glaukoma kongenital, yaitu kelainan bawaan pada sistem aliran cairan mata.
Jenis-jenis glaukoma yang perlu diketahui

Glaukoma sebenarnya bukan satu jenis penyakit tunggal, melainkan terdiri dari beberapa tipe yang memiliki karakteristik berbeda.
Edukasi dan skrining oleh JEC Group

Sebagai salah satu jaringan rumah sakit mata terkemuka di Indonesia, JEC Group terus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan mata.
Dalam rangka memperingati World Glaucoma Week 2026, JEC menyelenggarakan berbagai kegiatan edukasi dan skrining di sejumlah kota di Indonesia. Program tersebut meliputi seminar kesehatan mata, talkshow radio, produksi konten edukasi, serta pemeriksaan mata gratis seperti pemeriksaan tekanan bola mata dan skrining kesehatan mata dasar.
Selain itu, JEC juga mengadakan seminar ilmiah bagi tenaga kesehatan seperti apoteker, dokter umum, dan dokter mata untuk meningkatkan pemahaman mengenai deteksi dini serta penanganan glaukoma. Deteksi dini menjadi kunci utama untuk mencegah kerusakan penglihatan permanen akibat glaukoma.


















