7 Pelajaran dari Film 'Suka Duka Tawa', Komedi untuk Rekonsiliasi

- Pergi dari masalah bukanlah solusi, membuka dialog dan saling pengertian lebih bermakna.
- Mengubah tragedi hidup sebagai komedi bisa menjadi cara untuk sembuh dari luka.
- Hubungan persahabatan juga bisa diuji oleh kesalahpahaman, namun pada akhirnya akan bertumbuh bersama.
Film Suka Duka Tawa jadi salah satu film pembuka di awal tahun 2026 ini. Film karya BION Studios tersebut dibintangi oleh Rachel Amanda, Teuku Rifnu Wikana, dan Marissa Anita sebagai sebuah keluarga kecil yang penuh konflik. Film debut layar lebar penyutradaraan Aco Tenriyagelli ini membawa ruang diskusi bagi banyak orang, termasuk bagaimana komedi akhirnya menjadi sebuah medium penerimaan dan berdamai dengan luka.
Sesuai dengan judul filmnya, penonton benar-benar dibuat tertawa, menangis, geram, hingga gemas dengan kisah hidup Tawa (Rachel Amanda) bersama kedua orang tuanya. Tak hanya itu, kehadiran para komika yang menjadi support system dan sahabat bagi Tawa turut mewarnai cerita. Banyak hal yang diangkat dalam film ini termasuk dengan pesannya yang cukup menyentuh. Ada isu fatherless, kehidupan komunitas komika, hingga luka orang tua dan anak. Berikut beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari film Suka Duka Tawa.
1. Meninggalkan belum tentu jadi pilihan yang terbaik

Pertengkaran rumah tangga yang diliputi faktor ekonomi membawa kehidupan keluarga Tawa, Bapak Keset (Teuku Rifnu Wikana), dan Ibu Cantik (Marissa Anita) diambang kehancuran. Rumah tersebut akhirnya terpecah, saat Keset tak sengaja melukai kening anaknya yang masih kecil itu saat sedang marah. Merasa bersalah, Keset justru memilih pergi dari kehidupan Cantik dan Tawa selama 20 tahun. Ia ingin membuktikan cintanya, namun dengan cara yang salah.
Bukannya bahagia, Tawa dan Cantik justru hidup dalam luka selama 20 tahun. Terkadang, pergi atau lari dari masalah bukanlah hal yang terbaik. Bukannya menyelesaikan masalah, ini justru menambah masalah baru, terutama tentang kesalahpahaman. Membuka dialog, menyampaikan isi hati, dan saling pengertian akan lebih bermakna dari pada harus pergi.
2. Tragedi menjadi komedi

Sama seperti yang pernah diungkap oleh Rachel Amanda, film Suka Duka Tawa menceritakan sebuah tragic comedy. Sebuah masalah yang pilu ditertawakan, tapi ternyata related dengan banyak orang. Tawa memiliki kehidupan keluarga yang tak baik-baik saja. Dari kehidupan awal yang penuh suka dan harmonis menjadi kehidupan keluarga yang berantakan. Ia bahkan ditinggal oleh ayahnya yang merasa bersalah dan berpikir kalau anak dan istrinya lebih baik tanpa kehadirannya di rumah.
Rasa dendam sekaligus rindu kerap datang di hati Tawa untuk sang ayah. Ia benci melihat ayahnya sukses di dunia hiburan, sementara dirinya dan sang ibu hidup dalam kesulitan. Sampai suatu hari ia sadar kalau bakat melawak ayahnya juga ia miliki. Dari sana, ia mulai mengubah tragedi hidupnya sebagai komedi, “dark jokes”, yang membuat banyak orang related dan terhibur. Seperti Tawa, beberapa orang mungkin memilih menertawakan tragedi hidupnya. Ini menjadi salah satu cara untuk sembuh dari luka dan melupakan sejenak kesulitan yang dihadapi.
3. Persahabatan itu nggak selalu baik-baik saja

Film ini juga memperlihatkan sisi realistis dari sebuah persahabatan. Tawa bersama para sahabatnya, Rais (Arif Brata), Fachri (Gilang Bhaskara), Iyas (Bintang Emon), dan Adin (Enzy Storia) menghadapi pahit manis kehidupan. Namun, semua temannya ini selalu mendukung mimpi Tawa dan ibunya. Mereka ada di saat Tawa butuh dan selalu memberikan pendapat atau saran ketika diperlukan. Sayangnya, persahabatan mereka sempat diuji karena kesalahpahaman.
Tawa merasa teman-temannya itu keterlaluan karena me-roasting ayahnya dalam sebuah open mic di komunitas, padahal itu adalah ide dari ayahnya sendiri dan sebagai bentuk dukungan untuk Tawa agar kembali ke panggung stand-up. Kadang, hal yang kita anggap benar dan baik, belum tentu diterima oleh sahabat kita. Mungkin, caranya yang salah. Tawa juga tak berusaha untuk mengerti sahabat-sahabatnya itu, karena baginya yang boleh menjelekkan sang ayah hanyalah dirinya.
Sampai akhirnya, mereka kembali berbaikan dengan saling memaafkan dan pengertian. Kisah mereka menggambarkan realitas sebuah hubungan yang walau mungkin dianggap support system terbaik pun, tetap tidak akan selalu baik-baik saja. Tapi, pada akhirnya akan bertumbuh bersama dan semakin lekat lagi.
4. Luka yang terpendam, disembunyikan, hingga meledak

Salah satu pelajaran lain yang dipetik adalah jangan terlalu lama memendam dan menyembunyikan luka. Ini bisa membuat luka tersebut semakin parah yang mungkin menjadi bom waktu. Seperti Ibu Cantik, ia memiliki luka ditinggalkan orang yang ia sayangi, sampai akhirnya menjaga putri semata wayangnya untuk tetap bersama dia dan menganggapnya pengkhianat saat kembali dengan dengan Bapak Keset. Luka tersebut ia pendam tanpa mau diobati atau diutarakan langsung, sampai akhirnya ia meledak dan menyalahkan anaknya.
Hal ini memperlihatkan bahwa luka yang tak kunjung diatasi bukan hanya merampas kebahagiaan sendiri, tapi juga bisa berpengaruh pada orang lain. Setiap orang punya cara tersendiri untuk menyembuhkan luka. Oleh karena itu, coba sembuhkan lukamu dengan cara yang kamu anggap nyaman, baik itu pergi ke profesional atau cerita ke orang yang kamu percayai yang dapat membantu kamu untuk sembuh.
5. Kreativitas yang buka sebuah rekonsiliasi

Cerita Ibu Cantik dan Bapak Keset memperlihatkan rumitnya rumah tangga. Pasangan suami istri dengan segala dinamika permasalahannya mulai dari ekonomi, komunikasi yang tak baik, mental tak stabil, yang akhirnya saling melukai. Rasa bersalah, perbedaan merespons masalah, dan cara pandang masing-masing serta ego memperburuk ikatan mereka.
Di sini terlihat bahwa komedi dan kreativitas kadang bisa menjadi sebuah pisau tajam yang memisahkan, namun bisa juga menjadi sarana untuk rekonsiliasi. Melalui stand up, Tawa akhirnya bertemu dengan ayahnya. Di sinilah keduanya saling melepas rindu, meluapkan perasaan yang tak sempat terkatakan, dan memperoleh kejelasan dari apa yang terjadi selama ini. Meski sempat diwarnai drama dengan Ibu Cantik, tapi akhirnya mereka bisa saling melepaskan ego, memahami satu sama lain dan memulai kehidupan baru yang lebih harmonis.
6. Menurunkan ego dan komunikasi

Salah satu yang membuat hubungan renggang, retak, dan dingin adalah ego yang kuat dan tak ada yang mau mengalah. Hal ini pula yang dialami oleh Bapak Keset dan Ibu Cantik, dua-duanya sama-sama merasa benar sampai tak sadar yang akhirnya semakin terluka adalah anaknya. Komunikasi pun tertutup sehingga semua kesalahpahaman tak bisa dihindari lagi.
Namun, setelah sadar bahwa sikap mereka tak hanya menyakiti diri sendiri tapi juga putri kesayangan mereka, keduanya akhirnya menurunkan ego dan mulai berkomunikasi lagi. Saling menyampaikan isi hati serta pikiran yang selama ini hanya dipendam. Setelahnya, mereka mulai saling memahami dan menjadi dewasa dalam emosi. Mereka bahkan kompak untuk mendukung Tawa dalam setiap bidang kehidupannya terutama kariernya. Keduanya melihat bahwa cinta itu sebenarnya ada, hanya salah dipahami dan kurang disampaikan dengan baik.
7. Tidak ada orang tua yang sempurna

Film ini juga mengajarkan bahwa tidak ada orang tua yang sempurna di dunia ini. Baik anak maupun orang tua sama-sama belajar dari satu sama lain. Terkadang, orang tua punya pemikirannya sendiri yang mereka anggap benar dan baik, walaupun itu mungkin tidak nyaman untuk anaknya. Seperti Ibu Cantik yang harus terlihat kuat dan menyudutkan Bapak Keset karena itulah yang ia yakini benar dan sebagai tameng bertahan hidup. Sementara Bapak Keset berpikir kalau melihat dan membantu dari jauh akan membuat keluarganya lebih bahagia. Keegoisan mereka pun membuat Tawa serba salah, dilema, dan akhirnya merasa sendiri.
Tapi, itulah yang menandakan kalau semuanya adalah manusia. Setiap orang tak mungkin melakukan sesuatu secara sempurna, tapi dari ketidaksempurnaan itu kita bisa belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Di sinilah momen untuk saling mengerti, menerima, memberi dukungan dan mengungkapkan kepedulian.
Itulah beberapa pelajaran yang didapat dari film Suka Duka Tawa.


















