- Hanya merasa positif jika bisa menolong orang lain
Orang dengan savior complex akan merasa puas atau berharga setelah berhasil membantu orang lain. Sebaliknya, saat bantuannya ditolak atau gagal, mereka bisa merasa kecewa, bahkan menganggap dirinya tidak berguna. - Terlalu mengorbankan diri hingga burnout
Demi menyelesaikan masalah orang lain, mereka rela menghabiskan waktu, tenaga, dan emosi tanpa batas. Tak heran jika mereka bisa sampai burnout karena terlalu banyak hal yang dipikirkan dan dirasakan seolah semua itu adalah masalah hidupnya sendiri. - Menganggap dirinya satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan
Mereka sering merasa punya tanggung jawab untuk turun tangan dalam menyelesaikan masalah karena menganggap tak ada orang lain yang bisa memberikan solusi sebaik dirinya. - Tertarik pada orang yang lemah dan butuh pertolongan
Melihat seseorang yang sedang terpuruk langsung memicu keinginan mereka untuk menolong. Bahkan, terkadang mereka menawarkan bantuan meskipun belum diminta karena merasa harus segera bertindak. - Ingin memperbaiki semua hal yang dianggap salah
Salah satu tanda yang dirasakan savior complex ialah muncul anggapan jika mereka punya kewajiban untuk memperbaiki hal yang tampak negatif. Tak jarang, mereka juga merasa perlu mengubah orang lain agar kembali berjalan menuju sisi positif karena yakin tahu apa yang terbaik bagi semua orang.
Apa Itu Savior Complex? Ini Penyebab, Ciri-Ciri, dan Cara Mengatasinya

Membantu sesama memang menjadi hal yang positif Namun, jika kamu cenderung membantu orang lain secara berlebihan tanpa memikirkan diri sendiri, maka hal itu jadi tidak wajar. Kondisi ini dikenal dengan sebutan savior complex.
Savior complex adalah istilah untuk menggambarkan suatu hal yang membuat seseorang merasa perlu menolong orang lain secara berlebihan. Nah buat kamu yang masih bingung dengan savior complex, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini, ya!
Table of Content
1. Apa itu savior complex?

Savior complex adalah kondisi di mana seseorang selalu memposisikan dirinya untuk wajib menolong orang lain, bahkan di luar kemampuannya sendiri. Melansir Cleveland Clinic, seseorang dengan savior complex sering terdorong untuk melakukan hal-hal di luar tugasnya dalam membantu orang lain.
Bahkan, jika orang lain tersebut tidak membutuhkan atau menginginkan bantuan mereka. Sikap peduli dan suka membantu itu memang hal yang positif, Bela. Namun kalau kamu merasa kebahagiaan orang lain selalu jadi tanggung jawabmu, hati-hati karena hal ini bisa menjadi tanda kamu terjebak dalam savior complex.
Bedanya dengan empati yang sehat, savior complex justru membuat kamu terus memprioritaskan orang lain sampai lupa menjaga mental sendiri.
2. Penyebab savior complex

Savior complex bisa dipicu oleh banyak hal, salah satunya berkaitan dengan pengalaman yang kamu alami di masa kecil. Misalnya, kamu pernah merasa kurang diperhatikan sehingga tumbuh dengan keyakinan harus selalu berguna bagi orang lain.
Di kondisi lain, bisa jadi kamu pernah gagal dalam membantu seseorang hingga akhirnya kamu diremehkan dan dianggap tidak berguna. Dari situ, kamu memaksa dirimu untuk selalu menolong orang lain hingga berhasil.
Ada juga yang merasa dirinya baru layak dihargai jika berhasil membuat orang lain bahagia atau menyelesaikan masalah orang lain. Padahal, hal itu seharusnya tidak bergantung pada seberapa banyak kamu bisa menyelamatkan orang lain.
3. Tanda-tanda savior complex

Berikut beberapa tanda seseorang cenderung memiliki savior complex, di antaranya:
4. Tips mengatasi savior complex

Keinginan untuk terus menjadi penyelamat bisa membuatmu memasang standar yang terlalu tinggi untuk diri sendiri, lho. Pasalnya, kamu akan terus merasa bersalah saat belum melihat orang lain jadi lebih baik karena bantuanmu.
Jika dibiarkan, pola pikir seperti ini dapat berdampak buruk pada kesehatan mentalmu. Oleh karena itu, savior complex bisa diatasi dengan beberapa tips berikut:
- Peduli pada diri sendiri terlebih dahulu sebelum ke orang lain
Cobalah mulai peduli dan belajar mencintai diri sendiri. Meluangkan waktu untuk me time dan merawat diri bukan berarti egois. Justru, peduli pada diri sendiri menjadi bentuk menghargai waktu dan potensi yang kamu punya. - Kejar kebahagiaan versi sendiri
Selain membantu atau peduli pada orang lain, jangan lupa memberi ruang untuk mengejar mimpi, mengembangkan diri, maupun melakukan hal-hal yang membuatmu bahagia, ya. - Berani bilang tidak
Menolak membantu sesekali bukan berarti kamu jadi orang jahat, kok. Sebab, kamu berhak memberi ruang dan batasan membantu sesuai kemampuanmu supaya hidupmu tetap seimbang dan kesehatan mental terjaga.
Dari penjelasan di atas, kamu bisa menyimpulkan savior complex adalah perilaku yang membuat seseorang merasa harus selalu menyelamatkan orang lain, bahkan sampai mengabaikan dirinya sendiri. Pastikan kamu bisa menempatkan diri sesuai dengan kapasitasmu.




















