Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install

10 Penyebab Gigi Ngilu Saat Minum Air Dingin, Apa Saja?

10 Penyebab Gigi Ngilu Saat Minum Air Dingin, Apa Saja?
freepik.com/stocking
  • Gigi sensitif menjadi penyebab gigi ngilu saat minum air dingin karena dentin yang terbuka lebih mudah merangsang saraf gigi.

  • Enamel menipis, gigi berlubang, resesi gusi, retakan, bruxism, hingga perawatan gigi juga dapat memicu ngilu.

  • Infeksi dan kelainan enamel, seperti MIH, amelogenesis imperfecta, serta hipoplasia enamel perlu ditangani sesuai penyebabnya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernahkah kamu merasakan gigi tiba-tiba ngilu saat minum air dingin? Rasa nyeri yang muncul secara singkat ini memang sering dianggap sepele. Padahal, masalah ini bisa menjadi tanda adanya gangguan pada lapisan pelindung gigi atau jaringan di sekitarnya.

Penyebab gigi ngilu saat minum air dingin pun tidak selalu sama pada setiap orang. Mulai dari gigi sensitif hingga infeksi, setiap kondisi membutuhkan penanganan yang berbeda. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui penyebabnya berikut agar keluhan tidak semakin parah.

  1. 1. Gigi sensitif (hipersensitivitas dentin)

    ilustrasi gigi ngilu
    pexels.com/Andrea Piacquadio

    Gigi sensitif atau hipersensitivitas dentin merupakan penyebab gigi ngilu saat minum air dingin yang paling umum. Kondisi ini terjadi ketika lapisan dentin di bawah enamel terbuka sehingga rangsangan dingin dapat mencapai saraf gigi dengan lebih mudah.

    Menurut Journal of Pain Research (2017), paparan suhu dingin dapat memicu pergerakan cairan di dalam tubulus dentin. Pergerakan tersebut kemudian mengaktifkan ujung saraf pada pulpa sehingga muncul rasa nyeri yang tajam meskipun rangsangannya tergolong ringan.

  2. 2. Enamel gigi menipis

    pexels.com/Shiny Diamond
    pexels.com/Shiny Diamond

    Enamel merupakan lapisan terluar gigi yang berfungsi melindungi dentin dari berbagai rangsangan, termasuk suhu dingin. Ketika enamel menipis, dentin menjadi lebih mudah terpapar sehingga gigi terasa ngilu saat mengonsumsi minuman dingin.

    Penipisan enamel dapat disebabkan oleh kebiasaan mengonsumsi makanan atau minuman asam, kebiasaan menggemeretakkan gigi (bruxism), maupun proses penuaan. Kondisi ini biasanya berkembang secara perlahan sehingga gejalanya baru disadari ketika sensitivitas gigi mulai parah.

  3. 3. Gigi berlubang

    Ilustrasi Gigi Bungsu
    unsplash.com/Ozkan Guner

    Gigi berlubang juga menjadi salah satu penyebab gigi ngilu saat minum air dingin yang cukup sering ditemukan. Lubang pada gigi memungkinkan rangsangan dingin mencapai lapisan dentin bahkan pulpa, sehingga memicu rasa nyeri yang lebih intens.

    Apabila lubang gigi dibiarkan tanpa perawatan, bakteri dan plak dapat terus berkembang di dalam lubang gigi dan menyebabkan peradangan atau infeksi pada jaringan saraf gigi sehingga dapat menimbulkan rasa ngilu. Selain menimbulkan ngilu, kondisi ini juga dapat disertai nyeri saat mengunyah, bau mulut, hingga pembengkakan pada gusi.

  4. 4. Gusi menyusut (resesi gingiva)

    ilustrasi gusi
    pexels.com/Anna Shvets

    Resesi gingiva adalah kondisi ketika jaringan gusi turun. Pada kondisi ini, bagian akar gigi yang seharusnya tertutup menjadi terbuka. Berbeda dengan mahkota gigi yang dilindungi enamel, akar gigi hanya dilapisi sementum yang lebih tipis sehingga lebih mudah merespons rangsangan dingin.

    Penelitian yang dipublikasikan dalam Cureus (2024) menyebutkan bahwa paparan dentin akibat resesi gusi merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya hipersensitivitas gigi. Karena itu, menjaga kesehatan gusi sama pentingnya dengan menjaga kesehatan gigi

  5. 5. Kebiasaan menyikat gigi terlalu keras

    ilustrasi sikat gigi
    pexels.com/greta-hoffman

    Banyak orang mengira menyikat gigi dengan tekanan kuat dapat membuat gigi lebih bersih. Padahal, kebiasaan ini justru berisiko mengikis enamel dan menyebabkan gusi menyusut, sehingga dentin menjadi lebih terbuka.

    Studi dalam Cureus (2024) juga menunjukkan bahwa kebiasaan menyikat gigi, termasuk jenis sikat gigi yang digunakan, berkaitan dengan tingkat sensitivitas gigi. Oleh sebab itu, dokter gigi umumnya menyarankan penggunaan sikat gigi berbulu lembut dengan teknik menyikat yang benar untuk membantu mengurangi risiko gigi sensitif.

  6. 6. Gigi retak atau pecah

    Ilustrasi Gigi Berlubang
    pexels.com/Kaboompics.com

    Retakan pada gigi, baik yang terlihat maupun sangat halus, dapat menjadi jalur masuk bagi rangsangan dingin menuju bagian dalam gigi. Akibatnya, rasa ngilu dapat muncul setiap kali mengonsumsi minuman dingin, makanan manis, atau bahkan saat mengunyah.

    Kondisi ini dapat terjadi akibat benturan, kebiasaan menggigit benda keras, maupun tekanan berlebih saat menggemeretakkan gigi. Jika tidak segera ditangani, retakan dapat semakin melebar dan meningkatkan risiko infeksi pada pulpa.

  7. 7. Efek samping perawatan gigi

    Ilustrasi Kontrol Rutin ke Dokter Gigi
    magnific.com/prostooleh

    Beberapa prosedur perawatan gigi, seperti scaling, bleaching, atau penambalan, dapat menyebabkan gigi menjadi lebih sensitif terhadap suhu dingin atau panas. Hal ini umumnya terjadi karena permukaan gigi atau jaringan di sekitarnya masih beradaptasi setelah tindakan dilakukan.

    Pada sebagian besar kasus, rasa ngilu akan berangsur membaik dalam beberapa hari hingga beberapa minggu. Namun, jika keluhan semakin berat atau tidak kunjung hilang, sebaiknya lakukan pemeriksaan kembali ke dokter gigi untuk memastikan tidak ada komplikasi lain.

  8. 8. Kebiasaan menggemeretakkan gigi (bruxism)

    ilustrasi bruxism
    freepik.com/jcomp

    Bruxism merupakan kebiasaan mengatupkan atau menggesekkan gigi secara berlebihan, baik saat tidur maupun ketika sedang stres. Tekanan yang terus-menerus dapat mengikis enamel sehingga lapisan pelindung gigi semakin menipis.

    Akibatnya, gigi menjadi lebih mudah bereaksi terhadap suhu dingin. Selain menimbulkan rasa ngilu, bruxism juga dapat menyebabkan nyeri pada rahang, sakit kepala saat bangun tidur, hingga kerusakan struktur gigi.

  9. 9. Penyakit gusi atau infeksi pulpa

    ilustrasi penyebab gusi pucat
    unsplash.com/Caroline LM

    Peradangan pada jaringan gusi maupun infeksi pada pulpa gigi juga dapat menyebabkan gigi terasa ngilu ketika terkena air dingin. Berbeda dengan gigi sensitif biasa, nyeri akibat infeksi sering kali berlangsung lebih lama dan dapat disertai denyutan, pembengkakan, atau keluarnya nanah.

    Apabila rasa ngilu muncul terus-menerus, semakin berat, atau disertai gejala lain, jangan menunda untuk memeriksakan diri ke dokter gigi. Penanganan sejak dini dapat membantu mencegah kerusakan yang lebih luas sekaligus mempertahankan fungsi gigi.

  10. 10. Kelainan struktur atau perkembangan gigi

    Ilustrasi gigi
    Pexels.com/www.kaboompics.com

    Kelainan pada pembentukan atau struktur enamel juga dapat membuat gigi lebih sensitif terhadap rangsangan dingin. Salah satunya adalah molar-incisor hypomineralization (MIH), yaitu kondisi ketika enamel pada gigi geraham dan terkadang gigi seri terbentuk dengan kualitas mineral yang lebih rendah. Hal ini membuat gigi lebih mudah sensitif dan berlubang bahkan pecah.

    Selain MIH, amelogenesis imperfecta, yaitu kelainan bawaan yang menyebabkan enamel tidak terbentuk dengan normal, juga dapat menyebabkan gigi sensitif dan lebih mudah mengalami keausan atau kerusakan. Hipoplasia enamel, yaitu kondisi ketika enamel terbentuk lebih tipis atau tidak sempurna, juga dapat membuat gigi lebih rentan terhadap sensitivitas.

    Penyebab gigi ngilu saat minum air dingin dapat berasal dari berbagai kondisi seperti enamel yang menipis, gigi berlubang, infeksi, hingga kelainan struktur gigi. Dengan mengetahui penyebabnya, penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi yang mendasarinya.

    Jika rasa ngilu tidak kunjung membaik atau disertai gejala lain seperti nyeri hebat, pembengkakan, atau demam, segera konsultasikan ke dokter gigi untuk mendapatkan diagnosis dan perawatan yang tepat.

    Referensi:

    Le Fur-Bonnabesse A, dkk. "Dental Pain Induced by an Ambient Thermal Differential: Pathophysiological Hypothesis". Journal of Pain Research. Diakses pada Juli 2026.

    Mat Lazin MA, dkk. "Factors Influencing Tooth Sensitivity: Insights From the Hospital Universiti Sains Malaysia Using Bootstrap-Enhanced Ordinal Regression". Cureus. Diakses pada Juli 2026.

    Cleveland Clinic. "Sensitive Teeth". Diakses pada Juli 2026.

    Seow WK. "Developmental Defects of Enamel and Dentine: Challenges for Basic Science Research and Clinical Management". Australian Dental Journal. Diakses pada Juli 2026.

    Quandalle C, dkk. "Gingival Inflammation, Enamel Defects, and Tooth Sensitivity in Children With Amelogenesis Imperfecta: A Case-Control Study". Journal of Applied Oral Science. Diakses pada Juli 2026.

    Dulla JA, Meyer-Lueckel H. "Molar-Incisor Hypomineralisation: Narrative Review on Etiology, Epidemiology, Diagnostics and Treatment Decision". Swiss Dental Journal. Diakses pada Juli 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More