Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install

Mudah Merasa Marah? Mungkin 13 Faktor Medis Ini Penyebab Kamu Emosian

Mudah Merasa Marah? Mungkin 13 Faktor Medis Ini Penyebab Kamu Emosian
twitter.com
Share Article

Perubahan suasana hati menjadi marah dan kesal bisa menyerang siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Kamu pun dapat mengalami fluktuasi emosi tanpa pertanda apa pun dan jadi uring-uringan sepanjang hari.

Nah, kalau ditanya penyebabnya pun, jawabannya sangatlah luas dan cenderung karena faktor sikap atau perilaku eksternal. Padahal, tahukah kamu bahwa sebenarnya rasa mudah murah juga bisa disebabkan kondisi fisikmu sendiri?

  1. 1. Kurang tidur

    newwestrecord.ca
    newwestrecord.ca

    Menurut Steven Lamm MD, profesor sekaligus direktur Tisch Center for Men's Health di NYU Langonre Medical Center,  tidur merupakan kunci penting untuk kesehatan mental yang ideal. Karena itu, saat tidurmu kurang dari tujuh hingga sembilan jam maupun kurang berkualitas, kamu pun akan jadi mudah lelah dan tidak stabil secara emosional.

  2. 2. Kecanduan kafein

    healthline.com
    healthline.com

    Masih menurut dr. Lamm, kafein merupakan bahan kimia yang memiliki pengaruh sangat kuat terhadap otak dan membuatmu merasa awas serta terjaga. Ketika terbiasa dengan asupan kafein, maka ketika tak mengonsumsinya kamu pun jadi mudah lelah dan suasana hati pun ikut uring-uringan.

  3. 3. Hipertiroidisme

    Doc istimewa
    Doc istimewa

    Kalau kelenjar tiroidmu memproduksi hormon secara berlebih, salah satu hal yang akan kamu rasakan adalah berkeringat berlebihan dan jantung berdebar lebih cepat. Dr. Lamm mengatakan bahwa kondisi ini akan membuatmu tidak nyaman dan ketidaknyamanan akan membuatmu juga jadi lebih cepat merasa kesal dan terganggu.

  4. 4. Ketergantungan alkohol dan narkotika

    mortsandmore.com
    mortsandmore.com

    Dr. Lamm mengatakan bahwa ketergantungan terhadap alkohol dan narkotika juga bisa menjadi faktor penyebab emosi yang fluktuatif. Alkohol dan narkotika dapat meningkatkan level dopamin secara instan sehingga ketika mengonsumsinya, kamu pun akan dengan cepat merasa lebih baik dan tenang. Kendati demikian, sensasi ini hanya bersifat sementara sehingga ketika efeknya habis, kamu pun akan kembali memiliki suasana hati yang buruk.

  5. 5. Rasa sakit kronis

    today.yougov.com
    today.yougov.com

    Coba diingat-ingat lagi, saat sedang mengalami rasa sakit atau nyeri pada bagian tubuh, kamu jadi lebih mudah marah, kan? Dr. Lamm menjelaskan alasan di balik situasi ini adalah karena kebanyakan orang tidak ingin mengakui bahwa mereka sedang kesakitan, sehingga marah-marah jadi pelampiasannya. 

  6. 6. Gangguan PMS

    flo.health
    flo.health

    Bagi wanita, PMS sebelum haid adalah hal yang cukup normal dan kerap dijadikan alasan mengapa jadi lebih emosional. Namun, bila PMS ini terjadi lebih dari seminggu, dr. Lamm melihatnya sebagai kemungkinan PMDD. PMDD adalah gangguan PMS yang lebih intens dan disebabkan oleh variasi hormon.

  7. 7. Demensia

    gulfnews.com
    gulfnews.com

    Jeffrey Deitz MD dari Frank Netter School of Medicine di Quinnipiac University menjelaskan bahwa demensia juga bisa jadi salah satu penyebab mudah marah. Ketika mulai melupakan hal-hal kecil seperti percakapan yang baru saja terjadi, di mana meletakkan kunci, dan sebagainya, secara alami kamu pun jadi lebih mudah frustrasi. Nah, rasa frustrasi ini kerap dimanifestasikan seperti kesal atau marah-marah.

  8. 8. Depresi ringan

    pharmeasy.in
    pharmeasy.in

    Menurut dr. Deitz, depresi memiliki banyak tingkatan mulai dari yang bersifat sementara dan wajar dalam kehidupan sehari-hari hingga yang parah sampai merusak hidup seseorang. Depresi ringan biasanya tidak akan sampai semengganggu depresi klinis, tetapi umumnya membuatmu jadi lebih pesimis dan gampang marah.

  9. 9. Gangguan kecemasan

    outlookmagazine.ca
    outlookmagazine.ca

    Seseorang dengan gangguan kecemasan akan terus menerus merasa khawatir dengan banyak hal dalam hidupnya. Seperti yang dijelaskan dr. Deitz, bila dalam kondisi ini kamu pun selalu berada dalam kondisi yang 'awas' sehingga jadi lebih mudah terkejut. Bahkan seperti contoh, ketika seseorang tiba-tiba menepuk pundakmu, bukan tidak mungkin kamu akan sampai menjerit karena kaget dan terlalu 'siaga'.

  10. 10. Gagal jantung

    medicalnewstoday.com
    medicalnewstoday.com

    Individu dengan gagal jantung akan merasa lelah dan seringnya, aliran darah ke otak yang menjadi pusta kontrol emosi pun akan terganggu. Dr. Deitz pun menjabarkan bahwa apa pun yang mengganggu aliran darah ke otak terutama bagian lobus frontal akan menyebabkan seseorang jadi mudah marah.

  11. 11. Pil diet

    familylivingtoday.com
    familylivingtoday.com

    Dr. Deitz mengungkapkan bahwa fluktuasi suasana hati juga dapat dipicu oleh apa yang dikonsumsi oleh individu tersebut. Pun termasuk pil diet yang membuat metabolisme jadi lebih aktif, tetapi justru membuatmu lebih berkeringat dan merasa cemas. Dampaknya, tentu saja, emosi pun jadi tak stabil dan membuatmu jadi lebih mudah marah-marah.

  12. 12. Obat-obatan tertentu

    chatelaine.com
    chatelaine.com

    Masih terkait dengan pil dan obat-obatan, dr. Deitz juga menyatakan bahwa beberapa resep dokter bisa juga menyebabkan perubahan mood. Seperti contoh yang paling umum, obat-obatan untuk penyakit alergi dan asma dapat menjadi faktor pemicu rasa uring-uringan. 

  13. 13. Gangguan kepribadian narsis

    businessinsider.com
    businessinsider.com

    Individu yang narsis selalu menilai sangat tinggi kepentingannya sendiri dan cenderung selalu membicarakan diri sendiri. Seperti kata dr. Deitz, bila orang lain tak memberikan perhatian terhadap dirinya, bukan tak mungkin dia akan meledak. 

    Sekali lagi, rasa marah, kesal, atau uring-uringan adalah sesuatu yang wajar dan bisa dialami siapa pun. Namun kalau berlangsungnya sudah cukup lama, coba cari tahu dulu faktor penyebabnya, ya!

    Disclaimer: Artikel ini sudah diterbitkan pada laman IDN Times dengan judul "Mudah Merasa Marah? Mungkin 13 Faktor Medis Ini Penyebab Kamu Emosian"

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More