Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install

10 Alasan untuk Stop The Wedding, Kenali Berbagai Red Flag-nya

5 min read
10 Alasan untuk Stop The Wedding, Kenali Berbagai Red Flag-nya
pexels.com/Владимир Высоцкий
  • Calon pengantin perlu mempertimbangkan penghentian rencana nikah bila pasangan melakukan kekerasan, manipulasi, kebohongan berulang, perselingkuhan, atau kontrol berlebihan terhadap kehidupan pribadi.

  • Konflik tanpa penyelesaian, hilangnya kebebasan menjadi diri sendiri, ketimpangan tanggung jawab rumah tangga, serta ketidakjujuran finansial menjadi tanda hubungan perlu dievaluasi sebelum menikah.

  • Perbedaan prinsip hidup, konflik dengan calon mertua tanpa batasan sehat, dan keputusan menikah karena tekanan usia atau keluarga perlu dibicarakan; pernikahan harus menjadi pilihan sadar kedua pihak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Belakangan ini, istilah stop the wedding ramai dibicarakan untuk mengingatkan para calon pengantin agar lebih peka terhadap tanda bahaya dalam hubungan. Jangan sampai keinginan untuk segera menikah membuatmu mengabaikan berbagai red flag yang sebenarnya sudah terlihat sejak lama di hubunganmu.

Nah, agar kamu tidak ikut terjebak, yuk simak deretan alasan untuk stop the wedding yang perlu kamu perhatikan. Yuk, simak daftarnya berikut ini!

  1. 1. Pasangan melakukan kekerasan

    alasan untuk stop the wedding
    pexels.com/Timur Weber

    Kekerasan fisik, verbal, maupun emosional merupakan red flag serius yang tidak boleh kamu anggap hal sepele, Bela. Misalnya, pasangan pernah memukul, mengancam, menghina, atau sengaja membuatmu merasa takut.

    Jangan sampai kamu berpikir pernikahan akan otomatis mengubah perilakunya. Pasalnya, cinta bukan alasan untuk mempertaruhkan keselamatan diri sendiri. Jika pasanganmu pernah melakukan kekerasan padamu, coba pertimbangkan kembali rencana pernikahanmu.

  2. 2. Pasangan sering berbohong dan berselingkuh

    Alasan untuk stop the wedding selanjutnya yaitu pasanganmu sering berbohong, bahkan selingkuh. Kebohongan dan perselingkuhan yang terjadi berulang kali sebelum menikah, biasanya bisa menjadi gambaran mengenai hubungan rumah tanggamu di masa depan.

    Tak ada jaminan, status menikah bisa membuat orang yang pernah berselingkuh benar-benar berubah, ya. Polanya justru cenderung berulang, saat ketahuan selingkuh, ia akan minta maaf dan berjanji tidak mengulanginya. Namun biasanya akan ketahuan lagi.

    Jika pasanganmu berulang kali berbohong, menyembunyikan sesuatu, atau berselingkuh tanpa menunjukkan tanggung jawab atas tindakannya, kamu patut mempertimbangkan kembali hubungan tersebut.

  3. 3. Pasangan terlalu mengontrol kehidupanmu

    alasan untuk stop the wedding
    pexels.com/Timur Weber

    Mendapat pasangan yang perhatian memang hal yang menyenangkan. Namun, hal ini juga bisa jadi kode bahaya jika diikuti upaya mengontrol dan membatasi kebebasan pribadimu. Pasangan yang selalu mengatur pakaian, pertemanan, pekerjaan, hingga aktivitas sehari-hari bisa menjadi tanda hubungan yang tidak sehat.

    Apalagi jika ia melarangmu bertemu keluarga atau teman dengan alasan cemburu. Hubungan yang sehat seharusnya memberikan rasa aman, bukan membuatmu kehilangan kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Ia boleh menyampaikan kekhawatiran atau pendapat, tetapi bukan berarti berhak menentukan seluruh keputusan hidupmu, ya.

  4. 4. Sering bertengkar tanpa penyelesaian

    Perbedaan pendapat dalam hubungan pastinya selalu ada. Namun, jika setiap konflik berakhir dengan saling menyalahkan atau mendiamkan satu sama lain berhari-hari (silent treatment), masalah tersebut justru makin sulit diselesaikan.

    Apalagi jika kamu jadi sering merasa tertekan, cemas, bahkan membayangkan hidup lebih tenang tanpa pasangan. Hal itu bisa menjadi tanda serius kamu perlu stop the wedding, Bela.

  5. 5. Kamu tidak bisa menjadi diri sendiri

    alasan untuk stop the wedding
    pexels.com/Alex Green

    Apakah kamu merasa harus selalu menjaga sikap agar pasanganmu tidak marah? Jika kamu sering menyembunyikan pendapat, impian, dan kepribadianmu demi menyenangkan dirinya, coba evaluasi kembali hubungan tersebut.

    Pasangan yang tepat seharusnya bisa menghargai dirimu, termasuk saat kamu memiliki pendapat yang berbeda. Sebelum menikah, pastikan kamu dan pasangan bisa saling menerima kekurangan, merendahkan ego, dan ingin terus tumbuh bersama. Bukan berarti memaklumi sikap atau kebiasaan buruk, melainkan berusaha menjadi yang terbaik untuk satu sama lain.

  6. 6. Pasangan tidak mau berbagi tanggung jawab

    Urusan rumah tangga bukan hanya tanggung jawab salah satu pihak, lho. Jika pasanganmu menganggap memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah, hingga mengurus anak sepenuhnya menjadi tugas seorang istri, maka kamu perlu membicarakannya kembali sebelum menikah.

    Bukan soal siapa yang harus mengerjakan semuanya 50:50 setiap saat, melainkan apakah keduanya mau sama-sama berkontribusi dan saling meringankan beban ke depannya. Sebab, kamu mencari pasangan hidup, bukan mencari orang yang hanya akan menambah beban pekerjaanmu setiap harinya.

  7. 7. Tidak jujur soal keuangan

    alasan untuk stop the wedding
    pexels.com/Kaboompics.com

    Masalah finansial juga termasuk alasan untuk stop the wedding jika tidak ditangani dengan serius. Misalnya, pasangan menyembunyikan utang, tidak terbuka soal penghasilan, atau memiliki kebiasaan berjudi yang merugikan.

    Punya utang tidak otomatis menjadi red flag, tetapi ketidakjujuran dan sikap tak bertanggung jawab terhadap keuangan bisa memengaruhi kehidupan rumah tangga nantinya. Jadi, sebelum menikah, coba saling terbuka dengan kondisi keuangan masing-masing. Jangan sampai kamu baru tahu kondisi finansial pasangan usai ikut menanggungnya, ya.

  8. 8. Punya prinsip hidup yang bertolak belakang

    Saat kamu memutuskan menikah dengan pasangan, cinta saja tidak cukup untuk menyatukan dua arah hidup yang bertolak belakang, lho. Misalnya, kamu ingin tinggal mandiri, dia bersikeras harus tinggal bersama orang tuanya atau ingin tetap bekerja setelah menikah, namun ia berharap kamu berhenti.

    Perbedaan dalam hubungan tidak selalu menjadi masalah, tetapi jika kamu dan pasangan tidak bisa menemukan kesepakatan dalam hal-hal mendasar, jangan buru-buru melangkah ke pelaminan, ya. Sebab, jangan berharap semuanya akan selesai setelah menikah. Kamu tetap perlu kesepakatan terkait visi misi yang ingin dibangun bersama ke depannya.

  9. 9. Punya hubungan buruk dengan calon mertua

    alasan untuk stop the wedding
    pexels.com/Tima Miroshnichenko

    Ada yang bilang pernikahan bukan hanya menikahi pasangan yang kamu cintai saja, tetapi menikahkan antara kedua keluarga. Hal itu benar adanya, lho. Jika selama pacaran sudah muncul perdebatan-perdebatan tertentu kaitannya dengan keluarga, membatalkan pernikahan mungkin bisa menjadi keputusan terbaik.

    Apalagi jika keluarga sering ikut campur dalam urusan pribadimu dan pasangan, sementara pasanganmu selalu membela keluarganya tanpa mau mendengarkan perasaanmu. Pastikan pasanganmu mampu membangun batasan yang sehat agar kehidupan rumah tanggamu tidak terus diwarnai konflik keluarga.

  10. 10. Menikah karena tekanan orang lain

    Merasa dikejar usia, takut mengecewakan orang tua, atau malu membatalkan persiapan pernikahan bisa membuatmu tetap melangkah meskipun sebenarnya ragu. Kondisi seperti ini pasti sering kamu temukan dalam kehidupan sehari-hari.

    Padahal, pernikahan seharusnya menjadi keputusan sadar dari kedua belah pihak. Coba tanyakan kepada diri sendiri, jika tidak ada tekanan dari siapa pun, apakah kamu tetap ingin menikah dengan pasanganmu saat ini?

    Itu dia sepuluh alasan untuk stop the wedding yang perlu kamu perhatikan. Beberapa persoalan di atas sebenarnya masih bisa dibicarakan dan diperbaiki bersama, selama kedua pihak mau berusaha. Namun, jika ada kekerasan, ancaman, atau perilaku manipulatif, jangan mengabaikannya demi mempertahankan rencana pernikahanmu, ya!

Related Articles

See More