Mengapa Quiet Luxury Tetap Digemari hingga Kini?

Dalam beberapa tahun terakhir, industri fashion mengalami perubahan signifikan dalam preferensi konsumen yang mulai mengutamakan kesederhanaan dan kualitas dibandingkan tampilan yang mencolok.
Quiet luxury menjadi salah satu contoh nyata dari perubahan tersebut.
Fenomena ini kemudian memunculkan pertanyaan bagi sebagian orang. Mengapa quiet luxury tetap digemari hingga kini di tengah tren mode yang terus berubah?
Untuk mengetahui jawaban lengkapnya, simak ulasan Popbela berikut ini.
1. Perubahan nilai konsumen

Perubahan cara pandang terhadap kemewahan membuat quiet luxury semakin relevan, karena konsumen kini tidak lagi terpaku pada simbol status yang mencolok seperti pada konsep conspicuous consumption, melainkan bergeser ke pengalaman yang lebih subtil dan bermakna.
Riset dalam Journal of Retailing and Consumer Services menunjukkan bahwa pergeseran ini dipicu oleh meningkatnya apresiasi terhadap intrinsic value, mulai dari kualitas material, craftsmanship, hingga detail produksi (dibandingkan sekadar logo yang mudah dikenali).
Dalam konteks ini, quiet luxury dipahami sebagai bentuk inconspicuous consumption yang menekankan keahlian, heritage, dan mutu produk sebagai sumber utama nilai.
Hasilnya, kemewahan tetap menjadi bagian dari gaya hidup, tetapi diekspresikan dengan cara yang lebih tenang dan tidak berlebihan, seolah tanpa usaha untuk terlihat mewah.
2. Pengaruh minimalisme dan gaya hidup "less but better"

Fenomena quiet luxury juga didorong oleh semakin kuatnya pengaruh minimalisme dalam gaya hidup modern.
Penelitian di Psychology & Marketing (Wiley) menunjukkan bahwa kelompok yang disebut inconspicuous minimalists cenderung memilih produk mewah yang tidak mencolok karena mereka lebih mengutamakan kualitas dibanding kuantitas.
Mereka biasanya hanya memiliki sedikit barang, tetapi dengan standar mutu tinggi, serta menghindari logo besar maupun tren yang cepat berubah.
Pilihan mereka juga cenderung jatuh pada desain yang timeless dan fungsional, sehingga bisa dipakai dalam jangka panjang tanpa terlihat ketinggalan zaman.
Hal ini membuat quiet luxury menjadi sejalan dengan prinsip hidup "less but better", di mana kesederhanaan justru dipandang sebagai bentuk kemewahan yang paling modern.
3. Reaksi terhadap "overbranding" dan budaya logo

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak orang merasa jenuh dengan tren fashion yang terlalu menonjolkan logo besar. Oleh karena itu, muncul quiet luxury sebagai "jawaban balik" dari tren tersebut.
Konsumen kini lebih memilih gaya yang tidak terlalu mencolok, dengan tampilan yang sederhana namun tetap elegan dan tidak lekang oleh waktu (timeless elegance).
Fokusnya bergeser ke kualitas pengerjaan (craftsmanship) dan sejarah atau warisan brand (heritage), bukan sekadar tampilan logo.
4. Status sosial kini lebih "terkode", bukan eksplisit

Sekarang, cara orang menunjukkan status sosial tidak lagi harus terlihat jelas seperti dulu. Kalau sebelumnya kemewahan sering ditunjukkan lewat logo besar dan mudah dikenali, kini justru bergeser menjadi lebih tersembunyi dan halus.
Dalam teori fashion dan budaya, kelompok elite cenderung mengubah cara mereka “berkomunikasi” lewat pakaian agar tidak terlalu mencolok, tetapi tetap bisa dikenali oleh orang yang memahami.
Konsep ini sering disebut sebagai subtle signaling, yaitu tanda status yang hanya "terbaca" oleh orang tertentu saja.
Oleh karena itu, quiet luxury menjadi semacam kode sosial. Tampilannya sederhana, tetapi kualitas dan detailnya hanya bisa dikenali oleh mereka yang benar-benar paham, sehingga menciptakan kesan eksklusif tanpa harus diumbar.
5. Pengaruh budaya digital dan media sosial

Perkembangan quiet luxury di era digital tidak lepas dari peran media sosial yang secara tidak langsung ikut membentuk selera visual orang.
Di berbagai platform, gaya aesthetic minimalism, tren "old money", hingga figur influencer dengan penampilan sederhana tetapi rapi dan elegan semakin sering muncul.
Di sisi lain, paparan konten yang berlebihan membuat banyak orang merasa lelah secara visual. Dari situ muncul kebutuhan untuk "detoks visual" atau mengurangi stimulasi yang terlalu ramai dan kembali ke sesuatu yang lebih bersih dan tenang.
Kondisi ini membuat quiet luxury semakin diminati karena menawarkan estetika yang rapi, sederhana, dan menenangkan di tengah hiruk pikuk dunia digital.
Sekarang, kamu sudah tahu kan mengapa quiet luxury digemari hingga kini. Dari perubahan cara pandang soal kemewahan, pengaruh gaya hidup minimalis, sampai kejenuhan terhadap tren yang terlalu mencolok, semuanya perlahan membentuk selera baru yang lebih tenang, sederhana, tapi tetap terasa berkelas.


















