Hati-Hati, Abu Vulkanik Bisa Sebabkan 9 Penyakit ini!

- Abu vulkanik dapat mengganggu saluran napas, mata, kulit, hingga pencernaan saat paparan terjadi dalam jumlah banyak.
- Gangguan yang disebutkan meliputi PPOK dan asma, bronkitis akut, silikosis, konjungtivitis, serta dermatitis kontak.
- Masker, kacamata pelindung, kebersihan diri, serta makanan dan air bersih digunakan untuk mengurangi paparan abu.
Erupsi gunung berapi membawa material vulkanik yang tersebar luas di udara dan mulai ke wilayah permukiman. Abu vulkanik sendiri terdiri dari material-material kecil yang berbahaya bagi kesehatan tubuh jika kamu terlalu banyak terpapar.
Mulai dari mata, kulit, sampai pencernaan juga bisa terganggu dengan kehadiran abu tersebut di dalam tubuh. Untuk itu, penting untuk selalu mengenakan masker dan melindungi diri. Berikut beberapa penyakit yang mungkin disebabkan oleh abu vulkanik, serta tips untuk mencegahnya.
Table of Content
1. Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) & Asma

nebraskamed.com Buat kamu yang punya riwayat asma atau PPOK, abu vulkanik ini termasuk musuh besar, lho. Partikel halus yang terhirup bisa memicu serangan atau perburukan gejala secara mendadak (eksaserbasi), yang bikin napas jadi lebih berat dan sesak dari biasanya.
Bahkan buat orang yang sebelumnya nggak punya riwayat gangguan pernapasan, paparan abu vulkanik dalam jumlah banyak tetap bisa memicu iritasi saluran napas yang cukup mengganggu.
Kalau kamu atau orang terdekat punya riwayat asma atau PPOK, pastikan selalu membawa inhaler atau obat pribadi, dan sebisa mungkin kurangi aktivitas di luar ruangan saat kondisi udara sedang buruk.
2. Bronkitis Akut

medicalnewstoday.com Selanjutnya ada bronkitis akut, yaitu peradangan pada saluran pernapasan utama yang bikin kamu jadi gampang batuk berdahak parah, dada terasa nyeri, sampai sesak napas. Kondisi ini biasanya muncul karena saluran napas "kaget" dengan partikel abu yang masuk secara terus-menerus, apalagi kalau kamu beraktivitas di luar ruangan tanpa masker.
Meski biasanya bersifat sementara, bronkitis akut ini tetap bikin nggak nyaman dan bisa mengganggu produktivitas harian kamu. Jadi, mendingan dicegah dari awal, ya!
3. Silikosis

istockphoto Nah, ini dia yang perlu kamu waspadai dalam jangka panjang, silikosis. Penyakit ini muncul akibat menghirup debu silika bebas (crystalline silica) yang memang terkandung dalam abu vulkanik. Bedanya dengan gangguan pernapasan lain, silikosis ini bisa menyebabkan jaringan parut permanen di paru-paru kalau paparannya berlangsung lama dan berulang.
Karena sifatnya yang permanen, pencegahan jadi kunci utama. Kalau kamu tinggal di area yang sering terdampak abu vulkanik, usahakan selalu pakai masker berkualitas (idealnya masker N95) setiap kali beraktivitas di luar rumah.
4. Iritasi Saluran Napas Atas

Gemini Gejala yang satu ini mungkin terasa "ringan" tapi sebenarnya cukup mengganggu, mulai dari batuk-batuk, radang tenggorokan, hidung tersumbat, sampai sensasi terbakar di hidung atau tenggorokan. Ini terjadi karena partikel abu vulkanik langsung mengiritasi selaput lendir di area hidung dan tenggorokan begitu terhirup.
Buat meredakannya, kamu bisa rutin berkumur dengan air garam hangat dan memperbanyak minum air putih supaya tenggorokan tetap lembap.
5. Konjungtivitis

Dok. Internet Beralih ke area mata, ada konjungtivitis alias peradangan pada selaput bening mata yang bikin mata jadi merah, bengkak, perih, dan berair terus-menerus. Kondisi ini muncul karena partikel abu yang halus gampang banget menempel dan mengiritasi permukaan mata, apalagi kalau kamu sering beraktivitas tanpa pelindung mata.
Kalau mata mulai terasa perih atau berair, hindari langsung menggosoknya, ya. Mendingan bilas dengan air bersih atau air mata buatan (artificial tears) untuk meredakan iritasinya.
6. Abrasi Kornea

grandjunctioneyecare.com Masih seputar mata, ada juga risiko abrasi kornea, yaitu tergoresnya permukaan kornea akibat gesekan partikel abu vulkanik yang tajam saat kamu refleks mengusap mata. Karena teksturnya yang kasar di level mikroskopis, abu ini bisa meninggalkan goresan halus yang sebenarnya cukup menyakitkan dan berisiko infeksi kalau nggak ditangani.
Inilah kenapa kacamata pelindung jadi item wajib kalau kamu berada di area terdampak abu vulkanik. Jangan sampai insecure soal penampilan bikin kamu skip perlindungan mata, ya!
7. Dermatitis Kontak

dbclinic.com.sg Kulit kamu juga nggak luput dari efek abu vulkanik. Dermatitis kontak bisa muncul berupa peradangan kulit, ruam kemerahan, rasa gatal yang cukup hebat, sampai kulit yang jadi bersisik. Penyebabnya karena sifat abu vulkanik yang cenderung asam dan kering, sehingga bisa mengganggu lapisan pelindung alami kulit kamu.
Kalau kulit mulai terasa gatal atau kering setelah terpapar abu, segera bersihkan area tersebut dan pakai pelembap untuk membantu menjaga kelembapan kulit.
8. Iritasi & Infeksi Sekunder

healthdigest.com Selain bikin gatal dan kering, abu vulkanik juga bisa meninggalkan luka-luka halus di kulit alias mikro-abrasi. Kelihatannya sepele, tapi luka ini rentan banget terinfeksi bakteri kalau nggak segera dibersihkan dengan benar. Jadi meskipun cuma goresan kecil, tetap jangan diabaikan, ya.
Biasakan untuk mandi dan mengganti pakaian setelah beraktivitas di area terdampak abu, supaya sisa partikel yang menempel di kulit nggak terus-terusan menimbulkan iritasi.
9. Gastroenteritis & Keracunan

walnuthillobgyn.com Terakhir, ada gangguan pencernaan seperti mual, muntah, sampai diare yang bisa terjadi kalau kamu mengonsumsi makanan atau air minum yang sudah terkontaminasi deposit abu vulkanik. Ini kenapa penting banget untuk selalu memastikan sumber makanan dan air minum kamu bersih dan aman selama masa-masa erupsi.
Kalau memungkinkan, cuci bahan makanan dan wadah makan-minum dengan air bersih sebelum digunakan, dan hindari dulu jajan makanan atau minuman terbuka di pinggir jalan selama kondisi udara masih dipenuhi abu vulkanik.
Nah, itu dia deretan penyakit yang bisa mengintai kalau kamu terlalu lama terpapar abu vulkanik tanpa perlindungan. Meskipun kedengarannya menyeramkan, sebenarnya risiko-risiko ini bisa banget diminimalisasi asal kamu disiplin pakai masker, kacamata pelindung, dan menjaga kebersihan diri selama masa erupsi berlangsung.




















