9 Kontroversi Piala Dunia 2026 yang Ramai Jadi Perbincangan

Piala Dunia 2026 di AS, Meksiko, dan Kanada menuai kritik karena kebijakan visa ketat, diskriminasi terhadap beberapa negara peserta, hingga penolakan wasit oleh otoritas Amerika Serikat.
Iran menjadi tim paling dirugikan akibat kendala visa dan perjalanan, sementara Uzbekistan serta Senegal mengalami pemeriksaan keamanan berlebihan.
FIFA disorot karena penjualan tiket tidak transparan dan penerapan jeda hidrasi yang dimanfaatkan stasiun TV untuk iklan.
Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada ternyata menuai berbagai perdebatan. Tak heran jika Piala Dunia tahun ini banyak narasi miring yang kebanyakan tertuju untuk Amerika Serikat.
Kontroversi tersebut mulai dari dinilai menyulitkan akses masuk bagi sejumlah pihak, menolak wasit yang sudah ditunjuk FIFA, hingga adanya perlakukan diskriminasi. Kira-kira apa lagi kontroversi Piala Dunia 2026 ini? Simak jawabannya di bawah ini, ya.
Table of Content
1. Pembatasan visa dan travel ban Amerika Serikat

Kontroversi Piala Dunia 2026 yang pertama berkaitan dengan visa. Suporter dari sejumlah negara peserta menghadapi kendala untuk masuk ke Amerika Serikat. Mulai dari larangan perjalanan, aturan visa lebih ketat, hingga tingkat penolakan visa yang tinggi.
Kebijakan yang diterapkan pemerintahan Trump juga berdampak pada empat negara peserta, yakni Haiti, Iran, Senegal, dan Pantai Gading, yang kesulitan mendapatkan visa kunjungan bagi pendukung mereka. Selain itu, 11 dari 48 negara peserta tercatat memiliki tingkat penolakan visa di atas 40 persen.
Di sisi lain, warga dari 42 negara yang tergabung dalam Visa Waiver Program bisa memperoleh izin perjalanan secara daring dengan lebih mudah lewat sistem ESTA dengan biaya sekitar 40 dolar AS. Kondisi ini tentu membuat banyak suporter berada dalam dilema karena harus membeli tiket pertandingan yang mahal lebih dahulu tanpa jaminan memperoleh visa.
2. Iran jadi negara yang paling dirugikan di Piala Dunia 2026
Masih berkaitan dengan poin sebelumnya, Iran menjadi negara yang harus menghadapi berbagai kendala perjalanan dan visa. Kapten Mehdi Taremi bahkan menyebut timnya tidak mendapat kesempatan tiba lebih awal atau tinggal lebih lama setelah pertandingan untuk memulihkan kondisi fisik.
Dampak dari visa tersebut membuat Iran menjadikan Meksiko sebagai markas mereka selama Piala Dunia 2026 berlangsung. Akibatnya, para pemain harus menempuh perjalanan sekitar lima jam menuju Los Angeles dan melewati proses imigrasi yang panjang setiap kali menjalani latihan maupun pertandingan.
Tak heran jika Iran bisa dianggap sebagai tim yang paling dirugikan di Piala Dunia 2026 karena tidak berada dalam kondisi setara dengan peserta lainnya.
3. Wasit terbaik Afrika asal Somalia ditolak

Wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, gagal mewujudkan mimpinya menjadi orang Somalia pertama yang memimpin pertandingan Piala Dunia setelah ditolak masuk ke Amerika Serikat. Padahal, ia ditunjuk langsung oleh FIFA.
Otoritas setempat menuding ada keterkaitan Artan dengan jaringan tertentu, apalagi Somalia sendiri termasuk dalam daftar negara hitam AS. Anehnya lagi, FIFA justru tak bisa berbuat banyak terkait kondisi Artan. FIFA pun menyatakan bahwa Artan tidak bisa mengikuti pelatihan maupun bertugas selama Piala Dunia karena status imigrasinya tidak mendapat persetujuan dari pemerintah AS.
Meski kecewa, Artan tetap menunjukkan sikap profesional. Ia menyampaikan apresiasi kepada FIFA dan Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) atas dukungan yang telah diberikan kepadanya selama ini.
4. Diskriminasi ke Uzbekistan dan Senegal
Tak hanya Iran, perlakuan otoritas Amerika Serikat terhadap beberapa peserta Piala Dunia 2026 lainnya turut menuai sorotan, Bela. Uzbekistan dan Senegal harus menjalani pemeriksaan keamanan yang sangat ketat, mulai dari penggunaan anjing pelacak hingga pemeriksaan dengan metal detector secara mendetail.
Pemain Senegal bahkan diperiksa langsung di landasan pacu bandara, sedangkan skuad Uzbekistan menjalani pemeriksaan sebelum memasuki stadion untuk laga uji coba melawan Belanda. Berbeda dengan itu, tim Spanyol justru mendapat sambutan hangat di Meksiko melalui berbagai nyanyian dan tarian khas.
5. Ketidakjelasan dalam penjualan tiket

Penjualan tiket juga makin menambah kontroversi Piala Dunia 2026 karena dinilai kurang transparan. Jaksa di New York dan New Jersey bahkan menyelidiki FIFA atas dugaan penggelembungan harga dan praktik yang dianggap menyesatkan suporter.
Banyak penggemar justru baru mengetahui harga sebenarnya setelah berhasil mendapatkan tiket karena tidak ada daftar harga yang jelas sejak awal. Sejumlah pembeli juga mengaku memperoleh kursi yang kualitasnya tidak sebanding dengan harga yang telah dibayarkan.
Selain itu, FIFA menerapkan sistem harga yang berubah-ubah dan menambah kategori kursi premium tanpa memberi informasi sebelumnya pada pembeli. Di sisi lain, klaim tiket terjual habis dipertanyakan karena beberapa pertandingan masih menyisakan banyak kursi kosong, terutama laga yang tidak melibatkan tim-tim besar.
6. Kontroversi hydration break dalam laga Piala Dunia 2026
Kebijakan FIFA yang menerapkan jeda hidrasi pada setiap babak Piala Dunia 2026 memicu perdebatan. Aturan tersebut sebenarnya diberlakukan untuk melindungi pemain dari suhu tinggi selama musim panas di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Meskipun bertujuan menjaga kondisi fisik pemain, banyak pihak menilai jeda minum selama tiga menit justru mengganggu ritme pertandingan. Sejumlah pelatih pun disebut memanfaatkan momen tersebut sebagai waktu tambahan untuk memberikan instruksi taktis.
Berdasarkan data awal turnamen, hydration break yang dilakukan ini memang terbukti mengubah jalannya pertandingan. Dalam 16 laga pertama Piala Dunia 2026, tercatat ada 8 gol yang tercipta dalam kurun waktu hanya 10 menit setelah pertandingan dimulai kembali usai jeda hidrasi.
7. Kontroversi hydration break bagi stasiun televisi

Kebijakan jeda hidrasi di Piala Dunia 2026 memberi ruang sekitar dua menit bagi stasiun televisi untuk menayangkan iklan. Hal ini memicu kritik karena dianggap mengubah tradisi sepak bola yang selama ini berlangsung tanpa jeda komersial di tengah pertandingan.
Kontroversi tersebut mencuat setelah laga pembuka antara Meksiko dan Afrika Selatan, ketika sejumlah penonton mengeluhkan siaran yang beralih ke iklan penuh saat jeda minum. Beberapa pemirsa bahkan mengaku sempat kehilangan momen penting karena tayangan pertandingan belum kembali saat laga dilanjutkan.
Meski demikian, tidak semua pemegang hak siar memanfaatkan jeda tersebut untuk iklan. Telemundo memilih tetap menampilkan suasana stadion, analisis pertandingan, dan interaksi pemain serta pelatih selama jeda berlangsung. Sementara itu, sejumlah broadcaster Eropa juga berusaha tidak menayangkan iklan penuh selama jeda minum demi menghindari reaksi negatif dari para penggemar.
8. Gestur wasit Shaun Evans jadi sorotan di Piala Dunia 2026
Kontroversi lain datang dari dunia perwasitan. Wasit asal Australia, Shaun Evans, dituduh memperagakan gestur yang dikaitkan dengan kelompok supremasi kulit putih saat memimpin laga Jerman melawan Curacao.
Pada tayangan televisi, Evans tampak membentuk lingkaran menggunakan ibu jari dan telunjuknya, gestur yang oleh sejumlah kelompok pemantau diskriminasi dianggap sebagai simbol ekstrem kanan.
Kelompok antirasisme Fare juga sempat mendesak FIFA untuk mencopot Evans dari turnamen. Namun, setelah melakukan penyelidikan, FIFA menyatakan tidak menemukan pelanggaran, sementara Evans menjelaskan bahwa gerakan tersebut hanyalah refleks tanpa unsur kesengajaan.
9. Banjir kartu merah warnai awal Piala Dunia 2026

Selain hydration breaak, kontroversi di lapangan lainnya tak kalah menarik perhatian. Salah satunya adalah laga pembuka antara Afrika Selatan dan Meksiko yang menghasilkan tiga kartu merah, yakni dua untuk Afrika Selatan dan satu untuk Meksiko.
Jumlah tersebut ternyata menjadi yang terbanyak dalam satu pertandingan Piala Dunia sejak "Battle of Nuremberg" pada 2006 yang menghasilkan empat kartu merah. Sebagai perbandingan, sepanjang Piala Dunia 2022 di Qatar hanya ada empat kartu merah selama keseluruhan turnamen.
Itu dia sejumlah kontroversi Piala Dunia 2026, mulai dari masalah visa, penolakan wasit Somalia, hingga tiket FIFA. Bagaimana menurutmu, Bela?
FAQ seputar kontroversi Piala Dunia 2026
| Apa kontroversi terbesar di Piala Dunia 2026? | Kontroversi utama datang dari isu politik dan visa, terutama terkait kesulitan masuk ke Amerika Serikat bagi beberapa anggota tim dan federasi negara peserta. |
| Apa konflik yang melibatkan Iran dalam Piala Dunia 2026? | Iran menjadi sorotan karena masalah visa, relokasi lokasi tim, hingga tuduhan perlakuan diskriminatif terhadap pemain dan suporter mereka, yang memicu protes dari federasi sepak bola Iran. |
| Apakah ada kontroversi soal tiket dan penonton? | Ya, muncul keluhan soal distribusi tiket yang berubah, pencabutan jatah suporter beberapa negara, serta harga tiket yang dianggap terlalu mahal dan tidak transparan. |

















