7 Tren Gaya Hidup yang Mulai Ditinggalkan Gen Z, Apa Alasannya?

- Gen Z Indonesia mulai meninggalkan budaya kerja berlebihan dan glorifikasi burnout, beralih ke gaya hidup yang menekankan keseimbangan antara pekerjaan, kesehatan mental, dan waktu istirahat.
- Budaya flexing dan konsumtif bergeser menuju frugal living; Gen Z kini lebih selektif dalam pengeluaran, fokus pada kestabilan finansial serta menghindari pembelian demi validasi sosial.
- Tren digital detox, slow living, hingga aktivitas wellness makin populer; Gen Z memilih hubungan digital yang sehat, konten bermakna, serta transaksi cashless yang praktis dan efisien.
Gaya hidup Gen Z terus mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah tekanan ekonomi dan meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental, tren gaya hidup lama yang kurang relevan mulai ditinggalkan secara perlahan.
Perubahan ini juga terlihat dalam laporan Indonesia Millennial & Gen Z Report 2025 dari IDN Research Institute yang menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia kini semakin memprioritaskan keseimbangan hidup, kestabilan finansial, hingga hubungan sosial yang lebih sehat.
Mulai dari budaya kerja berlebihan, obsesi tampil sempurna di media sosial, hingga kebiasaan konsumtif demi validasi sosial, berikut beberapa tren gaya hidup yang mulai ditinggalkan Gen Z.
Table of Content
1. Hustle culture dan glorifikasi burnout

Dulu, sibuk sering dianggap sebagai tanda sukses. Budaya lembur, kerja tanpa henti, hingga kebiasaan membanggakan jam tidur minim sempat menjadi bagian dari hustle culture yang populer di media sosial.
Namun, banyak Gen Z kini mulai mempertanyakan pola hidup tersebut karena dianggap mengorbankan kesehatan mental dan kualitas hidup.
Sebagai gantinya, generasi muda mulai lebih menghargai work-life balance, fleksibilitas kerja, dan waktu istirahat yang cukup.
Kesuksesan kini tidak lagi selalu diukur dari seberapa sibuk seseorang, tetapi juga dari kemampuan menjaga hidup tetap seimbang.
2. Flexing dan gaya hidup serba pamer

Budaya flexing sempat mendominasi media sosial beberapa tahun terakhir. Mulai dari pamer barang branded, staycation mewah, sampai gaya hidup konsumtif demi konten, semuanya pernah jadi simbol gaya hidup sukses.
Namun di tengah biaya hidup yang semakin tinggi dan kondisi ekonomi yang tak menentu, banyak Gen Z mulai mengubah prioritas finansial mereka. Riset ini juga menunjukkan bahwa 56% Gen Z mulai menerapkan gaya hidup frugal living.
Generasi muda kini lebih aktif mencari promo, memanfaatkan diskon, hingga menekan pengeluaran yang dianggap tidak terlalu penting. Alih-alih membeli barang demi validasi sosial, Gen Z kini cenderung lebih selektif dalam mengeluarkan uang.
3. Obsesi untuk chronically online

Era oversharing tampaknya mulai bergeser. Jika dulu media sosial dipenuhi update kehidupan sehari-hari secara real time, sekarang semakin banyak Gen Z yang memilih menjaga privasi digital mereka dan membatasi aktivitas online.
Fenomena digital detox, private account, sampai dump account menjadi semakin umum. Gen Z juga mulai meningkatkan kesadaran akan dampak negatif screen time berlebihan, mulai dari digital fatigue, kecemasan, hingga burnout akibat terus-menerus terkoneksi dengan dunia digital.
Alih-alih benar-benar meninggalkan teknologi, banyak Gen Z kini mencoba membangun hubungan yang lebih sehat dengan media sosial. Sebagian mulai mengurangi waktu scrolling hingga mengikuti aktivitas offline tanpa gadget untuk memberi ruang istirahat bagi pikiran mereka.
4. Budaya serba cepat

Gen Z tumbuh di era serba instan. Paparan berita tanpa henti, media sosial, hingga arus informasi yang terus bergerak cepat membuat banyak orang merasa overwhelmed dan sulit benar-benar beristirahat.
Namun, belakangan ini banyak Gen Z mulai merasa lelah dengan ritme hidup yang terlalu cepat dan penuh distraksi. Mereka semakin sadar bahwa konten pendek sampai tekanan untuk selalu update dengan tren internet dapat langsung memengaruhi kondisi mental.
Alih-alih terus terbawa arus, banyak Gen Z kini menerapkan slow living dan mindful lifestyle. Aktivitas seperti journaling, membaca buku fisik, solo date, olahraga ringan, hingga mengikuti kelas meditasi kini mulai dipandang sebagai cara untuk menenangkan pikiran.
5. Party culture mulai tergeser tren wellness

Kombinasi gaya hidup baru Gen Z yang lebih mengutamakan frugal living dan mindfulness membuat budaya party atau clubbing mulai ditinggalkan.
Tren seperti running club, pilates, yoga, bersepeda, hingga wellness event makin populer di kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Nongkrong di coffee shop dengan suasana tenang juga mulai menggantikan kebiasaan party yang terlalu intens.
6. Menonton konten pendek dan brain rot

Konten serba cepat memang masih mendominasi media sosial, terutama lewat TikTok, Reels, dan YouTube Shorts. Namun di saat yang sama, banyak Gen Z mulai merasa lelah dengan pola konsumsi konten yang terlalu instan dan repetitif.
Kini Gen Z mulai menikmati konten yang lebih bermakna, informatif, dan punya kedalaman. Perubahan ini juga terlihat dari evolusi platform seperti TikTok yang kini mendukung video hingga 10 menit, unggahan foto, sampai konten berbasis teks.
Di Indonesia sendiri, tren ini ikut mendorong naiknya popularitas podcast dan konten audio-visual berdurasi panjang. Banyak Gen Z kini menikmati podcast 30–60 menit yang bisa menemani perjalanan, kerja, atau waktu istirahat mereka.
Topik seperti self-development, kesehatan mental, motivasi, hingga obrolan reflektif jadi salah satu genre favorit karena dianggap lebih relate dengan realitas hidup sehari-hari.
7. Transaksi pakai uang cash

Di media sosial, banyak konten yang menyebutkan bahwa salah satu ketakutan terbesar Gen Z adalah tidak bisa melakukan pembayaran via QRIS. Hal ini menunjukkan bahwa transaksi menggunakan uang cash sudah mulai ditinggalkan.
Buat Gen Z, kemudahan jadi alasan utama. Mulai dari bayar transportasi, beli kopi, belanja online, sampai split bill bareng teman kini bisa dilakukan hanya lewat smartphone.
Mobile banking dan dompet digital dianggap lebih sesuai dengan ritme hidup yang cepat dan fleksibel. Membawa uang tunai dalam jumlah besar mulai terasa kurang praktis bagi Gen Z.
Selain soal efisiensi, kebiasaan cashless juga didukung oleh makin luasnya integrasi QRIS dan pembayaran digital di berbagai tempat, termasuk UMKM, kafe, hingga transportasi publik.
Jadi, apakah kamu salah satu Gen Z yang mulai meninggalkan sejumlah gaya hidup di atas, Bela?
















