Sejak mulai diberlakukan pada 5 Juni kemarin, penerapan "new normal" pengganti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Indonesia memang masih memunculkan kekhawatiran. Hal ini lantaran grafik peningkatan pasien positif corona di Indonesia masih belum menunjukan penurunan yang stabil, bahkan kian melonjak, khususnya di bulan Juni ini.

Ada apa, ya?

1. Tren kasus COVID-19 terus meningkat di bulan Juni ini

Car Free Day Penuh Sesak, Haruskah Penerapan Transisi PSBB Dicabut?Covid19.go.id

Melansir dari situs resmi covid19.go.id, kamu dapat melihat bahwa tren peningkatan kasus COVID-19 di Indonesia justru mengalami peningkatan.  

Dari grafik di atas, tercatat bahwa kasus pasien positif COVID-19 tertinggi di bulan ini terjadi pada tanggal 18 Juni dengan kasus positif sebanyak 1.331 kasus. Sedangkan, pada 21 Juni kemarin, kurva sempat menunjukan penurunan dengan kasus positif sebanyak 862 kasus.  

2. Kasus positif meningkat setelah tracing agresif dilakukan

Car Free Day Penuh Sesak, Haruskah Penerapan Transisi PSBB Dicabut?Ilustrasi (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)

Ternyata, teridentifikasinya banyak kasus positif baru di bulan Juni ini juga dikarenakan tracing yang dilakukan tim Gugus Tugas gencar dilakukan. 

"Penambahan kasus positif ini, disebabkan karena tracing yang agresif dilakukan, sehingga bisa kita lihat, bahwa sebagian besar penambahan kasus ini adalah spesimen yang dikirim puskesmas atau dinas kesehatan," ujar Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 Achmad Yurianto pada, Rabu (10/6/20) kemarin.  

"Ini adalah bukti, bahwa memang tracing yang agresif akan bisa menangkap begitu banyak kasus positif dan sudah barang tentu kita akan menginginkan kasus ini kemudian melakukan isolasi dengan sebaik-baiknya secara mandiri, agar tidak menjadi sumber penularan bagi orang lain,"  lanjutnya.  
 

3. Salah kaprah mengartikan "new normal"

Car Free Day Penuh Sesak, Haruskah Penerapan Transisi PSBB Dicabut?i24newstv.com

Salah satu faktor yang juga mendorong melonjaknya lagi angka pasien positif COVID-19 di Tanah Air adalah masyarakat yang salah mengartikan apa yang dimaksud dengan "new normal". Sebagian ada yang berpikir bahwa mereka sudah dapat melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa, tanpa mengindahkan protokol kesehatan.  

4. Lemahnya kesadaran diri sendiri untuk mengikuti protokol kesehatan

Car Free Day Penuh Sesak, Haruskah Penerapan Transisi PSBB Dicabut?Time.com

Selain itu, di beberapa tempat umum seperti pasar, restoran yang sudah buka, hingga tempat-tempat ramai lainnya, masih terlihat masyarakat yang tidak menggunakan masker. Kesadaran untuk selalu mencuci tangan, menjaga jarak aman dan mengurangi kontak fisik juga masih terabaikan. 

5. Car Free Day penuh sesak, warganet naikan tagar #CoronaFreeDay

Car Free Day Penuh Sesak, Haruskah Penerapan Transisi PSBB Dicabut?Dok. Internet

Bentuk-bentuk pelanggaran di atas juga terlihat di Car Free Day pertama saat new normal ini yang berlangsung di Jakarta pada Minggu, (21/6/20) kemarin. Foto-foto yang menunjukan betapa hiruk-pikuknya masyarakat yang berkumpul di sekitaran Bundaran HI kemarin ramai dikritik warganet. Warganet yang marah ini kemudian ramai-ramai menaikan tagar #CoronaFreeDay sebagai bentuk sindiran untuk kata Car Free Day yang jauh dari protokol kesehatan. 

Jadi, apakah menurutmu penerapan new normal saat ini sudah tepat, bela?
 

Baca Juga: Mengawali New Normal dengan Angka COVID-19 yang Melesat

Baca Juga: Bahaya Gelombang Kedua COVID-19 Saat New Normal Berlaku, Ini Buktinya

Baca Juga: Bisa Timbul Kematian Massal, Ini Hubungan Herd Immunity dan COVID-19