Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenalan dengan Solo-Maxxing, Kala Gen-Z Embrace Single Life

Kenalan dengan Solo-Maxxing, Kala Gen-Z Embrace Single Life
unsplash.com/gaspar-zaldo
Intinya Sih
  • Solo-maxxing adalah tren di kalangan Gen Z yang memilih hidup single sebagai gaya hidup sadar, bukan sekadar fase, karena dianggap lebih efisien dan memberi kebebasan pribadi.
  • Tekanan ekonomi dan biaya kencan yang tinggi menjadi pemicu utama munculnya fenomena ini, membuat banyak anak muda menilai hubungan romantis sebagai hal yang mahal dan tidak prioritas.
  • Tren ini mendorong kemandirian dan fokus pada pengembangan diri, namun juga memiliki risiko isolasi sosial jika dijalani tanpa keseimbangan dalam menjalin relasi dengan orang lain.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Gen-Z selalu menciptakan tren, nggak terkecuali terkait kehidupan asmara. In this economy, pacaran, menikah, atau berkeluarga bisa jadi hal yang mewah. Nggak jarang juga ada yang waktunya hanya habis untuk bekerja dan diri sendiri, sampai akhirnya nggak punya waktu untuk bersosialisasi atau membuka hubungan baru. Berangkat dari hal-hal ini, Gen-Z pun nggak sedikit yang memilih untuk single dan menikmati hidupnya. 

Fenomena ini disebut dengan istilah solo-maxxing. Kamu mungkin pernah dengar istilah ini beberapa waktu terakhir. Mengutip dari Guardian, “Solo-maxxing” adalah memilih untuk tetap lajang karena biaya mempertahankan hubungan itu terlalu mahal. Yuk, kenalan lebih jauh dengan istilah yang lagi viral di kalangan Gen-Z ini. 

Table of Content

1. Apa itu solo-maxxing?

1. Apa itu solo-maxxing?

Solo-Maxxing
pexel.com/cottonbro

Mengutip dari Psychology Today, istilah “maxxing” sedang ramai digunakan di media sosial. Ada istilah-istilah seperti “fibermaxxing”, “looksmaxxing”, dan bahkan “climaxxing”. Kata ini berarti memaksimalkan sesuatu atau mendorong semua orang untuk memaksimalkan sesuatu. Nah, kini yang sedang tren, terutama di kalangan Generasi Z dan Milenial, adalah “solo-maxxing”

“Solo-maxxing” adalah tentang memilih untuk tetap single. Istilah ini mengubah persepsi tentang status lajang menjadi sesuatu yang diinginkan, bukan sekadar fase sementara. Banyak unggahan di berbagai platform media sosial yang mempromosikan fenomena ini, di mana mereka  merangkul kehidupan lajang dan manfaatnya.

2. Alasan munculnya fenomena solo-maxxing

Solo-Maxxing
pexel.com/budgeron-bach

Kondisi dan tekanan ekonomi disebut jadi pemicu munculnya fenomena ini. Di dunia yang sekarang serba mahal dan harga yang meningkat, punya pasangan dinilai bisa menghabiskan lebih banyak uang dibanding dengan hidup sendiri. Hubungan dianggap sebagai barang mahal yang nggak lagi penting banget untuk dimiliki. 

Mengutip dari Guardian, data dari Indeks Kemajuan Keuangan Riil Bank of Montreal tahun 2026 yang dirilis pada bulan Februari 2026, menunjukkan bahwa biaya rata-rata Gen Z di Amerika Serikat untuk sekali kencan, termasuk makan, minum, transportasi, dan perawatan diri, kini mencapai $205 atau sekitar Rp3,6 juta. 

Di negara lain mungkin nominalnya tak sama, tapi mungkin gambaran kondisinya mirip. Kencan, jadi sesuatu yang mahal untuk Gen Z, terutama mereka yang kesulitan secara ekonomi karena banyak lapangan kerja juga yang menyempit karena hadirnya AI (Artificial Intelligence). 

Namun di sisi lain, pada tahun 2025, Joseph Rowntree Foundation memperkirakan bahwa orang dewasa usia kerja yang single membutuhkan £30.500 bruto per tahun untuk mencapai standar hidup minimum yang layak, sementara pasangan usia kerja membutuhkan £43.000 secara total, yang berarti masing-masing £21.500. 

Jadi, melajang justru menghabiskan £9.000 lebih banyak per tahun daripada menjalin hubungan. Meski jadi perdebatan, tapi beberapa orang merasa lebih nyaman untuk hidup sendiri dibanding harus menjalin hubungan lagi, terutama buat mereka yang merupakan sandwich.

3. Jadi skill yang harus dimiliki

Solo-Maxxing
pexel.com/rdne

Para netizen mengatakan kalau solo-maxxing adalah kemampuan untuk melakukan segala sesuatu sendiri tanpa bergantung atau mengandalkan orang lain. Mereka bahkan mengklaim kalau ini jadi keterampilan nomor satu yang harus Gen Z pelajari dan kuasai di usia dua puluhan.

Biasanya, mereka yang menjalani solo-maxxing ini suka mengabadikan hari-harinya dan mengunggahnya ke media sosial. Kegiatan yang mereka lakukan seperti, olahraga seperti running, makan di restoran, nonton bioskop sendiri. Mereka juga jadi suka untuk melakukan investasi atau menyusun rancangan keuangan masa depan. Hobi-hobi kreatif yang sempat tertunda, biasanya mulai dilakukan untuk memanfaatkan hidup sebagai lajang.

4. Bikin lebih tenang dan mandiri

Solo-Maxxing
pexels.com/esma-atak

Masih mengutip dari Psychology Today, manfaat yang sering digembar-gemborkan tentang tren ini adalah memberikan ketenangan pikiran. Penganut solo-maxxing meyakini kalau menjalin hubungan romantis yang toxic dan penuh drama, jauh lebih mengganggu daripada jadi single

Dalam survei MyIQ terbaru yang melibatkan 14.380 orang dewasa di Amerika Serikat, Amerika Latin, Eropa, Australia, dan sebagian Afrika, hampir setengah dari responden berusia 18 hingga 34 tahun menyatakan bahwa menjadi lajang terasa lebih damai daripada menjalin hubungan.

Selain itu, dengan melajang kamu bisa lebih independen atau mandiri. Orang yang single mungkin hidupnya lebih stabil daripada mereka yang memiliki pasangan. Hal ini karena stabilitas lebih berkaitan dengan apa yang kamu miliki di dalam diri daripada dengan siapa kamu saat ini.

5. Dapat fokus untuk berkembang 

Solo-Maxxing
pexels.com/amina-filkins

Solo-maxxing membuatmu lebih punya banyak waktu dan energi untuk diri sendiri. Ini bisa digunakan untuk menyusun kembali segala aspek kehidupanmu dengan lebih baik, seperti mengembangkan persahabatan, karier, stabilitas finansial, dan kebugaran fisik. 

Pasalnya, nggak sedikit orang yang jadi tak berkembang karena terlalu mengikuti ‘perintah’ atau ekspektasi pasangannya. Dengan fokus pada diri sendiri, kamu bisa melakukan apa pun yang kamu inginkan untuk kehidupanmu dalam jangka panjang tanpa harus mempertimbangkan pemikiran orang lain. 

6. Risiko solo-maxxing

Solo-Maxxing
pixabay/Surprising_Media

Setiap hal dan keputusan punya risikonya masing-masing, ini termasuk saat kamu memilih untuk mengikuti tren solo-maxxing. Tren ini nggak cocok juga untuk semua orang, terutama buat kamu yang di lubuk hatinya sebenarnya merasa sangat kesepian, terisolasi, dan tertekan, namun tetap berusaha menampilkan sisi positif di depan publik. 

Solo-maxxing berpotensi jadi alasan orang-orang yang bertipe avoidant untuk menghindar dari menghadapi pasang surut alami dalam hubungan, konflik dan rasa sakit hati, yang seharusnya dihadapi saja karena tak ada hubungan yang sempurna. Tren ini bisa menjadi masalah besar, terutama ketika hal itu lebih berfokus pada menghindari orang lain dan hubungan apa pun secara umum. 

Ada batasnya kamu untuk sendirian. Terlalu tenggelam dalam diri sendiri bisa memberikan rasa aman yang palsu, di mana perspektifmu tentang diri sendiri dan segala hal lain tidak pernah dipertanyakan atau ditantang. Ini bisa memunculkan bibit narsistik dan egois, ketika semua harus sesuai dengan maumu.

Menjalin hubungan dengan orang lain, nggak selalu tentang hubungan romantis, itu juga perlu agar kamu bisa melihat sudut pandang lain tentang kehidupan yang akhirnya membantumu untuk lebih berkembang. 

Jadi, jika kamu memang sengaja dan sadar memilih untuk tetap lajang, cobalah pahami dengan jelas alasannya. Apa motivasi kamu? Jika tujuannya untuk membantu dirimu tumbuh dan berkembang, itu bagus. Pastikan kamu memiliki cara lain untuk menjalin hubungan dengan orang lain selama proses tersebut. Namun, jika justru disebabkan oleh rasa takut, mungkin kamu perlu berusaha mengatasi rasa takut itu.

Tren solo-maxxing bisa menjadi hal yang bagus jika membantu semua orang lebih memikirkan dengan matang soal kencan dan hubungan. Punya hubungan yang sehat bisa membuatmu bahagia juga kok, sama seperti menjadi lajang. Manusia, pada dasarnya, adalah makhluk sosial. Dan hidup bukanlah pertunjukan solo, meski nggak ada salahnya juga sesekali bersikap demikian. 

Itulah fakta tentang tren solo-maxxing yang lagi ramai diperbincangkan.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Natasha Cecilia Anandita
EditorNatasha Cecilia Anandita

Related Articles

See More