Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install

Agnes Rahajeng: Tumbuh Bersama Keluarga, Melangkah Membanggakan Indonesia

10 min read
Agnes Rahajeng: Tumbuh Bersama Keluarga, Melangkah Membanggakan Indonesia
Popbela.com/Andre Wiredja
  • Agnes Rahajeng memaknai pengalaman, keberanian, dan kegagalan sebagai bagian penting dari proses bertumbuh.

  • Dukungan keluarga mengajarkan Agnes untuk mandiri, berpendidikan, bekerja, dan tidak membiarkan orang lain menentukan dirinya.

  • Saat mewakili Indonesia, Agnes membawa budaya lewat busana serta memaknai Made in Indonesia melalui kebanggaan pada masyarakat, keberagaman, dan akar budaya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Siang itu, matahari Jakarta terasa cukup terik ketika Popbela bertemu dengan Agnes Rahajeng di Rumah Prapanca, Jakarta Selatan. Namun, panasnya udara seolah sedikit terlupakan begitu memasuki kediaman yang dipenuhi koleksi seni, benda-benda antik, dan berbagai sentuhan budaya Indonesia. Berada di antara ruang yang menyimpan begitu banyak cerita tentang negeri ini, suasana photoshoot POPCreator edisi kali ini terasa begitu selaras dengan tema yang kami bawa: Made in Indonesia.

Terlebih, ada Agnes yang sejak awal menyambut dengan senyum dan energi hangatnya. Di tengah jeda pergantian look dan arahan pemotretan, Puteri Indonesia 2026 ini tetap terlihat ceria dan sangat menyenangkan saat diajak berbincang. Kehadirannya seakan menjadi gambaran sederhana tentang sisi Indonesia yang hangat dan ramah. Sesuatu yang mungkin terasa familiar bagi kita, tetapi justru menjadi bagian dari identitas yang layak dibawa ke dunia.

Di balik mahkota yang kini ia kenakan dan pengalamannya mewakili Indonesia di panggung internasional, ada cerita tentang keluarga, nilai-nilai yang membentuknya, hingga caranya memaknai kembali identitas sebagai perempuan Indonesia. Kepada Popbela, Agnes pun berbagi tentang perjalanan tersebut, termasuk apa arti Made in Indonesia baginya.

  1. Makna Pengalaman, Keberanian, dan Kegagalan

    2.jpg
    Popbela.com/Andre Wiredja

    Wardrobe: Lakon Indonesia

    Ketika ditanya mengenai tiga hal yang paling membentuk dirinya hingga menjadi Agnes yang dikenal hari ini, jawabannya bukan tentang pencapaian atau gelar. Pemilik nama lengkap Agnes Aditya Rahajeng ini justru memilih tiga hal yang menurutnya dekat dengan proses bertumbuh, yakni pengalaman baru, keberanian, dan kegagalan.

    Bagi Agnes, setiap pengalaman baru merupakan perjalanan yang mungkin tidak selalu mudah, tetapi selalu membawa sesuatu untuk dipelajari. Begitu pula dengan keberanian. Terjun ke dunia pageant membuatnya menyadari bahwa keberanian bukan berarti seseorang sama sekali tidak memiliki rasa takut.

    “Pageant itu nggak mudah. Ada naik turunnya, dan setiap hari aku belajar untuk menjadi versi diriku yang terbaik, lebih kuat, dan lebih baik,” ungkap Agnes.

    Sementara itu, kegagalan menjadi bagian lain yang tidak kalah penting. Menurutnya, proses menjadi lebih baik tidak hanya datang dari kesuksesan. Kesalahan dan kegagalan pun memiliki peran dalam membentuk seseorang.

    “Bahkan ketika semuanya terasa berantakan dan penuh perjuangan, kita harus tetap belajar,” lanjutnya.

    Menariknya, Agnes kecil sendiri ternyata tidak pernah memiliki gambaran yang benar-benar spesifik mengenai masa depannya. Ia sempat bercita-cita menjadi presiden, fashion designer, model, hingga penyanyi. Karena itu, jika bisa bertemu dengan dirinya saat kecil, Agnes yakin perempuan kecil itu akan cukup terkejut melihat kehidupannya hari ini.

    “Agnes kecil pasti akan sangat bangga dengan aku hari ini. Dia mungkin akan kaget karena aku bisa menjadi Puteri Indonesia dan berkompetisi di tingkat internasional, bahkan mendapatkan gelar Miss Supranational Asia & Oceania,” tuturnya.

  2. Keluarga Mengajarkannya Arti Menjadi Perempuan Mandiri

    LINE UP 3-B-CAROUSELUP 3-A UP 2-B.png
    Popbela.com/Andre Wiredja

    Wardrobe: Lakon Indonesia

    Di balik perjalanan Agnes, keluarga menjadi salah satu bagian paling penting. Anak bungsu dari tiga bersaudara ini tumbuh dalam keluarga yang dekat, suportif, dan penuh kasih sayang. Bagi Agnes, dukungan tersebut menjadi sesuatu yang sangat ia syukuri karena keluarga selalu menjadi sistem pendukung nomor satunya.

    Dari orang tua dan saudara-saudaranya pula, Agnes belajar mengenai arti menjadi seorang perempuan. Sejak kecil, ia diajarkan untuk mandiri, mampu berdiri di atas kaki sendiri, berpendidikan, dan memiliki pekerjaan atau sesuatu yang bisa dibangun untuk dirinya sendiri.

    “Ibu dan kakak-kakakku adalah contoh perempuan yang harus berpendidikan, bekerja, dan tidak menyerah. Jangan membiarkan orang lain menentukan seperti apa seharusnya kita menjadi perempuan, terutama ketika berada dalam situasi yang sulit,” katanya.

    Ada pula satu nilai keluarga yang semakin ia pahami seiring bertambah dewasa, yaitu untuk percaya bahwa setiap hal yang terjadi dalam hidup pada akhirnya membawa seseorang menuju versi dirinya yang lebih baik. Termasuk ketika harus melewati pintu yang tidak pernah direncanakan sebelumnya.

    “Percayalah kepada Tuhan. Ke mana pun hidup membawa kita, itu akan membawa kita menjadi manusia yang lebih baik. Bahkan ketika kita mengalami kegagalan atau sesuatu yang tidak sesuai dengan rencana, mungkin memang itu yang terbaik untuk kita,” jelas Agnes.

    Prinsip tersebut membuatnya belajar untuk tidak hanya mencari pelajaran dari pendidikan formal. Menurut Agnes, proses belajar bisa datang dari siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Orang-orang yang ditemui dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari pun dapat memberikan pelajaran yang akhirnya membentuk cara seseorang melihat dunia.

  3. Menemukan Jalan di Dunia Pageant karena "Iseng"

    LINE UP 2-B.png
    Popbela.com/Andre Wiredja

    Wardrobe: Lakon Indonesia

    Menariknya, menjadi seorang pageant girl bukanlah sesuatu yang sejak kecil Agnes cita-citakan. Sebelum mengikuti Puteri Indonesia, ia justru melihat para pageant sebagai sosok yang glamor, pintar, berbakat, percaya diri, mampu berada di bawah sorotan, sekaligus bisa menghadapi tekanan sambil tetap terlihat sempurna.

    Perempuan kelahiran 13 Januari 2000 ini tidak pernah membayangkan dirinya akan menjadi salah satunya.

    Keputusannya untuk mengikuti Puteri Indonesia pun pada awalnya lebih terasa seperti sebuah kesempatan untuk mencoba pengalaman baru. Dorongan dari media sosial, teman, dan keluarga membuatnya akhirnya memberanikan diri untuk mendaftar.

    “Awalnya aku berpikir, I have nothing to lose. Ini akan menyenangkan, menjadi pengalaman baru, dan aku yakin aku akan belajar banyak,” cerita Agnes.

    Alih-alih datang dengan pikiran bahwa dirinya harus menang, Agnes justru ingin menikmati proses tersebut. Baginya, keputusan untuk mencoba sesuatu yang sebelumnya terasa menakutkan justru menjadi salah satu bentuk keberanian.

    Perjalanan itu kemudian mengajarkannya bahwa rasa takut dan keberanian bisa hadir secara bersamaan. “Berani bukan berarti kita tidak punya keraguan, ketakutan, atau kekhawatiran. Justru keberanian adalah ketika kita tetap melangkah meskipun merasakan semua itu,” ujarnya.

  4. Kisahnya Membawa Nama Indonesia ke Panggung Miss Supranational

    LINE UP 4-A.png
    Popbela.com/Andre Wiredja

    Wardrobe: Wilsen Willim, Accessories: Gelap Ruang Jiwa

    Setelah menjadi Puteri Indonesia 2026, perjalanan Agnes berlanjut ke Polandia untuk mewakili Indonesia di panggung Miss Supranational. Ketika pertama kali tiba di sana, ia bahkan masih merasa seperti sedang bermimpi.

    Pasalnya, baginya pengalaman tersebut bukan hanya tentang mengikuti sebuah kompetisi kecantikan. Ada nama Indonesia yang ia bawa, lengkap dengan budaya dan orang-orang di baliknya.

    Setiap hari, Agnes berusaha memperkenalkan Indonesia melalui apa yang ia kenakan. Mulai dari batik, tenun, aksesori khas Indonesia, hingga busana karya desainer Tanah Air menjadi bagian dari kesehariannya selama berada di Polandia.

    “Rasanya aku bukan hanya membawa namaku sendiri. Aku membawa nama negara, budaya, dan orang-orang Indonesia. Bisa berada di sana saja sudah menjadi sebuah kehormatan dan membuatku bangga,” katanya.

    Di tengah jadwal yang padat dan melelahkan, Agnes mengaku tetap menikmati setiap momennya. Salah satu hal yang paling ia sukai justru adalah kesempatan untuk bertemu perempuan-perempuan dari berbagai negara dan belajar dari mereka.

    Namun, pengalaman paling berat datang pada malam final.

  5. Belajar Bahwa Satu Momen Tak Mendefinisikan Dirinya

    LINE UP 4-B-CAROUSEL.png
    Popbela.com/Andre Wiredja

    Wardrobe: Wilsen Willim, Accessories: Gelap Ruang Jiwa

    Agnes mengakui bahwa penampilannya di malam final Miss Supranational masih menjadi salah satu momen yang cukup membekas. Ia merasa bisa memberikan penampilan yang jauh lebih baik, terutama ketika menyampaikan speech di atas panggung.

    Kesalahan yang terjadi di hadapan jutaan orang dari berbagai penjuru dunia membuatnya sempat kecewa kepada diri sendiri. Bahkan, ketika orang-orang mengucapkan selamat setelah acara berakhir, Agnes mengaku belum bisa langsung merasakan kebanggaan atas pencapaiannya.

    Namun, setelah melalui proses untuk memulihkan diri, ia mulai melihat pengalaman tersebut dari sudut pandang yang berbeda.

    “Kita manusia. Kita melakukan kesalahan. Kita tidak selalu mendapatkan hadiah, mahkota, atau trofi, dan tidak semua penampilan akan berjalan sesuai rencana,” ungkapnya.

    Hal terpenting yang kini sedang ia pelajari adalah untuk tidak membiarkan satu momen mendefinisikan seluruh identitas, pencapaian, dan perjalanan hidupnya.

    “Aku memang berharap bisa melakukan yang lebih baik, tetapi aku tidak ingin menangisi hal yang sama setiap malam. Aku memilih untuk belajar dari pengalaman itu dan bersyukur, karena suatu hari nanti pengalaman ini justru akan membuat aku lebih kuat dan menjadi cerita yang bisa aku ceritakan kepada anak-anakku,” lanjut Agnes.

    Kekecewaan tersebut bahkan membuat Agnes membutuhkan waktu untuk benar-benar pulih. Untungnya, keluarga dan tim di sekitarnya memahami hal itu dan terus memberikan ruang sekaligus dukungan untuknya.

  6. Gelar Miss Supranational Asia & Oceania Menjadi Kebanggaan yang Dimaknai Bersama

    LINE UP 2-A.png
    Popbela.com/Andre Wiredja

    Wardrobe: Sejauh Mata Memandang

    Di malam yang sama, Agnes berhasil meraih gelar Miss Supranational Asia & Oceania 2026. Meski begitu, ia mengaku butuh waktu untuk benar-benar merasa bangga dengan pencapaian tersebut karena pikirannya masih dipenuhi rasa kecewa atas penampilan di malam final.

    Kini, ia melihat gelar tersebut sebagai sebuah pencapaian yang layak dirayakan. Namun, Agnes tidak melihat mahkota itu sebagai sesuatu yang hanya menjadi miliknya. Baginya, ada kerja keras banyak orang yang ikut mengantarkannya sampai ke titik tersebut, mulai dari keluarga, tim, mentor, hingga Yayasan Puteri Indonesia.

    “Mahkota ini bukan hanya milik aku, tapi milik Indonesia,” tegasnya.

    Gelar tersebut juga membuat Agnes semakin bersemangat melihat perjalanan yang masih terbentang di depannya. Setelah melewati berbagai hal yang sulit dan menakutkan, ia merasa semakin yakin bahwa dirinya mampu melakukan hal-hal yang sebelumnya mungkin tidak pernah ia bayangkan.

    “Aku jadi semakin bangga karena tahu aku bisa melakukan sesuatu yang sulit dan menakutkan. Aku bisa mencapai sesuatu yang aku inginkan. Jadi, sekarang aku justru sangat excited melihat ke mana perjalanan ini akan membawa aku selanjutnya,” katanya.

  7. Semakin Jauh Membawa Nama Indonesia, Semakin Besar Rasa Cinta pada Tanah Air

    LINE UP 1-C.png
    Popbela.com/Andre Wiredja

    Wardrobe: Sejauh Mata Memandang

    Pengalaman berada di panggung internasional tidak serta-merta mengubah bagaimana Agnes melihat dirinya sebagai perempuan Indonesia. Namun, model yang besar di Bali ini mengaku satu hal yang berubah adalah rasa bangganya terhadap Indonesia yang semakin besar.

    Terlebih, ia bisa melihat langsung bagaimana perjalanan yang ia jalani memberikan dampak kepada orang lain. Beberapa orang mengirimkan pesan kepadanya dan mengatakan bahwa mereka merasa lebih percaya diri dengan warna kulit, bentuk tubuh, maupun diri mereka sendiri setelah melihat perjalanan Agnes.

    Ada pula yang mengaku terinspirasi untuk membuat gerakan dan menjadi lebih peduli terhadap orang-orang di sekitarnya. Salah satunya berkaitan dengan Rahajeng Closet yang ia bangun bersama kedua kakaknya, Maria Rahajeng dan Elizabeth Rahajeng.

    Bagi Agnes, respons tersebut menjadi salah satu hal paling membahagiakan dari perjalanan yang ia jalani. Sebab, menurutnya, menjadi representasi Indonesia bukan hanya tentang membawa pulang gelar, tetapi juga bagaimana pengalaman tersebut bisa memberikan sesuatu kepada orang lain.

    Lalu, ketika mendengar kata Made in Indonesia, satu kata yang langsung muncul di kepalanya adalah joy.

    “Aku melihat begitu banyak hal indah di Indonesia. Bukan hanya alamnya, tetapi juga fashion, budaya, bahasa, musik, dan makanan. Ketika mendengar sesuatu yang dibuat oleh Indonesia, rasanya hangat di hati dan membuat aku bangga,” ungkapnya.

    Namun, ada satu hal yang menurut Agnes justru membuatnya semakin mencintai Indonesia setelah melihat dunia dari panggung internasional ialah masyarakatnya.

    “Orang-orang Indonesia itu yang membuat aku semakin cinta sama negara ini,” katanya.

  8. Indonesia adalah Tentang Keberanian, Humor, dan Kemampuan untuk Terus Bertahan

    LINE UP 1-B- CAROUSEL.png
    Popbela.com/Andre Wiredja

    Wardrobe: Sejauh Mata Memandang

    Jika harus memilih satu karakter yang paling menggambarkan masyarakat Indonesia, Agnes sempat menyebut kata resilient. Baginya, masyarakat Indonesia adalah orang-orang yang kuat dan mampu menghadapi berbagai kesulitan, lalu menjadikannya sebagai kekuatan untuk tumbuh lebih jauh.

    Ada satu karakter lain yang menurutnya tidak kalah khas: orang Indonesia itu lucu.

    Menurut Agnes, humor memang sering kali menjadi cara untuk menghadapi situasi sulit, tetapi di saat yang sama juga menjadi sesuatu yang mampu menyatukan banyak orang.

    Ketika ditanya apa yang akan ia perkenalkan kepada orang asing jika hanya punya satu kesempatan untuk menunjukkan Indonesia, Agnes pun kesulitan memilih. Ada terlalu banyak hal yang menurutnya layak dibanggakan, mulai dari fashion, seni pertunjukan, budaya, hingga makanan.

    Namun, ia punya satu cara paling sederhana untuk memperkenalkan Indonesia, yakni dengan makan bersama.

    “Cara paling cepat untuk terhubung dengan seseorang adalah melalui makanan. Kita bisa berbagi makanan Indonesia, berbagi cerita, lalu merasakan kehangatan dari budaya seseorang,” tuturnya.

    1.jpg
    Popbela.com/Andre Wiredja

    Wardrobe: Sejauh Mata Memandang

    Hal tersebut juga terasa dalam caranya memandang fashion Indonesia. Agnes tidak percaya bahwa Indonesia bisa direpresentasikan hanya lewat satu look. Menurutnya, fashion Indonesia terlalu beragam karena ada begitu banyak desainer dengan gaya, selera, dan inspirasi masing-masing.

    Justru keberagaman itulah yang ia sukai.

    “Aku suka bahwa fashion Indonesia tidak takut untuk tampil berbeda, tetapi tetap menghargai warisan dan apa yang ditinggalkan oleh para leluhur. Aku suka bagaimana sesuatu yang modern bisa berkolaborasi dengan tradisional,” jelas Agnes.

    Di tengah dunia yang semakin bebas untuk mengekspresikan diri, Agnes percaya bahwa seseorang tetap bisa mengikuti perkembangan zaman tanpa melupakan dari mana ia berasal.

    Dan mungkin, di situlah makna Made in Indonesia bagi Agnes terasa paling personal. Menjadi perempuan yang berani melangkah jauh, tanpa harus meninggalkan akar yang membentuk dirinya.

    Credit:

    Photographer: Andre Wiredja

    Fashion & Beauty Editor: Michael Richards

    Stylist: TBM Yudi

    Makeup & Hair: Glam Studio by Mustika Ratu, Dedeon, Adhe Eragon

    Interview by: Windari Subangkit

    POPBELA.com crew: Natasha Cecilia

    3.jpg
    Popbela.com/Andre Wiredja

    Wardrobe: Wilsen Willim, Accessories: Gelap Ruang Jiwa

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More