Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install

Weaponized Incompetence, Manipulasi yang Bisa Merusak Hubungan

Weaponized Incompetence, Manipulasi yang Bisa Merusak Hubungan
magnific.com/Drazen Zigic
Intinya Sih
  • Weaponized incompetence adalah pola manipulasi ketika seseorang berpura-pura tidak bisa agar tanggung jawabnya diambil alih pasangan.

  • Perilaku ini bisa muncul lewat kebiasaan menghindari tanggung jawab dan membuat hubungan terasa tidak seimbang.

  • Cara menghadapinya ialah dengan membangun komunikasi terbuka dan menetapkan batasan yang sehat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah merasa selalu menjadi orang yang melakukan semua hal di hubungan karena pasangan mengaku tidak bisa? Awalnya mungkin sepele, tetapi jika terus terjadi, kondisi ini bisa membuat salah satu pihak memikul beban yang jauh lebih besar.

Bukan suatu hal yang wajar, problem semacam ini disebut dengan weaponized incompetence.Yuk, kenali lebih jauh ciri, penyebab, dan cara menghadapinya!

1. Pengertian weaponized incompetence

ilustrasi pasangan santai di dalam rumah
magnific.com/magnific

Perilaku manipulatif weaponized incompetence merujuk pada tindakan yang sengaja berpura-pura tidak mampu agar terbebas dari tanggung jawab. Istilah tersebut awalnya diteliti oleh ahli psikologi bernama Chris Argyris pada era 1980-an dengan nama skilled incompetence.

Pola perilaku ini makin populer setelah Jared Sandberg, jurnalis The Wall Street, mengulasnya sebagai bentuk kemalasan strategis di dunia kerja. Hal ini murni merupakan sebuah taktik sadar untuk melimpahkan kewajiban kepada orang lain. Makin ke sini, istilah weaponized incompetence juga banyak dikaitkan dengan hubungan romansa.

2. Ciri perilaku weaponized incompetence

orang
pexels.com/Timur Weber

Mendeteksi tanda dari fenomena ini sebenarnya cukup mudah apabila kamu memperhatikan kebiasaan pasangan. Pasalnya, mereka sering mengaku tidak bisa atau tidak paham agar tanggung jawab akhirnya dibebankan kepadamu.

Perilaku ini juga bisa muncul saat pasangan enggan mengambil inisiatif dalam hubungan, mulai dari membuat keputusan, mengurus kebutuhan, hingga menyelesaikan masalah. Lama-kelamaan, kamu akan merasa menjadi satu-satunya pihak yang selalu memikirkan dan mengusahakan hubungan tersebut.

3. Dampak weaponized incompetence bagi kesehatan mental

ilustrasi pasangan bertengkar
pexels.com/Timur Weber

Kehadiran kebiasaan buruk ini lama kelamaan akan membawa pengaruh yang sangat merugikan bagi korban. Jika terus mengalah, kamu akan menanggung beban fisik serta emosional yang berlipat ganda setiap harinya.

Sementara itu, ketidakadilan dalam pembagian tugas ini lama-kelamaan akan memicu rasa frustrasi yang mendalam. Tekanan psikologis yang menumpuk bahkan bisa menurunkan kualitas hubungan secara drastis akibat hilangnya rasa saling percaya.

4. Dampak weaponized incompetence bagi hubungan

ilustrasi pasangan bertengkar, pasangan saling diam, konflik pasangan
magnific.com/Drazen Zigic

Bukan hanya berbahaya bagi kesehatan mental, pola ini juga dapat membuat hubungan terasa tidak seimbang. Salah satu pasangan bisa merasa harus menanggung lebih banyak tanggung jawab, baik dalam urusan sehari-hari maupun menjaga hubungan.

Jika terus dibiarkan, kondisi tersebut dapat memicu rasa lelah, frustrasi, hingga kebencian terhadap pasangan. Komunikasi dan kepercayaan pun bisa menurun karena salah satu pihak merasa usahanya tidak dihargai.

5. Cara untuk menghadapi perilaku weaponized incompetence

ilustrasi menolak pekerjaan (pexels.com/SHVETS production)
pexels.com/SHVETS production

Menghadapi pola ini membutuhkan keberanian untuk bersikap lebih tegas dalam hubungan. Cobalah untuk membicarakan perasaan dan menyampaikan bahwa tanggung jawab dalam hubungan perlu dijalankan bersama.

Selain itu, buatlah batasan yang jelas agar kamu tidak selalu mengambil alih setiap masalah yang muncul. Berikan pasangan kesempatan untuk belajar dan berusaha, tetapi tetap perhatikan perkembangannya.

Setelah memahami berbagai fakta mengenai weaponized incompetence, semoga kamu bisa membangun hubungan yang lebih harmonis.

FAQ seputar weaponized incompetence

Apa nama lain yang sering digunakan untuk menyebut weaponized incompetence?

Istilah manipulatif ini juga dikenal luas dengan sebutan strategic incompetence atau skilled incompetence dalam dunia psikologi.

Mengapa seseorang tega melakukan taktik weaponized incompetence?

Pelaku biasanya sengaja melakukan hal tersebut untuk menghindari tanggung jawab, mengatasi rasa cemas.

Bagaimana dampak psikologis terbesar bagi korban perilaku ini?

Korban akan mengalami kelelahan emosional yang luar biasa, stres berkepanjangan, hingga memicu kemarahan akibat ketidakadilan yang dirasakan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More